THREE ANGEL

THREE ANGEL
Aktivitas setelah libur.


__ADS_3

.


.


.


Ram dan keluarganya tiba di rumah, rumah yang didesain oleh arsitek ternama yaitu Rendra Henderson. Atas rekomendasi dari Ram sendiri. Rumah dengan dua lantai dan kamar yang banyak. Rumahnya sangat besar dan mewah. Lantai atas terdiri dari 6 kamar, dan lantai bawah terdiri dari 6 kamar juga tidak termasuk kamar pelayan.


Ram tidak memiliki pengawal dirumahnya, hanya tiga orang pembantu rumah tangga, dua orang satpam penjaga gerbang dan tiga dua penjaga kebun serta satu supir pribadi untuk mengantar ibu mertuanya jika ingin bepergian.


"Nenek..?!" teriak Aleta dan Aldebaran serentak mereka langsung berlari setelah turun dari mobil. Keduanya langsung memeluk Wardina sang nenek.


"Kalau dilihat seperti itu mereka seperti anak normal pada umumnya," kata Cahaya kepada Ram.


"Jadi menurut bunda, anak kita tidak normal?" tanya Ram.


"Iya... tidak normal kepintaran dan kekuatannya," jawab Cahaya. Kemudian keduanya masuk sambil bergandengan tangan.


"Ya jelas dong, ayah dan bundanya juga pintar dan kuat. Kata orang buah yang jatuh dari pohonnya tidak akan terlempar jauh. Terkecuali kalau dilarikan oleh tupai atau binatang lainnya," jawab Ram.


"Ibu...!" panggil Ram saat sudah dekat dengan Wardina, kemudian Ram pun menyalami dan mencium tangan ibunya tersebut. Dan disusul oleh Cahaya.


Perlakuan Ram pada Wardina selalu membuat Cahaya tersentuh. Jadi anak anak mereka juga seperti itu, mengikuti sifat ayahnya.


"Kalian istirahat dulu ya, pasti kalian capek," titah Wardina pada Aleta dan Aldebaran.


"Baik Nek," jawab mereka serentak. kemudian mereka pun naik keatas menuju kamar mereka masing-masing.


Ram dan Cahaya juga pamit untuk beristirahat didalam kamar mereka, sedangkan Wardina juga akan kekamar nya. Kamar Wardina berada dilantai bawah, karena ia tidak mau kalau kamar dilantai atas.


Ditempat lain...


Darmendra dan keluarganya juga sudah datang ke mansion. Carel dan Abigail sudah pulang setelah mengantarkan Lica dan Lita.


"Bagaimana dengan karyawan baru itu?" tanya Darmendra pada Lina, saat ini mereka sedang berkumpul diruang keluarga. Sedangkan Vera dan Jordan sudah masuk kedalam kamar untuk beristirahat.


"Bagus, sepertinya ia memang berniat untuk bekerja," jawab Lina.


"Dan keadaan ibunya?" tanya Darmendra lagi.


"Katanya sudah sembuh, Tapi Daddy tidak bilang kan kalau kami yang menolong nya?" tanya Lina.


"Tidak. Waktu itu ia mengucapkan terimakasih kepada Daddy, awalnya Daddy tidak mengerti mengapa dia berterimakasih? Tapi setelah ia mengatakan bahwa karena Daddy ibunya bisa mendapatkan perawatan," jawab Darmendra.


"Daddy langsung mengerti kalau itu pasti ulah kalian," kata Darmendra lagi.

__ADS_1


"Mereka tidak tahu bahwa kami anak dari pemilik perusahaan," kata Lita.


"Hmmm, Daddy harap tidak ada lagi yang memperlakukan kalian tidak baik," kata Darmendra.


"Alhamdulillah Dad, mereka semuanya baik dan pekerjaan keras. Apalagi yang satu ruangan dengan kami," jawab Lica.


"Syukurlah," ucap Diva menimpali.


"Kami masuk kedalam kamar dulu Mom, Dad," kata Lina. Diva dan Darmendra mengangguk.


Triple A naik keatas menggunakan lift. Tidak lupa ia menyuruh pengawal untuk mengambil motor mereka di perusahaan. Karena mereka besok akan pergi bekerja dengan menggunakan motor saja.


Dan mereka sudah bilang tidak ingin diantar jemput lagi, mereka tidak ingin menyusahkan pasangan mereka, meskipun ketiga cowok tampan itu tidak keberatan sama sekali.


Tiba diatas triple A langsung masuk kedalam kamar mereka masing-masing. Lina masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, karena tubuhnya terasa lengket.


Perlahan ia mengguyur tubuhnya dibawah shower.


