THREE ANGEL

THREE ANGEL
Maafkan kami ayah


__ADS_3

.


.


.


Pagi pagi sekali Aldebaran dan Aleta sudah terbangun, mereka terbiasa bangun pagi.


Apalagi hari ini mereka akan mengadakan ujian nasional, hari libur mereka sudah berakhir jadi sekarang mereka harus masuk ke sekolah kembali.


"Selamat pagi Nek," sapa Aldebaran dan Aleta serentak.


"Selamat pagi sayang," jawab Wardina sambil tersenyum.


"Mau sarapan pakai apa?" tanya Wardina.


"Nenek masak apa?" tanya Aleta balik.


"Nasi goreng seafood dengan roti bakar," jawab Wardina.


"Nasi goreng aja Nek," kata Aleta.


"Al maunya apa?" tanya Wardina.


"Samakan saja Nek," jawab Aldebaran.


Wardina melayani kedua cucunya itu, Cahaya dan Ram baru saja turun dari lantai atas. Keduanya jalan beriringan.


"Selamat pagi Bu, selamat pagi sayang," sapa Ram sambil mengecup rambut putra putrinya.


"Ayah maafkan kami," ucap Aldebaran dan Aleta serentak.


Wardina yang tidak tau permasalahan nya hanya bengong. Tidak biasanya kedua cucunya meminta maaf kepada ayahnya.


"Sudahlah, ayah tidak marah kok," kata Ram.


"Tapi ayah semalam diam saja," kata Aleta.


Ram tersenyum sambil mengelus rambut putrinya.


"Ayah tidak tahu mau ngomong apa? Yang pasti ayah tidak marah dengan kalian. Ayah tahu kalian tidak suka ada wanita lain yang ingin dekat dekat dengan ayah," kata Ram.


"Lain kali kalau ingin bertindak jangan didalam pesta, cari tempat yang tidak ramai orang. Ayah tidak ingin nanti anak ayah di cap anak nakal," kata Ram lagi.


"Baik ayah," jawab Aldebaran dan Aleta serentak.


"Ayah, bolehkah hari ini ayah mengantar kami ke sekolah?" tanya Aldebaran.


Ram mengernyitkan dahinya, tidak biasanya putranya minta diantar. Biasanya mau diantar supir saja menolak.


"Ada apa? tumben banget anak ayah minta diantar?" tanya Ram.


"Sudahlah yah, antar saja mereka. mungkin mereka ingin merasakan diantar oleh ayah," kata Cahaya.


"Baiklah ayah akan antar kalian," jawab Ram akhirnya.


Setelah selesai makan mereka pun berpamitan kepada bunda dan neneknya, Aldebaran dan Aleta menyalami bunda dan mencium bundanya, begitu juga pada Wardina. Setelah itu mereka pun masuk kedalam mobil. Ram menyalami tangan Wardina dan mencium tangannya, kemudian Ram mencium kening istrinya.


Cahaya tidak malu lagi diperlakukan seperti itu, karena sudah terbiasa dilihat oleh ibu dan anak anaknya.

__ADS_1


Ram masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin mobil. Ram melambaikan tangannya begitu juga dengan Aldebaran dan Aleta. Ram menjalankan mobilnya dengan perlahan karena masih dalam kawasan rumah.


"Hari ini kalian ujian?" tanya Ram. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju sekolah.


"Iya ayah," jawab Aldebaran dan Aleta serentak.


"Setelah lulus kalian mau bagaimana?" tanya Ram.


"Kami sudah sepakat untuk sekolah normal saja," jawab Aldebaran.


"Sekolah normal?" tanya Ram.


"Iya, kami ingin menikmati masa masa sekolah mulai dari kelas 7 sampai tamat. kami tidak ingin seperti ayah, papa dan aunty triple A yang langsung ke kelas 9 dan kelas 12." jawab Aleta.


"Kalau kalian tidak bosan sih tidak masalah, ayah ikut saja bila itu keinginan kalian," kata Ram.


Akhirnya mereka pun tiba di sekolah, Ram memarkirkan mobilnya. Aldebaran dan Aleta pun segera turun dari mobil, tapi sebelum itu mereka mencium tangan ayahnya.


Kemudian Aldebaran mencium pipi ayahnya, Aleta dibuat bengong tidak biasanya Aldebaran mencium pipi ayahnya.


