
Sedangkan Monica ia hanya berdiri di lantai dua memperhatikan ketiganya dengan senyum sinis.Ia sudah dapat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.Ia jadi tak sabar melihat Kyara yang akan bernasib sama seperti Jihan dulu.Mungkin akan jauh lebih parah,mengingat Kyara bukanlah siapa-siapa di sini melainkan hanya seorang pengasuh bagi Revan.
Namun sudah cukup lama ia memperhatikan Revan, tapi tak ada muncul gejala-gejala keracunan pada bocah itu.Justru gelaja itu malah muncul pada diri Kyara.
Wajah Kyara yang awal cerah berubah pucat hanya dalam beberapa menit.Di lehernya muncul bintik-bintik merah di sertai keringat dingin yang terus mengucur di wajahnya.Tubuhnya terlihat seperti sedang menggigil,namun Kyara masih diam di tempatnya.Tak ada yang menyadari hal itu selain Monica karena Revan dan Deon yang masih asyik menyantap makanan mereka.Dan saat Kyara terjatuh tak sadarkan diri barulah mereka menyadari bahwa ada yang salah dengan Kyara.
"BIBI…!"
"KYARA…!"teriak keduanya hampir bersamaan.Revan langsung menangis melihat Kyara yang tiba-tiba tak sadarkan diri di hadapannya.Ia menepuk-nepuk pipi Kyara berharap Kyara segera bangun.Sedangkan Deon ia langsung berlari menyiapkan mobilnya.Melihat gejala yang terjadi pada Kyara,ia sangat yakin bahwa pengasuh anaknya itu mengalami keracunan.Ia bisa mengetahuinya karena gejala yang terlihat sangat mirip dengan yang di alami oleh Revan dulu.
Setelah menyiapkan mobilnya,Deon langsung membopong Kyara masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Revan dan juga Monica di belakangnya,lalu segera membawanya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit,Kyara langsung di larikan ke ruang UGD untuk segera di tangani.
Revan terlihat menangis di pelukan Deon,ia sangat takut kehilangan orang yang ia sayangi untuk kedua kalinya.Sudah cukup bagi Revan harus kehilangan Jihan,jika sampai ia juga kehilangan Kyara.Maka ia takkan pernah lagi mempercayai yang namanya takdir Tuhan.
Deon hanya bisa memeluk Revan mencoba menguatkan putranya itu.Ia tahu bahwa Revan sangat sedih dan takut kehilangan Kyara.Namun ia tak melakukan bisa apa-apa selain berdoa, berharap agar Kyara selamat.
Berbeda dengan Revan dan juga Deon,Monica terlihat menampilkan wajah datar,walau sebenarnya ia sangat bingung dan penasaran mengapa Kyara yang keracunan dan bukan Revan.Tapi ia hanya bisa diam sambil menunggu hasil dari dokter.
Sekitar 20 menit kemudian,seorang dokter terlihat keluar dari ruangan itu.Deon dan Revan pun langsung menghampiri dokter itu dengan wajah yang khawatir.
"Bagaimana kondisinya dokter?"
"Apakah dia baik-baik saja?"tanya Deon begitu sampai di hadapan dokter tersebut.Sedangkan Revan,ia terlihat masih sesenggukan di samping ayahnya.
"Dia mengalami keracunan ringan"
"Tapi tetap saja kondisinya bisa memburuk jika tidak segera di tangani"
__ADS_1
"Terlebih sepertinya pasien memiliki alergi terhadap suatu makanan"
"Jadi,ada baiknya jika pasien di rawat inap untuk beberapa hari ke depan"ujar dokter itu menerangkan.
"Tapi anda tidak perlu cemas,keadaan pasien sudah cukup stabil sekarang"
"Setelah ini kami akan memindahkannya ke ruang perawatan dan kalian bisa menjenguknya jika dia sudah sadar nanti"sambung dokter itu.Deon terlihat menghela napas lega mendengar penjelasan dari dokter.
"Terima kasih dokter"ucap Deon kepada dokter tersebut.Dokter itu hanya mengangguk sebagai balasan kemudian pamit untuk pergi.
Tak berselang lama setelah kepergian dokter itu,terlihat para suster keluar dari ruang tersebut sambil mendorong ranjang rawat Kyara untuk di bawa ke ruang perawatan.
"Bibi…!"Revan langsung berlari ingin menghampiri Kyara namun langsung di hentikan oleh Deon.
"Daddy…Aku ingin bertemu Bibi Kyara"
"Biarkan aku bertemu dengannya"ucap Revan memohon.
"Bibi sedang istirahat sekarang dan tidak boleh di ganggu dulu"ucap Deon menjelaskan.
"Tapi daddy…"
"Sstt…Kita bisa menjenguk bibi nanti saat bibimu itu sudah bangun"
"Untuk sekarang kita biarkan Bibi istirahat dulu,okey"bujuk Deon kepada Revan.Revan hanya menangguk lesu.
"Baiklah, kita harus berangkat kesekolahmu sekarang"
"Setengah jam lagi lombanya akan segera di mulai"
__ADS_1
"Ayo,kita tidak boleh terlambat"namun bukannya cepat bersiap untuk segera pergi,Revan justru langsung menolak ajakan Deon.
"Aku tidak ingin pergi"
"Aku hanya ingin menemani bibi Kyara di sini"tolak Revan.
Mendengar penolakan dari Revan,Deon hanya menghela napas panjang.
"Revan…Dengarkan Daddy"
"Jika kau tidak ikut perlombaan itu"
"Bibi Kyara justru akan merasa sangat sedih"
"Apa kau tidak ingat betapa antusiasnya bibimu itu,saat mendengar kau akan mengikuti lomba melukis"Revan terlihat tertegun mendengar perkataan Deon.
"Apa kau ingin membuat bibi Kyara kecewa karena kau tidak ingin pergi berlomba"Revan langsung menggeleng-geleng kepalanya.
"Tidak…Aku tidak ingin membuat bibi sedih dan kecewa karena diriku"
"Aku akan pergi mengikuti perlombaan itu dan memenangkan piala"
"Aku akan membuat Daddy dan bibi Kyara bangga"
"Aku berjanji"ucap Revan dengan tekad yang kuat.Ia menghapus sisa air mata yang ada di pipinya dan langsung mengajak Deon untuk segera berangkat.Deon yang melihat sang putra yang kembali bersemangat merasa sangat lega.Untunglah ia bisa membujuk putranya untuk pergi.Kalau tidak,ia akan kehilangan kesempatan untuk membuat putranya di lirik oleh seorang pelukis terkenal yang menjadi juri di perlombaan melukis kali ini.Ia sangat yakin dengan kemampuan melukis Revan akan mampu memikat para juri.Mengingat betapa berbakatnya sang putra dalam seni melukis.Meski sebenarnya ia sedikit heran dengan bakat putranya itu,padahal ia dan Monica tak memiliki bakat melukis.Justru Jihanlah yang sangat pandai dalam berbagai hal yang berbau seni termasuk melukis.Mungkin karena Jihan yang merawat Revan sedari kecil,hingga membust bakat melukisnya pun terturun kepada putranya itu.
Bonus visual
Revanio Anderson
__ADS_1