THREE ANGEL

THREE ANGEL
Mari bertunangan.


__ADS_3

.


.


.


"Cassandra mana?" tanya Denia, karena sejak tadi ia tidak melihat Cassandra keluar dari kamar.


"Cassandra sudah pulang ke negara kelahirannya ma," jawab Randy.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Abbas pelan tapi masih bisa didengar oleh mereka.


Denia pun tidak lagi banyak bicara, mereka semua tidak tahu kalau Cassandra pergi karena diancam.


Setelah selesai sarapan Randy pun segera mengantarkan Lina ke kantor. kemudian barulah ia yang pergi ke kantornya.


"Mari kita tunangan," ajak Randy tiba tiba, saat ini mereka sedang didalam mobil.


Lina menatap intens ke Randy.


"Kenapa tiba-tiba ngomong begitu?" tanya Lina.


"Setidaknya kita punya ikatan yang kuat bila sudah bertunangan," jawab Randy.


"Tunggu masalah kita selesai. Bagaimana?" tanya Lina.


"Masalah selesai?" tanya Randy balik.


"Hmmm, masalah melengserkan tahta kerajaan," ucap Lina.


Randy menepuk dahinya, "Mengapa aku bisa melupakan hal itu," batin Randy.


"Baiklah kalau begitu," jawab Randy.


Mereka pun sudah tiba didepan perusahaan tempat Lina bekerja, teman satu devisi Lina belum ada yang datang. Lina melihat belum ada motor yang terparkir selain motor miliknya dan milik saudaranya.


"Aku langsung ke kantor ya," pamit Randy lalu mencium kening Lina. Satpam yang berjaga didekat pintu gerbang hanya pura pura tidak melihat.


"Sudah, nanti banyak yang lihat," ucap Lina sambil mendorong pelan dada bidang Randy.


Kemudian Randy pun masuk kedalam mobil dan segera pergi dari situ. Lina masuk kedalam dan ternyata para karyawan belum pada datang, Lina melihat jam tangannya baru jam 6:30.


"Pantas saja masih sepi," gumam Lina.


Lina segera masuk kedalam lift dan menekan angka 10. Sesampainya dilantai 10 Lina keluar dari dalam lift dan menuju ruang kerjanya. Lina masuk kedalam ruang kerjanya yang masih sepi. Lina mengeluarkan laptop miliknya yang selalu ia bawa.


Selang beberapa menit pintu ruangan pun terbuka, ternyata teman teman satu devisi Lina yang datang.


"Ehh, ternyata sudah ada Lina," kata Delima.


"Awal banget datangnya?" tanya Lolita.


"Biasa aja kali, biasanya juga selalu awal," jawab Lina.


"Iya, sih. tapi biasanya bertiga sekarang malah sendiri," kata Adela.


Baru saja disebut dua orang yaitu Lita dan Lica pun masuk.

__ADS_1


"Selamat pagi semuanya," sapa Lita.


"Selamat pagi, tumben sedikit lambat?" tanya Lolita.


"Nunggu jemputan pacar tadi," jawab Lica.


Kemudian mereka pun duduk dikursi masing-masing.


"Bagaimana hubungan kalian semua?" tanya Lina membuka cerita.


"Kamu tanya kita atau tanya Lita dan Lica?" tanya Adela balik.


"Ya kalian lah, kalau kedua saudaraku itu sudah pasti aku tau," jawab Lina.


"Baik baik saja kok, meskipun jarang ketemu, tapi sekalinya ketemu semakin romantis saja," jawab Delima.


"Bagus deh kalau begitu, aku turut senang mendengarnya." kata Lina.


Sementara dibelahan dunia lain lebih tepatnya di Jerman. Cassandra yang baru datang kerumah mereka langsung menangis mengadu kepada kedua orang tuanya.


"B*j*ngan si Randy," ucap Prima dengan emosi.


"Mengapa tidak kamu beri pelajaran perempuan itu?" tanya Vercessa sambil mengelus rambut putrinya.


"Dia lebih kuat ma, dan ternyata perempuan itu adalah cucu dari keluarga Henderson," jawab Cassandra.


"Keluarga Henderson?" tanya prima berubah pucat. Cassandra pun mengangguk.


"Mengapa kamu bisa berurusan dengan keluarga itu?" tanya Prima.


