
Sedangkan di rumah sakit Monica sedang di rundung kegelisahan.Kejadian yang menimpanya beberapa hari lalu sungguh mampu membuat ia trauma.Mentalnya jadi sedikit terganggu karna hal itu,hingga sebisa mungkin Monica mencoba menahan emosinya agar tetap stabil.Jangan sampai ia kehilangan kendali yang akan berakibat fatal dan membuat dirinya sendiri rugi.Masih terekam jelas di ingatannya tentang ancaman Deon kepadanya beberapa hari yang lalu.
Dua hari yang lalu…
Monica meremas tangannya kesal akan perlakuan Deon kepadanya.Bagaimana bisa suaminya itu lebih mementingkan wanita lain di bandingkan ia yang merupakan istrinya.Harusnya ia lebih dulu menyingkirkan kyara sebelum gadis itu mampu menarik perhatian Deon.Terlebih wajahnya itu sangat mirip dengan Jihan.Ia yakin Deon masih mencintai Jihan, mengingat pria itu selalu membandingkan dirinya dengan wanita yang pernah menjadi sahabatnya itu.Bisa saja Deon menjadikan Kyara sebagai pelampiasan atas kepergian Jihan.
Tidak.Ia tak bisa membiarkan hal itu terjadi.Ia sudah mengorbankan banyak hal untuk bisa sampai di puncak seperti sekarang.Jangan sampai karena kehadiran Kyara membuat ia harus kembali kehilangan semuanya.
Ceklek…
Pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Monica.Terlihat Deon dan Revan yang berada dalam gendongannya masuk ke dalam ruang rawat Monica.
Monica memalingkan wajahnya ke arah lain.Ia tak ingin melihat wajah Revan yang selalu membuat dirinya teringat akan Jihan.Meski wajahnya tak ada kemiripan sama sekali dengan Jihan,namun Monica sadar bahwa Revan memiliki warna mata yang sama dengan mendiang sahabatnya itu.Namun karena ia juga memiliki mata berwarna biru, tak ada yang menyadari kemiripan mata keduanya,kecuali dirinya.
Revan turun dari gendongan Deon lalu berjalan mendekat ke arah ranjang Monica.Monica yang menyadari hal itu terpaksa menoleh ke arah Revan.Ia mencoba tersenyum semanis mungkin ke arah bocah itu.Berbeda dengan Monica,Revan jusrtu tak memperlihatkan ekspresi apa-apa.
"Are you okay?"tanya Revan dengan nada yang sama datarnya dengan wajahnya.Ia tak mengucapkan embel-embel apapun kepada Monica,seakan orang yang di duga ibunya itu bukanlah orang yang harus ia panggil dengan sebutan Mommy.
Dengan senyum yang masih sama Monica menjawab pertanyaan Revan.
"Ya,Mommy baik-baik saja"
"Kau tak perlu khawatir"Revan yang mendengar jawaban itu hanya ber oh ria.
"Oh…Baguslah"ucap Revan sembari berbalik lalu berjalan kembali ke arah Deon yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi keduanya.Sedangkan Monica ia hanya bisa mengepalkan tangannya di balik selimut setelah mendengar perkataan Revan barusan.
"Daddy,aku sudah melakukan apa yang Daddy suruh"
"Apa aku sudah boleh pulang sekarang?"
"Aku lelah"ujar Revan begitu sampai di hadapan Deon.Deon nampak tersenyum kecut mendengar perkataan putranya itu.Padahal ia sempat mengira Revan akan sedikit luluh kepada Monica.Namun sepertinya putranya itu benar-benar tidak bisa dekat dengan Monica.
Deon menghela napas sejenak.
"Baiklah…Kau tunggulah di luar"
"Daddy ingin berbicara sebentar dengan Mommymu"Revan mengangguk patuh lalu ia keluar dari ruangan tersebut kemudian duduk di ruang tunggu seperti perkataan Deon.
Tatapan Deon beralih lalu ke Monica.
"Kau lihat itu"
__ADS_1
"Jangankan mencoba dekat denganmu"
"Menanyai kabarmu saja ia enggan"
"Itu semua karena kau tak pernah memperhatikannya"
"Dari Revan kecil hingga sekarang kau tidak pernah mencoba untuk dekat dengannya"Deon menjeda ucapannya.Ia lalu mengambil selembar kertas di balik jasnya kemudian menunjukkannya ke arah Monica.
"Dan kau lihat ini"
"Aku harus membayar biaya rumah sakitmu lagi"
"Kau sendiri tahu,keuangan kita sedang tidak stabil"
"Dan kau kembali berbuat masalah"Deon melempar kertas tersebut ke arah Monica.Monica hanya bisa diam membiarkan Deon memarahi dirinya.Meski sebenarnya ia tak terima di marahi seperti itu,namun ia tak memiliki cara lain selain diam.
