THREE ANGEL

THREE ANGEL
Mendapatkan bonus.


__ADS_3

.


.


.


Hari terus berganti, tidak terasa sudah satu bulan triple A bekerja di perusahaan Daddy-nya. Dan hubungan Lina dengan Randy semakin dekat. Lita dengan Carel juga begitu. Sedangkan Lica ternyata hubungan mereka belum juga ada kemajuan, meskipun mereka selalu bersama sama tapi Lica belum memberikan jawaban atas ungkapan perasaan Abigail.


Meskipun demikian Abigail selalu sabar menunggu, yang penting baginya bisa bersama sama dengan Lica sudah cukup membuat ia merasa bahagia.


Abigail juga sering membawa Lica ke mansionnya, yang paling bahagia adalah Alika karena Lica mau berkunjung ke mansion miliknya.


Abigail juga sudah jarang berada di apartemen miliknya sejak ia semakin dekat dengan Lica.


"Kalian sudah mendapatkan notifikasi bonus bulan ini?" tanya Rukiza saat ini mereka sedang berkumpul di kantin.


"Sudah, Alhamdulillah dapat banyak bonus bulan ini," jawab Lolita.


Sebelumnya mereka jarang dapat banyak bonus, karena bonus mereka selalu dikurangi oleh manager terdahulu. Karena dulu, setiap kali dapat bonus harus melalui manager mereka.


Sekarang urusan itu diubah oleh Lina agar bonus mereka langsung ditransfer aja. Mereka begitu senang mendapatkan bonus.


"Bagaimana kalau pulang nanti kita makan diluar?" tanya Delima.


"Biar aku yang traktir," ucap Delima lagi.


"Bolehkah aku memilih tempat?" tanya Lina.


"Boleh boleh saja," jawab Delima.


"Tapi kami mau ngajak pacar kami," kata Lita.


"Kalau dengan pacar kalian, kayanya uangku gak cukup deh buat traktir," kata Delima.


"Biar pacar kita aja yang traktir. Bagaimana?" tanya Lina.


"Setuju...?!" jawab mereka serentak.


Oh ya, Delima sudah jadian sama Johan, Adela juga sudah jadian sama Rino, Ansel dengan Lolita, dan Rukiza dengan Gibson. Tapi mereka jarang ketemu karena sibuk bekerja.


Kalau mereka ingin bertemu terkadang hanya seminggu sekali atau seminggu dua kali saja.


"Jas kamu mau ikut kita gak nanti sore?" tanya Adela.


"Tapi aku belum punya pasangan," jawab Jasmine.


"Nanti aku suruh Abi bawa asisten pribadinya," ucap Lica.


Jasmine hanya tertunduk, ia sudah pernah bertemu dengan Arga sekali, dan keduanya seperti saling suka. Arga yang belum pernah jatuh cinta tidak menyadari perasaan itu. Begitu juga dengan Jasmine.


"Kembali keruangan yuk, sebentar lagi jam istirahat habis," ajak Lina.


Mereka pun bangkit dari duduknya dan berjalan kearah ruangan mereka, Jasmine turun kebawah karena kantin berada di lantai dua. Setibanya dimeja resepsionis, Jasmine tersenyum kala mengingat nama Arga.

__ADS_1


Arga seorang pria berusia 27 tahun, mapan dan tampan. mengabdikan hidupnya kepada keluarga Davidson karena keluarga itu telah menyelamatkan dirinya dari keterpurukan.


Arga yang seorang anak yatim-piatu yang pernah hidup di jalanan dan ditakdirkan bertemu dengan Daka dan istrinya, kemudian mereka merawat Arga dari sejak usia 7 tahun. Abigail ketika itu baru berusia 5 tahun.


"Selamat siang," sapa seorang wanita yang berpakaian modis.


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Jasmine.


"Aku ingin bertemu dengan Darmendra. Apakah dia ada?" tanya wanita itu yang tidak lain adalah Diva.


Jasmine tidak mengenal Diva jadi ia tidak tahu dengan siapa dia bicara?.


"Oh ada Bu, tapi saat ini tuan sedang ada rapat," jawab Jasmine.


Diva sengaja datang ke perusahaan hanya untuk menguji Jasmine. Ia ingin melihat apakah yang dikatakan putrinya benar?.


Ternyata putrinya tidak salah merekrut karyawan, meskipun pendidikan Jasmine tidak sampai keperguruan tinggi.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggunya," jawab Diva.


"Mengapa wajah ini mirip dengan triple A?" batin Jasmine.


"Kalau boleh tau saya berbicara dengan siapa ya?" tanya Jasmine.


