
Mentari bersinar dengan cerah di pagi hari, secerah senyuman seorang anak kecil yang terlihat sedang duduk di halaman depan rumahnya.Anak kecil yang tak lain adalah Revan itu sesekali terlihat berjalan kecil menuju gerbang.Ia menoleh dengan sedikit gelisah menatap keluar gerbang berharap seseorang yang ia tunggu segera muncul.Dan ya…Revan sedang menunggu kedatangan Kyara yang di ketahui akan kembali hari ini.
Para pelayan yang di tugaskan untuk menjaganya terlihat membujuk Revan beberapa kali untuk menunggu Kyara di dalam rumah saja.Namun Revan tetap kekeh ingin menunggu Kyara di depan,ia khawatir Kyara akan di culik orang jahat jika Revan tidak menunggunya di sana.Entah dari mana ia mendapat pemikiran seperti itu.
Para pelayan itu hanya bisa menggeleng pasrah.Jika Revan sudah berbicara seperti itu maka tak ada cara lagi untuk membujuknya selain menuruti perkataan bocah imut itu.
Tak berselang lama,sebuah mobil sedan berwarna silver memasuki gerbang rumah.Revan langsung tersenyum senang,ia mengira Kyaralah yang datang.Namun begitu ia melihat siapa yang keluar dari dalam mobil,senyumannya terlihat menghilang berganti dengan raut wajah cemberut.
"Revan sayang…Apa kau sedang menunggu kedatangan Mommy"
"Waah…Mommy sangat tersanjung"ucap Monica seraya mencubit pipi Revan dengan gemas.Tentu saja itu hanyalah kepura-puraan yang di lakukan Monica untuk menarik perhatian Revan.
Revan langsung memalingkan wajahnya menghindari tatapan Monica.
"Siapa yang bilang begitu"
"Aku ini sedang menunggu bibi Kyara tau"ucap Revan yang terlihat kesal karena Monica mencubit pipinya.Lagi-lagi Revan tak mau menyebut Monica dengan sebutan Mommy.
Para pelayan yang mendengar perkataan polos Revan mencoba menahan tawa mereka.Sedangkan Monica yang mendengar itu tentu saja merasa sangat kesal karena merasa sudah di permalukan oleh Revan.
"Huuh…"Ia melengos pergi dengan kursi rodanya masuk ke dalam rumah,ia terdengar menggerutu kesal.Seandainya saja tak ada pelayan di sana mungkin Monica sudah menjewer telinga bocah itu.
Revan kembali melirik ke depan halaman dengan raut wajah yang sedih.Ia berpikir Kyara tidak akan kembali lagi ke rumahnya.
"Huaa…Bibi tidak datang"
"Apa aku sangat nakal sampai bibi juga pergi meninggalkanku"Revan langsung menangis.Ia berjongkok sambil menelungkupkan wajahnya di kedua lipatan tangannya.Para pelayan mencoba menenangkan Revan.Namun bukannya tenang tangis bocah itu justru semakin nyaring hingga membuat para pelayan itu gelagapan tak tahu harus berbuat apa.
Lalu dari arah gerbang terlihat seorang wanita yang tak lain adalah Kyara berjalan menghampiri Revan dengan langkah perlahan.Ia mengisyaratkan para pelayan untuk tidak memberitahukan kedatangannya.
Kyara terlihat berjongkok di hadapan Revan yang masih menangis.
"Aku anak nakal"
"Aku anak nakal"terdengar gumaman kecil di mulut bocah itu menyalahkan dirinya sendiri.
Kyara menyentuh kepala Revan lalu mengelus rambut anak itu dengan lembut seraya berkata.
"Benar…Revan memang nakal"
"Revan tidak mau mendengar kata-kata bibi untuk tidak menangis"Revan yang mendengar suara yang begitu ia kenali langsung mendongakkan kepalanya.Di depannya kini terlihat wajah yang begitu di rindukan olehnya selama beberapa hari ini sedang menatapnya dengan lembut.
"BIBI…"Revan langsung melompat memeluk Kyara hingga membuat gadis itu terdorong ke belakang dan jatuh.Para pelayan yang melihat itu mencoba menolong Kyara.Namun Kyara mengangkat tangannya mengisyaratkan kepada mereka bahwa ia baik-baik saja.
__ADS_1
"BIBI…Aku kira Bibi tidak akan datang"ucap Revan di sela-sela tangisannya.
Kyara begitu terenyuh mendengar perkataan Revan.Baru pertama kali ia mendengar orang lain begitu menunggu kedatangannya selain keduanya sahabatnya.
"Tentu saja Bibi datang"
"Bukankah Bibi sudah berjanji akan terus menemanimu"
"Apa kau mengira Bibi berbohong"ucap Kyara berpura-pura sedih.
"Tidak…Tidak…"
"Aku percaya Bibi akan kembali"
"Bibi jangan sedih"
"Aku janji tidak akan meragukan Bibi lagi"Revan terlihat gelagapan membujuk Kyara yang terlihat bersedih.
Kyara mencoba menahan tawanya melihat ekspresi Revan yang terlihat sangat lucu menurutnya.
