
Keesokan harinya…
Seorang wanita nampak berjalan memasuki kediaman Anderson dengan angkuh.Terlihat kakinya sedikit terpincang-pincang,namun ia tetap memaksakan kakinya untuk memakai heels.Di belakangnya terlihat beberapa orang laki-laki berwajah garang khas seorang bodyguard.
Monica melempar tas yang ia bawa kesembarang arah lalu duduk di sofa sambil meletakkan kedua kakinya ke atas meja.Sebenarnya ia hanya berani berbuat seperti itu di saat Deon tidak ada.Karena di saat Deon kembali ia harus berpura-pura menjadi gadis lembut sama seperti Jihan dan itu sangat melelahkan sekaligus menyebalkan baginya.
"Ukhh…Kakiku masih terasa sakit"
"Ini semua gara-gara wanita sial*n itu"
"Untunglah kau sudah mati jadi aku tak perlu bersusah payah untuk menyingkirkanmu lagi"Monica terdengar menggerutu namun hanya bisa di dengar olehnya.
"Hey pelayan…"
"Cepat bawakan aku minuman dingin"teriak Monica kepada seorang pelayan yang baru saja mengantarkan kopernya ke kamar.
"Baik nyonya kedua"jawab pelayan itu.
Plak…
Sebuah tamparan dari Monica melayang begitu saja kepada pelayan itu hingga membuatnya terjatuh.
Monica yang mendengar pelayan itu memanggilnya dengan sebutan nyonya kedua menjadi sangat marah.
"Tadi kau menyebutku apa?"
"Nyonya kedua"Monica menjambak rambut pelayan itu dengan sangat kuat,matanya menatap tajam ke arah si pelayan yang terlihat meringis karena menahan sakit pada kepalanya.
__ADS_1
"Dengar pelayan bodoh"
"Sekarang aku sudah menjadi istri sah Deon"
"Jadi kau harus memanggilku nyonya besar"
"Jika aku masih mendengar kau menyebutku nyonya kedua"
"Bukan hanya di pecat"
"Aku juga akan membuat kedua kakimu lumpuh,mengerti"pelayan itu hanya bisa mengangguk pasrah.Setelah melepaskan jambakannya terhadap pelayan itu,ia pergi begitu saja tanpa rasa bersalahnya.Dan semua yang ia lakukan tak luput dari penglihatan Kyara yang sedari tadi telah memperhatikannya.
"Sungguh kejam"ucap Kyara dengan wajah datar dan terkesan dingin namun itu tak bertahan lama ketika sebuah ide terlintas di kepalanya.
"Aku akan membuat pertunjukan yang menarik"Kyara terlihat menyeringai.
"Aku baru saja kembali tapi mereka sudah membuatku marah"ucap Monica sembari meraih sebuah gelas yang telah di isi air dingin kemudian menenggaknya sampai habis.
Monica langsung melengos pergi dengan angkuhnya di hadapan Kyara tanpa menyadari bahwa Kyara sedang menyeringai ke arahnya.Dan benar saja,baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba saja Monica terpeleset karena terinjak sesuatu, bukan hanya itu tangannya juga tak sengaja menyenggol panci berisi sup panas hingga tumpah dan mengenai wajahnya.
Aaakkhh…
Monica langsung menjerit kesakitan.
"NYONYA"Kyara langsung menghampiri Monica dengan raut wajah berpura-pura khawatir.Teriakan Monica terdengar cukup nyaring hingga membuat orang-orang yang berada di kediaman itu langsung menghampirinya.
Mereka menutup mulutnya begitu melihat langsung apa yang sedang terjadi.Wajah Monica terlihat memerah serta melepuh di beberapa bagian wajahnya.Bukan hanya wajah bahkan lehernya pun tak luput dari kejadian itu.
__ADS_1
Deon yang mendengar suara jeritan istrinya langsung berlari ke arah dapur.Matanya langsung terbelalak melihat kondisi Monica yang terlihat mengerikan.
"APA YANG TERJADI"Deon langsung menghampiri Monica yang terlihat masih berteriak kesakitan.Tak ada yang bisa menolongnya karena Monica yang terlihat mengamuk dan akan menendang siapapun yang mendekat ke arahnya.
"Tuan,nyonya tadi terpeleset dan tidak sengaja menjatuhkan sup panas ke wajahnya"ucap Kyara menjelaskan.Ia terlihat memegangi kaki Monica agar berhenti memberontak.
"Cepat panggil dokter"perintah Deon kepada para pelayan yang sedari tadi hanya terdiam.Salah satu dari mereka langsung bergerak cepat setelah mendengar perintah tersebut.Sedangkan Monica ia terlihat pingsan karena sudah tak mampu menahan rasa sakit di wajahnya.Deon langsung membopong Monica kekamar, beberapa pelayan terlihat mengikutinya dari belakangnya termasuk Kyara.
Di kamar tersebut,terlihat hanya beberapa orang saja di sana,karena sebagian para pelayan di perintahkan Deon untuk kembali bekerja.
Terlihat wajah Deon yang di liputi rasa khawatir,sangat berbeda dengan Revan yang sedari tadi nampak cuek-cuek saja.Ia bahkan terlihat asyik memainkan mainannya sembari duduk di pangkuan Kyara.
"Tuan besar"panggil Dokter tersebut kepada Deon.Deon langsung menghampirinya.
"Bagaimana dengan kondisinya?"
"Apa lukanya parah?"tanya Deon kepada Dokter tersebut,wajahnya di penuhi kekhawatiran.Dokter itu terlihat mengangguk lesu.
"Luka bakar yang di alami nyonya besar cukup parah"
"Tapi tak perlu khawatir luka-luka itu masih bisa di sembuhkan"
"Namun…Sepertinya itu akan meninggalkan bekas luka pada wajahnya"ucap Dokter itu kepada Deon yang terlihat kaget mendengar perkataannya.
"APA"Deon dan lainnya langsung menoleh ke arah Monica yang ternyata sudah sadar.Deon langsung menghampiri Monica yang terlihat sangat syok.
"Sayang…Tolong katakan padaku bahwa yang di katakan dokter itu tidak benar?"
__ADS_1
"Itu semua bohong bukan?"Monica terlihat menangis,ia menatap Deon dengan tatapan penuh harapan.Deon hanya bisa diam karena tak mampu menjawab pertanyaan dari Monica.Melihat reaksi Deon yang hanya diam saja membuat tangis Monica semakin kencang.Deon langsung memeluk Monica berharap istrinya itu bisa merasa lebih tenang.
Sangat terlihat menyedihkan bagi orang yang tak tahu akan perbuatan jahat yang di lakukan oleh keduanya.Bagi Kyara apa yang terjadi terhadap Monica adalah sebuah tontonan yang menggembirakan.Wajahnya terlihat tenang,tak ada raut kecemasan atau pun rasa iba.Terlihat senyum sinis melengkung di bibirnya walau hanya sesaat.Tak berbeda jauh dengan Kyara,Revan pun terlihat tak berekspresi sama sekali,jangankan ikut bersedih atas apa yang menimpa Monica,merasa kasihan pun tidak.Bahkan ia lebih memilih mengajak Kyara pergi dari kamar tersebut,karena merasa tak ada hal yang penting hingga membuatnya harus berlama-lama disana.