
Sesampainya di kantor Kyara langsung pergi menuju tempat resepsionis.Hal itu ia lakukan karena ia sedang menyamar sekarang dan akan sangat mencurigakan jika ia langsung masuk begitu saja.Ia tak ingin kehadirannya di ketahui oleh orang lain kecuali orang-orang kepercayaannya,kalau sampai itu terjadi maka rencana pembalasan dendamnya akan gagal.
Setelah di izinkan masuk,Kyara langsung pergi menuju ruangan Joe.Sepanjang perjalanan menuju ruangan sang asisten.Tak henti-hentinya para karyawan kantor menatap heran ke arahnya.Ya wajar saja jika mereka heran,saat ini Kyara sedang berpenampilan layaknya seperti gadis berandalan.Rambut yang berantakan,baju yang serba hitam serta dandanan wajah yang menor.Tentu saja itu itu akan membuat orang-orang bertanya-tanya,sedang apa gadis sepertinya berada di perusahaan mereka.
Bukan hanya sekedar tatapan heran,tak sedikit dari mereka yang di dominasi oleh wanita menatap Kyara dengan pandangan jijik dan menghina.Namun bukan Kyara namanya jika ia peduli.Ia tetap berjalan dengan santainya tanpa menghiraukan tatapan orang-orang di sekitarnya.
Sesampainya di depan ruangan Joe,Kyara langsung mengetuk pintu ruangan tersebut.Walaupun sebenarnya ia bisa saja langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu karena dirinya adalah pemilik perusahaan.Meski begitu,ia tak ingin menjadi tidak beretika hanya karena ia memiliki kekuasaan.
Pintu ruangan pun terbuka dan muncullah Joe yang terlihat sedikit terkejut melihat Kyara.
"Si-silahkan masuk Nyonya muda"ucapnya sedikit terbata sambil mempersilahkan Kyara untuk masuk.Meski ini bukan pertama kalinya ia melihat Kyara berdandan seperti itu,tapi tetap saja hal itu masih mampu membuat ia kaget.Siapa yang tidak kaget,seorang Jihan yang biasanya tampil anggun dan menawan kini berpenampilan urak-urakan layaknya anak jalanan.
"Jadi,hal apa yang ingin kau sampaikan padaku Joe?"ucap Kyara tanpa basa-basi.
"Hal yang ingin saya sampaikan ini ada kaitannya dengan ibu Nyonya muda"Kyara mengerutkan alisnya.
"Apa lagi yang di lakukan oleh Ibuku itu Joe?"tanya Kyara lagi dengan nada yang malas.
"Mm…Beliau mencoba memalsukan tanda tangan nyonya muda untuk mendapatkan berkas kepemilikan perusahaan yang ada di pusat kota"
"Beliau juga mencoba menyuap pengacara Jill untuk mempermudah rencananya mengambil alih perusahaan itu"Joe menjeda ucapannya.Ia lalu melirik ke arah Kyara yang terlihat tertegun mendengar penjelasannya.
"Tapi syukurlah pengacara Jill tidak menghianati kita dan tetap memegang teguh amanah yang di berikan kepadanya"
"Meski pada akhirnya ia mendapat berbagai ancaman dan teror hingga sekarang"Joe kembali menundukkan wajahnya merasa kasihan dengan nasib pengacara Jill yang notabene adalah saudari kembarnya.
Kyara menoleh ke arah Joe yang terlihat sendu.Kyara bisa mengerti perasaan yang sedang di rasakan oleh Joe sekarang.
"Joe,bilang kepada Jill"
"Berikan saja berkas itu kepada Ibuku"ucap Kyara akhirnya.
Joe yang mendengar hal itu langsung menatap Kyara dengan wajah yang sangat terkejut.
__ADS_1
"Tapi nyonya muda,jika itu terjadi maka perusahaan itu akan menjadi milik nyonya Steffy"
"Perusahaan itu adalah perusahaan yang sudah susah payah nyonya dirikan sendiri"meski ia merasa kasihan dengan saudarinya bukan berarti ia mau membuat Kyara harus kehilangan perusahaan yang sudah susah payah ia dirikan.Ia pun tahu seberapa kerasnya usaha nyonya itu mempertahankan perusahaan yang sempat berkali-kali mengalami kebangkrutan.
