
Sesampainya di rumah Kyara langsung merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.Tubuhnya merasa lelah namun hatinya penuh dengan rasa kepuasan.
"Inilah yang di namakan hidup sesuai keinginan"
"Tidak sia-sia aku mati sekali kalau di beri kehidupan seperti ini"Kyara mengucapkannya dengan nada puas.Memang benar bagi orang yang terbiasa hidup keras seperti Kyara,dapat berlibur seharian merupakan hal yang paling menyenangkan.Terlebih ia tak perlu memikirkan biaya hidup sama sekali,maka seluruh beban hidup serasa di angkat dari pundaknya.
"Oh ya,aku mematikan ponsel itu seharian"
"Aku yakin akan ada banyak panggilan masuk"ucapnya sembari merogoh ponsel yang berada di dalam laci samping tempat tidurnya.Dan benar seperti dugaannya,banyak panggilan masuk yang di dominasi oleh nomer Deon.
Kyara mendengus kesal,ia yakin pasti Revan yang menelponnya menggunakan ponsel Deon.Kyara tidak marah terhadap bocah itu,melainkan ia merasa bahwa Deon memang tidak becus menjaga anak seorang diri.Baru sehari ia mengajukan cuti saja sudah seperti ini,apalagi kalau ia berhenti bekerja.
Triinngg…
Ponselnya kembali berbunyi beberapa saat setelah ia mengaktifkannya.Ia lalu mengangkat panggilan tersebut.
"BIBI…"suara teriakan Revan seakan menggema di telinganya sesaat setelah ia mengangkat panggilan tersebut .Kyara tidak bisa tidak terkejut namun ia hanya bisa mengelus dada karena perbuatan Revan itu.
"Revan…Bibi bisa menjadi tuli jika kau berteriak seperti itu"Kyara tidak berbohong saat mengucapkanya,telinganya benar-benar terasa ingin lepas dari tempatnya.
"Huhuhu…Maaf bibi"
"Aku hanya merasa senang karena bibi mengangkat telponku"
"Aku sangat merindukan bibi Kyara"suara Revan terdengar seperti sedang menangis dan itu membuat Kyara menjadi tidak enak hati.
"Revan…Bibi juga sangat merindukanmu"ucap Kyara jujur.Ia memang merindukan bocah menggemaskan tersebut.
"Kalau bibi merindukanku,kenapa bibi tidak segera kemari dan bermain denganku"
"Aku sendirian di sini"
"Dari kemarin,Daddy selalu pergi bekerja lalu ke rumah sakit"Revan menjeda ucapannya,terdengar suaranya yang sesenggukan.
"Hiks…Hiks…Apa bibi Kyara juga akan meninggalkanku sama seperti aunty Jihan dulu"suara tangis Revan terdengar semakin nyaring.Kyara juga dapat mendengar suara beberapa pelayan yang mencoba menenangkan Revan yang menangis.
Kyara menghela napas panjang.Dengan nada lembut ia mencoba menasehati Revan.
"Revan…Bibi tidak akan pernah meninggalkanmu"
"Bibi hanya sedang ada urusan yang harus di selesaikan di sini"
"Dan setelah semuanya selesai,bibi akan segera kembali untuk menemanimu"
"Jadi,kau jangan menangis lagi"
__ADS_1
"Bukankah bibi pernah bilang"
"Jika kita menangis…"
"Air mata kita akan habis dan di ganti dengan air garam"ucap Revan memotong perkataan Kyara dengan nada yang cemberut.
Kyara sedikit terkekeh,ia bisa membayangkan seperti apa wajahnya Revan sekarang.
"Baiklah,aku tidak akan menangis"
"Tapi bibi harus cepat kembali"ucap Revan sembari menyeka air matanya yang sempat mengalir.
"Iya iya…Bibi janji akan kembali secepatnya"
"Sekarang kau harus tidur"
"Bibi akan membacakan dongeng untukmu"tawar Kyara setelahnya dan langsung disetujui oleh Revan.
Di lain tempat.…
"Kakek…Aku pulang…"teriak Vincent begitu ia telah sampai di rumahnya.Teriakannya membuat beberapa pelayan yang sedang bekerja di sekitarnya menjadi terkejut.Bagaimana tidak terkejut,tidak biasanya Vincent bersikap seperti itu.
