
"Apa-apaan ini"
"Kalian datang tanpa membawa hasil apapun"Vincent terlihat marah saat mengetahui para anak buahnya datang dengan tangan kosong.
"Ma-maafkan ka-kami tuan muda"
"Ka-kami bersalah"ucap salah satu bawahannya itu dengan terbata-bata.Buliran keringat terlihat menetes satu persatu di kedua sisi wajahnya.Begitu juga dengan yang lain,mereka hanya bisa menelan saliva mereka tanpa berani berbicara sepatah katapun.
"Si*l"
"Kalau bukan karena kalian adalah pengawal terbaikku"
"Aku pasti sudah memecat kalian saat ini juga"ucap Vincent sembari melayangkan tatapan tajamnya ke arah para anak buahnya itu.Lagi-lagi mereka hanya bisa tentunduk diam sambil terus berdoa di dalam hati,berharap mereka masih bisa selamat untuk saat ini.Sungguh berhadapan dengan Vincent sekarang jauh lebih mengerikan di bandingkan dengan ledakan bom yang hampir membunuh mereka sebelumnya.
"Pergi dan jalani hukuman tingkat B"
"Sebelum hukuman itu selesai,kalian tidak di perbolehkan untuk makan ataupun minum"
"Begitu juga dengan rekan kalian yang lain"
"Setelah sembuh suruh mereka untuk segera melaksakan hukuman itu,mengerti…"ucap Vincent dengan tatapan yang sangat mengintimidasi.
Glek….
"Mengerti tuan"jawab mereka serempak.
"Pergilah…"ujar Vincent sembari mengibas-ngibaskan tangannya sebagai isyarat agar mereka semua segera pergi dari hadapannya.
"Ck…Menyebalkan"gumam Vincent pada diri sendiri.Ia begitu kesal karena lagi-lagi ia kembali gagal untuk menemukan keberadaan pujaan hatinya itu.
Vincent mengusap wajahnya dengan kasar.Baru kali ini merasakan kesulitan seperti sekarang.Padahal dulu ia bisa melakukan apapun dengan mudahnya.
Ceklek….
Vincent langsung menoleh sekilas saat mendengar suara pintu yang terbuka.Ternyata seseorang yang membuka pintu itu adalah Ben.
Ben langsung masuk begitu saja tanpa meminta ijin kepada si pemilik ruangan tersebut.Ia lalu berjalan mendekat ke arah Vincent dan berdiri tepat di hadapan sepupunya yang sama sekali terlihat tidak memperdulikan kedatangannya.
"Vincent,aku meminta ini sebagai seorang saudara dan juga sahabatmu"
"Tolong hentikan tindakanmu ini"ucap Ben dengan penuh permohonan kepada Vincent.
"Tidak mau"jawab Vincent singkat tanpa menoleh ke arah Ben.
Mendengar jawaban dari Vincent,Ben hanya menghela napas panjang.
__ADS_1
"Vincent,sadarlah"
"Wanita yang kau cari adalah orang yang sangat berbahaya"
"Dia pernah hampir membunuhmu"
"Dan sekarang pun kau juga hampir terluka olehnya"
"Untung saja bukan kau yang datang langsung ketempat itu"
"Kalau tidak"Ben menghentikan ucapan.Ia memijat pelipisnya karena merasa pusing setiap kali mengingat kejadian itu.Ia tidak habis pikir mengapa Vincent sangat sering mengalami hal buruk dalam hidupnya.Entah itu tentang pertemanan,tahta ataupun cinta tak pernah sekalipun ada yang berjalan mulus.
"Tapi aku mencintainya"ucap Vincent dengan nada yang lirih.Sangat terdengar jelas dari nada bicaranya bahwa Vincent sangat tulus saat mengucapkannya.
Ben yang mendengar perkataan Vincent menjadi geli sendiri.Dengan nada yang mencemooh ia mengejek sepupunya itu.
"Cih…Cinta kau bilang"
"Sejak kapan orang kejam sepertimu mengerti tentang cinta"
"Kau bahkan tidak bisa membedakan antara cinta atau obsesi"ujar Ben mencemooh Vincent.
"Tidak,kau salah Ben"
"Aku benar-benar mencintainya"
"Bahkan pada Adelia"ucapan Ben membuat raut wajah Vincent langsung berubah merah padam.
"Jangan pernah menyebut nama wanita menjijikan itu lagi"ucap Vincent dengan penuh amarah mendengar Ben menyebut nama seseorang yang paling ia benci.
"Lihatlah…Kau bahkan masih marah saat mendengar namanya"
"Itu menandakan bahwa kau belum bisa lepas dari masalalumu"ucapan Ben membuat Vincent terdiam.Namun bukan berarti ia membenarkan perkataan dari sepupunya itu.
