THREE ANGEL

THREE ANGEL
Dihadang perampok.


__ADS_3

.


.


.


Setelah selesai makan siang, kini mereka semua sudah bersiap untuk kembali kerumah masing-masing. Randy ingin mengantarkan Lina, tapi Lina menolak.


"Gak usah, biar aku pulang bersama Mommy," kata Lina saat Randy ingin mengantarkan nya. Akhirnya Randy pun mengalah.


Sedangkan Lita dan Lica diantar oleh Carel dan Abigail. karena mereka juga ingin pulang sekalian aja pulang bersama sama.


Kini mereka sudah berada didalam mobil masing-masing. Abbas, Delon, Denia dan Randy hanya mengantar mereka hingga depan rumah. Setelah mobil mereka pergi keluarga itupun kembali masuk.


"Kakek mau istirahat dulu," kata Abbas. Randy pun mengantarkan kakeknya menuju kamar.


"Kakek tidur dulu ya, dan jangan lupa minum obat herbal yang Lina berikan kepada kakek." kata Randy. Obat herbal itu sudah direbus dan diambil airnya lalu disimpan didalam botol agar lebih mudah menyimpannya.


Sementara Ram dan keluarga kecilnya pulang kerumah dan melewati jalur yang berbeda. Tiba dipersimpangan jalan ada beberapa buah motor menghadang mereka. Ram menghentikan mobilnya dipinggir jalan.


"Sepertinya mereka ingin merampok, Yah," kata Aleta pada Ram.


"Kamu benar sayang," jawab Ram.


"Biar bunda dan ayah yang hadapi mereka," kata Cahaya.


"Tidak Bunda, kita hadapi saja sama sama," ucap Aldebaran.


"Al, Ale kalian didalam mobil saja," perintah Cahaya.


"Bunda kita akan hadapi sama sama, kita juga bisa berkelahi kok," jawab Aldebaran kekeh.


'Ya sudah, kita hadapi sama sama," putus Ram akhirnya.


Sebelum mereka sempat keluar dari mobil, seorang perampok menghampiri mobil mereka dan mengacungkan pistol kearah Ram.


"Buka pintu mobilnya," perintah pria itu.


Ram, Cahaya, Aldebaran dan Aleta bukannya takut, malah mereka tersenyum seperti mengejek.

__ADS_1


"Mengganggu saja," ucap Aldebaran dengan pelan yang hanya bisa didengar oleh mereka yang berada didalam mobil.


"Hati hati, yah," pesan Cahaya sebelum Ram membuka pintu mobil.


"Cepat buka pintunya," perintah pria itu lagi.


Perampok yang lain sudah bersiap didekat mobil mereka masing-masing sambil bersidakap dada.


Mereka yakin akan mendapatkan korban orang kaya lagi, sebelumnya mereka melakukannya ditempat lain, entah kenapa hari ini mereka melakukannya ditempat ini.


Bisa dipastikan kalau hari ini adalah hari S*al perampok tersebut. Karena incaran mereka bukan orang sembarangan. Mereka tidak tahu saja kalau orang yang akan mereka rampok adalah orang yang sangat handal dalam segi apapun.


"Aku hitung sampai tiga, kalau tidak keluar jangan salahkan aku bila peluru ini bersarang ditubuh kalian," bentak pria itu memberi peringatan.


Belum sempat pria itu menghitung, Ram sudah lebih keluar dulu. kemudian dari arah samping kemudi Cahaya juga keluar, dan dari pintu belakang Aleta dan Abangnya juga keluar.


"Nah gitu dong dari tadi," ucap pria itu tersenyum senang. Aleta yang sudah tidak sabar ingin menghajar orang tersebut langsung berlari kearah pria itu.


Buugh....satu tendangan mendarat sempurna di bagian se*ang*ang*n pria itu. Pria itu yang belum punya persiapan untuk bertarung pun hanya bisa menahan rasa sakit dan segera mengapit kedua lututnya.


Pria itu mengarahkan lagi pistolnya kearah Cahaya, tapi dengan cepat Aldebaran menendang tangan pria itu hingga pistol itu terlempar.


Perampok yang lain yang berdiri didekat motor mereka pun terkejut melihat bos mereka dengan mudah dikalahkan. Para bawahan pria itu tidak membawa pistol, hanya pisau saja sebagai senjata mereka.