Tidak butuh waktu lama iapun sudah selesai mandi. Dan masuk keruang ganti dan berpakaian lengkap. Setelah itu Lina membaringkan tubuhnya diatas ranjang.


Lina melirik ponselnya yang berdering pertanda panggilan masuk. Ternyata dari Ethan, Felix dan Gibran.


"Kakak...?!" panggil ketiganya serentak.


"Gak berubah kalian masih saja kekanak-kanakan," kata Lina. Panggilan berubah menjadi panggilan video. Dan terpampang lah wajah tampan ketiga cowok itu.


"Tampan apanya? Jelek begitu ngaku tampan," tanya Lina.


Tidak berapa lama masuk Lita dan Lica, keduanya langsung bergabung. mereka ngobrol cukup lama. Lebih satu jam, sehingga salah satu dari mereka menyudahi obrolan tersebut. Dan panggilan video pun berakhir.


...****************...


Hari ini Aleta dan Aldebaran sedang bersiap siap untuk pergi kesekolah, mereka tidak mau lagi diantar oleh supir. Mereka hanya menggunakan skuter milik mereka.


"Benar benar duplikat kamu, honey," kata Cahaya setelah mereka selesai sarapan.


Aldebaran dan Aleta pun pamit kepada orang tuanya dan juga Neneknya.


"Hati hati dijalan," pesan Wardina pada kedua cucunya. Wardina kini sudah tidak pernah lagi menangisi nasibnya. karena kini ia sudah cukup bahagia hidup bersama anak dan menantu serta cucu cucunya.


Aldebaran dan Aleta sengaja pergi sekolah lebih awal karena mereka tidak ingin terlambat.


Setibanya disekolah, mereka langsung masuk kedalam kelas, ternyata belum ada siapa siapa disana. Karena saudara saudaranya belum datang. Masih ada waktu 20 menit untuk bel sekolah berbunyi.


10 menit berlalu, para saudara saudaranya pun berdatangan. Mereka duduk dikursi masing-masing.

__ADS_1


Semenjak kejadian mereka yang menyelamatkan teman sekolahnya yang diculik, tidak ada lagi yang berani mengganggu mereka. Apalagi si Didi dan teman temannya sudah melihat secara langsung 17 bocah kembar itu menghajar para penculik yang berjumlah puluhan orang itu, membuat Didi dan teman temannya bergidik ngeri melihatnya.


Bel sekolah pun berbunyi pertanda masuk kelas. Anak anak murid yang lain berhamburan berlarian untuk masuk kekelas masing-masing. Sedangkan 17 bocah kembar sudah standby didalam kelas.


"Selamat pagi anak anak," sapa Pak Rusady wali kelas mereka.


"Selamat pagi Pak Rus," jawab mereka serentak.


"Kompak banget sih kalian," ucap Pak Rusady. Mereka hanya tersenyum saja.


"Baiklah sekarang kita mulai pelajaran," ucap Pak Rusady lagi. Mereka pun memulai pelajaran, tidak perlu dijelaskan secara terperinci tentang setiap pelajaran yang mereka pelajari. karena mereka sudah faham semuanya. hanya saja mereka ingin bersekolah normal saja.


Meskipun normal menurut mereka, tapi tidak bagi orang lain. mana ada murid lain umur 8 tahun sudah kelas 6 SD? Hanya mereka saja.


Pelajaran pertama pun selesai, mereka pun istirahat. Mereka seperti biasa berkumpul ditaman sekolah. Anak anak lain berkumpul dikantin sekolah tapi mereka tidak.


"Kapan kita membuat senjata baru?" tanya Kenzo.


"Bagaimana kalau kita buat sendiri sendiri, setelah itu baru kita bagikan satu persatu," kata Aldebaran.


"Setuju...!" jawab mereka serentak.


Kemudian mereka pun makan bekal yang mereka bawa, mereka berbagi makanan saling mencicipi makanan masing-masing.


"Bagaimana rencana kalian?" tanya Danendra.


"Saat ini belum ada rencana apa apa," jawab Kenzie.


Sebentar lagi kita akan ujian untuk kelulusan kelas," kata Qirani.


"Menurut kalian bagaimana?" tanya Abqari.


"Maksudnya?" tanya Davion balik.


"Kata Papa, mereka dulu selalu loncat kelas, nah seperti kita ini juga loncat kelas," jawab Abqari.


"Kalau kita mampu gak ada salahnya sih loncat kelas," kata Aldebaran yang sejak tadi diam.


"Boleh juga tuh, kita kan jenius," jawab Rayyan.


"Narsis..." kata mereka serentak kemudian tertawa bersama.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2