
.
.
.
Di cafe...
Ketiga pasangan itupun memesan minuman, Randy memanggil pelayan. Tapi yang datang malah pemilik cafe ini.
"Selamat sore," sapa pemilik cafe tersebut.
Mereka semua menoleh kearah suara tersebut, yang tadinya mereka fokus saling pandang satu sama lain.
"Zaidan..." Lina, Lita dan Lica segera bangkit dari duduknya.
"Ternyata kamu disini?" tanya triple A sambil memegang tangan Zaidan.
Carel dan Abigail bangkit langsung mengambil tangan kekasihnya masing-masing. Hanya Randy yang terlihat tenang, karena ia sudah mengetahui pemilik cafe ini.
"Dia kekasihku, jangan sentuh," ucap Carel dengan tatapan tajam kepada Zaidan.
"Sudah, jangan pedulikan dia," kata Lita.
"Kalian tambah cantik," ucap Zaidan. Hal itu membuat Abigail dan Carel semakin menatap tajam Zaidan.
Carel menuntun kekasihnya untuk menjauhi Zaidan. Begitu juga dengan Abigail.
"Posesif," gumam Zaidan. Tapi masih didengar oleh mereka.
"Sayang, Zaidan pemilik cafe ini," kata Randy.
Lina menoleh kearah Randy seolah minta penjelasan. Sedangkan Zaidan hanya mengangguk.
"Aku sudah tau kalau kalian sudah punya pacar, Randy sering cerita ke aku," kata Zaidan.
"Aku butuh penjelasan darimu," kata Lina pada Zaidan.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, semuanya sudah jelas. Dan aku sekarang ada dihadapan kalian," kata Zaidan.
"Oya. Pesan apa? Khusus untuk kalian pendaftaran gratis tidak dipungut biaya apapun," tanya Zaidan.
"Memang mau ikut lomba? Pake acara pendaftaran gratis, lagi," tanya Lita.
"Siapa dia, sayang? Kelihatannya kalian akrab banget?" tanya Carel.
"Teman sekolah kami yang paling nakal, saking nakalnya hingga tidak sadar kalau ada penjahat," jawab Lita. Mereka semua pun tertawa.
"Kisah lalu jangan diingat lagi," ucap Zaidan malu.
"Justru itulah yang paling sulit untuk dilupakan," jawab Lina.
"Nanti kalau kalian berperang lagi, aku ikut, ya," kata Zaidan.
"Asal tidak merepotkan lagi," jawab Lica.
"Oh iya. Baru aku ingat...," ucap Randy. Mereka semua saling pandang menunggu kelanjutan kalimat Randy.
"Kamu bawa laptop, sayang?" tanya Randy.
"Ada didalam mobil, emang kamu tidak lihat didalam tas aku ada laptop?" tanya Lina.
"Ya, sudah. Aku ambil dulu laptopnya," kata Randy.
__ADS_1
Randy bangun dari duduknya dan berjalan kearah mobil. Sementara Zaidan sedang menyuruh pelayan dan koki untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk mereka.
"Ini, sayang," kata Randy menyerahkan laptop milik Lina.
"Terimakasih, sayang," ucap Lina dengan senyum khasnya.
"Apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Abigail.
"Mencari tahu tentang Gardareksa Attar," jawab Randy.
"Sepertinya pernah dengar nama belakangnya," kata Lita.
"Iya. Karena itu aku ingin mencaritahu tentang dia dan keluarganya," jawab Lina. Lina fokus pada laptopnya tapi mulutnya juga berbicara.
"Dapat...." Ucap Lina.
"Dia adalah musuhku sejak zaman kuliah," kata Carel.
"Sampai sekarang?" tanya Lita.
"Kami sudah lama tidak bertemu. bahkan dengan Tisa pun aku tidak kenal awalnya," jawab Carel.
"Memang apa yang berubah sehingga kamu tidak kenal?" tanya Abigail.
"Banyak. Hidungnya, bibirnya dan bagian wajahnya juga banyak perubahan," jawab Carel.
"Sampai sedetail itu?" tanya Lita.
"Sayang. Dulu dia tidak seperti itu, dan kini wajahnya sangat berbeda dari dulu," jawab Carel.
"Apa yang akan kamu lakukan padanya? Jangan sampai wanita itu menjadi benalu pada hubungan kalian," tanya Lina.
"Aku sudah menghancurkan karirnya. Sudah pasti ia tidak akan bakalan diam saja," jawab Carel.
"Besar kemungkinan dia akan datang untuk balas dendam. Tapi dengan cara menghancurkan hubunganku dengan Lita," jawab Carel.
"Aku percaya sama kamu, tapi kamu harus lebih tegas. Jangan bilang tidak tega dengan perempuan, karena itu akan menjadi kelemahanmu," kata Lita.
