
.
.
.
Sore harinya...
Mereka sudah berada di lobby perusahaan, Lina sedang menunggu Randy, sedangkan yang lainnya sedang menunggu Lina, mereka ingin melihat wajah tampan Randy, Carel dan Abigail.
"Melihatnya wajahnya saja sudah senang," kata Delima.
"Iya, andai aku yang yang jadi pacarnya, mungkin udah ku sosor tuh cowok," ceplos Adela. Mereka semua pun tertawa mendengarnya.
"Jas, kamu tidak kerumah sakit?" tanya Lica.
"Sebentar lagi, aku juga pengen lihat cogan buat cuci mata," jawab Jasmine.
"Emang seganteng apa sih? Sampai segitunya kalian mengidolakan nya?" tanya Lita.
"Beh, gak bisa di bayangkan deh pokoknya," jawab Lolita.
"Kami ada teman sekolah sewaktu SMA, mereka juga gak kalah ganteng kok." ucap Lina.
"Untuk aku ada gak?" tanya Jasmine. Jasmine juga ikut ikutan aku kamu tidak lagi gue Lo.
"Ada...!" jawab suara dari belakang. Mereka semua menoleh ternyata Abigail yang datang.
"Mau aku kenalin? Dia asisten pribadiku dan dia juga jomblo abadi sampai sekarang gak laku laku," tanya Abigail.
Jasmine jadi malu padahal tadi dia cuma ingin bercanda, gak taunya dianggap serius.
"Sudah lama menunggu?" tanya Randy yang juga sudah datang. Ternyata dibelakang Randy ada Carel.
"Kita jalan dulu ya," kata Lina lalu menggandeng tangan Randy. Tidak ada yang perlu disembunyikan lagi tentang hubungan mereka. Semakin hari mereka semakin dekat.
"Lit, kenalin dong sama cowok ganteng yang kalian bilang," ucap Lolita.
"Sebentar, aku menelepon mereka dan ngajak ketemuan." jawab Lita.
Carel jangan ditanya, wajahnya sudah berubah masam seperti buah asam paya. Lita yang menyadari itu segera merangkul tangan Carel.
"Kenapa, hmmm?" tanya Lita berubah manja.
"Siapa cowok yang mereka maksud?" tanya Carel.
"Teman, teman waktu sekolah SMA dulu," jawab Lita.
"Jadi kamu masih ada hubungan dengannya?" tanya Carel.
"Kenapa sih?" tanya Lita.
"Aku cemburu tau," jawab Carel. Sontak Lita tertawa terbahak bahak.
__ADS_1
"Gak lucu," ucap Carel lalu melangkahkan kakinya hendak meninggalkan tempat itu.
"Sayang...!" panggil Lita. Carel menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Apa...? Aku lagi marah nih," tanya Carel.
"Kita ke cafe yuk, mereka ingin berkenalan dengan teman satu sekolah dulu," jawab Lita.
Alhasil Lita menghubungi Johan dan teman temannya, beruntung mereka mau diajak ketemuan. Mereka pun berangkat ke cafe yang mereka maksud.
Johan, Ansel, Rino dan Gibson meneruskan perusahaan milik orang tuanya. Mereka juga sudah lulus kuliah dan sekarang sudah bekerja menggantikan posisi orang tuanya di perusahaan.
"Kenapa kamu cemburu?" tanya Lita saat mereka sudah didalam mobil.
"Kamu nanya? kamu bertanya tanya?" jawab Carel sambil memonyong monyong kan bibirnya.
"Jelek ah," kata Lita.
"Biarin, habisnya aku kesel," kata Carel.
"Mau ikut gak nih? Kalau tidak biar aku turun didepan situ," tanya Lita. Carel terdiam.
"Aku turun disitu saja, daripada menghadapi orang ngambek," kata Lita lagi.
"Aku cemburu karena cinta," jawab Carel gak nyambung.
"Cinta? Tapi juga gak gitu kali?" tanya Lita.
"Ya sudah, aku mau ikut. kalau cowok itu macam macam aku akan hajar dia," kata Carel. Lita hanya menghela nafas.
"Apa kabar semua," sapa Ansel.
Lolita tak berkedip menatap Ansel, sehingga ia disenggol oleh Rukiza.
"Biasa aja kali melihatnya," bisik Rukiza.
