Transmigrasi Gadis Pembunuh

Transmigrasi Gadis Pembunuh
eps 09.Goncangan


__ADS_3

"Bibi,kapan kita akan mencari aunty Jihan?"tanya Revan kepada Kyara yang sedang menyuapinya.Revan sengaja memanggil Kyara dengan sebutan bibi karena menurutnya sebutan Nanni itu terdengar sangat menyebalkan di telinganya.Dan lagi tak ada yang melarangnya juga.


"Bagaimana kalau sehabis makan nanti kita pergi mencarinya"mendengar itu Revan langsung mengangguk dengan semangat.


"Benarkah?"


"Tapi…Di mana kita akan mencarinya bibi?"raut wajah Revan berubah serius dan itu terlihat sangat menggemaskan untuk ukuran anak seusianya.


"Hmm…Bagaimana kalau kita mencarinya di karnaval"


"Kita bisa mencarinya sambil bermain"usul Kyara kepada Revan dan mendapat sambutan baik dari bocah imut tersebut.


"Tapi kita harus meminta izin terlebih dulu"sambung Kyara.Revan langsung mengangguk semangat.


"Tentu saja"


"Ayo bibi kita pergi ke kantor Daddy sekarang"ajak Revan tak sabaran ,ia langsung melompat begitu saja dari tempat duduknya,meskipun tempatnya tak terlalu tinggi tetap saja bisa membuat orang khawatir.


"Eh…Bukankah kita hanya meminta ijin,kenapa harus pergi ke kantor?"


"Kita bisa menelpon lewat rumah?"


"Huuh…Bibi kalau kita meminta izin lewat telpon maka Daddy tidak akan pernah mengijinkan kita pergi"


"Ayolah…Bibi percayakan saja semuanya kepadaku"Revan langsung berlari setelah mengatakannya,ia sudah tak sabar ingin segera pergi mencari Jihan.Kyara tersenyum tipis melihat antusiame dari anaknya itu.Ralat,maksudnya anak si pemilik tubuh.


Revan yang terlalu bersemangat,tak sengaja kakinya tersandung saat ingin turun dari tangga.Dengan sigap Kyara langsung menangkap Revan yang hampir saja terjatuh.


"Revan kau baik-baik saja?"ucap Kyara dengan raut wajah khawatir.Bahkan saking khawatirnya ia spontan memeluk Revan dengan sangat erat.

__ADS_1


"Bib…Bi…Aku tidak bisa bernapas"ucap Revan dengan nalas yang tersengal-sengal.Mendengar itu Kyara langsung melepaskan pelukannya.


"Ma…Maafkan Bibi"


"Bibi hanya khawatir kepadamu"Kyara yang tersadar akan perbuatannya segera meminta maaf kepada Revan.Ia pun merasa heran mengapa dirinya merasa sangat khawatir kepada Revan padahal sebelumnya ia tak memiliki perasaan itu,ia juga tak pernah menganggap Revan sebagai anaknya karena bagaimanapun juga jiwanya adalah seorang Kyara dan bukan Jihan.


"Bibi"Kyara yang sempat melamun langsung menoleh seketika ke arah Revan.


"Iya nak"Kyara semakin bingung.Padahal bukan itu yang akan ia katakan.Namun kebingungannya itu tak bertahan lama saat ia menyadari satu hal.


"Bibi ayo kita pergi"ajak Revan pada Kyara yang masih terlihat melamun.


"Eh…Iya,ayo kita pergi"akhirnya mereka berdua pun pergi ke perusahan Anderson untuk meminta ijin membawa Revan pergi ke karnaval.Namun bukan itu yang menjadi tujuan utama Kyara,melainkan ia ingin melihat langsung ekspresi dari Deon atas hadiah yang ia berikan tadi malam.


Sesampainya di perusahaan Anderson mereka berdua langsung masuk begitu saja ke dalam karena mereka sudah tahu bahwa Revan adalah anak dari pemilik perusahaan tersebut.Di saat mereka berjalan melewati para karyawan tak sedikit dari mereka langsung berbisik-bisik ketika melihat Revan.Banyak yang merasa kasihan kepada anak itu karena harus mengalami hal yang sangat mengerikan.Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengutuk Jihan karena telah meracuni anak semanis Revan.Jika orang biasa mungkin tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka katakan.Namun berbeda dengan Kyara yang merupakan seorang ahli,suara yang di anggap sebagai bisikan itu dapat terdengar jelas di telinganya.


