
.
.
.
Carel membukakan pintu mobil untuk Lita, dan hal itu dilihat oleh Darmendra. Seketika Darmendra tersenyum.
"Hubby kenapa?" tanya Diva.
"Lihat mereka," jawab Darmendra.
"Biarkan saja lah by, Lita juga sudah dewasa mungkin Carel memang pria yang cocok untuknya," kata Diva.
"Justru itu, lihat perlakuan Carel terhadap Lita sangat manis, aku yakin Carel benar benar mencintai putri kita," jawab Darmendra. Diva pun mengintip dari celah pintu, dan benar perlakuan Carel ke Lita seperti apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Yuk makan, mereka juga sudah pergi," ajak Diva. Mereka menuju meja makan, ternyata semua sudah berkumpul dimeja makan.
"Lita sudah berangkat?" tanya Vera, dan dijawab anggukan oleh Diva.
"Gak terasa ternyata cucu cucu kita sudah dewasa," ucap Jordan pada Vera.
Vera hanya terdiam, ia mulai khawatir tidak sempat untuk menyaksikan perkawinan cucu perempuannya.
"Semoga kita diberi umur panjang," ucap Jordan yang mengerti perasaan Vera saat ini. Vera pun mengangguk tanpa terasa air matanya menetes dari pelupuk matanya. Perlahan Jordan menghapusnya.
"Yuk makan," ajak Diva agar ibu mertuanya tidak terlalu berlarut larut.
Mereka pun makan dengan nikmat, Lina dan Lica mengambil nasi sendiri, sedangkan Diva melayani mertua dan suaminya terlebih dahulu baru melayani dirinya sendiri.
Sementara Carel dan Lita sudah tiba di restoran yang dimaksud, Carel memarkirkan mobilnya ditempat parkir khusus.
Carel membuka pintu mobil untuk Lita, kemudian ia menyambut tangan Lita untuk digandengnya. Keduanya pun masuk kedalam restoran dan disambut ramah oleh pelayan.
"Silahkan tuan dan nona, tempatnya sudah ditata sesuai keinginan tuan," ucap pelayan itu sambil mengantar keduanya menuju ruang VVIP 1.
Dari kejauhan ada sepasang mata memperhatikan mereka dengan penuh amarah. Ya dia adalah seorang wanita yang menjadi teman kencan buta Carel yang ditolak Carel dengan cara menyiram air kewajah wanita itu.
"gue akan menggagalkan makan malam mereka, enak saja dia menolak gue dengan cara menyiram air kewajah gue," ucap wanita itu yang bernama Selfi.
Selfi mengepalkan tangannya kuat, dulu ia begitu mengagumi sosok Carel, tapi sekarang ia dendam kepada Carel.
Carel sudah membawa Lita masuk kedalam ruangan VVIP itu yang sudah dihias sedemikian rupa agar terlihat romantis.
"Kenapa sampai segitunya melakukan semua ini!" tanya Lita.
__ADS_1
"Aku ingin makan malam kita agar lebih mengesankan," jawab Carel.
"Tapi...!" perkataan Lita terhenti.
"Aku melakukan ini semua demi kamu, aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu," ucap Carel.
"Maukah kau menjadi kekasihku? karena sejak pertemuan pertama kalinya aku sudah jatuh hati padamu. Dan kamu adalah orang yang pertama yang sudah membuat aku jatuh cinta," ucap Carel. Lita mengangguk sebagai jawaban. Dan Carel pun tersenyum.
Prok...prok...prok... Selfi masuk sambil bertepuk tangan.
"Wah, wah wah. Ini yang keberapa yang sudah kamu ajak kencan?" tanya Selfi.
Carel sudah mulai khawatir, sedangkan Lita hanya biasa biasa saja. Melihat perubahan wajah Carel, Selfi yakin ia pasti bisa menggagalkan makan malam ini.
"Kenapa kau kemari?" tanya Carel pada Selfi.
"Gue kemari karena melihat kekasih gue jalan sama cewek lain," ucap Selfi. Carel tersenyum mengejek.
"Sejak kapan aku menerima kamu menjadi pacarku? jangan ngehalu deh," tanya Carel.
Selfi mengambil air yang ada didalam gelas yang tadi dituangkan oleh pelayan sementara menunggu pesanan datang. Selfi kemudian menyiramkan air ke wajah Lita, tapi diluar dugaan Selfi, Lita terlebih dahulu menangkap tangan Selfi sehingga air itu berbalik menyiram dirinya sendiri.
