
Pagi pagi sekali Marissa sudah datang ke mansion keluarga Henderson. Karena penjaga sudah mengenalnya maka tidak perlu ditanyakan lagi dan langsung diizinkan untuk masuk.
Marissa memarkirkan mobilnya dihalaman mansion yang sekiranya tidak menghalangi jalan. Marissa menekan bel pintu, Aida bergegas membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk. Karena Aida juga sudah kenal dengan Marissa.
"Silahkan masuk nyonya Marissa. Nyonya muda lagi sarapan bersama keluarganya," ucap Aida ramah,
"Saya ingin bertemu Lita, bik." kata Marissa.
"Oh, silahkan duduk dulu nyonya, saya akan panggilkan nona Lita." Jawab Aida.
Aida pun meninggalkan Marissa diruang tamu. Aida kedapur untuk menemui majikannya.
"Nyonya muda, ada nyonya Marissa datang kemari katanya ingin bertemu dengan nona Lita," ucap Aida tertunduk hormat.
"Suruh kesini saja bik, biar sarapan sama sama," perintah Diva. Aida pun mengangguk dan segera kembali keruang tamu.
Tidak berapa lama Aida sudah kembali ke dapur bersama Marissa.
"Mari mbak sarapan dulu, nanti baru kita berbincang setelah sarapan," ucap Diva ramah.
Marissa tersenyum canggung karena diajak sarapan terlebih dulu. Saat ia ke sini ia memang tidak bersarapan terlebih dahulu. karena ia merasa tidak tenang sebelum menyelesaikan masalah anaknya.
Marissa merasa sangat bersalah sebab itu ia berinisiatif untuk menyelesaikan permasalah ini secepatnya.
"Sebenarnya saya kemari hanya ingin berbicara dengan Lita," ucap Marissa.
Diva, Darmendra, Vera dan Jordan menatap kearah Lita. Sedangkan Lica dan Lina biasa biasa saja karena sudah mengetahui persoalannya.
"Maaf kalau boleh tau, sebenarnya ada apa ya?" tanya Diva.
Mereka kini sudah berada diruang tamu. tadinya Darmendra dan triple A sudah ingin pergi bekerja, tetapi ditunda lebih dulu.
"Ini sebenarnya masalah pribadi, tapi masalah ini harus secepatnya diselesaikan, dan semua kesalahpahaman ini harus diluruskan," ucap Marissa.
Lita masih terdiam mendengarkan perkataan Marissa.
"Nak Lita, semua bukan salah Carel semua itu salah Mama. Sebelum Carel kenal kamu, Mama selalu memaksa dia untuk punya kekasih sehingga Mama selalu merencanakan kencan buta dengan setiap wanita yang Mama kenalkan. Tapi tidak satupun yang ia terima. Mama tidak tahu pasti apa masalah kalian? Tapi kemarin Carel pulang ke mansion dengan wajah frustasi. Sudah lama dia tidak seperti itu, sejak kakeknya meninggal 10 tahun yang lalu, tapi kemarin dia kambuh lagi. Mama takut kejadian yang sudah lama hilang kembali lagi padanya. Sewaktu kakeknya meninggal ia selalu meracau menyalahkan dirinya sendiri padahal itu bukan kesalahannya. hanya karena dia tidak bisa menemani saat hari terakhir kakeknya membuat ia frustasi dan terpukul dengan kehilangan orang yang disayanginya. Berhari hari dia mengurung diri didalam kamar, berhari-hari juga dia tidak mau makan. Beruntung papanya bisa membujuknya untuk lepas dari keterpurukan itu. Itulah sisi lemah Carel, bila dia sudah mencintai atau menyayangi seseorang dan orang itu berubah maka ketakutan akan kehilangan membuatnya seperti itu." ucap Marissa panjang lebar.
__ADS_1
Semua orang terdiam mendengar cerita Marissa, mereka tidak menyangka bila Carel yang terlihat sangat kuat dan tangguh punya sisi lemah seperti itu.
Lita memegang tangan Marissa dan menghapus airmata wanita itu.
"Bantu Mama, Carel tidak bersalah dalam hal ini, tapi Mama lah yang bersalah. Tolong jangan hukum Carel, tapi hukumlah Mama," ucap Marissa.
"Suruh Carel menemui aku, kami akan menyelesaikan masalah ini," ucap Lita.
