
Kalau ada typo atau penulisan kata yang salah, tolong kasih tau author ya…Biar bisa author revisi ulang🙏
Di saat Dirman ingin berangkat ke kantor polisi,aku langsung melaporkannya kepada tuan Deon.
Tuan Deon langsung menyuruhku untuk menghentikan Dirman bagaimana pun caranya.Awalnya aku membujuk Dirman secara baik-baik dan memintanya untuk tidak menyerahkan bukti itu ke polisi.Aku juga mengatakan bahwa ia bisa saja ikut masuk penjara karena sudah membantu membuang mayat nyonya Jihan.Namun ia langsung menolak bujukanku itu.Masih terekam jelas di ingatanku akan perkataan Dirman saat itu.
"Lebih baik aku mati membusuk di penjara daripada harus hidup dan di hantui rasa bersalah"itulah kata-kata terakhir Dirman kepadaku.Dan setelah itu aku langsung memukulinya hingga tak sadarkan diri.
Aku lalu membawa Dirman yang sedang pingsan itu kepada tuan Deon untuk di introgasi.
Aku masih sangat ingat keadaan Dirman saat itu.Meski ia sudah di siksa berkali-kali oleh tuan Deon ia tetap enggan memberikan bukti tersebut.Aku sedikit salut dengan keteguhan dan kebaikan hatinya, mungkin karena alasan itulah mengapa aku membenci Dirman,ia terlalu baik namun terkesan
bodoh.Seandainya saja ia mau menuruti apa yang tuan Deon katakan,mungkin ia takkan pernah merasakan penderitaan seperti itu.
Dan puncak penderitaannya semakin menjadi saat tuan Deon memutuskan mengurung Dirman di balik tembok gudang dan membiarkannya mati secara perlahan disana.
Jujur,aku sangat terkejut mendengar hal itu.Aku tak menyangka tuan Deon bisa sekejam itu kepada sesama manusia.Namun,aku sendiri tak bisa membantu Dirman.Lagi pula,penderitaan yang ia dapatkan karena kekeras kepalaannya sendiri.
Harusnya…Aku tak pernah berpikir seperti itu.…
Flashback off….
Dengan berat hati Tarso terpaksa menjalankan perintah tersebut.Ingin lari dari perintah itu pun ia tak bisa,karena Deon sudah mengancam dirinya dan akan menghabisi keluarganya jika ia mencoba untuk kabur.Tarso benar-benar dalam situasi yang sangat sulit sekarang.
Keadaan yang hampir sama juga terjadi di kediaman Arsen.Steffy terlihat mengobrak-abrik isi kamarnya hingga berantakan.Ia tak menyangka Deon akan benar-benar melaporkannya.Dan yang lebih parahnya ialah Deon melaporkannya dengan tuduhan pemalsuan dokumen dan penipuan.Jika Deon hanya melaporkannya atas dasar perebutan kepemilikan saham,ia masih bisa menyangkalnya dengan cara membuat pengacara Jill bersaksi untuknya.Namun yang terjadi sekarang justru berbanding terbalik dengan perkiraannya.
"Apa yang harus kulakukan?"
"Jika sampai mereka tahu bahwa tanda tangan itu palsu,aku bisa masuk penjara"Steffy mengacak-acak rambutnya karena frustasi.Ia bingung harus berbuat apa sekarang.
"Ini semua terjadi karena anak sial*n itu"
"Bisa-bisanya dia memberikan 30 persen sahamnya kepada anak orang lain"
"Dia itu memang benar-benar bodoh sama seperti ayahnya"
__ADS_1
"Kenapa bukan dia saja yang mati waktu itu"Steffy nampak sangat geram.Ia menyalahkan Jihan atas apa yang terjadi kepadanya saat ini.
"Aku harus mencari cara untuk bisa memenangkan kasus ini"
"Aku takkan membiarkan orang lain merebut harta yang sudah susah payah ku dapatkan"
"Jika perlu,aku akan menyingkirkan siapa pun yang mencoba menghalangi jalanku"ucapnya penuh dengan rasa ambisius.Ia benar-benar tamak akan harta dan kekuasaan.Bahkan jika ia di suruh memilih antara anak atau uang,tentu Steffy akan memilih uang.Karena baginya uang adalah segalanya.Tak heran jika ia tak sedikitpun merasa iba melihat penderitaan Jihan,karena ia memang tak pernah peduli padanya.Bahkan jika seandainya ia tahu bahwa Jihan sudah tiada,mungkin ia akan merayakan pesta besar-besaran untuk merayakan kematiannya.
