
''Mengapa Aunty bertanya seperti itu?'' terlihat wajah Revan yang bingung mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Kyara.
Kyara hanya tersenyum tipis,tangan kanannya terulur mengelus pipi gembul Revan dengan lembut.
''Tak ada,aunty hanya penasaran jika kau berada dalam posisi harus memilih di antara kami''
''Siapakah yang akan kau pilih''Kyara terlihat merapikan anakan rambut Revan yang terurai karena tiupan angin.
Revan nampak termangu beberapa saat.Matanya yang bulat nampak berkedip beberapa kali seperti sedang memikirkan perkataan Kyara.
''Entahlah aunty, sepertinya sangat sulit memilih di antara kalian berdua''
''Karena bagiku kalian berdua sama berharganya''
''Tetapi,jika memang aku harus memilih salah satu dari kalian,maka aku akan memilih aunty''ucap Revan tanpa ragu.
Kyara sedikit kaget mendengar perkataan Revan.Meski hatinya sangat senang karena Revan memilihnya,tetapi ia tidak menyangka bahwa bocah imut itu akan benar-benar memilih dirinya.
''Kenapa kau memilih aunty?''tanya Kyara penasaran.
''Karena aunty adalah segala-galanya bagiku''
''Selama beberapa waktu,aku menyadari bahwa aku memang tidak bisa hidup tanpa aunty''
''Bahkan seandainya saja tidak ada bibi Kyara yang menemaniku saat aunty pergi''
''Aku tidak yakin apakah aku masih bisa tersenyum seperti sekarang''Revan mendongakkan wajahnya ke arah langit pagi yang mulai beranjak siang.Seulas senyum terbit di kedua sudut bibirnya yang mungil.Kyara ikut mendongakkan kepalanya menatap langit yang sama namun dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
''Aunty,aku tidak tahu mengapa aunty menanyakan hal seperti ini kepadaku?''
''Tapi satu hal yang harus aunty tahu''
''Aku akan selalu mendukung semua keputusan aunty''
''Bahkan jika aunty ingin bercerai dengan Daddy pun ,aku tetap akan mendukungmu''Ucap Revan sambil menoleh ke arah Kyara masih dengan senyum yang sama.Kyara membalas tatapan itu tanpa ekspresi.Ada sedikit keterkejutan di matanya mendengar perkataan seperti itu keluar dari mulut Revan.Tak seperti sebelumnya,kini hatinya merasa seperti teriris.
''Revan...''ucapan Kyara terpotong.
''Aunty,aku mendukungmu"ujar Revan lagi.Ia menggenggam tangan Kyara sambil tersenyum,memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.
Kyara termangu beberapa saat.Entah apa yang telah di ketahui Revan hingga membuat anak itu terlihat berbeda.Semenjak pertemuannya kembali dengan Revan sebagai Jihan,bocah imut itu terlihat menjadi lebih dewasa dan tenang.Jujur hal ini jauh lebih mengkhawatirkan untuknya.Di bandingkan seperti ini,ia lebih suka mendengar rengekan manja Revan,bahkan ia sudah menyiapkan dirinya jika seandainya Revan tidak setuju dengan keputusannya.Namun ternyata,semua bayangan yang ada di pikirannya hanya sebatas ekspektasi yang berlebihan.Kyara berpikir apakah ini karena perkataan sebelumnya yang melarang Revan untuk menangis.
''Aunty...Are you okey?'' Melihat sang aunty yang diam saja membuat Revan khawatir.
Kyara hanya diam menanggapi pertanyaan Revan,matanya memandang wajah Revan dengan penuh rasa bersalah.Dan tanpa aba-aba Kyara langsung memeluk Revan.
''Aunty''panggil Revan di sela-sela pelukan mereka.
''Aunty baik-baik saja''
''Aunty hanya ingin memelukmu,sebentar saja''jawab Kyara dengan suara yang agak parau,ia sedang menahan tangisnya.
