
.
.
.
Johan, Ansel, Rino dan Gibson tidak dapat ngomong apa-apa lagi, mereka hanya sibuk dengan pasangan masing-masing.
"Cieee... mentang-mentang tidak jomblo lagi," goda Lina pada Johan.
"Ya iyalah, emang kalian aja yang bisa mesra mesraan," jawab Johan. Yang lain pada tertawa.
"Ada yang pingin nambah?" tanya Abigail.
"Bolehkah?" tanya Rukiza balik.
"Boleh," bukan Abigail yang menjawab tapi Lica.
"Pesan sepuasnya, hari ini adalah hari jadian kami," ucap Abigail sambil merangkul pundak Lica.
"Bolehkah dibawa pulang?" tanya Jasmine.
"Kalau untuk bawa pulang nanti pesan untuk dibungkus," jawab Lica.
"Siapa yang ingin dibawa pulang makanannya?" tanya Lina. mereka semua terdiam.
Lina tau kalau mereka semua dari keluarga susah, maksudnya yang teman triple A yang bekerja di perusahaan J H company. Dan mereka berlima adalah tulang punggung keluarga mereka (Delima, Adela, Rukiza, Lolita dan Jasmine).
Jadi Lina memesan seperti keinginan mereka. Mereka juga ingin keluarga mereka merasakan makan enak.
"Apa gak kebanyakan?" tanya Jasmine.
"Gak kok, untuk ibu dan adik adikmu dirumah," jawab Lina.
Setelah semuanya selesai mereka pun pulang, tapi sebelum itu Abigail membayar semua makanan yang mereka makan termasuk orang orang yang berada disitu.
Mereka pulang dengan kekasih mereka masing-masing. Sedangkan Jasmine, Adela, Delima, Rukiza dan Lolita minta diantar ke perusahaan karena motor mereka ada disitu. tapi kekasih mereka tidak mau.
"Besok tunggu saja dirumah, aku akan jemput," ucap Arga. Begitu juga dengan yang lainnya. Jadi mereka pun menurut saja.
"Tumben banyak membawa uang tunai?" tanya Lica saat keduanya sudah didalam mobil.
"Waktu pertama kali sudah menjadi pelajaran buatku, sekarang tidak ingin terulang lagi," jawab Abigail tersenyum memandang wajah cantik Lica.
"Fokus kedepan," kata Lica.
Abigail menepikan mobilnya dipinggir jalan lalu berhenti. Lica ingin bertanya tapi langsung dibungkam oleh Abigail.
"Kau ingin memb*nuhku ya?" tanya Lica saat Abigail melepaskan c*umannya.
"Habisnya aku gemes lihat bibirmu, sudah lama aku menahannya," jawab Abigail tanpa rasa bersalah.
"Tapi gak perlu segitunya, pelan-pelan kan bisa," kata Lica.
"Maaf, lain kali aku pelan-pelan dan lembut," jawab Abigail. kemudian mereka pun melanjutkan perjalanannya menuju mansion keluarga Henderson.
"Berhenti...!" perintah Lica.
"Ada apa?" tanya Abigail.
__ADS_1
"Sebentar ya," ucap Lica. Kemudian Lica turun dari mobil dan menghampiri dua orang kakek dan cucunya sedang duduk dipinggir jalan.
"Kakek ngapain?" tanya Lica. Kakek tua itu meraba raba saat mendengar suara lain selain suara cucunya.
"Ternyata kakek ini buta," batin Lica.
"Siapa ya?" tanya kakek itu.
Lica memegang tangan kakek itu yang sudah keriput, sedangkan cucunya sedang menunggu jualan buah mangga.
"Beli mangga nya kak?" tanya anak itu.
"Berapa satu kilo?" tanya Lica.
"Tidak ditimbang kak, sebab tidak ada timbangan. Kalau mau beli 3 ribu satu," jawab anak itu.
"Oya berapa semuanya?" tanya Lica.
"20 buah kak," jawab anak itu.
"Bungkus semuanya ya," ucap Lica.
Anak itu pun membungkus semuanya, dari tadi tidak ada yang beli buah tersebut.
"Ini kak," kata anak itu menyerahkan plastik berisi buah mangga. Lica pun membayarnya.
"Kak ini kebanyakan," kata anak itu.
"Ambil aja, itu rezeki kamu dengan kakek." jawab Lica.
"Terimakasih kak," ucap anak itu. Lica tersenyum dan mengelus rambut anak itu.
