
.
.
.
Mata mereka semua tertuju pada seorang wanita berpakaian s*ksi sedang berlenggak lenggok mendekati Rasya.
"Lihat wanita itu dia mendekati Papa Rasya," kata Aleta.
"Kita lihat apa yang akan ia lakukan?" tanya Davina.
"Satu lagi wanita sedang mendekati ayah," kata Qirani.
"Jangan terlalu mencolok, kita perhatikan saja dulu," jawab Rayna.
"Beraksi," perintah Aleta.
Aleta berjalan mendekati wanita itu dan mengikat ujung gaunnya yang menjuntai kelantai pada alas meja makan yang didekat wanita itu. Karena sejak tadi wanita itu mencari perhatian dari Ram dan wanita yang satunya mencari perhatian pada Rasya.
Aleta memberi kode kepada Davina, Davina yang mengerti pun mengangguk dan segera membawa segelas jus.
Saat didekat wanita itu Davina berpura-pura menumpahkan jus tersebut dan terkena gaun wanita itu.
"Hei apa apaan kamu ini?" tanya wanita itu.
"Maaf Tante saya tidak sengaja," jawab Davina sambil tertunduk.
"Anak siapa kamu hah, kurang ajar banget. Gaunku ini gaun mahal kamu tidak akan mampu menggantikannya." ucap wanita itu.
"Ada apa ini? Sayang ada apa?" tanya Ram pada Davina yang masih tertunduk.
"Ayah Vina tidak sengaja menumpahkan air ini ke gaun Tante itu," ucap Davina yang masih memegangi gelas tersebut.
"Gak apa-apa sayang, ayah akan ganti rugi gaunnya," kata Ram.
"Maafkan anakku nona, aku akan mengganti gaun nona," kata Ram.
"Tidak perlu," jawab wanita ketus.
Tidak ada sifat lembut lagi seperti tadi, sekarang berganti dengan sifat yang sesungguhnya.
Wanita itu berjalan tapi tanpa diduga ujung gaunnya tersangkut pada alas meja sehingga apa yang ada di atas meja itu tertarik dan jatuh berhamburan kelantai.
(Nakal memang bocah-bocah itu).
Orang orang yang ada disitu pun menoleh kearah wanita itu, ia yang malu segera berlari menuju toilet.
Wanita yang mencari perhatian pada Rasya tadi segera berpindah tempat saat ada kekacauan terjadi.
Anehnya acara masih tetap berlanjut seakan tidak peduli dengan kekacauan itu, para tamu undangan pun sepertinya sudah terbiasa dengan hal hal seperti itu.
__ADS_1
Wanita itu masuk kedalam toilet dan disana sudah menunggu para gadis kecil yang belum puas mengerjai wanita itu.
"Heeh, mau apa kalian?" tanya wanita itu saat ia ditangkap oleh gadis kecil itu.
"Jangan menggoda ayah kami Tante," ucap Aleta.
Kemudian mereka mencoret coret wajah wanita itu menggunakan spidol.
"Aaaaaakkh, apa yang kalian lakukan? Dasar bocah nakal," teriak wanita itu.
Setelah selesai mereka pun keluar dari toilet dan bersikap seperti tidak terjadi apa-apa.
Kekacauan tadi sudah dibersihkan oleh pelayan.
Sikembar memanggil anak anaknya untuk menjauh dari keramaian itu.
"Apa ini ulah kalian?" tanya Ram.
Ke 17 bocah kembar itu hanya tertunduk, mereka takut kepada ayahnya.
"Sifat siapa yang kalian ikuti?" tanya Ren.
Diva datang menghampiri mereka dan berkata.
"Bukankah sifat mereka dari kalian, kalian waktu kecil juga nakal. Apa kalian lupa?" tanya Diva.
"Sudah sudah sebaiknya kalian bawa mereka pulang sebelum membuat kekacauan yang lain lagi," kata Darmendra menengahi.
Akhirnya sikembar pun membawa anak anak mereka pulang. Sepanjang perjalanan anak anak mereka hanya terdiam, mereka tahu kesalahan mereka, dan mereka hanya berani meminta maaf.
Ram terdiam, mereka tahu kalau ayahnya sedang marah. Ram tidak pernah membentak atau memukul anaknya kalau sedang marah, karena itu tidak bagus untuk mental anak anaknya.
Ram langsung masuk kedalam kamar tanpa bicara sepatah katapun, Aldebaran dan Aleta hanya bisa tertunduk didepan sang bunda.
