THREE ANGEL

THREE ANGEL
tidak tahu malu.


__ADS_3

.


.


.


Carel menarik kursi untuk Lita duduk, membuat Lilyana semakin geram. Sewaktu dengannya boro boro seperti itu malahan yang ada langsung disiram dengan air.


"Sepertinya Lo kalah saing Lily, lihatlah cewek itu lebih cantik dari Lo pantas saja Carel menolak Lo," ucap temannya yang bernama Icha.


Lily semakin memerah menahan amarahnya, apalagi dikompori oleh teman temannya.


"Gue sudah oplas ke Korea tidak mungkin kalah sama tuh cewek," ucap Lily dengan emosi yang tertahan.


"Hahaha, Carel tentu akan memilih yang ORI daripada yang KW," ejek temannya lagi.


"Kalian...?!" tunjuk Lily pada teman temannya.


"Kita lihat saja siapa yang bakal tersingkir," ucap Lily sambil melangkah menuju meja tempat Carel dan Lita.


Risa ingin menyusul Lily tapi ditahan oleh Icha.


"Biarkan saja, kita tidak usah ikut campur," ucap Icha.


"Kenapa!" tanya Risa.


"Apa kalian tidak tahu? kalau cewek yang dibawa oleh Carel itu adalah nona muda keluarga Henderson," ucap Icha.


"Apa keluarga kalian mau hancur dalam satu malam? Kalau iya silahkan berurusan dengan tuh cewek," tanya Icha.


"Gak, gue gak mau mendapatkan masalah," jawab Risa.


"Sebaiknya kita pulang saja guys, aku tidak mau terkena imbasnya," kata Mia dengan takut.


Akhirnya ketiga cewek itu pun pulang, tapi sebelum itu mereka memanggil pelayan cafe untuk membayar minuman mereka.


Braak...Lily menggebrak meja, spontan Lita dan Carel bangkit dari duduknya karena gebrakan meja tersebut. Orang orang yang disampingnya pun terlonjak kaget.


"Siapa kamu?" tanya Carel. Carel tentu tidak mengenalnya karena wajahnya sudah berubah. Apalagi Carel cuma melihat nya sekilas waktu itu.


"Lo lupa sama gue? Gue teman kencan buta yang Lo tolak," ucap Lily.


Orang orang yang dekat dengan meja itupun berbisik-bisik.


"Tidak tahu malu banget, udah ditolak masih ngotot. Emang dirumahnya gak punya kaca kali," ucap pengunjung A yang tadi bersama pasangannya.


Lita sudah tidak kuasa menahan tawanya pun tertawa terbahak bahak, ditambah lagi bisik bisik tetangga sebelah mejanya membuat Lita semakin tertawa.


"Maaf aku memang tidak mengenalmu," ucap Carel yang juga menahan tawa. Wajah Lily pun memerah menahan malu dan juga marah.


Lita masih tertawa terbahak bahak sampai terduduk dilantai sambil memegangi perutnya.

__ADS_1


"Sayang....?!" panggil Carel dan segera Carel mengangkat tubuh Lita dan mendudukkan nya dikursi.


Lily semakin geram melihatnya, ia mengepalkan tangannya kuat. Lita dan Carel tidak menyadari kalau Lily sudah mengangkat tangannya dan...


PLAAK... satu tamparan mendarat dipipi Lita, Lita menghentikan tawanya dan orang orang disampingnya pun Semua terdiam. Carel hendak bangkit tapi ditahan oleh Lita.


Lita bangkit dari duduknya dan menjambak rambut Lily serta menariknya keras. Lily menjerit kesakitan, tapi Lita tidak peduli sama sekali.


Carel hanya memperhatikan saja, membiarkan Lita mengurus wanita itu. Carel duduk santai saja dikursinya. Orang orang yang ada disitu pun tidak ada yang berani bersuara.


Bruuk... Lily didorong oleh Lita ketanah. Dan lututnya mengenai batu krikil.


"Aaaaaakkh," teriak Lily saat Lita kembali menjambak rambutnya.


"Karena kau sudah memancing kemarahanku sekarang terimalah akibat nya," kata Lita.


"Kau... dasar wanita j*l*ng," teriak Lily.


"Cih, j*l*ng teriak j*l*ng, apa perlu aku sebarkan video mu di dunia Maya?" tanya Lita.


"Apa maksudmu?" tanya Lily.


"Tidak sulit untuk mengungkapkan siapa kamu sebenarnya? Dan aku bisa saja membuatmu hancur, juga karir mu sebagai model sangat mudah untuk aku hancurkan." ucap Lita.


