
.
.
.
Setelah selesai berbelanja mereka ingin ketempat lain lagi, ketiga pasangan itu pun kembali ketempat mereka menitipkan motor mereka tadi.
Lina, Lita dan Lica saling pandang dan kemudian mereka mengangguk serentak.
Kebetulan ada seorang pria paruh baya yang baru keluar dari masjid dan hendak pulang ke rumahnya.
"Assalamualaikum Pak," ucap salam Lina.
"Waallaikum sallam," jawab pria itu.
"Boleh kami bertemu dengan pengurus masjid ini?" tanya Lina.
"Kebetulan saya sendiri, ada apa ya kalau boleh tau?" tanya pria itu.
"Kami lihat masjid ini sudah cukup lama, apa tidak pernah diperbaiki Pak?" tanya Lica.
Pria itu tertunduk, kemudian ia kembali mengangkat wajahnya menatap orang didepannya.
"Sebenarnya maunya sih begitu, tapi kami sebagai warga disini juga masih banyak yang kekurangan dan saya sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa," jawab pria itu.
"Kalau begitu kita ngobrol sambil duduk aja Pak, gak enak kalau berdiri," ucap Randy.
"Oh iya, mari silahkan," ucap pria itu.
"Begini Pak, langsung ke intinya saja ya agar tidak berbelit belit." kata Lina.
"Katakan saja," ucap pria itu.
"Kami ingin menyumbang sedikit untuk perbaikan masjid ini, dengan begitu Bapak dan para warga disini bisa beribadah dengan tenang," ucap Lina.
"Bapak punya nomor rekening, soalnya kami tidak bawa uang tunai dalam jumlah yang banyak," kata Lita.
Pria itu pun menuliskan nomor rekening pada secarik kertas. Pertama Lina yang mentransfer sejumlah uang kepada Bapak itu.
"Hah...1 M." batin pria itu. ia terkejut melihat nominal uang tersebut.
Kemudian Lita dan Lica mentransfer uang ke rekening pria itu masing-masing jumlahnya juga 1 M perorang. Pria itu kembali dibuat terkejut. kemudian ketiga pria tampan juga mentransfer dengan jumlah yang sama. Pria itu pingsan di tempat melihat notifikasi dari Bank.
"Pak... Pak?!" panggil Lina mengguncang tubuh pria itu.
"Aduh pake acara pingsan segala lagi," ucap Lica.
Lina mengoleskan minyak kayu putih ke hidung pria itu, beruntung Lina selalu membawanya.
"Uuh," pria itu melenguh merasakan pusing di kepalanya.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Carel.
"Bapak cuma terkejut melihat nominal uang masuk," ucap pria itu.
"Gunakan uang itu untuk perbaikan masjid," ucap Lina. Pria itu mengangguk.
"Saya akan membangun masjid ini dengan uang yang kalian sumbangkan, terimakasih, hanya Allah yang bisa membalas kebaikan kalian semua," ucap pria itu.
__ADS_1
Ia menangis, selama ini ia berusaha mengumpulkan uang untuk perbaikan masjid ini tapi uang itu selalu tidak mencukupi. Kadang diam diam pria itu membeli perlengkapan sholat dengan uangnya sendiri. Beruntung anak dan istrinya bisa mengerti dengan dirinya itu.
"Ya sudah kalau begitu Pak, kami juga ingin pulang ke villa," kata Randy.
"Jadi kalian pemilik villa itu?" tanya pria itu. mereka mengangguk serentak.
"Kalian sudah menikah?" tanya pria itu lagi.
"Belum pak, rencananya dalam waktu dekat ini kita mau bertunangan," jawab Randy. Lina menyikut lengan Randy dan hal itu dilihat oleh pria itu.
"Tidak usah malu-malu, sesuatu yang baik seharusnya disegerakan," kata pria itu.
Randy, Abigail dan Carel tersenyum senang. kemudian mereka pun berpamitan kepada pria itu yang sedang tersenyum senang karena sudah mendapatkan dana untuk perbaikan masjid tersebut.
"Anak muda yang baik, semoga Allah melimpahkan kebahagiaan untuk kalian. Semoga Allah membalas semua kebaikan kalian," ucap pria itu.
"Ada apa Pak?" tanya istri pria itu.
"Bapak sudah dapat uang untuk perbaikan masjid ini buk," kata pria sambil tersenyum.
"Alhamdulillah ya Pak, lalu mana uangnya jangan lama-lama memperbaiki masjid ini?" tanya istrinya.
Pria itu pun memperlihatkan notifikasi dari Bank, seketika mata istrinya terbelalak dan bruuk, jatuh pingsan.
"Buk..." teriak pria itu.
Kemudian ia memanggil orang yang ada disekitar situ untuk menggotong tubuh istrinya membawanya ke puskesmas desa tersebut.