"Vin…"ucapannya langsung di potong oleh Vincent.
"Cukup Ben"
"Aku tidak ingin mendengar ocehanmu lagi"
"Keputusanku sudah bulat"
"Aku akan terus mencari keberadaan wanitaku itu bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun"
"Dan meski aku akan mati ditangannya pun,aku tidak akan pernah menyesal"
__ADS_1
"Karena menurutku…Lebih baik mati karena cinta daripada harus hidup tanpa cinta"ucap Vincent sembari pergi meninggalkan Ben yang terlihat kaget mendengar ucapannya.
"Sebenarnya apa istimewanya wanita itu sampai kau bersikap seperti ini Vin?"tanya Ben kepada Vincent yang terlihat menghentikan langkahnya.Tanpa menoleh ke arah Ben,Vincent lalu berujar.
"Pertanyaan yang sama juga ingin kutanyakan padamu,Ben"
"Sebenarnya hal istimewa apa yang ada pada diri pengacara Jill,sehingga kau rela menjadi pengacara dadakan hanya untuk mendekatinya"ujar Vincent membalik pertanyaan Ben.
Ben langsung terdiam mendengar perkataan Vincent.Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari sepupu sekaligus atasannya itu.
"Ben…Lain kali sebelum kau mencoba menasihatiku"
"Ada baiknya kau berkacalah terlebih dahulu"tambah Vincent lagi membuat Ben semakin merasa malu dan gusar.
Usai mengatakan hal itu,Vincent berlalu begitu saja meninggalkan Ben yang masih terdiam di tempat akibat perkataannya.
Vincent berjalan dengan langkah yang gontai menuruni tangga kediamannya.Daripada ia pusing mendengar ocehan dari Ben,lebih baik ia pergi ke danau besar untuk menjernihkan pikirannya yang sedang kalut itu.Dan siapa tahu ia akan bertemu kembali dengan Kyara jika ia pergi kesana.
Di saat Vincent sedang menuju ke arah pintu kediamannya,ia lalu berpapasan dengan sang kakek yang terlihat sedang santai duduk di kursi malasnya.
"Hei Vin"
"Mau kemana?"tanya Tuan besar Abelano sekadar berbasa-basi kepada sang cucu.
"Mencari istri"jawab Vincent asal tanpa menoleh ke arah sang Kakek yang terlihat tertawa mendengar jawabannya.
"Semoga berhasil"teriak tuan besar Abelano seraya mengacung jempol kanannya ke arah sang cucu.
Vincent mengemudikan laju mobilnya dengan kecepatan sedang.Wajah tampan yang biasanya hanya menampilkan ekspresi datar dan dingin itu kini terlihat sedang bersedih.Matanya terlihat sayu menatap jalanan kota yang sedang ramai di padati oleh mobil-mobil dan juga kendaraan beroda dua.Hal itu memang sudah biasa terjadi di perkotaan di saat jam pulang bekerja.
Vincent membenturkan kepalanya ke kemudi mobil hingga beberapa kali.Perkataan Ben sebelumnya masing terngiang-ngiang di kepalanya.Apakah benar ia belum bisa melupakan masalalunya?Dan apakah benar perasaan yang ia rasakan terhadap Kyara hanyalah obsesi semata?
Vincent merasa bingung,tidak tahu harus melakukan apa.
Terbiasa hidup di temani oleh berbagai macam konflik,darah,dendam dan juga penderitaan,membuat Vincent tidak pernah sekalipun memikirkan tentang perasaan cinta layaknya orang-orang pada umumnya.Ia juga tidak pernah membuka hatinya kepada wanita manapun karena ia terlalu takut untuk di hianati lagi.
Sebisa mungkin ia selalu membuat batas kepada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta.
Namun perasaan yang ia alami sekarang jauh lebih membingungkan.Terutama saat ia menyadari bahwa ia sedang jatuh cinta kepada seorang gadis yang bahkan tidak ia kenal.
Vincent berpikir apakah benteng pertahanan yang selama ini telah berdiri kokoh di hatinya ternyata hanyalah sebuah benteng yang terbuat dari pasir yang bisa runtuh kapan saja di terjang ombak pantai.
Apakah hatinya selemah itu?
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1
Sorry ya guys…Harusnya plotnya lebih panjang dari ini.Tapi author udah gak sanggup buat lanjutin lagi.Mungkin baru bisa di lanjutin besok kalo author gak sibuk.Author juga mau minta minta maaf kalo ternyata ada plot yang kurang pas atau typo pada penulisan.Harap maklum ya…Soalnya Author nulis ini sambil nahan mules.Misalkan para readers merasa kurang nyaman sama bab ini bisa koment di bawah,biar author bisa revisi ulang ceritanya🌹