
Beberapa hari setelah kejadian yang menimpanya,Monica memilih untuk mengurung diri di dalam kamar.Itu ia lakukan karena dirinya terlalu malu untuk keluar dengan wajah yang terbalut perban.
Monica menatap wajahnya di cermin,amarah kembali muncul di hatinya.Ia membanting semua benda yang ada di kamarnya untuk melampiaskan kekesalannya.
"Aakkhh…Kenapa ini terjadi kepadaku?"teriaknya dengan penuh amarah.
"Monica…Tolong kendalikan dirimu"
"Tenanglah…"Deon berusaha menenangkan Monica yang terus mengamuk.
Monica menatap Deon,dengan sinis sambil berujar.
"Heh…Tenang kau bilang"
"Bagaimana aku bisa tenang setelah apa yang terjadi padaku"
"Lihatlah wajahku,aku sudah menjadi wanita buruk rupa"
"Ini semua gara-gara pelayan itu"Monica kembali mengamuk,ia langsung menyalahkan Kyara atas apa yang terjadi padanya.Wajah Deon langsung berubah marah seketika saat mendengar Monica menyalahkan Kyara.
"Apa yang terjadi padamu adalah kesalahanmu sendiri"
"Sudah tahu kakimu sedang terluka tapi kau malah memakai heels"
"Dan sekarang kau malah menyalahkan orang lain atas kecerobohanmu sendiri"
"Apa kau tidak punya otak Monica…"Deon tak habis pikir dengan apa yang barusan Monica katakan, jelas-jelas itu adalah salahnya sendiri,tapi ia malah menyalahkan orang lain.
Monica langsung terdiam.Perkataan Deon memang benar tapi ia menolak untuk menerimanya.
"Kenapa kau membelanya Deon?"
"Istrimu itu aku atau dia"Monica menatap Deon tak percaya,selama ini Deon tak pernah memperlakukannya seperti ini.Tapi sekarang,hanya demi seorang pelayan kecil,Deon berani membentaknya.
"Aku tidak membelanya"
"Aku hanya berbicara fakta"balas Deon membela diri.Monica tertawa sinis,ia ingin protes kepada Deon.Namun belum sempat ia mengutarakan maksudnya Deon lebih dulu menyelanya.
"Sudah cukup Monica"
"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi"Deon mengangkat tangannya di depan Monica,menandakan bahwa ia tak ingin mendengar keluhan apapun darinya,ia lalu beranjak pergi dari kamar tersebut meninggalkan Monica yang terlihat mengepalkan, tangannya.Namun sebelum ia keluar Deon kembali menoleh ke arah Monica sambil berkata.
"Untuk sementara kau harus menghemat pengeluaranmu"
"Perusahaan sedang mengalami kesulitan,jadi mengertilah"
Blamm…
Usai mengatakan itu Deon langsung pergi tanpa memperdulikan Monica yang kembali mengamuk karena perkataannya.
Dan semua yang terjadi tak luput dari penglihatan Kyara yang terlihat tertawa sinis begitu melihat kedua musuhnya saling bertengkar.
"Bibi…"teriak Revan memanggil Kyara.Kyara langsung menoleh ke arah Revan yang terlihat sedang berlari ke arahnya.
__ADS_1
Hap…
Revan langsung memeluk Kyara dengan erat.Kyara terkekeh geli melihat tingkah Revan yang begitu manja kepadanya.
"Ada apa Revan?"
"Kau terlihat senang"Revan hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Kyara.Ia lalu terlihat mengeluarkan selembar kertas di dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Kyara.Wajah Kyara nampak berbinar bahagia melihat isi dalam kertas tersebut.
"Kau menang"ucap Kyara sambil menatap Revan yang terlihat mengangguk.
"Benar Bibi"
"Aku mendapatkan juara pertama lomba melukis bertema keluarga"
"Mereka juga memberi ku piala,lihatlah"ucap Revan dengan bangganya.Ia menunjukan piala keberhasilannya di hadapan Kyara.
"Waahh…Revan memang hebat"
"Apa kau sudah menunjukannya kepada ayahmu"tanya Kyara,namun Revan langsung menggeleng lesu.
"Belum"
"Tadi aku ingin menunjukannya kepada Daddy"
"Tapi Daddy terlihat sangat terburu-buru"
"Sepertinya Daddy sangat sibuk"wajah Revan terlihat sedih.Melihat ekspresi Revan yang sedih membuat Kyara merasa tak tega.
"Tak apa,kita bisa menunjukannya lain kali"
"Lalu ikut bibi ke dapur"
"Bibi akan membuatkan masakan kesukaanmu"wajah Revan yang awalnya sedih langsung berbinar seketika.
"Asiikk…Terima kasih bibi"ucap Revan sambil bertepuk-tepuk gembira.
