THREE ANGEL

THREE ANGEL
Hanya untuk peringatan kecil.


__ADS_3

.


.


.


Lica masuk kedalam kamarnya, karena penghuni mansion sudah berada di sarang mereka masing-masing.


Lica membuka laptop miliknya dan mencari tahu tentang perusahaan milik orang tua Julia dan Julaika serta Fany.


"Ternyata mereka semua anak orang kaya, apa tujuan mereka bekerja di perusahaan milik Daddy?" batin Lica.


"Baiklah, karena mereka yang memulai maka aku akan memberikan peringatan kecil kepada mereka." gumam Lica.


Jari jari Lica dengan lincahnya bermain di keyboard laptop miliknya, tiga perusahaan akan mereka bekukan dan data data perusahaan akan ia kunci untuk sementara waktu. Tidak butuh waktu lama Lica sudah selesai dengan tugasnya.


"Ini hanya peringatan kecil dariku yang sudah berani mengusik ketenanganku," gumam Lica.


Tidak lupa Lica mengirimkan pesan, kalau ingin perusahaan mereka kembali anak anak mereka harus menyerahkan diri ke kantor polisi dengan suka rela, tanpa jaminan apapun.


Lica tersenyum setelah selesai tugasnya memberikan peringatan kecil kepada keluarga tersebut.


Kemudian Lica berbaring diatas ranjang miliknya dan menarik selimut bersiap siap untuk tidur.


Baru saja ia memejamkan matanya, ponsel Lica berbunyi ternyata ada pesan masuk di aplikasi berlogo hijau.


'Selamat malam, sayang. Mimpikan aku dalam tidurmu. I love you'


Lica mengabaikan pesan tersebut tapi bibirnya tersenyum mengingat perlakuan Abigail kepadanya.


Merasa pesannya tidak mendapatkan balasan, Abigail pun melakukan video call. Lica pun mengangkat panggilan tersebut.


"Hai cantik...!" sapa Abigail.


Seketika Lica memalingkan wajahnya kearah lain karena Abigail tidak memakai baju setelah selesai mandi.


"Kenapa?" tanya Abigail tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kenapa gak pakai baju sih?" tanya Lica balik.


"Oh, aku baru selesai mandi, sayang. Dan ini baru ingin memakai baju," jawab Abigail enteng.


"Sudah ya, aku mau tidur ngantuk," ucap Lica lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Abigail hanya menggeleng tidak terima.


Lica pun tertidur karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.


Pagi harinya...

__ADS_1


Berita tentang 3 perusahaan yang diambang kebangkrutan pun tersebar. Lina dan Lita sontak menatap Lica setelah mereka membaca berita tersebut. Merasa ditatap, Lica pun mengangguk.


'Nanti aku ceritakan' begitulah arti tatapan Lica kepada kedua saudaranya. Hanya mereka yang mengerti arti tatapan tersebut. Lina dan Lita pun meneruskan makannya karena saat ini mereka ada dimeja makan.


"Jam berapa pulangnya semalam, sayang?" tanya Darmendra pada Lica.


"Jam 10 lebih Dad." jawab Lica.


"Nyonya didepan ada 3 pemuda tampan," ucap pelayan.


"Suruh masuk aja bik, dan suruh langsung sarapan saja," perintah Diva.


"Baik nyonya," jawab pelayan itu.


Tidak lama ketiga pemuda tersebut datang ke meja makan. Diva mempersilahkan mereka untuk duduk dan sarapan. Tentu saja mereka tidak akan menolak. Sedangkan triple A hanya terdiam saja melihat ketiga pria tersebut.


"Lain kali jangan terlalu malam mengantarkan putriku pulang," ucap Darmendra sambil menyeruput kopinya.


"Baik Om, itu karena kami ada halangan sedikit dijalan," jawab Abigail.


"Hmmm, apa terjadi sesuatu?" tanya Darmendra.


"Kami dihadang oleh beberapa orang preman, dan itu suruhan seseorang," jawab Abigail jujur.


Darmendra menatap Lica yang santai santai saja sambil mengunyah makanannya. Setelah selesai sarapan mereka pun berangkat.


Tidak lupa mereka berpamitan kepada Oma dan Opanya, juga Mommy dan Daddy-nya. Vera tersenyum melihat kebahagiaan cucu cucunya.


"Kalau ada yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja," ucap Lica menebak mimik muka Abigail.


