Transmigrasi Gadis Pembunuh

Transmigrasi Gadis Pembunuh
eps 64.Nasib Monica


__ADS_3

Satu minggu berlalu begitu cepat bagi sebagian orang,terutama bagi orang-orang yang lebih sering menghabiskan waktu yang mereka miliki hanya untuk bekerja.Namun kenyataan itu tidak berlaku bagi Monica.


Setelah di nyatakan sembuh total oleh dokter,ia langsung di bawa oleh pihak kepolisian untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Terlihat Monica yang sedang duduk meringkuk di salah satu sudut sel tahanan sambil menelungkupkan wajahnya di antara kedua lututnya.Di sekujur tubuhnya terlihat beberapa memar yang sudah agak memudar.Tak hanya memar saja,di beberapa bagian tangannya masih terlihat luka cakaran akibat penganiayaan yang ia terima sebelumnya.


Sudah sekitar tiga hari ia berada di dalam penjara,namun karena keadaan penjara yang bisa di bilang sangat tidak nyaman untuk di tempati bagi seorang Monica yang terbiasa hidup dalam kemewahan, membuat Monica merasa seperti waktu berjalan sangat lambat.Apalagi ia mendapatkan rekan satu tahanannya yang bisa di katakan bukanlah orang yang ramah.


Setiap hari,Monica selalu di tindas oleh narapidana lain.Hal itu memang sudah biasa terjadi di dalam penjara,di mana yang kuat berkuasa dan yang lemah akan di tindas.Dan Monica berada di posisi yang tertindas.


Pelecehan verbal tanpa henti,makian dan juga berbagai macam penganiayaan di terima oleh Monica setiap saat.


Seperti sekarang ini,di saat ia terdiam pun narapidana lain masih tetap mengganggunya.


"Hei kau…!!"

__ADS_1


"Bukankah aku sudah bilang kepadamu untuk menggantikan tugasku mengepel kamar mandi"


"Kenapa kau tidak melakukannya"


"Apa kau ingin mati"ucap salah satu narapidana lain yang terlihat memiliki tubuh lebih gempal dari yang lain.Tangan kanannya menarik rambut Monica dengan sangat kuat hingga membuat Monica menengadahkan pandangan secara terpaksa.Wajahnya terlihat meringis menahan sakit di kepalanya akibat jambakan yang di berikan oleh narapidana itu.Meski terlihat kesakitan,Monica tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari narapidana itu,ia hanya menatap narapidana itu dengan tatapan marah dan penuh dendam.Seandainya saja tubuhnya tidak terluka seperti sekarang,mungkin ia sudah melakukan perlawanan.Karena menurutnya,narapidana yang ada di hadapannya sekarang tidak sekuat yang di duga.Dia hanya memiliki kelebihan tubuh yang besar dan juga mulut yang pandai berkata-kata.Selebihnya narapidana itu hanyalah seorang pecundang yang berlagak ingin menjadi raja.


"B-bos…Ada sipir yang datang kemari"ucap salah satu narapidana lain yang merupakan kacung dari narapidana yang bertubuh gempal tadi.


Seseorang yang di panggil sebagai bos itu,langsung melepaskan jambakannya pada Monica.Namun sebelum ia menjauh,ia lebih dulu memberi ancaman kepada Monica agar tidak mengadukannya kepada sipir.Monica hanya tersenyum sinis mendengar ancaman tersebut dan hal itu membuat narapidana itu menjadi sangat kesal.Namun ia tak bisa berbuat apa-apa kepada karena sipir sudah datang ke tempat mereka.


Monica berjalan dengan terseok-seok mengikuti langkah sipir yang akan membawanya ke sebuah ruangan khusus di mana seseorang telah menunggunya.Di sepanjang perjalanan menuju ruangan yang telah di sebutkan tadi,Monica tidak henti-hentinya berpikir tentang siapa yang ingin menemuinya.Karena ia sendiripun sadar,bahwa sekarang ia tidak memiliki siapapun lagi di sisinya.Entah itu teman ataupun keluarga,semua sudah tidak ada lagi.


Namun ada satu nama yang tiba-tiba terbesit di benaknya,yaitu Daniel.Pria yang pernah mengaku sangat mencintai dirinya.Jika memang benar seseorang yang ingin menemuinya adalah Daniel itu akan menjadi sebuah kesempatan yang bagus untuk Monica.Dengan adanya Daniel di sisinya maka Monica bisa memanfaatkan pria itu untuk membantunya melakukan pembalasan dendam kepada Deon.


Mengingat nama Deon,membuat Monica sangat kesal.Bagaimana tidak,pria itu adalah dalang utama dari kesengsaraan yang ia rasakan sekarang.Karena ulah Deon ia menjadi mandul dan tak memiliki harapan untuk bisa memiliki anak lagi.Bukan hanya itu saja,Deon juga menjadi penyebab rasa malu yang ia terima di saat pesta malam itu.Monica menjadi tidak habis pikir kepada dirinya sendiri,bagaimana bisa ia mengejar-ngejar pria seperti Deon.Mau di lihat dari bagian manapun Daniel jauh lebih baik daripada Deon.Dan saat ini Monica merasa sangat menyesal karena dulu ia jauh lebih memilih Deon di bandingkan Daniel.

__ADS_1


Akan tetapi penyesalannya itu tidak akan berarti lagi sekarang,karena Daniel sudah datang menemuinya.Ia begitu percaya diri dan mengira bahwa Daniel masih mencintai dirinya.


Monica menatap daun pintu berwarna coklat itu dengan wajah yang sumringah.Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Daniel.Setelah sipir melepaskan borgol yang sedari tadi menjerat tangannya,Monica langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan tersebut.Begitu ia berada di dalam ruangan itu,Monica langsung mendapati sesosok pria yang sedang berdiri membelakanginya.Ia tidak bisa melihat warna rambut ataupun kulit dari pria itu,karena sosok itu sedang memakai jaket tebal dan juga penutup kepala.Namun jika di lihat dari perawakan pria itu terlihat sangat mirip dengan Daniel.Hingga tanpa berbasa-basi lagi,Monica langsung menyerbu pria yang ia yakini sebagai Daniel dan memeluknya dengan sangat erat.


"Daniel…Aku tahu kau pasti akan datang menemuiku"


"Aku sangat merindukanmu"ucap Monica dengan nada yang seakan-akan benar-benar merindukan sosok Daniel.


"Heh…Ternyata benar yang di katakan oleh orang-orang"


"Kau memang sangat murahan"


Deg…


Monica langsung menelan salivanya begitu mendengar suara pria yang begitu familiar di telinganya.Ia melepaskan pelukannya kepada sosok yang ada di depannya sekarang.Ekspresi wajahnya langsung berubah seketika saat sosok itu berbalik menghadap dirinya dan langsung menatapnya dengan senyum yang meremehkan.

__ADS_1


"K-Kau…"


__ADS_2