Senyum Ram mengembang seketika saat sang putra mencium pipinya.


"Rajin rajin belajar," pesan Ram.


Keduanya pun mengangguk, Ram terus memperhatikan mereka hingga mereka benar benar masuk kedalam sekolah barulah Ram beranjak dari tempat itu.


Ram menyentuh pipinya dan kembali tersenyum. putranya yang biasanya tidak mau dicium sekarang malah mencium pipinya.


Sedangkan didalam kelas, Aleta masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Al, apa kamu kesambet?" tanya Aleta.


Aleta ingin bertanya lagi tapi saudara saudaranya sudah datang, kelas pun menjadi heboh dengan kehadiran mereka. Meskipun hanya mereka dan tidak bercampur dengan murid lain tapi tetap saja mereka heboh.


"Masih lama untuk bel sekolah berbunyi," kata Davion.


"Lama apanya? hanya tinggal 15 menit," jawab Aleta.


"15 menit itu lama kalau kita sedang menunggu," kata Rayyan.


"Sudahlah malas berdebat dengan kalian. bagaimana semalam? Apa kalian kena marah?" tanya Aleta.


"Tidak...!" jawab mereka serentak.


"Hanya Papa berpesan kalau ingin bertindak jangan ditempat keramaian," kata Aksa Delvin.


"Kok bisa sama?" tanya Aldebaran.


"Maksudnya?" tanya Davion.


"Ayah juga berpesan seperti itu," jawab Aleta.


"Apa mungkin karena orang tua kita kembar?" tanya Kenzo.


"Entahlah," jawab mereka serentak.


Akhirnya bel sekolah pun berbunyi pertanda kelas akan dimulai. mereka sudah siap duduk dengan tenang.


Sementara anak murid yang lain masih berlarian untuk masuk kedalam kelas masing-masing.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Pak Farhan masuk dengan membawa kertas soal dan lembar jawaban.


"Anak anak, hari ini kalian akan mengadakan ujian. bapak harap kalian bisa lulus dengan sempurna," kata Farhan.


Farhan pun segera membagikan kertas tersebut kesetiap meja mereka. Setelah itu Farhan kembali lagi ke mejanya.


"Bapak beri kalian waktu 60 menit untuk menjawab soalan tersebut," ucap Farhan.


"Baik Pak," jawab mereka serentak.


Suasana seketika hening karena mereka semua fokus pada jawaban ujian mereka.


15 menit berlalu mereka pun sudah selesai menjawab semuanya. Mereka pun segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju meja guru.


"Sudah selesai?" tanya Farhan sambil tersenyum.


"Sudah Pak!" jawab mereka serentak.


"Bagus, sekarang kalian boleh istirahat," ucap Farhan.


Kemudian mereka pun keluar dari dalam kelas, mereka menuju taman tempat biasa mereka nongkrong kalau sedang istirahat.


Farhan memeriksa kertas jawaban dari anak didiknya itu. Seketika ia tersenyum puas.


"Luar biasa, keturunan keluarga Henderson memang tidak bisa diragukan lagi," gumam Farhan.


Sementara ditaman sekolah, 17 bocah kembar sedang duduk bersama ditaman itu.


"Bagaimana rencana kalian tentang kita yang melanjutkan sekolah?" tanya Abqari.


"Seperti kesepakatan kita bersama, kita akan sekolah secara normal," jawab Aleta. Mereka semua pun mengangguk.


"Kita masuk sekolah yang sama dan tamatnya pun bersama sama," kata Davina.


"Ya iyalah, kita kan saudara harus sama sama dong," kata Quenni.


"Kita gak ada teman lain selain sesama kita saja," kata Rayna.


"Gak perlu repot-repot mencari teman, kita saudara dan kita juga adalah teman," kata Qirani.


"Benar tuh," jawab Kayvira.


Waktu istirahat mereka cukup panjang, karena mereka hanya butuh waktu 15 menit untuk menjawab soal-soal ujian tersebut.


Sementara murid yang lain masih belum selesai menjawab soal-soal ujian.


"Kalian bolos sekolah?" tanya penjaga gerbang sekolah.


"Tidak Paman, kami sudah istirahat," jawab Aleta.


"Oh, Paman kita kalian bolos sekolah," kata pria itu.


Mereka semua tersenyum saja setelah penjaga gerbang itu pergi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2