
Di rumah sakit…
Para suster terlihat mendorong bangkar Monica dengan sangat terburu-buru di karena kondisi Monica yang sudah sangat kritis.Mereka membawa Monica memasuki ruang UGD dan menyalakan lampu penanda berwarna merah yang menandakan pasien sedang dalam keadaan darurat.
Tindakan operasi pun di lakukan sesegera mungkin karena kondisi pasien yang mulai sekarat.Bukan hanya luka luar yang di alami Monica tetapi juga luka dalam.Terutama di bagian perutnya yang ternyata mengalami pendarahan akibat tendangan yang di dapatnya sewaktu di hajar oleh Deon secara membabi buta.Dan parahnya lagi luka tersebut juga membuat rahimnya mengalami pembengkakkan hingga harus di lakukan pengangkatan rahim secepatnya atau nyawa Monica tidak tertolong.
Sedangkan di rumah sakit yang sama,hanya berbeda beberapa lantai saja.Nampak Kyara yang sedang berbaring dengan santainya sembari mengecek ponselnya.Terlihat raut penuh kepuasaan terpancar di wajah cantiknya.Saat ini ia sedang melihat berita tentang kejadian yang terjadi di acara penobatan keluarga Abelano.
Kyara sangat puas karena rencana pembalasan dendamnya berjalan sangat lancar.Namun,ini baru permulaan dari pembalasan dendamnya,ia masih memiliki rencana-rencana untuk di berikan kepada sepasang b*jingan itu.
Namun di saat ia sedang asik-asiknya membaca berita di ponselnya.Tiba-tiba ia merasakan pergerakan di sampingnya.Terlihat Revan yang masih dalam keadaan tertidur namun wajahnya terlihat seperti sedang khawatir.
"Daddy…"Lirihnya sembari mencengkeram erat selimut yang ada.Keningnya terlihat mengkerut,peluh mengucur di antara dahinya.Mulutnya tak henti-hentinya memanggil sang Daddy.
Kyara yang melihat kondisi Revan yang seperti itu,segera mengelus pucuk kepala Revan dengan lembut.Tangan kirinya juga terlihat sibuk menepuk-nepuk paha bocah imut itu,hingga tak berselang lama Revan pun kembali tertidur pulas.
Kyara menghentikan aktifitasnya itu lalu menatap Revan dengan tatapan yang sendu.Karena terlalu fokus dalam misi balas dendamnya,Kyara hampir saja melupakan keberadaan Revan.
Kini hati dan pikirannya berkecamuk, antara harus melanjutkan pembalasan dendamnya atau menghentikannya demi Revan.Karena bagaimanapun juga Deon adalah ayah kandung dari bocah imut tersebut.
__ADS_1
"Ini sangat membingungkan"Kyara merebahkan tubuhnya sambil terus memijit pelipisnya.Ia sungguh berada dalam dilema sekarang.Seandainya saja perasaannya tidak terpaku dengan Revan maka ia tidak akan merasa kebingungan seperti sekarang.
Inilah sebabnya mengapa Kyara tak pernah sekalipun membawa perasaan saat menjalankan tugas yang ia dapatkan.Bahkan dulu ia tak segan-segan menghabisi target-targetnya meski targetnya itu adalah seorang anak kecil.Namun sekarang,jangankan melukai,melihat Revan menangis saja ia tak sanggup.
Ting…
Kyara tersentak dari lamunannya saat mendengar suara pesan masuk di ponselnya.Setelah melihat siapa pengirimnya,Kyara lalu membuka isi dari pesan tersebut.
"Aku telah melakukan seperti yang kau katakan"
"Sekarang,tepatilah janjimu"bunyi dari isi pesan tersebut.
Ia lalu kembali merebahkan tubuhnya sambil terus memikirkan apa yang sebaiknya ia lakukan selanjutnya.
Cukup lama ia berada dalam kondisi seperti itu,hingga tiba-tiba saja sesuatu pun terlintas di benaknya.Kyara tertegun sejenak dan lalu kembali menoleh ke arah Revan.Ia sudah tahu harus berbuat apa sekarang.
Kini Kyara telah memutuskan apakah ia akan melanjutkan misinya atau tidak,itu tergantung dari bagaimana Deon akan memilih jalannya.
Pagi harinya di sebuah restoran bintang lima yang berada di pusat kota,terlihat seorang pria tampan yang tak lain adalah Vincent sedang berjalan ke arah salah satu privat room untuk menemui seseorang.Di belakangnya terlihat Ben yang setia mengikuti langkahnya.Karena keadaan masih sangat pagi,restoran itu terlihat lengang tanpa mengunjung dan hanya di isi oleh beberapa pelayan restoran yang sedang menyambut kedatangannya.
__ADS_1
Sesampainya Vincent di ruangan tersebut,nampak pria tampan berambut hitam dengan netra hitam pekat sedang menatap dirinya dengan ekspresi yang datar.
"Oh…Sudah datang rupanya"ucap pria tersebut sambil merapikan anakan rambutnya yang terlihat sedikit acak-acakan,entah apa sebabnya.
"Apa kau orangnya?"kali ini Ben yang berbicara,sedang Vincent terlihat diam saja sambil mengerutkan keningnya ke arah pria di hadapannya.Sudah dapat di pastikan tindakan Vincent itu ia lakukan untuk menilai pria yang ada di hadapannya sekarang.
"Bukan…Dia ada di dalam"jawab pria itu santai tanpa memperdulikan tatapan heran dari keduanya.
Pria itu melirik arloji yang ada di tangannya sekilas lalu kembali berujar.
"Tunggulah sebentar lagi"ucapnya.Mendengar hal itu keduanya justru semakin kebingungan.Namun keduanya tetap memilih untuk melakukan apa yang pria itu katakan.
Sekitar 10 menit mereka menunggu,Ben yang merasa tidak sabar memilih untuk langsung membuka pinta privat room itu.
Pria bernetra hitam itu terlihat memutar bola matanya jengah karena sifat tak sabaran dari Ben.
'Cari mati'gumamnya dalam hati mencemooh tindakan Ben.
Ceklek….
__ADS_1
Ben memutar gagang pintu ruangan itu yang ternyata tidak di kunci sama sekali.Akan tetapi di saat ia baru saja membuka pintu itu.Tiba-tiba saja ada sesuatu yang melesat dengan sangat cepat tepat di samping wajahnya.