"Baiklah,Bibi tidak akan sedih"
"Ayo kita ke dalam,Bibi membawakan oleh-oleh untukmu"ajak Kyara kepada Revan yang terlihat berbinar.Ia sudah melupakan kesedihannya dalam sekejap setelah mendengar kata oleh-oleh dari Kyara.
Interaksi dari keduanya tak luput dari penglihatan Monica dan Deon.Deon yang sedari tadi memang sudah memperhatikan Revan dari atas balkon, diam-diam terlihat tersenyum sambil menatap Kyara yang terlihat cantik menurutnya meski sedang dalam keadaan menyamar.Sedangkan Monica terlihat mendengus kesal menatap keduanya yang terlihat begitu akrab,Monica merasa terancam melihat kedekatan antara Revan dan Kysra.Ia berencana untuk memisahkan keduanya sebelum Deon semakin tertarik kepada Kyara.Monica juga berencana untuk menyelidiki tentang kejadian yang menimpanya.Rasanya aneh saja saai ia mengetahui ternyata dirinya mengalami kecelakaan.Padahal sangat jelas hal yang ia alami bukankah kecelakaan,melainkan penyiksaan .Namun sebelum melakukan hal itu,ada hal yang harus ia singkirkan terlebih dahulu.Yaitu Kyara.
"Selamat pagi Nyonya besar"sapaan Kyara membuyarkan Monica dari lamunannya.
"Ck…Apa maumu"bukannya menjawab sapaan Kyara,Monica justru balik bertanya dengan ketus.
"Hmm…Aku hanya ingin memastikan"
"Apa nyonya tidak ingin mengucapkan permintaan maaf kepadaku,karena sudah menganiayaku tempo hari"ucap Kyara sambil tersenyum menyebalkan.Saat ini hanya ada mereka berdua,karena Revan telah berangkat sekolah bersama Deon beberapa menit yang lalu.Sedangkan para pelayan sedang sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.Jadi,Kyara bisa sesuka hati berbicara dengan Monica tanpa takut di curigai oleh orang lain.
"Heh…Untuk apa aku meminta maaf padamu"
"Kau itu hanya pelayan rendahan"
"Lagi pula aku tak merasa hal yang kulakukan itu salah"
"Kau memang pantas di perlakukan seperti itu"ucapnya sambil tersenyum sinis.Entah seperti apa jalan pikirannya hingga ia berani berkata seperti itu.
"Astaga logika macam apa itu"
__ADS_1
"Baru kali ini aku bertemu dengan manusia berotak sempit seperti nyonya"balas Kyara tanpa rasa takut sama sekali.
Mata Monica terlihat melotot mendengar perkataan Kyara yang menghinanya.
"Beraninya kau menghinaku"
"Apa kau ingin ku pecah haah…"Monica langsung melayangkan ancaman kepada Kyara.Bukannya merasa takut Kyara justru semakin berani.
"Silahkan saja jika ingin memecatku"
"Tapi sebelum itu,aku ingin bermain-main dulu bersama nyonya"Kyara mendorong kursi roda Monica dengan sangat kencang menuju kolam renang.
"Aaaaa…"Monica langsung berteriak berteriak histeris.Ia menutup matanya begitu melihat dirinya akan tercebur ke dalam kolam renang.Namun sebelum itu terjadi,Kyara lebih dulu menghentikan laju kursi roda Monica.
Monica yang sadar bahwa dirinya tak jadi tercebur langsung menghela napas lega.Ia lalu menoleh ke arah Kyara yang terlihat tersenyum ke arahnya.
"Apa kau gila…"
"Kau mau membunuhku haah…"Monica kembali melotot kepada Kyara.
"Tidak,aku tak berniat membunuhmu"
"Tapi idemu itu bagus juga"Kyara tersenyum menyeringai.Monica dapat merasakan tubuhnya bergidik seketika melihat senyum Kyara.
"Aku penasaran"
"Biasanya seorang penyelam profesional bisa menahan napas selama 3 menit di dalam air tanpa alat bantu"
"Lalu,berapa lama orang biasa seperti nyonya bisa menahan napas di dalam air"
"30 detik atau 1 menit"Kyara membiarkan tangannya menyentuh air kolam yang terasa dingin.Ia lalu menyipratkan air ke tubuh Monica hingga membuat wanita itu tersentak kaget.
"Ya ampun nyonya"
"Kau tidak perlu tegang begitu"Kyara memiringkan kepalanya menatap Monica dengan senyum yang sangat mengerikan.
"A-apa yang k-kau inginkan"ucap Monica dengan terbata-bata.Ia tak berani menatap ke arah Kyara.
"Kalau aku bilang,aku menginginkan tuan Deon"
"Apa nyonya akan memberikannya"ucap Kyara dengan senyum menyebalkannya.
"A-aku…"Monica tak tahu harus menjawab apa.Jika Monica berkata "iya"bukankah sama saja dengan ia memberikan seluruh kerja keras yang selama ini sudah susah payah ia capai.Namun jika ia bilang"tidak" apakah Kyara akan menghabisinya.
__ADS_1
Monica mencoba berpikir keras.Lalu sebuah ide muncul di otaknya untuk memutar balikkan keadaan sekarang.