THREE ANGEL

THREE ANGEL
Pernikahan Devan dan Azura (part 2).


__ADS_3

.


.


.


Setelah selesai makan, Nadine dan Cahaya pun berpamitan kepada pemilik acara.


"Terimakasih karena sudah datang," ucap Rusita.


"Sama sama, kebetulan Devan dan Azura adalah temanku," kata Nadine


Kemudian mereka pun pamit, Ray menggandeng tangan Davina, karena Davina lebih dekat dengan dengan sang Papa, sedangkan Davion dan Danendra lebih dekat dengan Nadine.


Akhirnya mereka pun pulang setelah berpamitan kepada Devan dan Azura serta keluarganya.


"Sekarang sebaiknya kalian istirahat dulu, nanti malam akan diadakan resepsi pernikahan kalian," ucap Rustam pada pasangan pengantin.


"Yuk sayang kita istirahat," ajak Devan, kebetulan para tamu undangan juga sudah pada pulang.


Azura mengikuti Devan menaiki tangga menuju kamar Devan.


"Masuklah," ucap Devan mempersilahkan istrinya. Azura pun masuk dan matanya melihat sekeliling kamar tersebut.


"Aku ingin mandi dulu," kata Azura.


"Mandilah, setelah itu kita istirahat untuk nanti malam," kata Devan sambil tersenyum.


"Sebentar...!" Devan menarik tangan Azura sehingga Azura jatuh dalam pelukan Devan.


"Apa?!" tanya Azura sambil tertunduk.


"Apakah aku tidak tampan?" tanya Devan tidak nyambung.


"Tampan," jawab Azura.


"Tapi mengapa kau tidak mau menatapku?" tanya Devan lagi.


Azura terdiam, sejujurnya ia takut menatap mata Devan, takut semakin terpesona lebih dalam lagi, dan juga jantungnya tidak bisa diajak kompromi.


Meskipun mereka sering bertemu dan bersama tapi tetap saja jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Perlahan Devan mengangkat dagu Azura, dan perlahan pula Devan mendekatkan bibirnya ke bibir Azura. Devan menc*um bibir itu.


Azura diam saja tanpa membalas, sangat kentara kalau ia masih kaku. Devan memperdalam c*uman tersebut. Azura masih tetap diam saja.


"Mandilah sebelum aku lepas kendali," kata Devan mengakhiri semuanya.


"Ya," jawab Azura singkat.


Azura masuk kedalam kamar mandi dan melepas pakaian satu persatu, setelah itu ia berdiri dibawah shower dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


"Jantungku kenapa selalu berdetak lebih cepat bila dekat dengannya?" batin Azura.


Lebih kurang 15 menit Azura menghentikan mandinya, ia berjalan keluar dan hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Devan yang sedang duduk di sofa didalam kamar itu pun menoleh dan menelan salivanya dengan susah payah. Azura segera berlari keruang ganti untuk berpakaian.


Setelah selesai berpakaian lengkap, Azura keluar dan berbaring diatas ranjang, sebelumnya ia sudah mengeringkan rambutnya terlebih dahulu.


"Sayang...!" panggil Devan, kemudian ia pun berbaring disamping Azura.


"Jangan sekarang ya, soalnya nanti malam masih ada acara resepsi pernikahan kita," kata Azura yang mengerti tatapan mata Devan.


"Aku akan sabar sehingga kamu bisa memberikan apa yang aku inginkan?" Devan.


Azura tersenyum, lalu ia pun mengecup bibir Devan.


"Kita tidur sebentar ya, agar nanti malam tidak terlalu mengantuk," kata Azura. Devan hanya mengangguk dan kemudian memeluk Azura.


Malam hari...


Para tamu undangan sudah mulai berdatangan, meskipun kedua mempelai masih belum keluar dari kamar rias.


Azura di make-up oleh MUA profesional atas anjuran Nadine, Devan tidak berkedip melihat kecantikan Azura saat sudah selesai di make-up.


"Cantiknya," ucap Devan. Azura hanya tersipu malu mendapatkan pujian seperti itu.


"Acara sudah dimulai," kata Rusita yang masuk kedalam ruangan tersebut.


Narti memeluk Azura dan menangis, ia tidak menyangka anaknya akan menikah dengan meriah seperti ini, mengingat kehidupan mereka dulu yang tidak punya apa apa, tapi semuanya berubah setelah ditolong oleh sikembar.


