
Dua hari telah berlalu semenjak kejadian di kediaman Abelano.Namun berita mengenai kejadian tempo hari masih begitu lekat di benak orang-orang.Banyak dari mereka menuntut polisi agar segera memenjarakan Monica atas tindakannya yang sudah sangat keterlaluan.
Para polisipun masih melakukan investigasi tentang kasus yang sedang terjadi.Meski mereka sudah memiliki bukti untuk memenjarakan Monica,namun karena kondisi tersangka yang sedang mengalami kritis,membuat para polisi harus menunda penangkapan.Sedangkan Deon,pria itu hanya di denda atas tindakannya yang sudah menganiaya Monica.
Orang-orang yang mendengar keputusan itu,tentu saja merasa geram.Mereka berpikir seharusnya Deon juga di tangkap,karena pria itu juga di duga telah melakukan kdrt kepada Jihan karena telah di tuduh meracuni Revan.Namun karena tidak adanya laporan resmi dari pihak yang bersangkutan,maka para polisi tidak bisa menindak Deon begitu saja.
Pria itu akhirnya di perbolehkan pulang oleh kepolisian setelah sebelumnya Deon memberi kesaksian dan juga membayar denda yang di sebutkan.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Anderson,pria bersurai merah itu terlihat hanya melamun.Sesekali ia terdengar bergumam menyebut nama Jihan.Penampilannya kini pun sudah jauh dari penampilannya yang biasa bersih dan juga rapi.Rambutnya terlihat berantakan,wajahnya terlihat sangat kusam dan berminyak.Bahkan jas biru yang ia pakai saat ke pesta pun sudah tidak ada di tubuhnya dan hanya menyisakan kemeja putih serta celana panjang.Sepatu pantofel yang sebelumnya ia kenakan pun hanya tersisa sebelahnya saja.Mungkin sepatunya terlepas saat ia menghajar Monica malam itu.
Sesampainya di kediaman Anderson,Deon langsung di hadang oleh wartawan yang telah menunggu kedatangannya.Pertanyaan demi pertanyaan mereka layangkan kepada Deon,namun pria itu tidak bersuara sedikitpun dan memilih untuk membungkam mulutnya.
Dengan bantuan dari para penjaga akhirnya Deon berhasil masuk ke kediamannya. Setelah itu ia langsung pergi menuju ruang tengah dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.Tanpa berniat membersihkan tubuhnya yang kotor,Deon langsung mengambil remote tv dan menyalakan siaran berita.
Deon terus memperhatikan siaran berita yang menampilkan cerita tentang kejadian tempo hari dengan raut wajah yang tenang seakan berita itu bukanlah berita mengenai dirinya.
Walaupun begitu,perasaan khawatir dan cemas akan nasib kedepannya tetap terlihat dari sorot mata dan tangannya yang sedikit bergetar.
"AAAARRRRGGGHHH…!!!"pada akhirnya Deon sudah tidak mampu lagi untuk membendung emosinya.Ia langsung melempar remote yang semula berada di tangannya ke arah tv yang masih menyala.
PRAANG….!!!
Suara pecahan kaca yang berasal dari layar tv, serta teriakan Deon langsung membuat semua orang yang berada di kediaman itu berbondong-bondong untuk menghampiri asal suara itu.
Para pelayan yang melihat bahwa Deon yang menjadi penyebab kebisingan itu,hanya bisa diam memperhatikan tuan mereka yang terlihat mengamuk dan menghancurkan barang-barang di sekelilingnya.Selain karena takut,alasan mereka membiarkan Deon menghancurkan barang-barang itu karena mereka sudah tidak peduli lagi.Karena setelah Deon berhenti mengamuk mereka sudah memutuskan untuk berhenti bekerja di sana.
Mereka berpikir untuk apa mereka masih bertahan di sana saat kehancuran keluarga Anderson sudah di depan mata.Lagi pula mereka juga sudah cukup lelah hati karena terus bersabar menghadapi sikap Monica yang semena-mena kepada mereka sebelumnya.
__ADS_1
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Kyara sedang membereskan barang-barangnya dan juga barang milik Revan dan memasukkannya ke dalam tas.Hari ini ia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter karena kondisinya yang sudah membaik.
Setelah selesai,Kyara lalu mengambil ponselnya dan mengetik beberapa kata kemudian mengirimnya kepada seseorang.
Ceklek….
Kyara langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka,terlihat Revan yang memasuki ruang rawatnya dengan senyum yang mengembang.
"Bibi…Akhirnya kita bisa pulang juga"ucap Revan sembari memeluk Kyara dengan manja.
"Iya"
"Bibi juga merasa sedikit lega"
"Karena akhirnya bibi tidak perlu lagi memakan masakan rumah sakit"ucap Kyara jujur dan di balas anggukan oleh Revan.Revan dapat mengerti perasaan Kyara saat harus menyantap makanan rumah sakit yang menurutnya memiliki rasa yang sangat hambar.