"Itu keluarga terkaya nomor 1 di Indonesia ma, dan aset serta perusahaannya hingga ke luar negeri. Hanya dengan menjentikkan jari saja perusahaan kita bisa hancur dan bangkrut." jawab Prima.


"Sandra juga tidak tahu pa, kalau calon tunangannya Randy adalah cucu keluarga Henderson," jawab Cassandra.


"Papa minta jangan lagi menganggu keluarga itu kalau tidak ingin kita tidur dijalan," pesan Prima.


Vercessa dan Cassandra hanya saling pandang dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tentu saja mereka tidak ingin hidup miskin.


"Apakah keluarga Henderson semengerikan itu?" tanya Vercessa.


"Mama pernah mendengar kelompok mafia terbesar dikota London? Mama tahu siapa yang menghancurkan markas mafia tersebut?" tanya Prima. Vercessa menggeleng.


"Keluarga Henderson ma," jawab Prima.


"Darimana papa tahu?" tanya Vercessa.


"Beberapa tahun yang lalu Papa pergi ke negara itu dan tidak sengaja mendengar percakapan orang orang disana. Mereka bercerita ada tujuh bocah kembar yang menghancurkan markas mafia tersebut." jawab Prima.


"Lalu Papa percaya begitu saja?" tanya Vercessa.


"Awalnya Papa tidak percaya, tapi Papa melihat dengan mata kepala Papa sendiri saat kelompok mafia menyerang hotel di Dubai. Dan Papa ada disitu menyaksikan semuanya." jawab Prima.


Vercessa pun terdiam, kalau sudah begitu tidak mungkin ia bisa melawan keluarga penguasa tersebut.


"Ya sudah, obati dulu lukamu sebentar lagi dokter pribadi keluarga kita akan datang," kata Vercessa.


Kembali ke Indonesia....

__ADS_1


Disekolah 17 bocah kembar, saat ini mereka baru masuk kelas untuk memulai pelajaran, dan seminggu lagi mereka akan melakukan ujian nasional, sebentar lagi mereka akan lulus SD dan akan melanjutkan ke SMP.


"Selamat pagi anak anak..!" sapa wali kelas.


"Selamat pagi Pak guru," jawab mereka serentak.


"Seperti biasa, Bapak tidak perlu bicara panjang lebar Bapak hanya ingin memberitahu kan lagi kalau mulai Minggu depan kalian akan mengadakan ujian nasional," ucap wali kelas yang bernama Farhan.


"Sekarang kalian boleh istirahat karena hari ini tidak ada pelajaran, dan mulai besok kalian libur sekolah," kata Farhan.


"Baik Pak guru," jawab mereka serentak.


Kemudian Farhan pun keluar dari ruang kelas. Kini hanya tinggal 17 bocah kembar itu.


"Bagaimana dengan senjata kalian?" tanya Kenzo.


Aku dan Ale menciptakan ini," ucap Aldebaran.


"Kelereng?" tanya Kenzie.


"Hmmm," jawab Aldebaran.


"Ini bukan sembarang kelereng," kata Aleta.


"Apa kegunaannya?" tanya Davion.


"Mari kita uji diluar," ajak Aleta.


Mereka pun keluar dari kelas menuju taman belakang sekolah. Setibanya dibelakang sekolah.


"Lihat pohon itu," tunjuk Aleta pada sebatang pohon.


Aldebaran mengeluarkan satu buah kelereng dan ketapel. Lalu Aldebaran menarik ketapel tersebut dan mengarahkan kepohon tersebut.


Aldebaran membidik tepat ke pohon tersebut dan melepas kelereng itu.


Duarr.... pohon itu meledak dan tumbang hanya dengan satu peluru kelereng tersebut.


Para guru dan murid yang sedang berada didalam kelas pun terkejut. 17 bocah kembar itu segera pergi dari tempat itu.


Sementara para guru mendatangi tempat yang tadi terdengar bunyi ledakan tersebut.


"Masya Allah, apa yang terjadi?" tanya Pak kepala sekolah. Para guru yang lain juga tercengang melihat pohon besar itu patah dibagian tengah batangnya.


"Apakah tadi ada petir?" tanya guru yang lain.


"Saya mendengar bunyi ledakan," kata guru 2.


17 bocah kembar kini sudah kembali ke kelas mereka, dan bersikap biasa saja seolah olah tidak terjadi apa-apa.


"Apakah itu tidak terlalu berbahaya?" tanya Rayyan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2