"Hah, kok kamu tau?" tanya Abigail, Lica pun tersenyum.


"Mimik mukamu menunjukkan sesuatu," jawab Lica, spontan Abigail mengusap kasar wajahnya. Lica pun tertawa.


"3 perusahaan itu apa ada kaitannya denganmu?" tanya Abigail akhirnya. Lica mengangguk.


"Hah, serius? Kok bisa?" tanya Abigail.


"Semua itu gampang kok, aku hanya memberikan sedikit teguran agar tidak main-main dengan keturunan keluarga Henderson." jawab Lica santai. Kemudian mereka pun saling terdiam.


"Apa lagi yang tidak aku ketahui tentang kamu, sayang?" batin Abigail yang sedang fokus menyetir.


Sementara Lina dan Randy juga tidak banyak bicara, dalam benak Randy ingin berbicara banyak, tapi bila berhadapan dengan orangnya langsung semua yang ingin ia bicarakan mendadak hilang.


"Bagaimana kabar kakek?" tanya Lina membuka pembicaraan. Tadinya ia ingin Randy yang berinisiatif duluan tapi setelah beberapa menit ditunggu tidak juga berbicara.


"Setelah dari pantai kesehatan kakek menurun. Yang sulitnya beliau tidak mau kerumah sakit." jawab Randy.

__ADS_1


"Bagaimana nanti sepulang kerja aku ikut kamu kerumah. Mungkin aku bisa menyembuhkan kakek," kata Lina.


"Iya, mudah mudahan kakek bisa sembuh. Karena aku belum siap kehilangan kakek, aku lebih dekat dengan kakek," kata Randy. Lina mengelus bahu Randy berharap memberikan sedikit ketenangan.


"Bagaimana rencanamu kedepannya?" tanya Lina.


"Ingin melamar kamu, menjadi ratu dalam hidupku, dalam rumah tangga kita," jawab Randy enteng.


"Bukan itu maksudku," kata Lina. Randy nyengir saja.


"Lantas apa? yang ada dalam pikiranku hanya ingin menjadikan mu ratu dalam hidupku," tanya Randy.


"Maksudku, apa kamu tidak ingin merebut kembali apa yang kakek punya? kakek sebagai penerus sah kerajaan. Apa kamu tidak ingin mengembalikan semuanya?" tanya Lina. Randy menggeleng.


"Kalau aku merebut kembali dan mengembalikan kerajaan tersebut kepada kakek otomatis aku harus berperang," jawab Randy.


"Tapi itu hak kakek, dan kakek penerus sah kerajaan tersebut," kata Lina.


"Aku tau, tapi peperangan akan merugikan rakyat," kata Randy.


"Tapi bagaimana kalau rakyat menderita dibawah kekuasaan raja yang semena mena?" tanya Lina.


"Apa kamu ada rencana?" tanya Randy.


"Belum sih, tapi masalah ini sebaiknya kita diskusikan bersama kakek," jawab Lina.


Tidak terasa mereka sudah tiba di perusahaan. Randy memarkirkan mobilnya, bersamaan dengan itu Carel dan Abigail juga baru datang. Triple A keluar dari mobil dan berjalan menuju lobby, sebelumnya mereka berpamitan dulu pada tiga cowok tampan itu.


Kemudian Randy, Carel dan Abigail pun pergi dari perusahaan milik Darmendra menuju perusahaan mereka masing-masing.


"Selamat pagi," sapa triple A pada Jasmine. Jasmine langsung menghampiri triple A dan memeluknya.


"Terimakasih banyak, berkat kalian ibuku bisa sembuh," ucap Jasmine.


"Sudahlah, sekarang bekerjalah dengan baik. Jangan ikut ikutan dengan orang yang tidak benar," ucap Lica. Jasmine mengangguk dan menghapus air matanya.


"Ya sudah, kita juga mau kerja sebelum di beri SP oleh atasan," kata Lina. Sekali lagi Jasmine mengangguk. Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan triple A.


Saat didalam lift...


"Apa itu ulahmu?" tanya Lina pada Lica.


"Hmmm, semalam kami dihadang oleh orang suruhan Fany dan Julia, aku melakukan itu hanya untuk mengguncang perusahaan mereka dan meminta anak anaknya untuk menyerahkan diri dengan suka rela ke kantor polisi," jawab Lica.


"Kalian dihadang? Mengapa tidak menghubungi aku?" tanya Lina.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2