"Ayo kita keluar sekarang"ajak Kyara kepada Revan.
"Ayo"jawab Revan sambil melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Kyara keluar dari ruangan tersebut.
Kyara dan Revan berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit dengan bergandengan tangan.Sesekali mereka terlihat tertawa riang dan saling melempar candaan.Orang-orang di sekitar yang melihat mereka mungkin akan mengira bahwa mereka adalah ibu dan anak.Walaupun perkiraan mereka tidak salah,namun dengan kondisi Kyara yang seperti sekarang,status itu belum bisa di sematkan kepada dirinya.
Keduanya pun menghentikan langkah mereka di depan pintu lift.Sembari menunggu pintu lift terbuka,kedua terlihat kembali berbincang ringan.Di tengah-tengah perbincangan mereka,tiba-tiba Kyara merasakan sesuatu yang aneh.Kyara lalu menoleh ke arah samping kanannya tepat kesebuah ruangan.Ia memicingkan matanya ke arah lantai depan ruangan itu, di mana sebuah bayangan seseorang terlihat berjalan menjauh dengan langkah yang terburu-buru.Mungkin orang biasa tidak akan menyadari keanehan itu dan menanggap bahwa ia mungkin adalah bayangan perawat atau dokter yang sedang bertugas.Namun beda halnya dengan Kyara yang sudah sangat terlatih di bidang seperti itu.Ia bisa mengenali gerak-gerik mencurigakan seseorang hanya dari bayangannya saja.Dan Kyara dapat memastikan bahwa bayangan itu bukanlah milik seorang dokter atau pun perawat.
Kyara terus memperhatikan bayangan itu hingga lenyap dari pandangannya.Kyara terlihat menyunggingkan seringai tipis,sekarang Kyara sudah tahu harus melakukan apa untuk rencana selanjutnya.
__ADS_1
Sesampainya di daerah kediaman Anderson Kyara langsung menghentikan taksi yang ia tumpangi di depan sebuah gang yang sempit.Menurut perkiraannya,sudah pasti di depan gerbang kediaman Anderson sedang di penuhi oleh wartawan dan awak media.
Setelah selesai membayar,Kyara lalu mengajak Revan untuk keluar dari mobil.
"Bibi,mengapa kita berhenti di sini?"tanya Revan bingung.
"Hehe…Uang bibi kurang untuk membayar taksi"
"Tapi Revan jangan khawatir"
"Jika Revan lelah,bibi akan menggendongmu sampai rumah"ujar Kyara memberi alasan kepada Revan.
"Tidak bibi"
"Aku bisa jalan sendiri"
"Aku ini kan anak laki-laki yang kuat"ujar Revan sambil mengangkat kedua lengannya keatas bak seorang binaragawan.
"Iya…Iya,Revan memang kuat"Kyara hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah Revan.Setelah itu keduanya pun langsung berjalan pulang lewat gang sempit itu.
Sekitar dua puluh menit kemudian,mereka berdua pun akhinya sampai ke gerbang belakang kediaman Anderson.Kyara lalu menggeser sebuah tembok yang merupakan jalan rahasia untuk masuk ke dalam.Kyara bergerak sepelan mungkin agar tidak membangunkan Revan yang tertidur di gendongannya.Pada akhirnya bocah imut pun tumbang juga di tengah-tengan perjalanan.
Kyara lalu berjalan masuk ke arah kamar Revan dan merebahkan bocah imut itu ke tempat tidur.Ia mengusap pucuk kepala Revan dengan sangat lembut kemudian mengecup kening bocah imut itu.
Setelah mengantar Revan ke kamar,Kyara lalu berjalan pergi ke kamarnya sendiri.Di sana Kyara terlihat sedang menulis sesuatu pada dua buah kertas yang ia tujukan untuk Revan dan juga Deon.
Setelah selesai Kyara lalu kembali ke kamar Revan dengan membawa kedua surat itu dan meletakkan salah satunya di atas meja belajar Revan.Sebelum ia keluar dari kamar itu,Kyara menoleh ke arah Revan yang terlihat tertidur pulas sambil memeluk guling kesayangannya.
__ADS_1
"Maaf"hanya kata itu yang bisa Kyara ucapkan untuk Revan saat ini.Karena ia tahu bahwa apa yang akan ia lakukan sekarang akan menyakiti hati bocah itu.Namun ini adalah jalan terbaik yang Kyara pilih untuk mendapatkan keadilan untuk Jihan.
Setelah selesai dari kamar Revan Kyara lalu berjalan menuju ruang selanjutnya yaitu kamar Deon.Kyara berdiri di depan pintu kamar itu dengan tatapan yang sangat dingin.Tak ingin berlama-lama di sana,Kyara lalu menyelipkan surat yang ia tujukan untuk Deon ke bawah daun pintu lalu berjalan pergi tanpa sepatah katapun.