Biasanya Vincent hanya akan masuk ke rumah tanpa berbicara atau sekadar menyapa sang kakek,meski kakeknya itu berada di depannya.Namun sekarang,entah angin apa yang membuatnya bertingkah seperti itu.
"Kakek…"teriaknya lagi sembari menaiki tangga menuju ruang tempat di mana sang kakek berada.Ia tak memperdulikan tatapan pelayan-pelayan di sekelilingnya yang menatapnya dengan ekspresi seakan mengatakan bahwa dunia akan segera kiamat karena tingkahnya.
Tanpa berpikir panjang Vincent langsung membuka pintu ruangan sang kakek yang ternyata tidak di kunci.Terlihat kakeknya yang sedikit tersentak kaget karena perbuatannya.
Tuan besar Abelano hanya bisa mengelus dada sambil menatap tajam ke arah cucu kesayangannya itu,yang terlihat tersenyum ke arahnya tanpa merasa bersalah sama sekali karena telah membuatnya terkejut.
"Ada apa Vin"
"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu"
"Bagaimana jika kakek mati terkena serangan jantung karena ulahmu"pria tua itu langsung menggerutu kesal.Namun bukan Vincent namanya jika ia tak bisa menjawab perkataan sang kakek yang menurutnya sedikit berlebihan.
"Lalu…Bukankah kakek baik-baik saja"
"Jika hal itu terjadi pun aku yakin malaikat maut pun belum sudi untuk mengambil nyawa kakek"terdengar sangat kurang ajar memang,namun Tuan besar Abelano hanya bisa menghela napas.Karena ia sadar bahwa sifat Vincent yang sekarang memang turunan darinya.
"Kakek…Tadi aku baru saja bertemu dengan calon istriku"
"Dan aku sudah mendapatkan nomor ponselnya"ucapnya dengan nada girang bak seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah besar.
"Ya ampun kupikir kau mendapatkan apa hingga membuatmu sesenang itu"
__ADS_1
"Ternyata hanya nomor ponsel"
"Tapi aku turut senang mendengarnya"
"Selamat anak muda"ucapnya sembari menepuk pundak cucunya tersebut,namun terdengar nada bicaranya yang mengejek sang cucu dan itu di sadari oleh Vincent.
"Huuh…Dari nada bicara kakek sangat jelas bahwa kakek sedang mengejekku"
"Apa kakek berpikir bahwa aku berbohong"ucap Vincent kesal dengan wajah yang terlihat cemberut.
Tuan besar Abelano terlihat terkekeh.
"Tidak,aku percaya dengan perkataanmu"
"Tapi mengingat sudah hampir sebulan kau mencari informasi tentang wanita itu"
"Namun kau hanya mendapatkan nomor ponselnya saja"
"Apa kemampuanmu hanya sebatas itu Vin"ia kembali terkekeh setelah mengucapkannya dan itu semakin membuat Vincent kesal.
"Lagi-lagi kakek meremehkan kemampuanku"
"Kakek lihat saja besok calon istriku itu akan datang kesini"
"Dan aku akan langsung melamarnya"ucap Vincent yakin mencoba membuktikan kemampuannya kepada sang kakek.
Namun lagi-lagi tuan besar abelano meremehkannya.
"Benarkah?"
"Baiklah jika perkataanmu itu benar maka aku tidak akan memakan pie susu kesukaanku selama satu bulan"
"Namun jika ternyata itu tidak benar"
"Maka semua anggur yang ada di gudang penyimpananmu akan kubuang"
"Bagaimana…Apa kau setuju cucuku"ucapnya dengan nada penuh kelicikan di dalamnya.
"Ini tidak adil"
"Anggur ku itu lebih malah di bandingkan dengan pie susu"
"Dan juga semua anggur itu simpananku untuk satu tahun kakek"Vincent langsung melayangkan protes kepada kakeknya.
"Kau sepertinya tidak yakin dengan perkataanmu barusan Vin"
__ADS_1
"Itu membuktikan bahwa kau hanya membual tentang wanita itu"perkataannya membuat Vincent kembali terpancing.
"Baiklah aku setuju"tanpa berpikir panjang Vincent langsung menyetujui taruhan tersebut.Ia begitu yakin dengan dengan perkataannya tanpa menyadari bahwa dirinya telah masuk kedalam permainan sang kakek.