"Oh...aku istrinya Darmendra," jawab Diva.


"Maaf nyonya, saya tidak tahu. mari nyonya silahkan menunggu diruang kerja tuan Darmendra saja," ucap Jasmine yang seketika berubah menjadi grogi.


Jadi wajarlah Jasmine tidak tahu, beruntung Jasmine mempunyai attitude yang baik jadi dia tidak salah langkah.


Diva didalam lift Diva tersenyum, dia datang tanpa memberitahu suaminya. Diva masuk kedalam ruang kerja Darmendra dan tidak ada siapapun disitu.


Diva duduk di sofa sambil bermain ponsel miliknya yang bermerek apel digigit itu. Selang setengah jam pintu ruang kerja Darmendra pun dibuka seseorang. Diva menoleh kearah pintu.


"Sayang...?!" panggil Darmendra saat ia masuk kedalam ruang kerjanya itu.


Darmendra langsung menghampiri istrinya dan langsung memeluknya, seperti tidak bertemu berbulan bulan lamanya. Padahal mereka baru bertemu tadi pagi.


"Kok gak bilang bilang sih kalau mau datang?" tanya Darmendra.


"Tadinya ingin buat kejutan buat hubby, tapi ternyata hubby tidak ada diruangan ini," jawab Diva.


"Maaf sayang, aku lagi rapat dengan pemegang saham," jawab Darmendra.


"Lalu bagaimana rencana dengan mengangkat Lina sebagai CEO?" tanya Diva.


"Itulah juga dibahas dalam rapat tadi, semua pemegang saham setuju. Dan mereka yakin kalau anak kita bisa memajukan perusahaan ini," jawab Darmendra.


"Mungkin aku juga akan memilih Lita untuk melantiknya menjadi CEO di perusahaan ku," kata Diva.


"Hmmm, terserah kamu saja lah sayang, lalu Lica?" tanya Darmendra.


"Kalau dia mau biar Lica mengurus perusahaan cabang," jawab Diva.

__ADS_1


"Kita harus diskusikan kepada mereka," kata Darmendra.


"Itu harus, hubby," ucap Diva.


Kemudian Darmendra menarik tangan Diva menuju kamar pribadi miliknya, kamar yang tidak tidak dimasuki oleh orang lain kecuali dirinya saja.


"Ada apa hubby?" tanya Diva.


"Aku rindu, sayang," jawab Darmendra.


"Bukannya semalam udah ya, bahkan tidak hanya sekali," ucap Diva.


Darmendra tidak menjawab tapi malah menggendong Diva masuk kedalam kamar pribadi miliknya itu. Diva pun tidak berontak dan hanya melingkarkan tangannya dileher Darmendra.


Perlahan Darmendra melepaskan Diva ditempat tidur. Darmendra juga berbaring disisi Diva.


"Sebentar lagi anak anak kita juga akan menikah, mereka akan menjalani hidup mereka sendiri," ucap Darmendra.


"Biarlah mereka memilih hidup mereka sendiri, kita sebagai orang tua hanya mendukungnya saja," kata Diva.


Darmendra mendekatkan bibirnya ke bibir Diva dan mengecupnya mesra.


"Entah kenapa aku selalu rindu dengan ini," ucap Darmendra sambil mengelap bibir Diva menggunakan jempolnya.


"Kita sudah tua hubby," ucap Diva.


"Memangnya kalau sudah tua tidak boleh mesra mesraan?" tanya Darmendra.


"Boleh, tapi ingat tempat sekarang kita ada dikantor," jawab Diva.


Darmendra hanya tersenyum, lalu kemudian ia menc*um bibir Diva dengan lembut. Diva hanya terdiam, suaminya selalu bisa membuat ia tidak bisa menolak.


Darmendra memperdalam ci*mannya, dan Diva pun membalasnya.


"Tunggu di mansion saja, hubby," ucap Diva saat Darmendra tangannya sudah kemana mana, Darmendra tidak marah tapi malah tersenyum senang.


"Kalau begitu kita pulang saja," ucap Darmendra.


"Bukankah hubby masih ada pekerjaan?" tanya Diva.


"Biar saja dulu, besok besok bisa dikerjakan," jawab Darmendra santai.


"Jangan begitu hubby, selesaikan dulu pekerjaannya setelah itu baru kita pulang sama sama," kata Diva.


"Kalau begitu satu ronde ya," pinta Darmendra.


Akhirnya kedua pasangan yang sudah tidak muda lagi itupun melakukan pendakian di siang hari, tanpa menghiraukan apapun yang penting mereka harus mencapai puncak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2