
.
.
.
Akhirnya Randy pun kembali kekamarnya sendiri setelah diusir oleh Lina. Kemudian Lina masuk dan terus berbaring diatas tempat tidur. Lina memegang bibirnya sendiri seakan tidak percaya kalau dia sudah menerima Randy.
"Rasanya aku belum percaya dengan semua ini, juga dengan perasaanku sendiri. Ternyata aku juga mudah untuk jatuh cinta," batin Lina.
Tidak bisa lagi dipungkiri kini Lina sudah jatuh cinta kepada Randy. Bukan hanya karena ketampanannya tapi juga perjuangan Randy yang sudah membuktikan dirinya.
Jujur bagi keduanya ini adalah cinta pertama bagi mereka. Berawal dari cinta monyet semasa SMP. Meskipun waktu itu Lina belum memiliki perasaan apapun terhadap Randy. Namun sekarang ia sudah menerima Randy.
Sementara Randy didalam kamarnya sendiri juga berbaring terlentang sambil tersenyum manis semakin membuat kadar ketampanannya meningkat berkali kali lipat.
Randy mengingat c*uman pertamanya, dan ia juga yakin kalau itu juga yang pertama bagi Lina, karena ia tau Lina tidak mudah berbuat seperti itu dengan sembarang pria.
"Akhirnya apa yang aku impikan selama ini sudah kudapatkan, aku akan menjaga cintaku padamu Lina. Karena kamu adalah permata terindah dan ratu dalam hidupku. Cinta yang aku miliki tidak terukur dengan apapun didunia ini. Dari dulu hingga sekarang bahkan sampai nanti aku akan tetap mencintaimu. Dan itu bukan sekedar ungkapan omong kosong belaka," monolog Randy pada dirinya sendiri. Randy mencoba untuk memejamkan mata untuk tidur tapi tidak bisa.
Lalu ia pun bangkit dan keluar dari kamarnya menuju kamar kakeknya. Perlahan Randy membuka pintu kamar dan melihat kakeknya masih tertidur pulas. Randy pun berbaring disamping kakeknya dan tertidur.
Pagi hari...
Randy terbangun dari tidurnya dan menemukan sang sudah tidak ada ditempat tidur. Sayup-sayup ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi sang kakek.
Randy perlahan bangun dan duduk diatas ranjang, dilihatnya jam dinding masih terlalu pagi yaitu pukul 5 pagi.
"Apa kakek sudah sembuh?" batin Randy.
"Kakek...!" panggil Randy saat Abbas sudah keluar dari kamar mandi.
"Kau sudah bangun?" tanya Abbas. Randy bangkit dan menghampiri Abbas meneliti setiap gerak gerik Abbas yang terlihat sudah segar.
"Kenapa?" tanya Abbas, Randy tidak menjawab dan langsung memeluk kakeknya.
"Kakek sudah sembuh?" tanya Randy sambil menangis memeluk kakeknya. Bukan karena sedih tapi terlalu bahagia atas kesembuhan sang kakek.
"Kakek sekarang sudah lebih baik, peredaran darah kakek terasa sudah lancar dan persendian kakek juga tidak kaku lagi," ucap Abbas.
__ADS_1
"Syukurlah kek, akhirnya kakek sudah sembuh," kata Randy.
"Kamu tidak salah pilih pasangan, jaga dia jangan sesekali kamu menyakiti hati dan fisiknya," pesan Abbas.
"Tidak akan kek, aku mencintainya sejak dulu hingga sekarang dan nanti," jawab Randy. Abbas pun mengangguk.
"Sampai kapan kamu akan memeluk kakek?" tanya Abbas, Randy pun melepaskan pelukannya.
"Maaf kek aku terlalu bahagia," jawab Randy.
"Hmmm, sudah. Kembalilah kekamar mu," perintah Abbas. Randy pun kembali kekamarnya untuk mandi, sedangkan Lina sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Para pelayan dirumah itu hanya membantu sedikit sedikit, dan Lina yang memasak.
Kali ini Lina hanya memasak nasi goreng untuk keluar ini, dan bubur untuk sang kakek.
Lina juga merebus obat herbal yang sudah diracik dengan takaran yang pas. dan nanti akan diminum sehari dua kali untuk kesehatan kakek Abbas.
"masak apa sayang?" tanya Denia yang baru bangun tidur, karena mencium aroma masakan ia pun langsung kedapur.