"Dan perbuatanmu kepada Kyara sangat keterlaluan"
"Mengapa kau menyiksa gadis itu"
"Apa kesalahan yang ia lakukan hingga kau sampai memukulinya seperti itu"
"Jika saja aku tidak datang tepat waktu,gadis itu pasti sudah tewas di tanganmu"
"Setelah ini aku tak tahu lagi apa Kyara akan menuntutmu atau tidak"
"Jika sampai itu terjadi,maaf saja Monica"
"Aku tidak akan membantumu"Deon mengangkat tangannya menandakan bahwa ia memang tak akan ikut campur.
Monica yang mendengar hal itu langsung menatap Deon dengan ekspresi terkejut.
"Tidak Deon,jangan katakan hal itu"
"Bagaimana bisa kau lepas tangan begitu saja membiarkanku untuk masuk penjara"
"Meski kau tak mencintai,tapi aku tetap istrimu"
"Heh…Istri?"
"Selama ini aku tak pernah menganggapmu istriku"
__ADS_1
"Hanya jihan satu-satunya istri bagiku"Deon berkata dengan nada sinis.
Monica tersenyum miris,ternyata dugaannya selama ini benar.Deon tak pernah menganggap dirinya sebagai seorang istri melainkan hanya sebatas itu kandung Revan.Jika saja Deon tahu ia bukanlah ibu kandung Revan,sudah pasti Deon akan mengusirnya.Namun bisa saja Deon mengusirnya sekarang mengingat ia tidak dekat sama sekali dengan Revan di tambah banyaknya masalah yang ia buat,bisa menjadikan alasan bagi Deon untuk mencampakannya.Ia menyesal mengapa dulu tak pernah mencoba dekat dengan Revan.
Ya.Monica terlalu percaya diri dengan rencananya hingga ia tak menyadari bahwa hal yang ia anggap tak perlu menjadi kesalahan fatal baginya.Dan untuk sekarang tak ada cara lain selain ia harus mengambil simpati dari Deon.
"Maafkan aku"
"Aku tak bermaksud membuat masalah untukmu"
"Aku hanya…"ucapannya terpotong oleh Deon.
"Hanya apa?"
"Hanya membuntuti Kyara karena kau masih mencurigainya"
"Apa kau pikir aku tak tahu apa yang kau lakukan"Monica kembali terkejut.Ia tak menyangka sama sekali ternyata Deon mengetahui apa yang ia lakukan.
"Kau itu buta atau bodoh karena tak bisa membaca surat informasi yang kuberikan padamu waktu itu, Monica"
"Di sana jelas-jelas tertulis data-data tentang Kyara"
"Apa kau pikir data yang kutemukan itu palsu hingga kau tak mau mempercayainya"Deon mendelik tajam ke arah Monica.Monica hanya bisa terdiam.Ia tak tahu harus berkata apalagi.
Deon mendekat ke arah Monica lalu mencengkeram dagu wanita yang berstatus istrinya itu dengan sangat kuat.
"Jangan membuatku menyesal karena lebih memilih dirimu di banding Jihan"
"Jika sampai kau berbuat masalah lagi,maka aku akan benar-benar menghabisimu"
Deg
Monica terpaku mendengar ancaman Deon.Ini adalah kesekian kalinya ia mendengar ancaman itu.Namun kali ini ia merasa Deon benar-benar akan menghabisinya jika ia kembali berbuat masalah.
Usai mengatakan hal itu Deon langsung pergi begitu saja meninggalkan Monica yang terlihat syok karena perkataannya.
Tubuh Monica terlihat bergetar hebat.Monica merasa jantungnya berdetak sangat keras seperti ingin meledak.Ancaman Deon membuat traumanya kambuh kembali.Bayangan sosok bertudung hitam kembali muncul di benaknya dan langsung membuat Monica berteriak kencang hingga membuat para suster yang berada di depan pintu ruangannya langsung berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa.
Para suster yang terdiri dari tiga orang itu mencoba menenangkan Monica,namun bukannya tenang Monica justru semakin menggila.Ia bahkan sampai mendorong salah satu suster karena mengira bahwa suster itu adalah sosok bertudung hitam.Karena Monica tak kunjung tenang,akhirnya salah satu dari para suster itu menyuntikkan obat bius kepadanya.
Perlahan-lahan efek obat bius itu mulai beraksi.Monica kembali tenang lalu tertidur.
__ADS_1
Para suster yang menanganginya terlihat saling memandang.Seakan mengerti,salah satu di antara mereka terlihat mengambil suntikan lain lalu kembali menyuntikkannya kepada Monica.Merasa tugas mereka telah selesai,ketiganya lalu meninggalkan ruang rawat tersebut.