Deg...


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Lily.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku?" tanya Lita lagi.


Lita meraih tangan Lily dan memelintirnya, Lily pun menjerit jerit kesakitan.


"Bukankah tangan ini yang Kamu pergunakan untuk menamparku?" tanya Lita.


Lily tidak menjawab, ia hanya menangis menyesali dirinya karena berurusan dengan orang yang salah.


"Kau salah mencari lawan," ucap Lita lalu kembali lagi ke mejanya.


"Bagaimana?" tanya Carel.


"Dia teman kencanmu yang kamu tolak dulu," jawab Lita.


"Tapi aku tidak mengenal nya sayang," ucap Carel.


"Dia melakukan oplas agar lebih cantik," jawab Lita. Carel melongo saja mendengarnya.


"Sayang pipimu merah," kata Carel.


"Tidak apa-apa, anggap saja latihan," ucap Lita.


"Minum dulu sayang, pesanannya sudah tiba sejak tadi," ucap Carel mencairkan suasana.

__ADS_1


Lita meneguk jus yang ia pesan tadi. Carel hanya memperhatikan saja cara Lita minum yang tidak seperti biasanya. Bahkan kali ini Lita pun banyak diam.


"Sayang...!" panggil Carel, tapi Lita tidak menyahut sama sekali. Lita menelpon Lina minta dijemput. Lina pun heran padahal ia pergi bersama Carel. Tapi Lina masih tetap menjemputnya.


Setengah jam kemudian Lina datang dengan mobil miliknya, Lina pun keluar dari mobil dan melihat Lita sudah menunggunya. Sedangkan Carel hanya terdiam saja melihat perubahan sikap Lita. Ia mengerti kalau Lita saat ini sedang tidak baik baik saja. Lina menghampiri Carel dan bertanya. Carel pun menceritakan apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.


"Lita lagi tidak baik baik saja, sebaiknya biar dia tenang dulu, gak lama kok mungkin besok atau lusa mood nya akan kembali membaik. Dan kamu sebagai pacarnya harus mengerti dan membiasakan diri dengan sikap nya. Sabar ya," ucap Lina sambil menepuk pundak Carel agar Carel bisa mengerti.


"Semua ini salahku Lin, kalau aku tidak mengikuti keinginan Mama semua itu tidak akan terjadi," jawab Carel.


"Jangan menyalahkan diri sendiri, setiap sesuatu pasti ada hikmahnya dan juga ujiannya, nanti aku bantu ngomong sama Lita." ucap Lina. Sedangkan Lita sudah menunggu di mobil.


"Aku selalu menolak setiap wanita yang kencan buta denganku, dan aku juga tidak tahu akan seperti ini." ucap Carel.


"Sudahlah, semua ini adalah ujian dalam bercinta. Yang penting kamu harus mengambil sikap tegas untuk setiap wanita yang datang, jika kamu benar benar mencintai Lita maka jangan ada orang ketiga dalam hubungan. Singkirkan semua yang akan menjadi penghalang cinta kalian. Oke aku bawa Lita pulang dulu. nanti bila sudah reda baru kamu bujuk dia, untuk saat ini dia belum bisa dibujuk. Kami kembar identik tapi sifat kami dan karakter berbeda." ucap Lina.


Kemudian Lina pun masuk kedalam mobil dan pergi dari tempat itu. Carel pun masuk kedalam mobil dan ingin pulang ke mansion.


Carel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak peduli dengan umpatan orang yang ia lewati. Carel tiba di mansion dengan wajah frustasi. Marissa yang melihatnya pun langsung menghampirinya.


"Ada apa sayang?" tanya Marissa.


"Tidak ada apa-apa ma, aku kekamar dulu ya ma," jawab Carel.


"Sayang...?!" panggil Marissa.


"Aku ingin sendiri ma, tolong jangan ganggu aku," ucap Carel.


Sementara di tempat lain...


Lina membawa Lita kesuatu tempat yang mereka anggap tenang. Lita keluar dari mobil dan tiba-tiba ia tertawa keras. Lina pun menjadi heran.


"Ada apa ha?" tanya Lina.


"Aku pengen ketawa dari tadi melihat wajah frustasi Carel," jawab Lita.


"Jadi kamu ngerjain dia?" tanya Lina.


"Yap, aku pengen lihat sejauh mana dia berjuang," ucap Lita.


"Tapi tadi?" tanya Lina.


"Tadi aku hanya memberikan pelajaran pada wanita tidak tahu malu itu," jawab Lita.


"Hah aku pikir kamu serius marah sama dia," ucap Lina.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2