THREE ANGEL

THREE ANGEL
Pertemuan para investor.


__ADS_3

.


.


.


Arifin pun masuk keruang rapat bersama istri dan asisten serta sekretarisnya. Semua mata tertuju pada Arifin dan istrinya.


Sang istri yang masih terlihat bengkak di pelupuk matanya karena sehabis menangis pun menjadi pusat perhatian.


Para petinggi perusahaan juga hadir dirapat tersebut.


"Mohon maaf semuanya, bila masalah putri saya berimbas pada perusahaan dan saham perusahaan," kata Arifin memulai pembicaraan.


Mereka semua saling pandang, karena sebelumnya mereka juga sudah sepakat dengan Darmendra dan Abigail sebagai investor terbesar di perusahaan ini.


"Saya sebagai pemilik perusahaan, tidak bisa berbuat apa-apa kalau tuan tuan ingin menarik semua investasi pada perusahaan saya. Saya sudah pasrah dengan semua ini, mungkin inilah takdir saya," ucap Arifin lagi.


Afifa dan sekretaris hanya tertunduk, ia tidak akan meninggalkan perusahaan ini kalau tidak karena dipecat. Tuan nya sudah begitu banyak berjasa pada dirinya.


"Tuan Arifin, sebelumnya kami sudah berbincang dengan tuan Darmendra dan tuan Abigail," kata Budi.


Arifin yang mendengar itu jantungnya terasa berhenti berdetak, karena Budi masih menggantung ucapannya. meskipun ia mengatakan ikhlas tapi ia tetap tidak rela bila perusahaan yang ia dan istrinya bangun puluhan tahun lalu harus hancur begitu saja hanya karena ulah putrinya.


"Tuan Arifin.."ujar Budi. Arifin mengangkat wajahnya menatap semua orang. Terlihat airmata menetes dari sudut matanya.


Meskipun bibirnya tersenyum tapi hatinya terasa remuk redam, antara emosi dan malu juga sedih bercampur menjadi satu.


"Tidak perlu dijelaskan tuan Budi, saya sudah siap kehilangan semuanya. Yang saya sayangkan hanyalah nasib karyawan saya yang sudah lama mengabdi di perusahaan ini," ucap Arifin kembali menunduk.


"Tuan Arifin, kami sudah sepakat tidak akan menarik saham yang telah kami investasi kan pada perusahaan ini." ucap Darmendra akhirnya.


Arifin mendongak lalu kemudian ia bersimpuh dilantai sambil menangis sejadi jadinya.


Mereka semua yang ada disitu hanya saling pandang. Sementara sang istri dan sekretaris juga ikut menangis karena haru campur bahagia.


"Terimakasih tuan tuan semua, terimakasih karena sudah mempercayai saya." ucap Arifin.


Sebenarnya Arifin adalah pengusaha yang peduli terhadap sesama, apalagi kepada karyawan nya. Hanya saja kelakuan anaknya yang tidak ia ketahui sudah merusak nama baiknya.


Beruntung para pemegang saham masih berbaik hati kepadanya dan tidak menarik investasi mereka.


"Kami percaya kepadamu tuan Arifin. Maka jangan sia siakan kepercayaan kami," kata Budi.


"Baik, baik saya akan buktikan semua itu. Terimakasih sekali lagi karena sudah memberi saya kesempatan dan kepercayaan." kata Arifin.


"Karena semua sudah jelas, maka rapat kita kali ini kita tutup," ucap Abigail penuh wibawa.


Kemudian mereka semua berjabat tangan. Setelah itu satu persatu meninggalkan ruang rapat tersebut.

__ADS_1


Darmendra dan Abigail yang masih berada diruangan itu pun menghampiri Arifin.


"Maafkan kelakuan anak saya tuan," ucap Arifin pada Darmendra.


"Sudahlah, semua ini adalah atas saran putri saya agar tidak menarik investasi dari perusahaan anda tuan Arifin." kata Darmendra.


"Terimakasih banyak tuan, dan sampaikan kata maaf kami kepada putri anda tuan Darmendra," kata Afifa, Darmendra mengangguk.


Kemudian Darmendra dan Abigail pun keluar dari ruangan itu, kini hanya tinggal Arifin dan istrinya serta asisten dan sekretaris nya.


"Mari tuan," ajak asisten pribadi yang bernama Adi.