Mendengar jawaban Kyara Revan hanya menurut dan membalas pelukan Kyara dengan erat.Tangannya yang mungil mengelus pundak Kyara dengan lembut sebagaimana biasanya Jihan ketika mencoba menenangkannya saat sedang bersedih atau ketakutan.
Kyara merasakan sentuhan lembut itu perlahan menenangkan hatinya.Perasaannya kembali menghangat.Entah kapan terakhir kali ia merasakan perasaan seperti itu.Hatinya terlalu beku sebelumnya,hingga ia tidak pernah menyadari bahwa pelukan kecil seperti ini saja bisa membuat seseorang merasa lebih baik.
Dari dulu ia memang bukan orang yang suka di sentuh sembarangan,meski orang itu adalah sahabatnya sendiri.Kyara ingat setiap kali Raline memeluknya,ia akan membanting sahabatnya itu ke lantai.Meski begitu,Raline tidak pernah merasa jera.
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Di lain tempat,lebih tepatnya di sebuah rumah sakit jiwa.Terlihat Deon yang sedang terbaring lemas di ranjang perawatan akibat suntikan bius.Tubuhnya di penuhi oleh balutan kain putih yang mengikat semua bagian tubuhnya.Hal itu terjadi,karena sebelumnya ia sempat mengamuk dan hampir mencelakai salah satu perawat yang menanganinya.
Ceklek....
Terdengar suara pintu yang terbuka di susul dengan masuknya seorang perawat yang membawa baki berisi obat-obatan dan beberapa suntikan.Setelah berada di samping ranjang,ia lalu mengambil sebuah suntikan yang berisi cairan berwarna keemasan entah apa kegunaan nya dan kemudian menyuntikkannya ke leher Deon yang masih tak sadarkan diri.
Tak berselang lama,tubuh Deon mulai memberikan reaksi.Pria itu terlihat mulai sadarkan diri.Matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.Deon terdengar melenguh karena merasakan sakit di kepalanya.
''Syukurlah kau sudah sadar''
''Kupikir kau akan benar-benar gila karena kecerobohan mu''ucap perawat itu sinis sembari membuka masker yang menutupi separuh wajahnya.
Mendengar ucapan sinis itu,Deon mencebik dengan kesal.
''Kau sendiri tahu bahwa aku orang yang ceroboh tapi kenapa kau masih suka menyuruh- nyuruhku melakukan hal seperti ini''
''Memangnya kenapa?''
''Apakah salah jika seorang kakak menyuruh adiknya sendiri''balasnya dengan nada yang berpura-pura sedih.
''Ck...Hentikan''
''Kau menggelikan Dema'' wanita yang di panggil Dema itu hanya tertawa.
''Bagaimana dengan wanita itu?''
''Apakah dia masih menggila?''tanya Deon kepada Dema.Dan tentu saja wanita yang maksud adalah Monica.
''Tentu saja dia masih menggila,racun yang kuberikan kepadanya adalah racun yang kuat''
Mendengar hal itu Deon kembali mencebik bibirnya.Meski begitu ia akui bahwa kakaknya itu memang hebat dalam urusan seperti itu.
''Oh ya... Omong-omong,apa benar istri pertamamu itu masih hidup?''tanya Dema di sela-sela kegiatannya yang sedang merapikan kekacauan yang di buat oleh Deon sebelumnya.
''Tentu saja dia sudah mati,aku yang sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri''ucap Deon tanpa rasa bersalah sama sekali.
''Ya ampun,kau kejam sekali''Dema menutup mulutnya seakan terkejut dengan perkataan Deon barusan.
''Padahal aku masih ingat dengan perkataanmu sepuluh tahun lalu yang mengatakan bahwa kau sangat mencintainya''
''Apakah itu hanya omong kosong belaka ?''ujarnya sambil tertawa mengejek.
''Cih... Perasaan seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu ''
''Lagi pula aku sudah memiliki pengganti Jihan''
''Siapa?''
''Monica?''Dema memiringkan kepala.
''Omong kosong''
''J*lang sepertinya tidak pantas bersanding denganku''ujar Deon dengan nada kesal.