"Aaahh, S*al...!" teriak Selfi.
Carel menahan tawanya melihat muka Selfi yang sudah hitam disekitar matanya, ternyata maskara yang ia pakai luntur terkena air.
"Kalau pakai make-up itu yang anti air, jangan yang murahan seperti itu," ejek Lita. Carel yang jarang tertawa bahkan tidak pernah tertawa kini malah tertawa lepas. Sehingga ia memegangi perutnya.
"Kamu sudah jelek tambah jelek," ejek Carel pada Selfi. Selfi semakin murka dan mengangkat tangannya untuk menampar pipi Lita. Tapi Lita dengan cepat menangkap tangan tersebut dan memelintirnya.
Lita kemudian menjambak rambut Selfi sehingga muka Selfi mendongak keatas.
"Aakkkhh sakit...?!" teriak Selfi kesakitan.
"Aku tidak peduli," kata Lita semakin menarik kuat rambut panjang Selfi, sedangkan tangan Selfi dikunci kebelakang.
"Kamu kira aku tidak tahu siapa kamu?" tanya Lita.
"Lepaskan...!" teriak Selfi. Tapi Lita semakin mengeratkan tarik kan rambutnya.
"Makanya jangan cari masalah, seharusnya kamu cari tau dulu siapa yang kamu hadapi?" tanya Carel.
Lita melepaskan jambakan rambutnya dan mendorong tubuh Selfi hingga terjerembab kelantai.
"Aaaaaakkh, sakit." teriak Selfi. Ia menangis karena kakinya terkilir.
__ADS_1
"Kita keruangan lain saja," ajak Lita. Carel pun mengangguk dan membawa Lita keruangan sebelahnya. Sebelum itu mereka sudah terlebih dahulu memberitahukan kepada manager restoran tersebut.
Tentu saja manager itu tidak akan keberatan, malahan manager tersebut meminta maaf atas tidak kenyamanan pelanggan.
Sedangkan Selfi sudah diseret keluar oleh petugas keamanan. Selfi menjerit jerit seperti orang gila, ditambah rambut yang acak acakan serta maskara yang belepotan disekitar matanya.
"Maaf, acara makan malamnya jadi terganggu," ucap Carel merasa bersalah kepada Lita.
"Gak apa-apa, yang penting dia sudah dikeluarkan dari sini," jawab Lita.
Pesanan mereka pun tiba, tiga orang pelayan mengantarkan pesanan mereka.
"Silahkan tuan dan nona, mohon maaf atas ketidak nyamanan tuan dan nona," ucap salah satu pelayan. Lita dan Carel mengangguk.
"Tidak apa-apa, bukan salah kalian juga," jawab Lita. Kemudian pelayan itu pun pamit undur diri.
"Mari sayang kita makan," ajak Carel. Lita pun mengangguk.
"Aku tidak tahu kalau dia ada di sini," ucap Carel.
"Sudahlah jangan dibahas lagi tentang wanita itu. Tidak penting," kata Lita. Lalu keduanya pun makan malam dengan tenang dan nikmat.
Selfi yang tidak terima diperlakukan seperti itu pun langsung menelpon kakaknya yang ternyata seorang gangster.
"Halo kak, pokoknya malam hari ini gue mau kakak habisi seorang perempuan, dia sudah membuat gue kehilangan muka." kata Selfi.
Johanes yang mendengar adiknya dianiaya tidak terima dan segera pergi ketempat Carel dan Lita berada. Johanes membawa anak buahnya 20 orang dengan dirinya menjadi 21.
"Pokoknya malam ini kita harus menghabisi orang tersebut," ucap Johanes pada anak buahnya.
"Siap bos," kata anak buahnya serentak.
Genk mereka hanya terdiri dari 22 orang, sang asisten pribadi Johanes tidak ikut karena ada tugas yang harus ia selesaikan juga.
5 buah mobil segera meluncur ke tempat yang dimaksud.
Sedangkan Lita dan Carel masih sedang asik makan malam, mereka belum menyadari kalau mereka sedang dalam bahaya.
Tidak berapa lama mobil yang membawa Johanes pun tiba di restoran. Selfi langsung menghampiri kakak nya dan menangis.
"Dimana mereka?" tanya Johanes.
.
.
__ADS_1
.