
.
.
.
Lita dan Carel baru selesai makan, dan setelah selesai mereka berencana ingin keluar. Tapi sebelum itu Carel ingin memastikan sekali lagi perasaan Lita kepadanya.
"Aku ingin mendengar jawaban dari mulutmu secara langsung," kata Carel.
Bukankah aku sudah mengangguk?" tanya Lita balik.
"Iya, tapi aku masih ragu," jawab Carel.
"Ya aku mau menjadi kekasihmu," ucap Lita. Carel langsung melompat kegirangan, Lita sebisa mungkin menahan tawanya.
"Maaf aku terlalu bahagia," ucap Carel.
"Sekarang aku sudah menemukan tambatan hati yang selama ini aku impikan, seorang gadis yang tangguh yang bisa membuat jantungku berdebar," ucap Carel lagi.
Mereka belum menyadari kalau ada yang ingin melenyapkan mereka. Tiba tiba Lita merasakan instingnya akan adanya bahaya.
"Sepertinya aku merasakan sesuatu yang berbahaya, dan kita harus berhati hati," ucap Lita. Carel menatap Lita dengan intens.
"Setajam itukah instingnya," batin Carel.
"Yuk, semoga tidak terjadi apa-apa," kata Carel, padahal ia juga merasakan hal yang sama.
Carel menggandeng tangan Lita membawanya keluar dengan hati hati. Sedangkan diluar sana sudah terjadi keributan.
Johanes dan anak buahnya sedang menghajar satpam yang bertugas menjaga tempat ini, karena satpam melarang Johanes dan anak buahnya untuk menghancurkan mobil milik Carel.
Setibanya diluar, Carel dan Lita bersikap biasa biasa saja seolah olah itu hal yang biasa bagi mereka.
"Itu mereka," tunjuk Selfi kepada Carel dan Lita.
"Sudah kuduga," bisik Lita pada Carel. Carel hanya tersenyum kearah Lita.
Mobil yang berharga miliaran itu rusak pun Carel masih bersikap biasa saja.
"Dari tadi tanganku sudah gatal ingin menghajar wanita itu," kata Carel.
"Sama aku juga sudah gatal tanganku," kata Lita. Carel semakin tersenyum saja, dan tangannya melingkar di pinggang Lita membuat Selfi semakin marah.
"Mobil tidak bersalah, dan juga tidak akan melawan kalian," ucap Carel dengan santai.
Lita melihat 5 buah mobil yang terparkir sembarangan, Lita menduga kalau itu mobil para gangster itu.
__ADS_1
Lita berjalan kearah mobil tersebut, dan mengeluarkan permen karet dari dalam tasnya lalu mengunyahnya satu persatu. Kemudian menempelkan permen karet itu pada 5 buah mobil tersebut.
"Hei apa yang kau lakukan?" tanya Johanes saat melihat Lita menempelkan permen karet kemobil miliknya.
Mobil yang baru kemarin ia beli, mobil itu adalah dari perusahaan Rakha. Mobil limited edition hanya 5 buah.
"Kalian merusak mobil kekasihku, maka aku juga akan merusak mobil kalian," jawab Lita santai. Kemudian ia kembali menghampiri Carel.
"Hajar pria itu dan tangkap ceweknya," perintah Johanes kepada anak buahnya.
5 orang maju melawan Carel. Tapi Carel tidak bergeming sedikitpun.
Belum sempat mereka melawan Carel mereka dikejutkan dengan suara ledakan.
Duarr... duarr.... duarr... duarr... duarr. 5 buah mobil meledak ditempat itu juga. Beruntung mereka tidak terlalu dekat dengan mobil. Sehingga tidak terkena ledakan tersebut. Hanya beberapa orang saja anak buah Johanes yang terluka.
"Mobilku....!" teriak Johanes melihat mobil mewah miliknya terbakar.
"Itulah akibatnya bila kalian main main dengan kami," ucap Lita.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Johanes.
"Aku tidak ada waktu untuk berkenalan denganmu, aku hanya ingin memberikan kalian pelajaran kecil," jawab Lita.
Selfi masih syok melihat 5 buah mobil mewah yang meledak. Mulutnya masih terbuka lebar dan berdiri mematung, rasa sakit dikakinya seolah olah sudah lenyap.
"Bos bagaimana ini?" tanya salah satu anak buahnya.
