
.
.
.
Dalam sekejap kue itu pun habis tanpa sisa, karena tidak manis jadi sangat disukai oleh Daka dan Alika.
"Maaf sayang, kue habis," ucap Alika.
Lica tersenyum senang, ternyata kue buatannya disukai calon mertuanya.
"Kamu mendapatkan predikat menantu kesayangan dari Mama," bisik Abigail.
"Kamu Iri?" tanya Lica.
"Tidak, aku malah bahagia ternyata pilihan ku memang tidak salah," jawab Abigail.
"Tapi Mama tidak tahu kalau aku ini orangnya kejam," ucap Lica.
"Kejam terhadap musuh itu sudah sewajarnya," kata Abigail santai.
"Hmmm, kamu benar," jawab Lica.
"Bisa gak panggilanmu di ubah kepadaku?" tanya Abigail.
"Bisa, tapi setelah menikah dan bila kita sudah menjadi suami istri maka panggilan untuk kamu akan aku ubah," jawab Lica.
Mereka bisa bicara dengan leluasa karena Daka dan Alika sedang kedapur.
"Kalau begitu besok kita menikah," ucap Abigail tanpa beban, seolah olah menikah itu sama dengan beli gorengan dipinggir jalan yang tinggal hitung tinggal bungkus lalu bayar.
"Aku mau menikah denganmu, tapi tidak untuk waktu dekat ini," jawab Lica.
"Kapan?" tanya Abigail.
"Tunggu sampai waktunya tiba," jawab Lica.
"Kalau kita menikah kita bisa berpacaran dengan leluasa, bebas melakukan apa saja tanpa harus takut dosa," ucap Abigail.
"Tapi aku belum puas menikmati masa mudaku. kau tau, dari usia 11 tahun aku sudah kuliah, aku memang hidup bebas tapi terbatas, ngerti kan maksudku?" tanya Lica.
"Bebas tapi terbatas?" tanya Abigail balik.
"Iya, aku hidup bebas tapi bukan berarti dengan pergaulan bebas. Jadi maksudnya hidup bebas tapi masih punya batasan, ngerti ora?" tanya Lica. Abigail manggut-manggut.
"Menikah bukan karena hanya kebutuhan biologis, tapi menyatukan dua hati, dua jiwa dan dua keluarga. Bila semua itu bisa bersatu maka keharmonisan rumah tangga akan tercipta," kata Lica lagi.
"Ternyata Kamu lebih dewasa ya sayang," ucap Abigail.
"ngomongin apa sih? Serius banget?" tanya Alika datang dengan membawa jus untuk menantu kesayangannya itu.
"Itu ma, wanita yang datang semalam," ucap Lica.
"Oh, si Ember itu, sudah diusir dari sini," jawab Alika.
"Sebenarnya dia terobsesi dengan Abigail tapi kami benar-benar tidak menyukai kelakuannya," ucap Daka.
"Padahal dia cantik loh ma," kata Lica.
__ADS_1
"Kamu kenal dia?" tanya Alika. Lica tersenyum sambil menoleh kearah Abigail.
"Sebenarnya kami tadi ke apartemen nya ma untuk memberikan pelajaran padanya. Dia membayar orang untuk mencelakai kami," jawab Abigail.
"Kenapa tidak dibawa ke kantor polisi saja?" tanya Alika emosi. Lica mendekat dan mengelus punggung Alika agar sedikit tenang.
"Abi sudah memberikan peringatan kepadanya, bila ia berulah lagi maka Abi tidak segan segan menghancurkan perusahaan keluarganya," ucap Abigail.
"Terserah kamu saja, Papa juga tidak begitu cocok dengan keluarga itu," ucap Daka menimpali.
"Mama tidak apa-apa kan?" tanya Abigail.
"Terserah mu saja, mama juga sudah muak dengan kelakuan si Ember itu," kata Alika.
"Sayang kamu mau mandi dulu?" tanya Abigail pada Lica.
"Boleh, aku pun rasanya sudah sangat gerah nih," jawab Lica.
Abigail mengantarkan Lica kekamar tamu yang biasa Lica tempati kalau sedang berkunjung kesini.
Setelah mengantarkan Lica kekamar tamu, Abigail kembali bergabung dengan orang tuanya.
"Apa kamar itu sudah dibersihkan ma?" tanya Abigail.
"Sudah, perabotannya juga sudah diganti, mama benar benar ngeri melihatnya," ucap Alika.
"Bagaimana kalau menantu Mama lebih bar bar dari itu?" tanya Abigail.
"maksudmu?" tanya Alika bingung.
