Transmigrasi Gadis Pembunuh

Transmigrasi Gadis Pembunuh
eps 21.Bertemu kembali 2


__ADS_3

"Hmm…Kalau begitu aku memerlukan nomor ponselmu"


"Aku akan mengirim alamatnya di sana"sebisa mungkin Vincent berhati-hati dengan ucapannya.Jangan sampai niat lainnya di ketahui oleh gadis itu atau ia akan kehilangan kesempatan emas tersebut.


Kyara terlihat bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk sejajar dengan Vincent.Ia lalu mengulurkan tangannya ke arah Vincent bermaksud untuk meminta ponsel pria tersebut.Namun Vincent yang sedari tadi pikirannya hanya memikirkan tentang Kyara menjadi salah tanggap.Ia justru menerima uluran tangan Kyara karena ia mengira itu yang diinginkan oleh gadis tersebut.


Kyara mengerutkan keningnya sembari menatap tangannya yang di genggam oleh Vincent.Ia lalu menatap wajah pria tersebut yang terlihat tersenyum cerah ke arahnya.Sekarang Kyara mengerti ternyata Vincent salah menanggapi maksudnya.


"Ponselmu"ucap Kyara datar.


"Haah?"


"Tadi kau bilang apa?"tanya Vincent ingin memastikan pendengarannya.


"Aku bilang berikan ponselmu"ucap kyara lagi dengan nada yang sama.Vincent yang dari tadi kebingunan,langsung mengerti apa maksud perkataan Kyara.


"Eh…Iya"Vincent sedikit tergagap karena merasa salah tingkah.Ia lalu merogoh ponsel yang berada di sakunya kemudian menyerahkannya kepada Kyara.


Wajah Vincent terlihat memerah karena merasa malu sudah salah memahami maksud yang sebenarnya.Ingin rasanya ia menenggelamnya tubuhnya ke dasar danau saking malunya.


Kyara mengotak-atik ponsel Vincent sebentar lalu kembali menyerahkannya.Vincent menerimanya dengan tangan yang sedikit bergetar karena merasa sangat gugup.Benar-benar tidak seperti dirinya yang biasanya.Ternyata cinta bisa membuat seseorang yang biasanya kejam menjadi konyol dalam waktu singkat.


"Baiklah…Aku akan mengirimnya sekarang"ucap Vincent sembari mengotak-atik ponselnya.


Ting…

__ADS_1


Suara notifikasi ponsel Kyara berbunyi pertanda bahwa pesan yang di kirim oleh Vincent telah masuk ke ponselnya.Tanpa melihat ponselnya Kyara lalu beranjak dari duduknya.Matahari sudah terbenam dan ia lun harus segera pulang.


"Kalau begitu aku pergi dulu"ucap Kyara tanpa berbasa-basi seraya berjalan pergi meninggalkan Vincent yang terdiam di tempatnya.


"Tunggu…Siapa namamu?"tanya Vincent begitu sadar bahwa ia melupakan sesuatu yang penting,yaitu menanyakan nama gadis tersebut.Kyara menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh ke arah Vincent seraya berkata.


"Kyara"jawabnya singkat lalu kembali meneruskan langkahnya.Ia tak berniat ingin mengetahui nama pria tersebut,menurutnya itu tidak penting sama sekali.


"Sampai jumpa lagi…"Vincent melambaikan tangannya ke arah Kyara meski ia tahu gadis itu takkan membalasnya.Ia terus memperhatikan langkah Kyara yang kian menjauh hingga hilang dari pandangannya.


Vincent menghela nafas,ia lalu menatap ke arah ponselnya.Senyum manis merekah di bibirnya melihat nomor ponsel Kyara yang telah berhasil ia dapatkan.


"Aku berhasil"


"Tidak ku sangka akan semudah ini"


"Tapi ternyata ia tidak sekejam itu"


"Huuh…Seharusnya aku sekalian minta alamat rumahnya"Vincent mendengus kecil.Ia lalu menoleh ke arah danau yang terlihat sudah gelap karena hari telah memasuki senja.Vincent kembali tersenyum.


"Ibu benar"


"Keberuntungan akan selalu menyertai orang-orang berhati tulus"ucapnya tanpa mengalihkan pandangan ke arah danau.


Vincent terlihat berjalan mendekat ke tepian danau lalu berjongkok tepat di depan sebuah batu yang terlihat sudah di penuhi oleh lumut.Ia lalu terlihat merogoh sesuatu di balik jas hitamnya.Setangkai mawar putih setengah mekar di letakannya di atas batu tersebut.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun Ibu"ucapnya dengan nada pilu dan penuh dengan rasa kerinduan.


"Maafkan putramu ini Ibu"


"Karena belum bisa membalaskan dendam keluarga kita"


"Tapi…Aku akan terus mencari pelaku yang sebenarnya dan menyelamatkan nama baik ibu"


"Ibu jangan khawatir,putramu ini akan menepati janjinya"Vincent telah berjanji dengan segenap hatinya.


"Oh iya…Apa Ibu sudah lihat perempuan tadi?"


"Dia akan menjadi menantu Ibu"


"Dia sangat cantik sama seperti Ibu"


"Bukan hanya cantik dia juga sangat pemberani"


"Aku hampir saja pergi ke akhirat karena dirinya"Vincent terkekeh geli mengatakan hal itu,seakan itu adalah hal yang sangat lucu.


"Tapi,dia adalah orang pertama yang berhasil mencuri hatiku"


"Aku tahu Ibu pasti juga berpikir aku sudah gila,karena jatuh cinta kepada orang yang hampir membunuhku"


"Namun itu memang kenyataannya,aku benar-benar mencintainya,Ibu"Vincent terus mengoceh seakan-akan orang yang di ajak bicara ada di sampingnya dan mendengarkan curhatannya itu.Ia terus berbicara di sana hingga waktu telah menunjukan pukul delapan malam.

__ADS_1


Vincent yang menyadari hal itu langsung bersiap untuk pulang setelah selesai berpamintan dengan sang Ibu.


__ADS_2