
Di tempat Kyara berada,terlihat gadis itu sedang duduk di kursi santainya sambil membaca beberapa surat kabar yang baru saja di cetak hari itu.Netra birunya nampak tajam membaca setiap bait kata yang tertulis di dalamnya.Sesekali ia menyesap teh yang di sajikan oleh pelayan dengan sedikit terburu-buru.
Disampingnya ada asisten Joe yang setia berdiri menemaninya tanpa sepatah katapun.Wajah Joe yang terkesan datar itu,sesekali terlihat melirik ke arah junjungannya yang masih melakukan hal yang sama selama 30 menit belakangan.Kemudian tatapannya kembali beralih ke arah depan,di mana seorang perempuan muda yang tak lain adalah saudari kembarnya sedang berlari tergopoh-gopoh mengelilingi halaman villa atas perintah Kyara.Kyara sengaja melakukan hal tersebut untuk menghukum pengacara Jill karena sudah menentang perintahnya.
Bruk....
Setelah satu jam berlari,pengacara Jill akhirnya tumbang karena kelelahan.Ia jatuh pingsan tepat di hadapan Kyara dan juga Joe.
Joe yang melihat saudarinya jatuh pingsannya hanya bisa terperanjat di tempat ia berdiri.Ia ingin menolong saudarinya itu,akan tetapi perintah Kyara tidak memperbolehkannya melakukan itu sebelum nyonyanya itu memberi perintah.Sedangkan Kyara yang melihat pengacara Jill pingsan,hanya melirik sekilas dengan wajah yang datar.
''Bawa dia ke tempat peristirahatan''
''Berikan obat dan juga makanan kepadanya''
''Jika dia sudah pulih,suruh dia kembali menyelesaikan hukumannya sebelum matahari terbit besok''ujar Kyara memberi perintah kepada asisten Joe.
Asisten Joe hanya mengangguk tanda mengerti.Lalu ia langsung mengangkat tubuh saudarinya itu dan membawanya pergi sesuai perintah nyonyanya itu.
Seusai kepergian dua saudara kembar itu,Kyara kembali melakukan aktifitas sebelumnya.Kyara mencengkeram erat salah satu surat kabar yang barusan ia baca dengan wajah yang berubah memerah karena menahan amarah.Bukan tanpa sebab mengapa ia seperti itu.
Setelah mendengar laporan dari pengacara Jill yang berkata bahwa ia gagal menjebloskan Deon kepenjara.Ia kembali di buat kesal dengan berita tentang di batalkannya putusan pengadilan,di karenakan kondisi para tersangka yang tiba-tiba mendadak gila seusai pengadilan.
Menurut berita yang beredar,keduanya di dapati sedang berteriak histeris di dalam satu ruangan yang sama dengan kondisi yang berbeda-beda. Monica yang berteriak-teriak memanggil nama Jihan sambil memukulkan kepalanya sendiri ke lantai hingga berulang-ulang.Sedangkan Deon,pria itu terlihat duduk meringkuk di sudut ruangan sambil menunjuk ke arah Monica dan berkata 'mati' dengan wajah yang sangat ketakutan.
Kyara memijit pelipisnya yang berkedut,merasa pusing dengan yang baru saja terjadi.Rasanya ia tidak bisa mempercayai kenyataan bahwa kedua musuhnya kini sudah resmi menjadi penghuni rumah sakit jiwa.
Dia memang ingin melihat keduanya hancur, tapi bukan dengan cara seperti ini.Keinginannya adalah membalaskan dendam dengan memenjarakan keduanya dan membuat mereka menyesal seumur hidup.Tapi sekarang,jangankan membuat mereka menyesal,memenjarakan keduanya saja ia tidak bisa.Awalnya ia mengira bahwa keduanya mungkin hanya berpura-pura agar bisa menunda pengadilan.Tetapi di saat ia membaca berita selanjutnya,keduanya justru benar-benar di nyatakan gila oleh psikiater yang telah memeriksa mereka.Di tambah ia juga telah melihat sendiri rekaman cctv yang merekam kejadian tersebut,semakin membuat ia tak bisa menyangkal kenyataan.
''Ini sangat aneh''
''Tidak mungkin mereka menjadi gila secara tiba-tiba seperti itu''gumam Kyara pada diri sendiri.
''Sebenarnya apa yang sudah ku lewatkan''
''Mengapa semuanya tidak berjalan sesuai rencanaku''
Brak....
Kyara menggebrak meja di samping nya hingga menimbulkan retakan kecil di atasnya.Ia benar-benar sangat kesal sekarang.Di pikir-pikir berkali-kali pun ia tak bisa mencari di mana letak kesalahan dari rencananya.Baru kali ini Kyara gagal dalam menjalankan rencananya,sebelumnya ia selalu berhasil menjalankan semua misi-misinya dengan mudah.Tapi kali ini,rencana langsung hancur karena sebuah kejadian tak terduga.
