THREE ANGEL

THREE ANGEL
Romansa modern


__ADS_3

.


.


.


Setiap pasang mata yang melihat Randy dan Lina mereka memandang iri, karena terlihat begitu romantis dimata mereka.


"Udah kaya di novel novel gitu, dengan genre romansa modern," ucap pengunjung 1.


"Iya nih, aaaaa jiwa jombloku meronta ronta. Kapan aku punya pasangan seromantis itu?" tanya pengunjung 2.


Kebanyakan pengunjung yang ada disitu adalah wanita dan para gadis. Ada janda dan ada juga yang bukan. Bahkan ada yang sudah bersuami pun mengagumi sosok pria tampan tersebut.


"Kamu tidak cemburu, sayang?" tanya Randy. Lina yang tadinya menunduk kini mendongak menatap tajam.


"Cemburu? Alasan apa yang buat aku cemburu?" tanya Lina.


"Karena para pengunjung wanita disini mengagumi ku," jawab Randy. Lina tersenyum.


"Mereka mengagumimu karena kamu tampan, coba kalau kamu jelek pasti mereka akan mencibirmu," kata Lina, Randy hanya tersenyum nyengir.


"Dan juga itu artinya mereka normal," kata Lina lagi.


"Normal? maksudnya?" tanya Randy.


"Karena mereka mengagumimu berarti mereka normal dan tidak menyukai sesama," jawab Lina.


"Maksudnya les....?" Lina spontan menutup mulut Randy agar tidak meneruskan ucapannya.


"Mmmmm..." Randy ingin bicara tapi mulutnya ditutup oleh telapak tangan Lina.


"Ssst jangan ngomong begitu lagi, nanti mereka tersinggung kalau sampai mereka mendengarnya." ucap Lina.


Sementara disisi lain...


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Lica pada Abigail.


"Orang tua kita sudah setuju dengan hubungan kita," kata Abigail.


"Hubungan? Memangnya apa hubungan kita?" tanya Lica.


"Tidakkah kau tahu kalau aku menyukaimu?" tanya Abigail.

__ADS_1


"Perasaan suka itu banyak macamnya, dan kamu termasuk kategori yang mana?" tanya Lica.


"Baiklah aku akan berterus terang saja dan tidak ingin berbelit-belit," kata Abigail. Lica mendongak menatap wajah tampan Abigail. Karena tinggi badan Abigail melebihi tinggi badan Lica. Meskipun Lica termasuk kategori perempuan ideal baik dari bentuk tubuh dan juga tinggi badan.


"Nungguin ya...?" goda Abigail sambil tertawa.


Buugh... Lica meninju perut Abigail sehingga Abigail meringis menahan rasa sakit.


"Galak amat sih," kata Abigail. Tapi ia masih tertawa.


"gak lucu," kata Lica lalu melangkahkan kaki hendak meninggalkan tempat itu. Tapi dengan cepat Abigail menarik tangan Lica sehingga Lica terbentur tubuh Abigail dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Abigail.


Abigail memeluk tubuh Lica yang hanya terdiam saja, entah kenapa ia merasa nyaman berada didalam pelukan tersebut.


"Aku sudah lama menyukaimu sejak kita bertemu didalam pesawat ketika itu," ucap Abigail. Lica diam saja mendengar pernyataan Abigail.


"Dan perasaan suka itu ternyata semakin tumbuh hingga menjadi cinta, aku harap kamu punya perasaan yang sama denganku," kata Abigail sambil berbisik ditelinga Lica.


"Angelica Dewi Henderson maukah kau menjadi kekasihku?" tanya Abigail. Lica melepaskan pelukan Abigail darinya.


"Aku tidak akan memaksamu untuk menjawabnya sekarang, aku tau kamu pasti butuh waktu untuk berpikir. Tapi jangan lama lama ya? Jangan biarkan aku terus menunggu sesuatu yang tidak pasti," tanya Abigail.


Lica masih terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa? Jujur dia juga menyukai Abigail, tapi kalau cinta sepertinya Lica belum siap.


"Beri aku waktu, jujur saja aku juga menyukaimu. Tapi kalau soal cinta sepertinya aku belum siap. Aku takut kecewa," jawab Lica. Abigail tersenyum.