Sementara ketiga pasangan itu masih asik berpacaran mengelilingi desa itu. Saat tiba di sekolahan Lina menyuruh Randy untuk berhenti.
"Ada apa sayang?" tanya Randy.
Lina tidak menjawab lalu turun dari motor dan berjalan ke area sekolah tersebut.
"Ya selamat siang, cari siapa ya?" tanya seorang gadis.
"Saya mau ketemu Bapak kepala desa, dimana ya?" tanya Lina balik.
"Mbak nya dari kota ya?" tanya gadis itu.
"Iya," jawab Lina tersenyum.
"Silahkan mbak, Bapak saya ada di kantor kelurahan," jawab gadis itu.
"Kalau begitu biar aku susul kekantor kelurahan saja." jawab Lina.
Randy mendekati Lina, gadis itu tak berkedip melihat Randy, karena di desa ini tidak ada pria yang setampan Randy.
"G*la nih cowok tampan banget," batin gadis itu.
Randy tidak sadar kalau ia diperhatikan oleh gadis itu, karena mata Randy hanya fokus pada Lina saja.
"Ada apa?" tanya Carel yang juga datang menghampiri mereka. Kemudian datang lagi Abigail menghampiri Randy.
"Aaaaa, g*la ganteng banget. Aduh aku bingung mau pilih yang mana?" batin gadis itu.
"Sepertinya kita harus berbicara dengan kepala desa," ucap Lina.
Ketiga cowok itu melihat kearah sekolah, seketika mereka mengerti.
__ADS_1
"Mari...!" ajak Randy.
"Boleh saya antar ke kantor kelurahan?" tanya gadis itu menawarkan diri.
"Tidak perlu, kami sudah tahu," jawab Randy.
Gadis itu berubah masam karena ditolak mentah-mentah.
"Saya yang paling cantik di desa ini, tidak mungkin tidak dilirik oleh mereka," gumam gadis itu setelah Lina dan yang lainnya pergi.
Dalam perjalanan, mereka menjadi pusat perhatian karena berbeda dari orang desa sini.
"Assalamualaikum," sapa mereka serentak saat sudah tiba didepan kantor kelurahan.
"Waallaikum sallam," jawab orang yang ada disitu.
"Mau cari siapa neng?" tanya seorang pria yang sedang menyapu diteras.
"Mau ketemu pak lurah, pak," kata Lina.
"Sebentar ya neng." jawab pria itu. Tidak berapa lama keluar pak lurah bersama pria tadi.
"Ada perlu apa ya?" tanya Pak Lurah.
"Kenalkan namaku Lina, dan ini teman temanku, Randy, Lita, Carel, Lica dan Abigail." ucap Lina memperkenalkan mereka.
"Saya Bardan, lurah disini. Kalau boleh tau ada perlu apa anak anak ini?" tanya Bardan.
"Kami melihat sekolah disini kayanya sudah sangat usang, kalau bapak berkenan kami ingin membantu sedikit untuk memperbaiki sekolah tersebut," ucap Lina sopan.
"Kalau begitu sebaiknya kita bicarakan didalam saja, karena ini masalah serius," ucap Pak Bardan.
Mereka pun masuk kedalam untuk berbicara lebih lanjut.
"Silahkan duduk," ucap Pak Bardan.
"Bagaimana tadi?" tanya Pak Bardan ketika mereka sudah duduk.
"Begini Pak, sekolah di desa ini sepertinya harus diganti dengan bangunan yang baru, dan kami berencana ingin membantu sedikit," ucap Lina.
"Benar, sekolah didesa kami memang sudah cukup tua, tapi kami tidak dapat bantuan dana jadi semuanya terbiar begitu saja," kata Pak Bardan.
"Mungkin dalam waktu dekat ini kami akan menyelenggarakan pembangunan sekolah tersebut, bagaimana dengan sekolah SMP dan SMA?" tanya Lina.
"Anak anak disini harus pergi ke kecamatan untuk bersekolah lebih lanjut," jawab Pak Bardan.
"Hmmm, aku mengerti sekarang. Apakah disini ada tanah kosong untuk pembangunan sekolah SMP dan SMA?" tanya Abigail.
"Tanah warga banyak, tapi harus ada ganti ruginya," jawab Pak Bardan.
"Begini saja Pak, soal tanah kami serahkan kepada bapak untuk berbicara pada warga, kalau mereka tidak mau jangan dipaksa Pak. Tapi kalau warga mau, bapak hubungi aku untuk transaksi selanjutnya," ucap Carel.
Kemudian Carel memberikan nomor telepon nya kepada Pak Bardan.
.
Mohon maaf ya, ceritanya jadi ngelantur kemana mana.
.
__ADS_1
.
.