Mereka pun keluar dari ruang rapat dan kembali ke ruang kerja. Arifin dan istrinya masuk keruang kerjanya. Sementara Adi kembali keruang kerjanya dan sekretaris kembali ke meja kerjanya.


Sementara Abigail sedang dalam perjalanan menuju perusahaan miliknya, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena tidak terlalu terburu buru. Abigail tersenyum membayangkan wajah sang kekasih.


"Aku sangat beruntung bisa dipertemukan dengan gadis secantik dan sebaik dia." gumam Abigail.


Saat melewati sebuah toko bunga, Abigail menghentikan mobilnya didepan sebuah toko bunga tersebut.


"Selamat datang tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko bunga itu dengan ramah.


"Kalau kita mencintai seseorang bunga apa yang cocok untuknya?" tanya Abigail.


Pelayan itu tersenyum baru setelah itu iapun menjawab.


"Apalagi kalau tuan memberikan 99 tangkai bunga kepadanya," ucap pelayan itu lagi.


"Baiklah saya mau 99 tangkai bunga mawar merah dirangkai secantik mungkin," perintah Abigail.


"Baik tuan, mohon menunggu sebentar," ucap pelayan itu dengan hormat.


Kurang lebih 10 menit pelayan itu sudah selesai dengan buket bunga mawar merah yang sudah dirangkai sedemikian rupa.


"Ini tuan dan silahkan dibayar disebelah sana," ucap pelayan itu.


Setelah melakukan pembayaran Abigail bergegas menuju mobilnya, tapi sebelum ia menjalankan mobilnya. Abigail terlebih dahulu menelepon sang kekasih.


"Ya halo," sapa Lica saat menjawab panggilan tersebut.


"Makan siang nanti aku jemput ya," kata Abigail. Lica melirik jam tangannya baru jam 10 pagi.


"Baiklah, masih ada waktu 2 jam lagi," jawab Lica.


Kemudian panggilan telepon pun terputus, Abigail memandang bunga yang ia simpan dikursi penumpang sebelahnya. Lalu menghidupkan kembali mesin mobilnya dan segera pergi dari tempat itu.


Tiba di perusahaan, Abigail segera keluar dari mobil. tapi tiba tiba ia ditabrak oleh seorang wanita.


"Maaf, maaf tuan," ucap wanita itu.

__ADS_1


Abigail sedikitpun tidak peduli dengan wanita itu dan malah meninggalkan wanita itu dengan wajah kesal.


Wanita itu berusaha mengejar untuk menarik perhatian dari Abigail.


"Tuan...?!" panggil wanita itu.


"Siapa kamu?" tanya Abigail.


"Saya Rena tuan. maukah tuan membantu saya?" tanya wanita itu.


"Apa?!" tanya Abigail.


"Tolong antar saya pulang tuan, saya takut ada penjahat mengikuti saya," jawab Rena.


Abigail mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. kemudian setelah selesai ia menelepon, Abigail kembali menyimpan ponselnya.


Setengah jam kemudian datang dua orang pria berseragam polisi.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya salah satu polisi tersebut.


"Pak, wanita ini selalu diikuti oleh penjahat. Dan saya minta bapak mengawalnya," perintah Abigail.


"Tidak, tidak perlu saya bisa sendiri," kata wanita itu.


Abigail tersenyum sinis karena sudah berhasil menggagalkan trik murahan yang digunakan wanita itu.


"Mohon kerjasamanya nona," ucap salah satu polisi tersebut.


"Tidak apa-apa Pak, saya baik baik saja," ucap wanita itu dan segera pergi dari tempat itu.


"Terimakasih," ucap Abigail kepada polisi tersebut lalu mentransfer sejumlah uang kepada polisi tersebut karena sudah datang.


Wanita itu berjalan sambil mengumpat karena usahanya untuk menggaet pria tampan gagal.


Abigail masuk kedalam perusahaan dan disapa oleh beberapa karyawannya. Abigail hanya mengangguk saja.


"Ada ada saja modus wanita sekarang," gumam Abigail saat berada didalam lift.


Abigail sengaja tidak membawa asisten pribadinya untuk mengikuti rapat tadi. Karena asisten pribadinya lagi banyak kerjaan yang harus diselesaikan.


Abigail tiba dilantai yang ia tuju dan pintu lift pun terbuka. Abigail keluar dari lift dan masuk kedalam ruang kerjanya dan segera duduk dikursi kebesarannya.


Sedangkan bunga yang ia beli ia biarkan didalam mobil.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2