Transmigrasi Gadis Pembunuh

Transmigrasi Gadis Pembunuh
eps 10.Curiga


__ADS_3

Deon meremas surat perjanjian kontrak yang ada di tangannya hingga tak berbentuk.Tak hanya itu,semua barang yang berada di atas meja pun tak luput dari sasaran kemarahannya.


"Aarrgghhh…"


"Bagaimana ini bisa terjadi?"hancur sudah kesempatannya untuk bisa mendapatkan investor bagi perusahaannya.Padahal tuan Lim adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya.Namun bukannya mendapatkan bantuan,ia justru mendapatkan penolakan kerja sama.Di tambah tuan Lim yang ingin mengambil kembali sahamnya semakin membuat perusahaan Anderson merosot ke bawah dan terancam gulung tikar.


Deon mengacak-acak rambutnya, merasa frustasi dengan banyaknya kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini.Pertama,kematian Jihan yang harus di sembunyikannya,lalu ia juga harus membiayai perawatan kaki Monica yang harganya tidak sedikit,dan sekarang perusahaannya malah terancam bangkrut.


Deon menghela nafas panjang,lalu keluar dari ruangannya dengan langkah yang gontai.Hari ini ia berpikir ingin beristirahat saja di rumah dan besok barulah ia akan memikirkan rencana selanjutnya.Inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa perusahaan Anderson mengalami penurunan,Deon selalu menunda-nunda pekerjaannya.Padahal jika ia cukup pintar,ia harusnya pergi ke perusahaan tuan Lim dan membujuknya dengan bersungguh-sungguh.Namun ia tak melakukannya,ia terlalu malas dan juga ia menganggap jika ia pergi ke sana hanya akan menjatuhkan harga dirinya.


"Daddy…"Deon langsung menoleh begitu mendengar suara putranya,wajahnya sedikit terkejut melihat Revan yang berada di kantornya.


Revan yang melihat Deon keluar dari ruangannya,langsung berlari sambil memanggil ayahnya itu.Setelah cukup dekat ia langsung memeluk Deon dengan sangat erat.Deon membalas pelukan putranya itu.


"Revan…Sedang apa kau di sini?"tanya Deon kepada putranya yang masih belum melepaskan pelukannya.


"Aku ingin meminta ijin Daddy untuk pergi ke karnaval bersama bibi Kyara"ucap Revan sembari melepaskan pelukannya dari Deon.Wajah Deon langsung berubah masam mendengar permintaan putranya itu.


"Revan…Daddy tidak bisa mengijinkanmu pergi kesana"


"Sekarang kondisi di luar sedang tidak stabil"


"Tapi lain kali Daddy akan mengajakmu,okey?"sebisa mungkin Deon membujuk putranya itu agar mengurungkan niatnya untuk pergi.Karena hari ini dia benar-benar lelah dan ia tak bisa membiarkan Revan pergi tanpa pengawasan langsung darinya.

__ADS_1


Revan nampak kecewa mendengar perkataan Deon.Lalu ia menatap ayahnya itu dengan wajah yang sangat memelas.


"Daddy…Aku sangat ingin pergi ke karnaval"


"Aku sangat ingin bermain bianglala seperti yang sering aunty Jihan ceritakan"Revan menundukkan pandangannya sejenak lalu kembali menatap wajah Deon,kali ini dengan mata yang berkaca-kaca.


"Apa aku harus menunggu aunty Jihan kembali dulu baru ke karnaval?"


"Katakan Daddy"


"Sampai kapan aku harus menunggu"tanya Revan dengan nada dan ekspresi yang di buat sesedih mungkin.Siapa yang menyangka bahwa ia sedang berpura-pura sekarang,bahkan Kyara pun sempat tertipu.


Deon yang melihat ekspresi sedih Revan menjadi tidak tega,akhirnya ia pun mengijinkan Revan pergi dengan syarat Tarso harus ikut untuk menjaga mereka berdua.Revan menyetujui syarat tersebut.


Revan tak henti-hentinya melompat-lompat kesenangan karena bisa pergi mencari Jihan.Kyara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Revan yang begitu aktifnya.


"Ayo bibi"


"Kita cari aunty Jihan sekarang"ajak Revan dengan semangat.Tarso yang sedari tadi hanya diam nampak terkejut mendengar perkataan Revan.Ia menatap Kyara dengan mata penuh tanda tanya.Kyara yang sadar bahwa dirinya di tatap oleh Tarso hanya bisa berpura-pura bingung.


"Revan…Sebaiknya kita mencari aunty Jihan sambil bermain"


"Siapa tahu kita akan bertemu dengannya saat kita bermain"usul Kyara mencoba mengalihkan perhatian Revan.Revan nampak berpikir sejenak kemudian mengangguk setuju.

__ADS_1


"Begitu juga boleh"jawab Revan kepada Kyara.


Kyara pun langsung membawa Revan untuk mencoba berbagai macam permainan bagi anak seusianya.Mereka berdua sangat bersenang-senang terutama Revan, ia bahkan sampai lupa tujuan utama mereka pergi kesana.


Tak terasa waktu telah memasuki sore,Kyara memutuskan untuk mengajak Revan pulang ke rumah.Revan hanya menurut karena ia juga sudah sangat lelah.


Kyara memangku kepala Revan yang tengah tertidur pulas karena kelelahan.Ia juga terlihat mengelus kepala Revan dengan lembut dan penuh perhatian.Semua itu tak luput dari pandangan mata Tarso yang sedari awal terus memperhatikan Kyara.


"Nona Kyara bisakah saya bertanya sesuatu?"tanya Tarso tanpa menoleh ke arah Kyara,matanya fokus menatap jalanan di depannya.


"Hmm tentu Pak Tarso"jawab Kyara sekenanya,dirinya masih asyik mengelus pucuk kepala Revan.


"Itu…Apa maksud dari perkataan tuan muda tadi?"


"Dia bilang kalian kesana ingin mencari keberadaan nyonya Jihan"ucap Tarso masih dengan posisi yang sama,meski terdengar samar Kyara masih bisa merasakan ada nada kegugupan saat Tarso menanyakan hal tersebut.


Kyara terlihat tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Tarso.


"Sebenarnya itu hanyalah akal-akalanku saja agar Revan mau menerimaku bekerja di sana"ucap Kyara jujur.


"Aku sangat memerlukan pekerjaan ini untuk membantu membiayai panti asuhan yang sudah merawatku dari kecil"


"Aku tak punya pilihan apapun selain berbohong seperti itu"sambung Kyara lagi,kali ini wajahnya terlihat sangat sedih.Tarso yang melihat perubahan pada wajah Kyara menjadi merasa bersalah dan mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh lagi.Entah kenapa saat ia melihat Kyara yang bersedih membuat ia kembali teringat akan Jihan.

__ADS_1


Kyara menatap Tarso dengan ekspresi yang sulit di tebak.Ia merasa bahwa sebenarnya Tarso ikut terlibat dengan kematian Jihan.Namun Kyara belum bisa memastikan Tarso terlibat di bagian mana.Karena seingatnya,Tarso tak pernah melakukan hal yang mencurigakan.Namun di saat ia merasakan kegugupan Tarso ketika menanyakan hal tadi,membuat ia langsung menaruh curiga kepada pria paruh baya tersebut.


__ADS_2