Melihat hal itu Abigail juga keluar dari mobil dan langsung menghampiri mereka. Abigail langsung menyerahkan amplop kepada anak itu, entah berapa isi didalamnya? Author lupa bertanya.
"Ambillah," ucap Abigail karena anak itu sepertinya ragu. Dengan perlahan anak itu mengulurkan tangannya menggapai amplop tersebut.
"Terimakasih banyak tuan," ucap anak itu. karena Abigail menggunakan jas jadi anak itu memanggilnya tuan.
"Sama sama," jawab Abigail.
Kemudian mereka pun pergi dari tempat itu melanjutkan perjalanan menuju mansion.
Mata anak itu terbelalak melihat uang didalam amplop tersebut. ia langsung menangis bersujud ditanah. kakeknya pun menjadi heran dan berusaha menghibur cucunya.
"Kek kita pulang," ajak anak itu.
"Memang buahnya sudah habis?" tanya kakek itu.
"Sudah kek, kakak tadi memborong semuanya," jawab anak itu.
"Alhamdulillah, berarti kita dapat uang untuk makan, sudah seharian kita tidak makan," kata kakek itu.
"Iya kek, Kita beli nasi dulu," kata anak itu.
Kemudian mereka pun pulang ke gubuk mereka, tapi sebelum itu mereka membeli nasi dan lauknya juga. Biasanya ada nasi putih saja mereka sudah sangat bersyukur yang penting bisa mengganjal perut mereka.
Sementara Lica dan Abigail sudah tiba di mansion, ternyata Lina dan Randy juga sudah ada, Lita dan Carel juga sudah sampai.
"Kemana saja kalian?" tanya Lina saat mereka sudah berada diruang tamu.
__ADS_1
"Ada sesuatu tadi dijalan," jawab Lica sambil menyerahkan buah mangga yang tadi ia beli.
"Bik...?!" panggil Lica. Pelayan segera menghampiri mereka.
"Tolong dikupasin ya, kalau bibik mau boleh juga ini juga banyak kok," ucap Lica.
"Baik non," jawab bik Aida.
Oya, Marni sekarang beristirahat karena ia sedang hamil lagi, sang suami pun begitu telaten melayaninya. Diva melarang Marni untuk tidak melakukan pekerjaan berat, karena ia pernah keguguran dulunya takutnya akan seperti itu lagi. Gaji mereka tetap jalan, meskipun mereka beristirahat.
"Beli dimana buah mangga?" tanya Lita.
"Tadi ada seorang kakek dan seorang anak lelaki berjualan, karena kasihan jadi aku beli dagangannya." jawab Lica.
"Kok kami tidak ketemu dengan penjual mangga?" tanya Lina.
"Karena kami ambil jalan lain," bukan Lica yang menjawab tapi Abigail.
"ini non mangga nya," ucap bik Aida.
"Bibik mau?" tanya Lita.
"Bibik sudah ada didapur, bibik akan memakannya bersama nyonya," jawab bik Aida.
Vera dan Jordan keluar dari kamar mereka dan menghampiri cucunya. Abigail, Randy dan Carel segera menyalami Vera dan Jordan serta mencium tangannya.
"Oma mau?" tanya Lica sambil menyodorkan piring berisi buah mangga.
"Mau dong," jawab Vera. Jordan juga mengambil beberapa potong dan memakannya.
"Manis, beli dimana?" tanya Vera.
"Dipinggir jalan Oma, tadi ada seorang kakek dan cucunya yang jualan. Kasihan sekali Oma kakek itu ternyata buta," jawab Lica.
"Kalian makan malam disini saja ya, Mommy masak banyak," ucap Diva.
"Iya Mommy," jawab Abigail.
Darmendra keluar dari kamar dan turun kebawah melalui tangga, dan melihat anaknya sedang makan buah mangga.
"Hmmm manis," ucap Darmendra saat ia mencicipi satu potong.
Diva sudah kembali kedapur setelah mengajak calon menantunya makan malam disini.
"Mau mandi dulu gak?" tanya Lina pada Randy.
"Iya nih, rasanya udah lengket badan karena keringat," jawab Randy.
Kemudian Lina mengantarkan Randy kekamar tamu, begitu juga dengan Carel dan Abigail mereka juga ingin mandi tapi bergantian.
Lina, Lita dan Lica memberikan pakaian Abang nya yang masih baru untuk mereka ganti pakaian.
"Kok satu kamar sih? Kan ada kamar yang lain?" tanya Lica pada Abigail.
"Gak apa-apa," jawab Abigail.
.
.
__ADS_1
.