
Keesokan harinya….
Terlihat Revan yang masih tertidur nyenyak di ranjang tidurnya.Sepertinya bocah imut itu terlalu kelelahan akibat sering bergadang di rumah sakit bersama Kyara.Karena sekolahnya sedang di liburkan untuk dua minggu ke depan,ia bisa tidur kapanpun semaunya.
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh pagi.Namun bocah imut itu masih setia bergulung di dalam selimutnya merasa enggan untuk meninggalkan kenyaman ranjangnya.
Sraak….
Tirai jendela kamarnya bergeser secara otomatis hingga membuat cahaya matahari masuk menembus kaca jendela dan mengenai tepat di wajah imut Revan.
"Bibi…Aku masih mengantuk"sungut Revan merasa terganggu oleh cahaya yang masuk dan menyilaukan matanya.Revan mengira bahwa Kyara yang sedang mencoba untuk membangunkannya.Tanpa membuka matanya,ia pun langsung menutupi wajahnya dengan selimut tebal dan kembali tidur.
Beberapa menit berlalu,Revan tiba-tiba merasa sedikit ada kejanggalan.Ia tidak mendengar suara Kyara yang mrmbangunkannya seperti biasa.Biasanya,meskipun Revan libur sekolah,Kyara akan tetap membangunkannya pada pagi hari.Itu ia lakukan agar Revan menjadi anak yang di siplin akan waktu.Namun kali ini,Kyara tidak membangunkannya sama sekali dan itu membuat Revan merasa sangat aneh.
Revan pun langsung membuka matanya dan melihat sekeliling kamarnya.Tidak ada siapa-siapa di sana selain dirinya.Revan mencoba bangkit dari tempat tidurnya,terlihat ia mengucek matanya beberapa kali karena masih mengantuk.Sambil menutup mulutnya yang masih menguap,Revan lalu membuka pintu kamarnya.
"Bibi?"panggil Revan kepada Kyara.Namun tak terdengar sahutan sama sekali.
"Sepertinya Bibi sedang di dapur"
"Sebaiknya aku mandi terlebih dahulu"ucap Revan sembari beranjak pergi ke kamar mandi.Meskipun ia masih muda,namun Revan sudah di ajarkan untuk mandiri oleh Jihan.
Selesai mandi dan berpakaian,Revan lalu beranjak dari kamarnya dan pergi menuju dapur.Di saat ia ingin meninggalkan kamarnya,tiba-tiba angin bertiup dengan kencang hingga masuk ke dalam kamarnya dan menerbangkan kertas-kertas yang berada di atas meja belajarnya.Mau tak mau Revan pun terpaksa menunda pergi ke dapur dan merapikan kembali kertas-kertas yang berserakan.
Di saat ia sedang memunguti kertas-kertas itu,matanya lalu tertuju pada sebuah kertas berwarna biru yang terlipat rapi.Karena merasa tertarik,Revan pun mengambil kertas itu dan membukanya.Terlihat sebuah tulisan tangan di dalamnya.Revan mencoba membawa isi dari surat itu.Meski ia masih mengeja dalam membaca namun ia sudah cukup fasih dalam membaca tulisan-tulisan seperti itu.
"Untuk Revan…"
__ADS_1
"Maaf …Karena Bibi tidak bisa menepati janji Bibi untuk terus menemanimu"
"Bibi harus pergi untuk melakukan sesuatu yang penting,yaitu mencari aunty Jihan"
"Bukankah Bibi pernah berjanji padamu untuk mencari aunty Jihan?"
"Sekarang Bibi akan menepati janji itu"
"Maaf karena Bibi tidak mengajakmu untuk ikut"
"Karena jika kau ikut…Maka Daddy tidak akan mengijinkannya"
"Oh iya…Jangan beritahu siapapun kalau Bibi sedang pergi mencari aunty Jihan termasuk Daddy"
"Atau mereka akan melarang Bibi untuk melakukannya"
"Dan Revan…Saat Bibi sedang pergi nanti"
"Bibi akan segera kembali dan membawakan aunty Jihan untukmu"
"Berjanjilah kepada Bibi bahwa kau tidak akan menangis lagi"
"Jika nanti ada yang mengejekmu di sekolah,jangan hiraukan dia"
"Dan jika nanti ada yang mengganggumu juga,maka katakan kepada mereka bahwa Bibi Kyara akan memukul mereka"
"Tapi jangan pernah menangis,karena jika kau menangis maka mereka akan semakin menindasmu"
__ADS_1
"Dan satu lagi…Jika kau mendengar sesuatu yang buruk tentang Mommy dan Daddymu dari orang lain"
"Jangan di dengarkan,karena itu semua adalah kebohongan,okey"
"Jangan marah kepada Bibi ya…Bibi sangat menyayangimu…"
"Penuh cinta…Kyara…"
Tes…Tes…Tes….
"Hiks…Hiks…Bibi…Aku juga menyayangi Bibi"ucap Revan di sela-sela tangisannya.
"Aku berjanji…Ini akan menjadi tangisanku yang terakhir"
"Aku tidak akan menjadi anak yang cengeng lagi"
"Bibi…Cepatlah kembali…"Revan memeluk surat itu dengan sangat erat,seakan-akan surat itu adalah Kyara.Kali Revan benar-benar akan menepati janjinya untuk tidak menangis lagi sesuai permintaan dari Kyara.Bagi Revan,Kyara adalah salah satu orang yang sangat berarti baginya.Mungkin jika di bandingkan dengan Jihan akan sama pentingnya di hati Revan.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Deg…Deg…Deg…Deg….
Kyara langsung membeku di tempat ia berdiri.Ia menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja berdebar hebat.Ia merasakan sesuatu yang aneh di benaknya.Seperti ada perasaan sedih namun ada juga perasaan lega secara bersamaan.Di saat seperti itu tiba-tiba saja Kyara langsung teringat akan Revan.
Kyara langsung mengembangkan senyumnya begitu menyadari hal yang sebenarnya terjadi.
'Ikatan batin ibu dan anak itu luar biasa ya…'gumam Kyara di dalam hati.Ia begitu iri dengan ikatan batin yang terjalin antara Revan dan Jihan.Bahkan di saat Jihan belum mengetahui bahwa Revan adalah darah dagingnya sendiripun,wanita itu justru mampu menyayangi Revan yang saat itu di ketahui sebagai anak dari madunya.
__ADS_1
Jika saja Kyara yang berada di posisi Jihan saat itu,mungkin ia tidak akan mampu sesabar itu.Inilah salah satu alasan mengapa Kyara ingin membantu Jihan membalaskan dendamnya.Hati Jihan terlalu baik untuk di sia-siakan begitu saja.Apalagi selama ini Jihan lebih banyak menderita selama hidupnya.Di tinggal mati oleh ayah dan juga kakeknya,tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya sejak kecil.Di khianati serta di fitnah oleh sahabat yang begitu ia percaya.Dan di bunuh oleh tangan suami sendiri yang begitu ia cintai.Begitu banyak penderitaan yang sudah Jihan alami.Bahkan saat Jihan matipun jasadnya justru tidak di kuburkan dengan layak dan malah di buang ke sungai.
Setiap kali Kyara mengingat hal itu,darahnya seketika mendidih.Ia benar-benar ingin menghabisi orang-orang yang telah membuat Jihan menderita seperti itu.