"Habisnya ganteng banget," jawab Lolita berbisik pula. Mereka pun duduk dan memesan minuman.
"ini...?" tanya Johan.
"Aku Lita, dan ini Lica masa lupa sih," jawab Lita.
"Bukan gitu, takutnya salah orang bedain kalian cukup sulit juga," Kata Johan.
"Lina gak ikut?" tanya Gibson.
"Lina lagi jalan dengan pacarnya," bukan Lita yang menjawab tapi Carel dengan muka yang ditekuk.
"Kenalin ini...!" belum sempat Lita memperkenalkan Carel, tapi Carel sudah memperkenalkan diri duluan.
"Aku Carel pacarnya Lita," jawab Carel ketus.
"Aku Abigail pacarnya Lica," ucap Abigail memperkenalkan diri sebelum ditanya.
__ADS_1
"Diam diam kalian semua sudah punya pacar ternyata," ucap Rino.
"Ini teman satu kantor," kata Lica memperkenalkan temannya.
"Ini Adela, Delima, Rukiza, dan Lolita," ucap Lita menyebut nama temannya satu persatu.
Johan dan teman temannya juga memperkenalkan diri satu persatu. Sedangkan Jasmine tidak ikut karena ia harus menemani ibunya dirumah sakit.
"Sayang aku toilet dulu ya," pamit Carel. Tapi baru beberapa langkah Carel meninggalkan meja tempat mereka duduk. Tiba tiba ada seseorang memanggilnya.
"Carel, kamu ternyata disini," ucap seorang wanita. Wanita yang pernah direkomendasikan oleh mamanya untuk kencan buta, tapi Carel menolaknya dengan menyiramkan air kewajah wanita itu.
Carel cepat berbalik dan berlari kecil kemeja tadi mengambil segelas air. Wanita itu tidak jadi menghampiri Carel saat melihat Carel memegang segelas air. Yang lain semua tertawa melihat tingkah Carel yang seperti takut dengan wanita itu.
Akhirnya Carel tidak jadi ingin ke toilet, ia kembali duduk dan bergabung dengan yang lain.
"Kenapa tidak jadi?" tanya Lita pura pura tidak tahu.
"Ada set*n berwujud manusia," jawab Carel.
"Cewek itu kan cantik kenapa tidak mau?" tanya Lita lagi.
"Lebih cantik kamu, sayang," jawab Carel.
"Yuk pulang," ajak Carel lalu bangkit dari duduknya dan menarik pelan tangan Lita.
"Kita duluan ya," ucap Lita pada temannya. Tidak lupa Lita membayar makanan dan minuman yang mereka pesan, meskipun belum sempat ia makan. Lica juga ikut pulang bersama Abigail. Kini tinggallah mereka empat pasangan. Lita mengirim pesan kepada Johan dan teman temannya agar tidak menceritakan tentang dirinya pada keempat cewek tersebut. Dan Lita juga mengatakan bahwa mereka sedang menyembunyikan identitas mereka.
Johan, Ansel, Rino dan Gibson pun mengerti dan tidak mengungkapkan identitas Lita dan Lica.
Sementara Lina dan Randy sudah tiba dirumah Randy, mereka keluar dari mobil dan disambut oleh Denia Mamanya Randy.
"Sayang, kok baru kemari sih, mama rindu loh sama kamu," ucap Denia sambil memeluk Lina.
"Iya Tante, sekarang aku sudah bekerja jadi tidak banyak waktu," jawab Lina.
"Loh kok panggil Tante sih? Panggil Mama dong seperti Randy," tanya Denia.
"Iya ma," jawab Lina.
"Yuk sayang kita kekamar kakek," ajak Randy.
"Ada apa nak?" tanya Denia cemas.
"Lina ingin melihat keadaan kakek ma," jawab Randy. kemudian mereka pun naik keatas melalui tangga, Denia juga ikut. Sedangkan Papanya Randy belum pulang dari kantor.
"Kek...!" panggil Randy saat mereka sudah berada didalam kamar Abbas. Abbas membuka matanya perlahan dan melihat Randy bersama Lina.
"Jangan bangun kek," cegah Lina saat Abbas memaksakan diri untuk bangun.
"Lina ingin memeriksa kakek," kata Randy. Lina pun mengangguk.
.
__ADS_1
.
.