THREE ANGEL

THREE ANGEL
Menemui teman masa kecil.


__ADS_3

.


.


.


Hari sudah malam. Lina, Randy dan Abbas serta beberapa orang lainnya keluar dari hotel dan ingin menemui teman masa kecil Abbas.


Mereka memesan beberapa buah taksi untuk mengantarkan mereka ketempat Zerro (nama orang yang ingin mereka temui).


Tidak berapa lama taksi yang mereka pesan pun tiba. Randy bersama Abbas dan kedua orang tuanya. Lina bersama Mommy dan Daddy-nya. Lita, Lica, Carel dan Abigail dalam satu mobil. Sedangkan yang lain menunggu di hotel.


Perjalanan menuju rumah tersebut kurang lebih 15 menit saja. Karena masih dekat dengan kawasan hotel dan istana tersebut.


Apakah ini rumahnya?" tanya Abbas yang melihat sebuah rumah yang sudah usang.


"Mengikut alamat, benar ini rumahnya," jawab Lina.


"Mari, kalau begitu," ajak Abbas.


Padahal rumah itu sejak dulu tidak berpindah-pindah. Hanya saja Abbas sudah lupa karena sudah terlalu lama.


Darmendra mengetuk pintu rumah itu. Tidak lama keluarlah seorang wanita yang diperkirakan seumuran Denia.


Merasa asing, wanita itu ingin menutup pintu kembali. Ia tidak mau menerima tamu asing sembarangan.


"Tunggu..." Diva bersuara. Wanita itu berhenti hendak menutup pintu.


"Bisa kami bertemu dengan Zerro?" tanya Abbas.


"Kalian siapa? Bagaimana kalian tau ayahku?" tanya wanita itu.


"Izinkan kami bertemu beliau dulu," kata Diva.


Wanita itu menelisik setiap orang, meskipun suasana remang-remang, tapi wanita itu masih bisa melihat wajah mereka.


"Silahkan!" ucap wanita itu kemudian.


Abbas yang lebih dulu masuk dan menelisik kesegala arah. Setiap sudut rumah itu seperti tidak terurus.


"Ayah. Ada yang ingin bertemu," ucap wanita itu.


"Siapa?" tanya Zerro. Ia berusaha bangkit tapi tidak mampu.


"Zerro si kecil!" panggil Abbas. Merasa namanya dipanggil Zerro menatap wajah orang itu.


"Pangeran. Kamu pangeran Abbas?" tanyanya.


Karena hanya Abbas yang memanggilnya seperti itu.


Wanita tadi pun tercengang saat sang ayah menyebut pria tua itu pangeran. Karena yang ia tau tidak ada lagi pangeran selain Gardareksa.


Karena penasaran wanita itupun bertanya, "Ayah mereka siapa?."


"Dia adalah pangeran Abbas, anak dari raja Atalarik Attar," jawab Zerro.

__ADS_1


Wanita itu semakin tercengang, "Bukankah beliau sudah meninggal?."


"Aku selamat, saat orang tuaku dibunuh oleh paman tiri ku. Aku melarikan diri bersama pelayan setia istana," ucap Abbas.


Zerro tiba-tiba menangis mengingat semua itu. Kedua orang tuanya juga meninggal bersama raja dan ratu terdahulu. Ayah dan ibunya terkorban karena ingin menyelamatkan raja dan ratu.


"Dimana makam ayah dan ibuku?" tanya Abbas.


Makam raja Atalarik Attar di belakang rumah kami, berdekatan dengan makam ratu Alona. Juga makam ayah dan ibuku," jawab Zerro.


"Jasad beliau dibuang kehutan. Rakyat yang setia kepada raja Atalarik Attar mengambil jasad itu setelah kepergian adik tirinya," ucap Zerro.


Meskipun Zerro masih kecil ketika itu, tapi ia ingat betul kejadian itu. Hingga saat ini kejadian itu tidak pernah ia lupakan.


"Oh ya. Perkenalkan ini anak dan menantuku. Dan ini cucuku," ucap Abbas memperkenalkan mereka satu persatu. Termasuk Darmendra dan istrinya serta calon cucu menantunya.


"Kita langsung saja, adakah yang bisa masuk kedalam istana?" tanya Lina.


"Saya bekerja di istana kalau siang hari," jawab wanita itu.


"Kalau begitu itu akan mempermudah kita," kata Randy. Zerro memperhatikan Randy dengan seksama.


"Wajahmu sangat mirip dengan raja terdahulu," kata Zerro sambil menunjuk kearah Randy. Kemudian ia menyuruh anaknya untuk mengambil foto raja terdahulu.