''Tenanglah...Aku kan hanya bertanya,kau tidak perlu marah begitu''Dema mengangkat sebelah alisnya.
__ADS_1
''Ck...Daripada kau menanyakan hal yang tidak berguna seperti itu ''
''Lebih baik kau membantuku untuk melepaskan kain ini dari tubuhku''perintah Deon kepada Dema.
''Maaf saja ya,aku ini hanya sedang menyamar dan bukan perawat yang sesungguhnya''
''Jadi aku tidak berhak untuk membantumu melepaskannya''Dema mengedipkan sebelah matanya menggoda sang adik yang terlihat mulai kesal.
''Sial*n...Lalu untuk apa kau kemari jika tidak mau membantuku''Deon terdengar mengumpat namun itu langsung berubah menjadi ringisan karena Dema memukul kepalanya.
''Kau ini,bahkan di saat aku sudah membantumu seperti ini kau tidak sadar juga''
''Heh jangankan menyadari apa yang terjadi,bahkan berterima kasih pun tidak''
''Aku tidak tahu bagaimana ayah mendidik dirimu hingga menjadi orang payah seperti ini''Dema menghardik Deon yang masih meringis kesakitan akibat pukulannya.
''Padahal sudah terbukti dengan jelas,apa yang terjadi kepada kedua istrimu''
''Tapi kau masih tidak mau mempercayainya''
''Deon bukalah matamu, kutukan keluarga Anderson itu memang nyata''Dema mencoba menyadarkan Deon akan fakta tersebut.Namun Deon masih keras kepala.
''Dema,kutukan itu hanyalah omong kosong belaka''
''Apa yang terjadi kepada Jihan dan Monica adalah perbuatan ku''
''Itu bukan kutukan tapi memang takdir mereka yang tidak beruntung''
''Terserah kau saja''
''Aku lelah menjelaskan hal itu kepadamu dan juga ayah''
''Kalian memang benar-benar mirip''sindir Dema sambil tersenyum miring.
''Dan kau juga sangat mirip dengan ibumu''
''Bahkan nasib kalian pun sama''balas Deon tak kalah panas.
Dema hanya menampilkan wajah yang datar menanggapinya,meski tak menampik ia sangat kesal mendengarnya perkataan adiknya itu.Namun yang bisa ia lakukan hanyalah menahan kekesalan itu di dalam hatinya.
''Aku perlu waktu dua Minggu untuk mengurus kekacauan yang terjadi''
''Jadi selama itu kau harus terus berpura-pura gila,sampai pengadilan benar-benar membatalkan tuntutan itu, mengerti?''
''Ya,aku tahu itu''
''Kau tidak perlu memberitahuku lagi''
''Baguslah''
''Kalau begitu aku pergi dulu''
''Oh ya, mengenai anakmu,ia sudah di jemput oleh asisten mendiang Jihan beberapa hari yang lalu''
''Mungkin dia akan tinggal di sana selama beberapa minggu''
''Jadi,kau bisa tenang selama beberapa minggu tanpa harus khawatir aku akan menyakitinya'' ucap Dema sembari pergi dari ruangan itu meninggalkan Deon seorang diri di sana.Deon menatap kepergian Dema dengan ekspresi yang sulit.Dalam hati ia sedikit menyesal karena sudah meminta bantuan kepada orang gila seperti Dema.
__ADS_1
...Maaf ya guys,author baru bisa update lagi setelah sekian lama.Author lagi sibuk-sibuknya karena kerjaan author udah balik lagi semenjak pandemi kemaren.Jadi bisa di bilang author gak punya banyak waktu buat nulis lagi.Dan author juga gak tahu apa cerita ini bakal selesai,karena memang ceritanya masih panjang.Ada kemungkinan author gak akan bisa namatin cerita ini sampai akhir tahun nanti.Jadi,bagi para pembaca semuanya,kalian bisa hapus cerita author dari favorit kalian.Karena memang author gak bisa update seperti yang seharusnya.Sekali lagi author minta maaf 🙏🙏...