Lita melumpuhkan dulu Johanes dengan eyeliner miliknya, tanpa ada yang menyadarinya saat Lita menembak Johanes dengan jarum bius pelumpuh.
Johanes seketika tumbang keaspal, para anak buahnya berhenti untuk menyerang Carel.
"Bos...?!" panggil salah satu anak buahnya.
Saat anak buah Johanes lengah, Carel beraksi menyerang mereka satu persatu.
Carel menendang meninju dan membanting para anak buah Johanes. Kini ada 7 orang yang sudah dikalahkan oleh Carel.
Sedangkan Lita juga melawan anak buah Johanes. Selfi masih terdiam ditempatnya menyaksikan aksi Lita yang begitu lihai dalam bertarung. Meskipun Lita memakai gaun, tapi tidak menghalanginya untuk menghajar anak buah Johanes.
Lita sudah mengalahkan 9 orang, dan selebihnya ia serahkan kepada Carel untuk melawannya. Sedangkan Lita menghampiri Selfi yang sudah memucat karena ketakutan.
"Sekarang giliran kamu," ucap Lita dengan nada dingin.
Selfi berbalik badan dan hendak berlari, Lita tidak tinggal diam karena sudah sedari tadi tangannya gatal untuk menghajar wanita itu.
Lita sengaja bermain main dengan Selfi yang berlari dengan pincang karena kakinya terkilir.
__ADS_1
"Aaakh," teriak Selfi saat ia terjatuh dan tersungkur karena ditendang oleh Lita.
"Bagaimana? Masih ingin berurusan denganku?" tanya Lita.
"Si.. siapa kau sebenarnya?" tanya Selfi.
"Aku...?! Aku adalah malaikat pencabut nyawa," ucap Lita tersenyum devil. Lita seperti seorang psikopat saat ini semakin membuat Selfi ketakutan.
"Sayang...!" panggil Carel, Carel berlari mendekati Lita.
"Kenapa tidak dibunuh saja, sayang?" tanya Carel.
Gleek... Selfi menelan salivanya dengan susah payah, ia tidak menduga kalau Carel yang terlihat begitu tampan ternyata seorang yang kejam.
"Am... ampun. Ampunkan gue, gue janji tidak akan menggangu kalian lagi," ucap Selfi.
"Aku belum puas sebelum membuatmu lumpuh, atau mati," ucap Lita menakut nakuti Selfi.
"Ja.. jangan apa apakan gue, gue janji tidak akan muncul kembali dihadapan kalian," ucap Selfi memohon.
"Baik, untuk kali ini aku memaafkan mu. Tapi kalau kamu ingkar maka kau akan tahu akibatnya," ucap Lita dengan nada lembut. Tapi bagi yang mendengarnya itu adalah sebuah ancaman.
Carel kemudian menelepon taksi, karena mobilnya sudah rusak parah. Dan tidak perlu menunggu lama taksi yang ia pesan pun sampai.
Carel dan Lita pun pulang dengan menggunakan taksi. Saat ditengah perjalanan ponsel sang supir taksi pun berdering. Supir taksi pun menghentikan mobilnya dan menjawab panggilan tersebut.
"Apa?!" tanya supir taksi itu tiba tiba sehingga membuat Carel dan Lita saling pandang.
"Iy... iya iya, saya akan mencari uang pengobatannya," jawab supir taksi itu.
Meskipun Carel dan Lita tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh lawan bicara supir taksi itu, tapi mereka yakin kalau supir taksi itu butuh uang untuk biaya pengobatan.
"Maaf tuan, nona. Saya tidak bisa mengantarkan tuan dan nona sampai tujuan, saya harus segera kerumah sakit." ucap supir taksi itu.
"Pak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Lita.
"Istri saya terjatuh dan sekarang berada dirumah sakit, dan istri saya harus segera dioperasi demi menyelamatkan bayi saya," ucap Bapak itu sendu.
"Ya sudah, Bapak kerumah sakit dulu, kami juga akan ikut," kata Lita. Carel pun mengangguk.
"Bapak pasti butuh uang, biar aku saja yang biayai pengobatan istri Bapak," kata Carel.
Supir taksi itu pun merasa lega mendengarnya, jujur ia memang butuh uang untuk biaya persalinan istrinya. Tapi ia tidak menduga akan ada kejadian seperti ini.
Akhirnya Carel dan Lita pun ikut kerumah sakit bersama supir taksi itu.
.
__ADS_1
.
.