"Sebaiknya kalian masuk kedalam kamar dan tidur, soal ayah biar bunda yang bujuk," kata Cahaya lalu mencium kening kedua anaknya.
Aldebaran dan Aleta pun masuk kedalam kamar Aldebaran. Karena Aleta yang paling merasa bersalah dalam hal ini.
"Al, bagaimana ini?" tanya Aleta saat ia berbaring disamping Aldebaran.
"Aku juga gak tau dek, kita sudah benar benar keterlaluan selalu buat kekacauan," jawab Aldebaran.
"Apa perlu kita meminta maaf kepada Tante itu?" tanya Aleta.
"Tidak, aku tidak akan minta maaf pada wanita seperti itu," jawab Aldebaran menegaskan.
"Lalu bagaimana dong," tanya Aleta.
"Kedepannya kita jangan seperti itu lagi, ayah atau Papa yang lain pasti bisa mengatasinya sendiri. Dan kita tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa," jawab Aldebaran panjang lebar.
"Tumben Abangku yang satu ini banyak bicara?" tanya Aleta menggoda saudaranya.
__ADS_1
"Ciss..!" jawab Aldebaran mendecis lalu berbalik membelakangi adiknya, seperti pasangan suami istri yang sedang marahan.
Dikamar Ram...
"Ayah...!" panggil Cahaya lalu duduk disamping Ram.
"Hmmm," jawab Ram.
"Ayah kenapa sampai segitunya pada mereka, mereka pasti punya alasan berbuat begitu," kata Cahaya.
"Aku tau sayang, mereka melakukan itu pada wanita yang ingin menggodaku, dan mereka tidak terima." jawab Ram.
"Nah ayah tau itu, tapi kenapa ayah marah?" tanya Cahaya.
"Aku tidak marah sayang, aku hanya heran mengapa sifat buruk kita yang harus diambil oleh mereka?" tanya Ram balik.
"Ibarat kita menanam padi tidak mungkin berbuah jagung," jawab Cahaya.
"Maksudnya?" tanya Ram lagi.
"Maksudnya, apapun sifat kita itulah yang akan dicontoh oleh anak anak kita," jawab Cahaya.
"Sudahlah, lebih baik ayah bicara dengan mereka, nasehati bila mereka berbuat kesalahan bukan dengan cara diam seperti ini," kata Cahaya.
Kemudian mereka keluar dari kamar dan masuk kekamar Aleta, tapi kamar itu kosong, lalu keduanya pergi kekamar Aldebaran.
Ram membuka pintu dan melihat kedua anaknya sedang tertidur saling membelakangi. Ram dan Cahaya menghampiri kedua anaknya.
Perlahan Ram mencium pipi kedua anaknya. Kalau sedang bangun mana Ram mencium putranya itu.
"Biarkan mereka istirahat mungkin mereka lelah," kata Cahaya.
Ram dan Cahaya keluar dari kamar putranya dan kembali kekamarnya. Ram memeluk Cahaya dari belakang dan meraba bagian s**sit*f istrinya. Cahaya yang tidak tahan pun terpancing dan meminta lebih tentunya.
Kesempatan ini tidak akan disia siakan oleh Ram, Ram pun memulai aksinya sehingga pendakian pun tidak bisa terelakkan.
Setelah sampai ke puncak, Ram berbaring disamping istrinya sambil mengatur nafas. Pendakian yang terjal cukup melelahkan bagi keduanya.
"Mau mandi bersama?" tanya Ram setelah nafasnya teratur.
Cahaya mengangguk pertanda iya, tanpa menunggu lama Ram segera menggendong Cahaya kekamar mandi. Keduanya masuk kedalam bathtub yang telah diisi air. Keduanya bukan hanya mandi tapi sekali lagi melakukan pendakian.
Cahaya yang tidak bisa menolak pesona suaminya itu tentu saja dengan senang hati melakukannya.
Setelah selesai mandi keduanya pun berpakaian. Ram kembali menggendong istrinya dan meletakkan nya diatas tempat tidur dengan sangat hati-hati. Seolah olah istrinya itu ada kristal yang tidak boleh pecah bila terkena benda keras.
"Tidurlah," ucap Ram sambil mencium kening pipi dan bibir istrinya.
Cahaya mengangguk dan menarik suaminya hingga mereka berpelukan.
.
__ADS_1
.
.