"Mama pernah dengar berita tentang tiga orang gadis yang menyelamatkan penumpang pesawat?" tanya Abigail.
"Pa, mana ponsel Mama?" tanya Alika.
Daka segera mengambil ponselnya dan melihat rekaman video dalam berita itu yang sempat ia download.
Alika memutar video itu dan melihat tiga gadis dengan wajah yang sangat mirip.
"Kenapa Mama baru menyadarinya?" tanya Alika.
"Apa Mama akan berubah pikiran bila mengetahui bahwa Lica lebih bar bar?" tanya Abigail.
"Lica menolong orang, bukan mengamuk menghancurkan barang barang seperti si Ember itu," jawab Alika.
"Dari situlah Abi menyukainya ma," ucap Abigail.
"Bagus dong, Mama lebih menyukai Lica daripada perempuan lain." ucap Alika.
Lica sudah selesai mandi dan berganti pakaian, karena dikamar itu memang sudah disediakan oleh Alika untuk keperluan Lica bila suatu hari Lica berkunjung atau menginap.
"Mau pulang sekarang?" tanya Abigail.
"Ayo, lagi pula ini sudah sore," jawab Lica.
Alika tidak melarang kalau Lica mau pulang atau menginap, karena Alika tidak ingin memaksakan kehendak calon menantunya itu.
Lica dan Abigail pun berpamitan kepada kedua pasangan suami istri itu, Lica mencium tangan Alika dan Daka secara bergantian.
"Aku pulang dulu ma, pa. Kapan kapan kesini lagi," ucap Lica. Kemudian keduanya masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Disisi lain...
Carel berencana ingin menjemput kekasihnya pulang dari kantor, karena ini sudah jam pulang kerja. Carel mengendarai mobil sport miliknya dengan kecepatan tinggi sehingga ia lebih cepat sampai ditempat kerja Lita.
"Ehh, bukankah itu mobil Carel?" tanya Lina saat ia hendak menaiki motornya.
Lita menoleh kearah mobil yang dimaksud, Carel pun keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Lita. Perlahan ia membuka helm yang sudah dikenakan oleh Lita.
"Aku ingin menjemput mu," ucap Carel sambil tersenyum.
"Gak usah, aku bisa pulang bersama Lina," jawab Lita.
"Ayolah sayang, aku sudah rindu denganmu," ucap Carel.
"Bukankah kita setiap hari bertemu?" tanya Lita.
"Ya benar, tapi aku setiap saat merindukanmu," jawab Carel enteng.
"Gombal banget," ucap Lita.
"Cuma Sama kamu kok," jawab Carel.
"Mari...!" ajak Carel sambil menarik pelan tangan Lita. Akhirnya Lita pun menurut saja.
Lina hanya tersenyum melihat kebucinan para kekasih adiknya.
"Randy juga bucin," gumam Lina.
Kemudian ia pun pergi dari perusahaan dengan menggunakan motornya, sedangkan temannya yang satu devisi sudah pulang lebih dulu, karena tadi Lina ada sedikit keperluan dengan Ardi jadi ia pulang belakangan.
Carel mengendarai mobil sport miliknya dengan kecepatan sedang, ia ingin menikmati masa masa berdua. Carel membawa Lita kesebuah cafe.
"Kenapa kesini?" tanya Lita.
"Kita minum dulu, setelah itu baru kuantar pulang," jawab Carel.
Lita pun hanya pasrah saja, dan mengikuti Carel yang turun dari mobil. Carel menggandeng tangan Lita seperti ingin menyeberang dilampu merah.
Para pengunjung cafe ada yang iri dan ada juga yang kagum dengan pasangan itu. Padahal yang berkunjung kesini juga sudah berpasangan.
"Sama cantik sama tampan dan sangat serasi," ucap pengunjung A pada pasangannya.
"Aku juga bisa kok romantis seperti itu," jawab pria nya.
"Kamu romantisnya saat ingin mendapatkan aku, tapi sekarang sudah setahun seolah olah sudah memudar," ucap wanita nya. Sang pria merasa tertampar tapi apa yang dikatakan kekasihnya ada benarnya.
Dari kejauhan ada sekelompok wanita sedang memperhatikan Carel dengan Lita yang baru masuk.
"Bukankah itu teman kencan buta mu dulu? Sekarang dia sudah punya teman kencan buta lain," tanya temannya.
Wanita itu menggeram marah, ia tidak terima ditolak tanpa alasan yang jelas.
"Aku akan hancurkan hubungan mereka," ucap wanita itu sambil mengepalkan tangannya kuat dibawah meja.
.
.
.
__ADS_1