"Sama-sama"Kyara merasa lega melihat Revan yang bisa kembali tersenyum.Ia sedikit bersyukur karena beberapa hari ini Revan tak pernah bertanya lagi tentang keberadaan Jihan dan itu sangat membantu dirinya.
Di perusahaan Anderson…
"Tuan ada kabar baik"ucap Daniel begitu melihat Deon telah sampai di kantor.
"Ada apa?"tanya Deon kepada asistennya itu.
"Lihat Tuan"Daniel menyerahkan sebuah surat kepada Deon.Deon langsung membaca isi dari surat tersebut,wajahnya langsung berbinar bahagia setelah selesai membacanya.
"Benarkah yang kulihat ini?"tanya Deon memastikan,wajahnya terlihat tidak percaya.
"Benar Tuan"
"Perusahaan kita di undang dalam acara pengangkatan ahli waris keluarga Abelano"
"Ini adalah kesempatan emas bagi kita Tuan"Deon terlihat manggut-manggut.
__ADS_1
"Kau benar Daniel"
"Kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk mencari investor baru bagi perusahaan ini"
"Bayangkan saja berapa banyak orang hebat yang akan menghadiri pesta itu"ucap Deon dengan menggebu-gebu.Ia merasa sangat senang setelah tahu bahwa ia masih memiliki kesempatan untuk mengembalikan kejayaan perusahaannya.Dalam hati ia bersumpah akan menutup mulut orang-orang yang pernah meremehkannya dan membuat mereka tak bisa berkutik lagi.
Begitulah yang ada di benaknya.Bisa di bilang ekspektasinya terlalu berlebihan padahal belum tentu ia akan mendapatkan apa yang ia harapkan itu.Ia terlalu percaya diri.
Di lain sisi…
"Vincent apa kau yakin ingin mengundang perusahaan Anderson di acara pengangkatanmu"
"Mereka hanyalah perusahaan kecil yang bahkan hampir bangkrut"ujar Ben sepupu jauh Vincent dari pihak ayah yang juga merupakan asistennya.
"Percayakan saja padaku"
"Aku tahu apa yang kulakukan"balas Vincent tanpa menoleh ke arah sepupunya itu.Ben hanya berdecak malas.
"Omong-omong apa kau sudah menemukan perempuan itu"tanya Ben kemudian.Vincent terlihat menghentikan pekerjaannya.
"Belum"
"Setiap kali aku mencari informasi tentang dirinya"
"Tak ada satupun wanita yang memiliki ciri-ciri seperti yang aku cari"
"Tapi aku mendapatkan seseorang yang memiliki wajah dan perawakan yang mirip dengannya"Vincent menunjukan sebuah potret seorang wanita di hadapan Ben.Ben memperhatikannya foto itu dengan seksama,keningnya terlihat mengkerut.
"Bukan kah ini istri pertama Deon anderson yang hilang itu?"Vincent mengangguk membenarkan perkataan sepupunya itu.
"Kau benar,perempuan yang kucari memiliki wajah yang sangat mirip dengannya"
"Tapi,perempuan yang kucari memiliki mata berwarna ungu"
"Sedangkan dia berwarna biru"lalu Vincent juga memperlihatkan sebuah artikel mengenai kapan Jihan di nyatakan menghilang.
"Dia menghilang di hari yang sama di saat aku bertemu perempuan itu"
"Kau pasti juga sempat berpikir bahwa mereka bersaudara bukan"Ben terlihat mengangguk.
"Tapi menurut informasi yang kudapat wanita ini hanya memiliki satu saudara"
"Dan itupun sudah meninggal dalam kecelakaan kapal ferri"
"Kalaupun seandainya saudaranya masih hidup ia memiliki mata berwarna merah darah dan bukan ungu"ujar Vincent panjang lebar menjelaskan apa yang ia temukan pada sepupunya itu.
"Jadi alasanmu mengundang perusahaan Anderson karena hal itu"tanya Ben memastikan dugaannya.
"Ya kau benar"
"Tapi bukan hanya itu alasanku untuk mengundang mereka"Ben mengangkat sebelah alisnya.
"Lalu…Apa alasan lainnya"tanya Ben penasaran.Vincent menoleh ke arah sepupunya itu lalu berkata.
__ADS_1
"Aku mendapat firasat bahwa kami berdua akan bertemu di sana"ucap Vincent sambil tersenyum,ia lalu kembali menatap foto Jihan dengan ekspresi mendamba layaknya seorang kekasih yang telah lama berpisah.Sedangkan Ben hanya menatap sepupunya itu dengan wajah datar.
'Dasar aneh'gumamnya dalam hati, lalu kembali mengerjakan tugasnyanya tanpa mempedulikan tingkah Vincent.