Carel tersenyum, "terimakasih."
Pesanan mereka pun tiba. Zaidan pun bergabung dengan mereka yang juga membawa makanan untuknya makan bersama teman-temannya.
"Bagaimana tadi tentang rencana kita?" tanya Randy yang penasaran dengan pencarian Lina.
"Seperti biasa, kita akan menyerang mereka sewaktu pelantikan raja baru mereka," jawab Lina.
"Kalian serius mau berperang?" tanya Zaidan.
"Kenapa? Takut?" tanya Lica.
"Ada kalian, aku tidak akan takut. Walaupun aku tidak sehebat kalian," jawab Zaidan.
"Makan-makan. Nanti keburu dingin," ucap Zaidan kemudian.
Mereka pun makan dengan hikmat. Hanya dalam sekejap makanan yang ada dimeja habis tak bersisa. Hanya meninggalkan piring, sendok dan garpu nya saja.
Tidak terasa hari pun mulai gelap, tapi mereka masih asik ngobrol. Sementara disudut ruangan sepasang mata memandang mereka. Seorang gadis yang sudah lama menyukai Zaidan.
"Sepertinya ada yang memperhatikan kita," bisik Lina.
"Apakah orang jahat?" tanya Zaidan yang memang kurang peka.
"Sepertinya ia cemburu pada kita," kata Lica.
__ADS_1
Zaidan menoleh kesegala arah dan melihat seorang gadis yang selalu mengikutinya. bahkan gadis itu rela bekerja di cafe ini hanya demi ingin dekat dan bisa melihat Zaidan.
"Sepertinya gadis itu menyukai kamu," ucap Lita to the point.
"Entahlah. Dia selalu mengikuti aku, padahal dia anak orang kaya. Tapi malah bekerja ditempat seperti ini," jawab Zaidan.
"Kalau dia gadis baik-baik, tidak ada salahnya menerima dia sebagai kekasihmu," saran Randy.
"Benar apa kata Randy. Nanti kalau dia sudah pergi menjauh baru kamu akan terasa kehilangan," ucap Abigail.
Zaidan terdiam. Ia memikirkan saran dari para sahabatnya itu.
"Aku akan coba membuka hatiku untuknya," jawab Zaidan.
"Sudah malam. Tidak terasa keasikan ngobrol," kata Lina menghentikan pembicaraan mereka.
"Kita pulang," ajak Carel.
"Oke. Kita duluan ya," ucap Lita. Lalu berpamitan kepada Zaidan.
Yang lain ternyata ikutan pulang, karena sudah jam 8 malam. Cafe buka 24 jam, mereka bekerja bergantian. Sif siang dan sif malam.
"Kabarin kalau ingin perang," kata Zaidan setengah berteriak. Karena mereka sudah sedikit menjauh.
"Kabarin juga kalau sudah jadian," balas Randy.
Zaidan tersenyum. Setelah sekian lama mereka berpisah akhirnya bertemu kembali dengan suasana yang berbeda.
"Apa mungkin aku suka sama dia? memang benar apa yang mereka katakan. Tidak ada salahnya aku mencoba," batin Zaidan.
Zaidan masuk kedalam dan melihat Lestari (nama gadis itu) masih berdiri mematung. Airmata nya tidak terbendung lagi melihat kedekatan Zaidan dengan triple A.
"Kenapa?" tanya Zaidan lembut.
"Ehh," jawab Lestari gelabakan karena ketahuan.
"Kenapa menangis?" tanya Zaidan lagi.
Lestari menunduk, ia tidak berani menatap Zaidan.
"Kenapa diam, hmmm?" tanya Zaidan.
Zaidan meraih pundak Lestari lalu memeluknya. Lestari yang diperlakukan seperti itu tidak kuat menahan detak jantungnya. Sehingga Zaidan pun merasakan detak jantung tersebut. Zaidan tersenyum.
"Apa jawaban kamu kalau aku mencintaimu?" tanya Zaidan to the point.
Lestari mengangguk, karena ia seperti kehilangan suaranya saat dalam pelukan Zaidan.
"Kok tidak jawab? Berarti cintaku bertepuk sebelah tangan dong?" tanya Zaidan.
"Iya," jawab Lestari.
"Jadi benar cintaku bertepuk sebelah tangan?" tanya Zaidan memancing Lestari.
Lestari melepaskan diri dari pelukan Zaidan. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya terasa kelu.
"Ya sudah. kalau tidak ingin menjawab, gak apa-apa kok," ucap Zaidan.
"Iya. Aku juga mencintaimu dan itu sudah sejak beberapa tahun lalu," jawab Lestari pada akhirnya.
.
.
__ADS_1
.