Bruuk... pria itu menjatuhkan lututnya keaspal. Dengan tanpa hati Cahaya menendang wajah pria itu menggunakan lutut, sehingga pria itu benar benar terkapar diaspal dengan darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya.


"Kamu sudah salah mencari lawan, Paman," ucap Aleta dan Aldebaran serentak. Terkadang mereka juga sering kompak kalau berkata. meskipun Aldebaran orang yang dingin dan pendiam tapi dengan keluarganya terkadang ada waktunya ia bicara banyak.


"Lain kali kalau mau cari tempat, cari yang strategis biar aman," kata Ram.


Satu keluarga kecil itu berjalan menghampiri ketujuh orang yang tersisa. mereka bergidik ngeri melihat tatapan mata dari empat orang tersebut, belum pernah mereka menemukan korban yang punya tatapan setajam itu. Biasa yang menjadi korban mereka akan takut kalau sudah diacungkan pistol dan langsung menyerahkan mobil dan barang barang lainnya.


"Biar bunda dan ayah yang hadapi mereka," kata Ram.


"Rugi dong Yah," jawab Aleta.


"Ale, jangan membantah." kata Cahaya.


"Bunda...?!" Aldebaran tidak terima kalau mereka disuruh diam saja dan hanya menjadi penonton.

__ADS_1


Ketujuh perampok itu sudah gemetar ketakutan. Bos mereka saja mudah dijatuhkan, apalagi mereka.


Aleta dan Aldebaran saling pandang kemudian keduanya pun mengangguk. Tanpa banyak bicara keduanya berlari dan langsung bersalto hampir bersamaan dan menendang salah satu dari mereka. Dua orang terpental menabrak motor mereka dan tumbang.


"Kita kalah cepat, Yah," kata Cahaya. Ram tidak menjawab dan hanya tersenyum.


"Mereka seperti kamu, sayang. Mudah emosi apalagi Aleta," kata Ram. Akhirnya pasangan suami istri itu hanya menjadi penonton saja melihat kedua anaknya melawan perampok tersebut.


"Sepertinya kita tidak perlu turun tangan, honey," kata Cahaya. Ram mengangguk.


Aleta menendang salah satu dari mereka, pria itu mengelak. Aleta memutar tubuhnya dan kembali menendang, pria itu belum siap sehingga terkena tendangan dari Aleta. Pria itu mengusap perutnya yang terasa sakit.


"Ternyata kuat juga anak kecil ini," batin pria itu.


Tidak beda jauh dengan Aleta, Aldebaran juga melawan beberapa pria berbadan besar itu. Aldebaran tidak kualahan sama sekali, karena fisiknya sangat kuat. Meskipun umurnya baru 8 tahun tapi kekuatannya menyaingi orang dewasa.


Empat dari perampok itu sudah terkapar diaspal, tinggal 3 lagi.


Aleta dan Aldebaran maju, tapi ketiga pria itu malah mundur. ketiga pria itu hendak melarikan diri, tapi dengan cepat Aleta dan Aldebaran menerjang dua orang tersebut. Yang satu melarikan diri tapi ditembak oleh Aldebaran menggunakan senjata pelumpuh mereka.


"Ayah, telepon kakek Irwan," perintah Aleta, Ram pun segera menelepon polisi.


Irwan setelah menerima telepon langsung bergegas menuju lokasi bersama anak buahnya.


"Ternyata mereka tidak sekuat yang aku kira," ucap Aleta setelah membereskan perampok tersebut.


Aleta dan Aldebaran menghampiri orang tua mereka, dan mereka kembali kemobil sambil menunggu polisi datang. Setengah jam kemudian, mobil polisi pun datang.


"Selamat siang tuan Ram," sapa Irwan.


"Selamat siang tuan Irwan, silahkan lanjutkan tugasnya dan kami permisi tuan," kata Ram.


"Terimakasih tuan Ram," ucap Irwan dan diangguki oleh Ram serta istri dan anaknya.


Kemudian mereka pun pergi dari tempat itu meninggalkan polisi yang bertugas menangkap perampok tersebut.


Sekali lagi tugas polisi dipermudah kan oleh salah satu keluarga Henderson.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2