Entah apa alasannya hingga Steffy bersikap seperti itu kepada putrinya sendiri.Padahal Jihan sangat menyayanginya dengan sangat tulus.Bahkan Jihan rela melakukan apapun untuk dirinya,namun jangankan mendapatkan kasih sayang,di perdulikan pun tidak.
"Bruno…"teriak Steffy memanggil pelayan pribadinya.Lalu tak berselang lama muncul seorang pria bertubuh kekar dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa berjalan menghampirinya.
"Iya nyonya"jawab pelayan itu.
"Siapkan peralatan berburu milikku"
"Aku ingin berburu rusa jantan hari ini"ucapnya sambil tersenyum menyeringai.
"Baik Nyonya"jawab pelayan itu patuh.
Sedangkan di tempat lain,tepatnya di sebuah taman yang terletak di pusat kota.Terlihat Kyara sedang duduk di bangku taman sambil terus memperhatikan Revan yang sedang bermain bersama teman sebayanya.Sesekali Kyara terlihat melirik arlojinya lalu bergumam sendiri.
Tak lama kemudian,datang seorang pria berjaket hitam dan langsung duduk di samping Kyara.
"Bagaimana kondisinya?"tanya Kyara pada pria tersebut.
"Keadaannya sangat buruk"
"Ia mengalami dehidrasi parah dan juga halusinasi"
"Bahkan kakinya hampir membusuk karena luka yang sudah terinfeksi"
"Jika terlambat di tangani sedikit saja mungkin dia tidak akan selamat"ujar pria tersebut menjelaskan.Kyara terlihat tertegun sejenak lalu berujar.
"Lakukan penanganan terbaik untuknya"
__ADS_1
"Dia harus tetap hidup,karena dia adalah satu-satunya saksi kunci mengenai kejahatan yang di lakukan oleh Deon"
"Baik Nyonya muda"jawab pria itu patuh lalu beranjak pergi meninggalkan Kyara.
Tak berselang lama setelah pria tersebut pergi,sebuah pesan masuk di ponsel Kyara.Kyara membuka pesan tersebut lalu membacanya.
Usai membaca isi pesan tersebut Kyara lalu langsung menelpon seseorang.
"Kirim beberapa penjaga untuk Deon"
"Pastikan keberadaan mereka tak di sadari olehnya"
"Dan jika ada orang yang mencurigakan segera amankan tapi jangan membunuhnya,mengerti"perintah Kyara mutlak kepada seseorang yang berada di seberang telpon.
"Baik nyonya"jawab orang itu patuh.
Kyara lalu mematikan sambungan telpon tersebut.
"Aku tidak bisa membiarkan Deon mati semudah itu"ucap Kyara sambil memandangi Revan yang terlihat bermain dengan gembiranya.
Sebenarnya,Kyara merasa sedikit di lema dengan tindakannya untuk membalas dendam kepada Deon.Kyara berpikir jika ia menghabisi Deon,maka Revan akan menjadi anak yatim.Kyara tak bisa membayangkan bagaimana nasib Revan kedepannya.Awalnya ia berpikir Revan mungkin akan tetap bahagia meski hanya hidup berdua bersamanya.Namun setelah di pikir-pikir lagi,sepertinya hal itu cukup sulit untuk di terapkan,mengingat Revan yang sangat menyayangi Deon.
"Bibi…"panggilan dari Revan membuyarkan Kyara dari lamunannya.
"Iya Revan"jawab Kyara begitu ia tersadar.
"Bibi,aku lapar"ucap Revan polos sambil mengelusi perutnya yang mulai keroncongan.Kyara nampak terkekeh mendengar perkataan Revan.
"Baiklah,ayo kita makan siang"
"Revan mau makan apa?"tanya Kyara seraya mengangkat tubuh bocah imut itu lalu menggendongnya.
"Pizza keju"ucap Revan penuh semangat.
"Hahaha…Baiklah kita akan makan pizza keju"ucap Kyara sambil tertawa dan di balas
__ADS_1
tepukkan antusias oleh Revan.Lalu keduanya pergi dari taman tersebut dan berjalan menuju sebuah kedai pizza yang letaknya tak jauh dari taman tersebut.