Dalam hati ia tertawa penuh ejekan kepada orang-orang itu.


"Tuan muda"seorang pria nampak tergopoh-gopoh menghampiri Revan.Dalam ingatan Jihan pria itu merupakan asisten kepercayaan dari Deon.Kyara menatap orang itu dengan tatapan penuh arti lalu sebuah seringai tipis terukir di bibirnya.


"Tuan muda sedang apa di sini?"tanya pria itu sekadar basa-basi padahal ia tahu maksud dari Revan datang kesini untuk bertemu Deon.


Revan hanya melewati pria itu tanpa menoleh ataupun menjawab pertanyaan darinya.Dan itu membuat pria yang di ketahui bernama Daniel itu geram,namun ia tak bisa melakukan apa-apa selain diam meski hatinya sangat marah kepada bocah itu.


Kyara mengikuti langkah Revan dari belakang,ia lalu sedikit membungkuk ke arah Daniel sebagai bentuk penghormatan.Meski begitu, dalam hatinya Kyara merasa sangat terhibur dengan perlakuan Revan kepada Daniel,rasanya ia ingin tertawa kencang saat melihat wajah Daniel yang berubah merah karena menahan amarah.


Revan meraih gagang pintu ruangan Deon dan mencoba membukanya,tapi sayang ternyata pintunya di kunci dari dalam.


"Tuan muda"

__ADS_1


"Tuan Deon sedang sibuk sekarang jadi…"ucapannya di potong oleh Revan.


"Aku tahu…Kau tak perlu memberitahuku"


"Aku ini tidak bodoh"ucap Revan dengan nada judes,sangat tidak cocok dengan wajahnya yang imut itu.Daniel mengepalkan tangannya mendengar jawaban dari Revan,hampir saja ia kehilangan kesabarannya dan menampar bocah itu karena sudah berani berbicara tidak sopan kepadanya.Sedangkan Kyara hanya memperhatikan perseteruan dari mereka berdua dengan tenang,ia tak ingin ikut campur.Bukan karena ia tak peduli kepada Revan,melainkan ia sadar bahwa Revan cukup mampu untuk mengatasi hal itu sendiri.


Daniel memilih untuk pergi daripada harus kelihangan kendali setiap kali ia berhadapan dengan Revan.Revan menatap kepergian Daniel dengan raut wajah datar dan terkesan tidak peduli.


Kyara dan Revan memutuskan untuk menunggu di ruangan lain yang berada tepat di samping ruangan tersebut.Lalu Kyara memasang sebuah alat penyadap suara di telinganya.Alat itu berfungsi menangkap suara dari jarak yang sangat jauh dan alat itu juga bisa menembus dinding kedap suara.Dengan alat itu Kyara bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang terjadi ruang sebelah.


"APA-APAAN INI"


"APA KAU MENCOBA MENJEBAKKU DEON"terdengar suara teriakan dari ruang sebelah.Sepertinya itu adalah suara dari salah satu investor perusahaan Anderson.


"Tuan Lim ini hanyalah sebuah kesalahan kecil"


"Aku akan meminta bawahan ku untuk segera memperbaikinya"Deon mencoba membujuk investornya itu,namun bukannya senang orang yang di panggil tuan Lim itu semakin marah.


"KESALAHAN KECIL KATAMU?"


"Apakah kesalahan bisa terjadi berulang-ulang?"


"Di berkas lain pun juga tertulis nominal yang sama"


"Ini bukan kesalahan kecil melainkan kau mencoba menipuku"


"Tuan Lim dengar…"


"Sudah cukup"Tuan Lim mengangkat tangannya di depan Deon sebagai isyarat dia tak ingin mendengar alasan apapun lagi.

__ADS_1


"Mulai sekarang aku memutus hubungan kontrak denganmu tuan Deon"


"Dan aku menarik semua saham yang ku tanam di perusahaan Anderson sekarang juga"ucapnya mutlak tanpa bisa di bantah,ia lalu berjalan pergi di ikuti oleh sekretarisnya tanpa memperdulikan permohonan dari Deon.


__ADS_2