Kemudian Abigail meraih tangan Lica dan mengecupnya. Kemudian Abigail mengecup kening Lica. Lica seperti terhipnotis dengan perlakuan lembut dari Abigail.


"Aku berjanji akan selalu mencintaimu sampai akhir hidupku," ucap Abigail. Lica menggeleng.


"Aku tidak butuh janjimu, aku hanya ingin bukti bukan janji. karena janji bisa saja diingkari." kata Lica.


"Hei kamu... serahkan gadis itu," perintah seorang pria.


Lica dan Abigail menoleh kearah suara tersebut, ternyata sudah ada lima orang pria yang biasa mengganggu para gadis.


"Cih... merusak momen saja," gumam Abigail.


"Kita pergi saja," ajak Lica lalu menggandeng tangan Abigail. Abigail melirik kearah tangannya yang digandeng oleh Lica.


"Mau kemana kalian? Serahkan gadis itu dulu dan kamu boleh pergi," tanya pria itu.


"Maaf bang, kami tidak ingin mencari keributan disini," jawab Lica.

__ADS_1


Salah satu pria tersebut mengeluarkan pisau. Dan berjalan maju kearah keduanya. Abigail dan Lica tenang tenang saja. Saat pria itu sudah berada sekitar 1 meter dari mereka. Abigail mengangkat tubuh Lica dan kaki Lica berayun menendang wajah pria itu.


Wajah pria itu merah bercampur darah keluar dari hidungnya karena terkena sepatu yang Lica gunakan.


"S*al....!" umpat pria itu sambil mengelap hidungnya dengan tangan. Pria itu terduduk diatas pasir.


Abigail menurunkan Lica dan mereka bersiap-siap untuk pergi tapi diteriaki oleh pria itu.


"Berhenti, urusan kita belum selesai," teriak pria itu yang tidak terima karena kekalahannya. Abigail dan Lica pun berbalik menghadap ke mereka.


"Kami tidak ada urusan dengan kalian, tapi kalian lah yang mencari masalah," ucap Abigail.


"Maju kalian, hajar orang itu dan wanitanya tangkap," perintah pria itu kepada kawanan nya.


Empat orang maju hendak melawan Abigail dan akan menangkap Lica. Abigail dan Lica saling pandang lalu keduanya mengangguk seolah olah mengerti dengan kode tersebut.


Abigail dan Lica pun maju secara bersamaan. keduanya berpegangan tangan dan serentak melayangkan tendangan kearah empat orang pria itu. Dua orang tumbang karena terkena tendangan Abigail dan Lica. Kemudian Lica melepaskan pegangan tangannya dari Abigail.


Lica memutar tubuhnya dan menendang pria itu. tapi gerakan Lica sudah terbaca sehingga pria itu mengelak. Lica memutar tubuhnya sekali lagi dan menendang. kali ini pria itu tidak bisa mengelak lagi dan tendangan tersebut tepat mengenai kepala pria itu.


Pria itu terhuyung karena pusing. kemudian tendangan susulan mendarat tepat didada pria itu sehingga pria itu terpental beberapa meter kebelakang dan membentur pohon kelapa.


Abigail dengan santai melawan musuhnya, karena mulutnya tidak begitu tangguh. Hanya dengan beberapa kali tendangan saja keempat pria itu sudah terkapar dipasir.


"Tinggal satu lagi yang belum KO," kata Abigail sambil berjalan mendekati pria yang pertama.


Pria itu beringsut mundur dengan cara ngesot. Lica tertawa terbahak bahak melihat cara pria itu ngesot. Tanpa ampun lagi Abigail menghajar pria itu hingga babak belur dan pingsan.


"Sejak tadi aku menahan emosiku karena sudah menganggu momen romantisku," gumam Abigail. Sedangkan Lica masih tertawa dan belum menyadari kalau musuhnya sudah pingsan semua.


"Apa yang lucu?" tanya Abigail menepuk pelan pundak Lica.


"Ehh...!" Lica baru sadar dan melihat semua pria itu sudah pingsan.


"Kapan kamu menghajarnya?" tanya Lica.


"Saat kamu ketawa, entah bagian mana yang lucunya," jawab Abigail.


"Aku tertawa melihat pria itu ngesot, kelihatan lucu aja," kata Lica.


"Yuk pergi," ajak Abigail sambil menggandeng tangan Lica.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2