"Tolong nyonya pikirkan kembali keputusan itu"
"Kita masih bisa mencari jalan lain untuk masalah ini"
"Kita bisa…"ucapannya langsung di potong oleh Kyara.
"Bisa apa?"
"Bisa melaporkan ibuku atas perbuatannya karena sudah memalsukan dokumen perusahaan,begitukah maksudmu?"ucap Kyara dingin.Joe terdiam seketika mendengar perkataan Kyara.
"Meski ibuku salah tapi aku tak bisa melaporkannya"
"Bagaimanapun juga ia adalah ibu yang sudah melahirkanku"
"Lagipula keselamatan pengacara Jill jauh lebih berharga di banding perusahaan itu"
"Apa kau sebagai saudaranya tidak memikirkan keselamatannya?"tanya Kyara di akhir kalimatnya.Joe hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan Kyara.
"Jika kau berpikir bahwa yang di lakukan ibuku hanya sebatas ancaman,maka kau salah"
"Ibuku tidak sebaik itu"
Deg…
Ucapan Kyara membuat Joe sangat terkejut.Ia langsung menatap Kyara dengan wajah yang bertanya-tanya.
"Apa maksud perkataannya nyonya?"
"Apa saudariku sedang dalam bahaya?"wajah Joe terlihat sangat khawatir.
__ADS_1
Kyara menyentuh pundak pria itu.
"Sebaiknya kau segera menelpon pengacara Jill"
"Dan suruh dia untuk melakukan apa yang ku perintahkan"
"Bilang saja,bahwa itu memang tanda tanganku"usai mengatakan hal itu Kyara langsung beranjak pergi meninggalkan asisten Joe yang masih termenung di tempatnya.
Kyara melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan tersebut.Langkahnya terlihat gontai,tapapan matanya kosong memandang ke arah depan.
Kyara menghentikan langkahnya begitu ia sampai di sebuah gang yang terlihat sunyi.
Tubuhnya langsung ambruk seketika.Ia jatuh terduduk dengan tidak berdayanya.Tubuhnya bergetar,air mata terlihat mengalir di kedua belah matanya.
"Tak apa Jihan…"
"Menangislah sepuasmu…"Kyara memeluk tubuhnya sendiri mencoba menguatkan hati Jihan.Kyara tahu bahwa rasa kecewa yang ia rasakan adalah perasaan Jihan yang masih berada di tubuhnya itu.
Kyara memaklumi itu semua.Siapa yang tidak merasa kecewa di saat ia tahu bahwa ibu yang begitu ia sayangi ternyata hanya mementingkan harta di bandingkan putrinya sendiri.Dan itu pun tidak terjadi sekali,namun berkali-kali.
Meski Jihan telah sering merasakan penghianatan secara bertubi-tubi oleh sahabat dan juga suaminya.Namun kali ini,rasa sakit karena di kecewakan oleh ibu kandung sendiri jauh lebih menyakitkan.
Dulu Jihan selalu berpikir,jika ia melakukan apa yang ibunya minta maka ibunya pun akan menyanyanginya sama seperti ia menyayangi adiknya.Namun harapan itu hanya tinggal harapan kosong yang tak akan pernah terkabul dan Jihan baru menyadari hal itu sekarang.
Cukup lama Kyara berada dalam kondisi itu.Namun ia tak memiliki niatan untuk menghentikan tangisan Jihan.Biarlah Jihan melampiaskan emosi yang selama ini telah ia tahan.
Barulah sekitar setengah jam tangisannya itu terhenti.Kyara nampak bangkit dari duduknya.Ia menyeka sisa air mata yang sempat mengalir di pipinya.Meski rasa kecewa itu belum hilang sepenuhnya,namun rasa lega jauh lebih mendominasi di bandingkan rasa kecewanya itu.
*Okey… Sampai di sini dulu ya…Author mau ngaso dulu hehehe…
Jangan lupa likenya ya…
Bye-bye✌️😉*
__ADS_1