Misi yang selama ini ia anggap enteng,ternyata jauh lebih rumit dari yang kelihatannya.Jika sudah seperti ini,ia terpaksa memutar otaknya untuk membuat rencana lain.
__ADS_1
''Aunty''
Kyara yang saat ini tengah berada di antara kekalutan pikirannya,tiba-tiba mendengar suara manis di belakang yang memanggil dirinya.
''Revan''ucap Kyara sedikit kaget dengan kehadiran bocah bersurai merah itu.
Revan langsung menghampiri Kyara dan memeluknya.Kyara membalas pelukan bocah itu tak kalah hangatnya.Jujur,saat ini Kyara merasa beban di pikirannya sedikit terangkat karena kehadiran Revan.Setelah cukup lama mereka berpelukan,keduanya lalu melepaskan pelukan mereka, kemudian duduk di kursi masing-masing.
''Sebenarnya apa yang sedang Aunty pikirkan''
''Wajah Aunty terlihat gelisah sedari kemarin''
''Apa ada hal buruk yang sedang terjadi'' tanya Revan yang terlihat cemas pada Kyara.
Kyara tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Revan.
''Aunty hanya sedang memikirkan masalah di perusahaan''
''Kau tak perlu khawatir''
''Aunty akan segera mengatasinya''ujar Kyara sambil mengelus pucuk kepala Revan dengan lembut.
''Aunty...Aku tahu perusahaan itu memang penting untukmu''
''Jangan sampai Aunty sakit karena terlalu memikirkan perusahaan''
''Aku dengar dari para pelayan,Aunty belum sarapan pagi''
''Dan sekarang hari sudah memasuki waktu makan siang''
''Apa perut Aunty tidak merasa perih karena tidak di isi makanan?''Revan terus mengomel tanpa henti hingga membuat Kyara merasa gemas sendiri.Melihat Revan yang begitu mengkhawatirkannya membuat Kyara merasa sangat senang.Tapi sayangnya kekhawatiran yang di tunjukkan oleh Revan bukan untuk dirinya,melainkan untuk Jihan.Pasti akan jauh lebih menyenangkan jika bocah menggemaskan itu mencemaskan dirinya.Seandainya itu bisa terjadi,Kyara akan merasa sangat beruntung.
'Jihan,kau beruntung memiliki putra seperti Revan' sejenak terbesit rasa iri di hati Kyara terhadap Jihan.
Semenjak bertemu dengan Revan,Kyara merasa kekosongan hatinya kembali terisi.Entah bagaimana caranya,bocah menggemaskan itu berhasil membuatnya jatuh cinta.
Semula Kyara berpikir bahwa perasaan yang sering ia rasakan terhadap Revan adalah perasaan milik Jihan yang masih tertinggal di raganya. Namun semakin lama Kyara pun menyadari bahwa kini hatinya benar-benar di dalam kendalinya seutuhnya.
''Aunty!"
"Apa aunty mendengarkan perkataan ku" sungut Revan kepada Kyara yang hanya diam saja sedari tadi.
__ADS_1
"Ya...Aunty dengar kok"
"Aunty akan makan setelah para pelayan selesai menyiapkan makan siang"
"Oh ya, bagaimana dengan pelajaranmu hari ini"
"Apa ada pelajaran yang tidak kau mengerti?"Kyara mencoba mengubah topik pembicaraan.
Revan hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Kyara.
"Tidak ada,Madam Glorya sangat baik dalam menjelaskan pelajaran"
"Hanya saja,wajahnya terlihat sedikit agak galak"ucap Revan polos.
Kyara terkekeh mendengar jawaban polos Revan.
"Kau benar, Madam Glorya memang terlihat seperti orang yang pemarah"
"Tapi kau tidak perlu takut,madam Glorya bukan orang seperti itu"ujar Kyara menjelaskan.
"Bagaimana Aunty bisa tahu?"tanya Revan setelah mendengar perkataan Kyara.
"Madam Glorya adalah orang yang juga mengajari Aunty waktu kecil"
"Dulu, Aunty juga harus melakukan homeschooling"terang Kyara.
"Tapi kenapa?" tanya Revan lagi.
Kyara hanya tersenyum mendengar pertanyaan Revan.Ia mencoba mengingat kembali kenangan Jihan saat kecil.Semua memori di masa itu terekam jelas di otaknya.Hanya saja,tak ada sedikit pun kenangan manis di sana.
"Entahlah...Mungkin karena aunty orang yang mudah jatuh sakit"
"Karena itulah orangtua aunty lebih memilih melakukan homeschooling"ujar Kyara berbohong.Ia tak ingin membuat Revan sedih jika ia menceritakan hal yang sebenarnya.
"Ohh"Revan hanya ber oh ria menanggapi.
Setelahnya,keduanya hanya duduk diam tanpa sepatah katapun selama beberapa saat.
"Revan..."panggil Kyara dengan nada selembut mungkin.
"Ya..."balas bocah imut itu sambil menatap Kyara.
__ADS_1
"Jika kau di suruh memilih di antara Aunty dan Daddy"
"Siapa yang akan kau pilih?"