"masak nasi goreng aja ma yang praktis, dan bubur untuk kakek," jawab Lina.
"Oh ya ma, aku ada buatkan obat herbal untuk kakek, nanti disuruh kakek meminumnya sehari dua kali," kata Lina lagi.
Tanpa diperintah dua kali pelayan segera melakukan tugasnya.
"Nyonya, tuan muda sangat beruntung ya mendapatkan gadis sebaik non Lina," kata pelayan kepada Denia. Denia hanya tersenyum saja.
"Nasib seseorang tidak ada yang tau bik, dan takdir juga kita tidak tahu," jawab Denia.
Randy keluar dari kamarnya dan turun kebawah langsung menuju dapur, dilihatnya pelayan sedang ngobrol dengan Mamanya, sekilas Randy mendengar pujian pelayan tentang Lina membuat Randy tersenyum bangga.
Randy langsung duduk dikursi meja makan, pelayan pun spontan terdiam setelah membicarakan Lina.
"Lina mana ma?" tanya Randy.
"mungkin masih mandi, tadi setelah selesai masak ia kembali kekamar," jawab Denia. Delon datang dengan pakaian formalnya, kemudian Abbas juga turun kebawah.
"Ayah...!" seru Delon melihat Abbas sudah lebih baik. Ia pun bangkit dari duduknya dan langsung memeluk ayahnya.
"Kenapa? Kenapa semua orang selalu mengkhawatirkan ku? Padahal aku tidak apa-apa?" tanya Abbas. Delon meleraikan pelukannya.
__ADS_1
"Aku anak ayah satu satunya, tentu saja aku mengkhawatirkan ayah," kata Delon. Kemudian Denia pun menghampiri suaminya dan menggandeng tangan Abbas untuk ke meja makan.
"Ayah sudah baik baik saja," ucap Abbas pada menantunya itu. Istri Abbas sudah lama meninggal, sejak melahirkan Delon. Abbas tidak ingin mencari pengganti istrinya. Baginya istrinya adalah segalanya.
"Mari ayah, Lina sudah masak bubur untuk ayah. Dan membuatkan obat herbal untuk ayah," kata Denia.
"Ayah sangat beruntung punya menantu baik sepertimu," ucap Abbas.
"Ayah ngomong apa sih? Aku sudah menganggap ayah sebagai ayah kandungku sendiri dan pengganti orang tuaku," kata Denia. Denia seorang anak yatim piatu, tapi nasib baik menyebelahi nya. Ia dipertemukan dengan Delon yang sangat peduli padanya. Delon juga yang membiayai sekolah Denia sampai lulus kuliah. Karena sering bersama timbul benih benih cinta diantara mereka. Denia yang merasa berhutang budi tentu saja tidak menolak saat Delon memintanya untuk menjadi pendamping hidupnya. Kebetulan juga keduanya sama sama saling cinta.
Randy hanya memperhatikan saja kedua orang tuanya yang terlihat begitu bahagia dengan kesembuhan sang kakek. Perlahan Randy menghapus air matanya.
Pelayan pun terharu, sehingga pergi dari situ dan menumpahkan air matanya ditempat lain. Lina yang ingin kedapur pun berhenti sejenak melihat kakek Abbas sudah berjalan bahkan terlihat sudah baik baik saja.
"Mari makan dulu," pinta Lina menghidupkan suasana. Semua pun duduk dikursi meja makan.
Pertama Lina mengambilkan bubur untuk kakek Abbas, kemudian baru mengambilkan Randy nasi goreng. Baru setelah itu untuk dirinya sendiri.
"Siapa yang membuat bubur ini?" tanya Abbas.
"Calon istriku kek," jawab Randy.
"Benar benar calon istri idaman, biasanya perempuan diluar sana hanya bisa berdandan. Urusan dapur semua diserahkan kepada pelayan," ucap kakek Abbas.
Lina hanya terdiam dan tidak berkomentar apa-apa. Sedangkan Randy sudah tersenyum senang karena calon istrinya banyak yang memuji.
Keluarga Attar makan dengan lahapnya, kebetulan masakan Lina sangat pas di lidah dan menggugah selera makan.
Setelah selesai makan Lina dan Randy pun pamit untuk pergi bekerja.
.
Semoga kalian suka dengan ceritanya, aku gak tau membuat cerita bagus. Jadi yang ada didalam pikiranku itulah yang aku tulis.
.
.
.
__ADS_1