Narti dan Rusita menggiring Azura kepelaminan, sedangkan Manto dan Rustam hanya mengikuti dari belakang bersama Devan juga.


Mereka naik kepelaminan. Dari kejauhan nampak Nadine bersama Ray dan ketiga anaknya datang, dibelakang mereka keluarga Henderson juga datang, Vera dan Jordan juga tidak mau ketinggalan. Kedua pasangan lanjut usia itu sudah tidak lagi menggunakan kursi roda, karena Lina rutin memberikan obat herbal untuk mereka konsumsi.


"Boleh dong minta satu seperti mereka," ucap seorang wanita yang tidak memiliki anak, sudah 3 tahun ia menikah tapi belum juga dikaruniai keturunan. Sang suami selalu bersabar dan mereka selalu ke luar negeri untuk berobat.


"Sabar ma, semoga kita juga akan mendapatkan keturunan," ucap sang suami sambil merangkul pundak istrinya itu.


"Iya Pa," jawab wanita itu sambil tersenyum.


"Tapi aku pengen anak kembar seandainya nanti aku bisa hamil," kata wanita itu.


"Semua kita serahkan kepada Tuhan," kata suaminya.


Acara sudah dimulai, para tamu undangan sudah mulai naik keatas panggung untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Satu persatu mereka bersalaman dan memberikan kado sebagai hadiah. Entah apa yang mereka berikan?.


Disudut lain Narti menangis haru dan bahagia melihat putrinya, Rusita hanya bisa mengelus pundak Narti untuk menghiburnya.


"Sudahlah jangan bersedih, mereka tidak akan meninggalkan kita kok," ucap Rusita.


"Aku terlalu bahagia Ta, tidak pernah aku bayangkan seperti ini," kata Narti.


Sedangkan 17 bocah kembar sengaja berpisah dari orang tua mereka, mereka memantau situasi seperti mata mata saja.


"Apa yang kalian lihat?" tanya Abqari.


"Kami sedang memperhatikan gerak gerik wanita itu," kata Rayyan.


"Jangan bilang kalian ingin mengurung wanita itu seperti dulu?" tanya Abqari.

__ADS_1


"Hehe, kok tau sih," ucap Kenzie.


"Aku hafal betul dengan sifat kalian," ucap Abqari lagi.


"Gak kok, mana mungkin kami akan melakukan itu?" tanya Danendra.


"Kita hanya ingin mengawasi orang orang yang mencurigakan," kata Davina.


"Ah sudahlah, malas mau debat dengan kalian," kata Abqari pada akhirnya.


Tapi dia juga ikut ikutan dengan saudara saudaranya.


"Disini banyak wanita penggoda, hati hati Papa kita," kata Viora.


"Papa kita tidak mungkin akan tergoda dengan wanita lain," ucap Kenzo.


Sementara di pelaminan, pasangan pengantin sudah mulai lelah melayani banyaknya tamu yang bersalaman dan memberi ucapan selamat. Padahal acaranya baru berlangsung satu jam.


"Kamu letih, sayang?" tanya Devan pada Azura.


"Aku tidak biasa memakai high heels jadi rasanya tidak nyaman," jawab Azura.


Azura segera didudukkan di sofa oleh Devan lalu melepaskan heels milik Azura.


"Gimana? Sudah enakan?" tanya Devan.


"Hmmm," jawab Azura sambil mengangguk.


"Berapa lama acaranya?" tanya Azura.


"Masih lama, sayang." jawab Devan.


"Aku sudah capek hubby," kata Azura.


"Kamu panggil apa, sayang?" tanya Devan.


"Gak ada," jawab Azura yang belum sadar dengan ucapannya tadi.


"Sudahlah," ucap Devan tersenyum senang.


Padahal sudah jelas jelas Devan mendengarnya tapi dia pura pura tidak mendengar agar Azura mengulangi perkataannya itu.


"Sayang aku haus," ucap Azura.


"Sebentar ya sayang," Devan turun untuk mengambil air mineral kemasan botol, setelah itu ia kembali ke pelaminan.


"Minumlah," kata Devan sambil menyerahkan air tersebut.


Sementara 17 bocah kembar masih sibuk memperhatikan wanita yang bertingkah aneh, karena mereka tidak mau ayah dan Papa mereka menjadi sasaran para wanita tidak tahu diri.


"Perhatikan itu," ucap Aldebaran menunjuk kearah wanita tersebut.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2