Abbas menangis melihat foto sang ayah dan ibunya. Sudah sekian lama ia tidak melihatnya.


"Boleh aku menyimpannya?" tanya Abbas. Zerro pun mengangguk.


Lina mendekat kearah Zerro, "Boleh aku periksa Kakek?."


"Bukan," jawab Lina.


Lina pun mulai memegang tangan Zerro dan memeriksa nadinya.


"Lica!" panggil Lina. Lica yang mengerti langsung mendekat.


Lica memegang jari kaki Zerro, Lica memijit telapak kaki kakek tua itu. Perlahan namun pasti kakek tua itu menggeliat. Sedangkan Lina menancapkan jarum perak yang selalu dibawanya kemanapun ia pergi.


Lina menancapkan jarum itu pada titik-titik tertentu dibagian tubuh Zerro.


Setengah jam kemudian Lina mencabut jarum perak itu.


Perlahan-lahan kaki kakek tua itu pun bisa digerakkan. Padahal sebelumnya tidak bisa digerakkan sama sekali.


"Bagaimana kek?" tanya Lina.


"Sepertinya aku akan segera sembuh," jawab Zerro.


Kakinya pun mulai ia gerakkan ke kiri dan kanan, ternyata bisa. Lalu Lina memberi kode kepada Randy untuk mengangkat tubuh Zerro dan membawanya berdiri.


Randy yang dibantu Abigail pun mengangkat tubuh Zerro agar bisa berdiri. Dan benar saja, Zerro pun bisa berdiri meski masih lemah.


"Oh ya, besok malam kami akan kesini lagi. Kumpulkan orang orang yang masih setia pada raja terdahulu," kata Lina.


"Tapi mereka pasti takut, sebab mereka yang memberontak sudah pasti akan dibunuh," jawab wanita itu.

__ADS_1


"Ya, sudah. Tidak apa-apa, biar kami yang mengurus semuanya. Tapi aku sangat memerlukan bantuan kamu untuk memberitahukan kepada siapa saja yang tidak suka dengan pemerintah yang sekarang," ucap Lina.


"Baik. Aku akan coba," kata wanita itu.


Setelah berbicara panjang lebar, mereka pun berpamitan untuk kembali ke hotel. Zerro memeluk Abbas, sahabat kecilnya dahulu.


Aku tidak menyangka akan bertemu lagi denganmu, pangeran," kata Zerro.


"Aku bukan pangeran, yang layak disebut pangeran adalah cucuku," kata Abbas.


"Tapi aku tidak mau jadi raja, kek," kata Randy. Mereka semua pun tertawa.


"Kami akan membebaskan rakyat dari raja lalim itu," ucap Randy pada kakek Zerro.


"Terimakasih, kakek sangat senang bila melihat rakyat terbebas dari belenggu raja yang sewenang-wenang," ucap Zerro.


Kemudian mereka pun pergi dari rumah itu, setelah urusan selesai. Barulah Abbas akan menziarahi makam kedua orang tuanya.


Setibanya di hotel, mereka langsung masuk kedalam kamar masing-masing. Tapi belum sempat Lina masuk, Randy menarik tangan Lina sehingga Lina jatuh kedalam pelukan Randy.


"Nanti dilihat orang," ucap Lina.


"Biar saja, kita sudah bertunangan," kata Randy.


"Tapi kita belum menikah," ucap Lina.


"Kamu pernah bilang, setelah urusan selesai kita akan menikah," ucap Randy.


"Hmmm. Sepertinya aku belum siap," kata Lina.


"Tidak bisa begitu, aku sudah mempersiapkan semuanya untuk melamarmu. Ternyata aku kalah cepat oleh Daddy," kata Randy.


"Ya sudah. Selamat malam," ucap Lina lalu melepaskan diri dari pelukan Randy.


Randy kembali memeluk Lina dan mengecupnya mesra. Lina hanya terdiam.


"Sudah, ya?" tanya Lina. Randy mengangguk.


Lina pun masuk kedalam kamar. Lina, Lita dan Lica memilih satu kamar.


"Sedang apa kamu dengan Randy?" tanya Lita.


"Gak ada apa-apa," jawab Lina, sambil berlalu kekamar mandi.


Sedangkan Lita dan Lica sudah berbaring diatas ranjang. Keduanya belum juga tidur, padahal jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Lina yang baru keluar dari kamar mandi pun langsung berbaring didekat saudaranya.


"Apa rencana selanjutnya?" tanya Lica.


"Sebaiknya besok kita berbincang lagi dengan keluarga kita. Siapa tau ada yang punya ide," jawab Lina.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2