Transmigrasi Gadis Pembunuh

Transmigrasi Gadis Pembunuh
eps 50.Kontrak


__ADS_3

"Tenanglah Ben"ujar Vincent kepada sepupunya itu yang terlihat sudah sangat emosi.


"Tapi Vin…"ucapannya langsung terpotong setelah melihat Vincent memberi isyarat lewat tatapan mata untuk menyuruhnya diam.


Melihat hal itu Ben hanya bisa berdecak kesal di dalam hati.


Tanpa memperdulikan wajah sepupunya yang terlihat kesal,Vincent kembali menatap ke arah depan.Tanpa mengubah ekspresi wajah tenangnya,Vincent lalu berkata dengan nada yang begitu dingin kepada keduanya.


"Aku tidak tahu mengapa kalian menginginkan buah persik abadi"


"Namun buah itu sangat berharga dan tidak ternilai untuk kami"


"Rasanya tidak sepadan jika aku memberikan buah itu sebagai imbalannya"meski keluarga Abelano adalah keluarga yang sangat kaya,bukan berarti Vincent mau menyerahkan hartanya begitu saja hanya untuk mencari keberadaan gadisnya itu.Bukan karena ia pelit atau semacamnya,hanya saja buah itu terlalu berharga.Butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggu pohon itu berbuah dan saat berbuah pun hanya ada beberapa buah saja.


Mendengar penolakan dari kleinnya itu,keduanya nampak terdiam.Mereka sudah tahu bahwa tidak akan mudah untuk bisa mendapatkan buah itu.Tapi mereka tidak menyerah begitu saja.


"Jika tuan tidak ingin memberikan buah itu sebagai imbalannya"


"Maka jual lah buah itu kepada kami"


"Berapa pun harganya kami akan membayarnya"ujar gadis itu menawarkan kesepakatan kepada Vincent.


Kening Vincent nampak berkerut mendengarnya,lalu sejurus kemudian ia terlihat tertawa kecil hingga membuat kedua orang yang ada di hadapannya itu menjadi bingung.


"Sampai kapanpun kalian takkan pernah bisa membelinya"


"Buah itu takkan pernah di jual"ucapan Vincent membuat keduanya kembali terdiam.Berbeda dengan Ben yang terlihat menampilkan senyum sinisnya melihat ekspresi kecewa dari kedua orang itu.


"Tetapi…Aku bisa memberikan buah itu secara percuma untuk kalian"ujar Vincent membuat senyum keduanya langsung merekah.Sedangkan Ben yang mendengar bahwa sepupunya ingin memberikan buat itu langsung memasang wajah terkejut.Ia ingin mengajukan protes kepada Vincent, namun sebelum itu terjadi Vincent lebih dulu menyelanya.


"Jangan senang dulu"

__ADS_1


"Aku akan memberikan buah itu,tapi dengan satu syarat"mendengar hal itu keduanya nampak saling pandang.


"Apa syaratnya?"Dengan nada penuh keyakinan mereka bertanya apa syarat yang di berikan oleh Vincent


"Syaratnya cukup mudah"


"Kalian hanya perlu menandatangi kontrak kerja denganku"


"Melihat kemampuan kalian yang begitu hebat"


"Rasanya sayang jika aku melepaskan kalian begitu saja"ucapan Vincent membuat senyum dari keduanya langsung sirna.Mereka lagi-lagi terdiam tak tahu harus berbuat apa.Bagaimanapun juga keduanya tak pernah sekalipun bekerja di bawah naungan orang lain,karena mereka lebih suka bekerja secara bebas.


Mereka ingin menolaknya,tetapi mereka juga membutuhkan buah persik abadi untuk menyelamatkan nyawa sahabat mereka yang sedang sakit.


"Bagaimana?"


"Apa kalian setuju?"ujar Vincent membuyarkan lamunan keduanya.


Keduanya diam saja, mereka benar-benar tidak tahu harus menjawab apa sekarang.Cukup lama mereka dalam keadaan seperti itu,hingga salah satu di antara mereka kemudian berbicara.


"Baiklah,aku beri kalian waktu hingga besok pagi"


"Namun jika sampai besok kalian tidak membuat keputusan juga"


"Maka kesepakatan ini akan ku anggap batal"ujar Vincent seraya berdiri dari tempat duduknya.Tak lama setelah itu ia langsung mengajak Ben untuk pergi dari tempat itu tanpa sepatah katapun, meninggalkan kedua orang yang masih terdiam karena memikirkan tawarannya.


Sepeninggalnya Vincent dari tempat itu,kedua sahabat itu terlihat sangat kebingungan.


"Bagaimana ini?"


"Apakah kita harus menerima tawarannya?"ucap si pria kepada sahabatnya.

__ADS_1


Sang gadis hanya menghela napas panjang.


"Tak ada pilihan lain"


"Kita hanya bisa menyetujuinya"ucapnya setengah putus asa.


"Bagaimana dengan Kyara?"


"Dia pasti akan sangat marah saat mengetahui kita bekerja untuk orang lain"ucap si pria yang ternyata adalah Noah,sahabat Kyara.


"Ya,aku tahu itu"


"Tapi yang terpenting sekarang adalah kita harus menyelamatkan nyawa Kyara"


"Kau tentu masih ingat dengan perkataan kakek tua itu,bukan?"Noah terlihat mengangguk lesu membenarkan perkataan Raline.


"Kau benar"


"Seharusnya aku tidak memikirkan hal itu"


"Nyawa Kyara lebih penting sekarang"Noah terlihat menunduk.Setetes air mata jatuh di antara kedua pipinya.Tak berbeda jauh dengan Noah,Raline juga merasakan perasaan yang sama.Bagi Raline dan Noah,Kyara adalah segala-galanya untuk mereka.


Kyara bukan hanya sebatas sahabat bagi mereka,tetapi juga sosok ibu dan kakak bagi keduanya.


Waktu mereka masih kecil,Kyaralah yang selalu menjaga mereka.


Meski usia Kyara hanya lebih tua satu tahun dari mereka,namun Kyara begitu mampu menjaga serta mengayomi mereka layaknya orang yang sudah dewasa.


Jika di ibaratkan dengan sebuah rumah,maka Kyara adalah tiang penyangga dari rumah itu.…Dan kini tiang penyangga itu sedang berjuang melawan kematiannya sendiri.


"Aku harap Kyara cepat kembali"

__ADS_1


"Rasanya aku ingin mati saja jika kita tidak berhasil menyelamatkannya"


"Aku tidak mengerti mengapa dewa mempermainkan kematian Kyara seperti ini"


__ADS_2