"Terimakasih Nak, Mama harap kamu tidak akan meninggalkan Carel." ucap Marissa. Lita hanya tersenyum masam.
Ia tidak menyangka akan seperti ini, Lita pun menghela nafas pelan.
"Kalau begitu Mama pulang dulu, Mama akan bilang kalau kamu ingin menemuinya." ucap Marissa.
Diva dan Lita mengantarkan Marissa sampai pintu mansion. Sedangkan Darmendra, Lina dan Lica pergi bekerja meskipun sedikit terlambat.
Setelah kepergian Marissa, Diva dan Lita kembali masuk dan duduk diruang tamu.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Diva.
Lita pun menceritakan kejadiannya kemarin, dan Lita juga menceritakan kalau dia tidak benar benar marah tapi hanya untuk menguji perjuangan Carel.
"Tapi mengapa kamu mengujinya? Itu sama saja Kamu tidak mempercayainya," tanya Diva. Lita terdiam mendengar pertanyaan Mommynya.
"Kalau kita tulus mencintai seseorang maka kita harus percaya bahwa dia juga tulus mencintaimu, apapun masa lalunya kita harus terima. Apalagi Carel bukan pemain wanita, berarti cintanya tidak perlu diragukan lagi, dan tidak perlu diuji," ucap Diva.
"Bicara baik baik padanya, jangan sampai membuat dia terpuruk seperti yang diceritakan oleh Mamanya. Kalau dibiarkan terus seperti itu bisa bisa mengguncang kejiwaan nya," ucap Diva lagi.
Lita sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, semua nasehat Diva terekam dalam ingatannya.
"Kita tidak tahu cinta berlabuh kepada siapa? kalau memang jodohmu adalah Carel maka kalian harus saling melengkapi, cobaan cinta datang berbeda beda, bisa saja dari masa lalu." ucap Diva.
"Maafkan aku Mom, aku tidak tahu akan seperti ini," ucap Lita.
"Bukan pada Mommy kamu minta maaf, tapi pada Carel. Ingat jangan sekali kali untuk ngeprank orang, karena itu bisa saja membuat orang itu frustasi bahkan bisa saja merenggut nyawa," ucap Diva.
....
__ADS_1
Marissa sudah tiba di mansionnya, melihat Carel hendak keluar. Carel sengaja tidak masuk kerja hari ini.
"Sayang...?!" panggil Marissa dari dalam mobil. Carel tidak jadi hendak masuk kedalam mobil dan menoleh kearah suara Mama nya.
Marissa keluar dari mobil dan segera menghampiri Carel.
"Ada apa ma?" tanya Carel.
"Lita menyuruh kamu menemuinya di mansion keluarganya." ucap Marissa.
"Aku memang ingin menemuinya ma," kata Carel.
"Ya sudah, cepat temui dia sebelum dia berubah pikiran," perintah Marissa.
"Carel pergi dulu ma," pamit Carel lalu mencium tangan dan kening Mamanya.
"Hmmm, hati hati," ucap Marissa sambil melambaikan tangan.
Carel masuk kedalam mobil dengan senyum mengembang dibibir nya. Dia akan bersikap lebih tegas pada wanita teman kencan buta nya sekiranya masih ada yang datang mengganggu hubungannya.
Carel mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sehingga tidak butuh lama ia sudah sampai di mansion keluarga Henderson.
Pintu gerbang terbuka dan Carel pun langsung masuk, Carel memarkirkan mobilnya didepan pintu masuk.
Pelayan datang membukakan pintu saat mendengar bunyi bel.
"Lita ada bik?" tanya Carel dengan senyum khasnya yang bisa membuat para wanita terpesona.
"Ada tuan, nona Lita sudah menunggu diruang tamu, mari masuk tuan," ucap bik Aida.
Carel masuk kedalam dan langsung menuju ruang tamu, dilihatnya Lita sedang bermain ponsel. Carel langsung bersimpuh dikaki Lita. Diva, Vera dan Jordan hanya terdiam melihatnya. Carel tidak menyadari kalau ada orang lain disitu.
"Ehh..." Lita yang terkejut pun menjatuhkan ponselnya, beruntung ponsel itu hanya jatuh ke sofa.
"Maafkan aku...!" ucap Carel.
.
__ADS_1
.
.