
Kehidupanku bersama Leonardo berjalan sangat harmonis.Kami cukup bahagia melewati keseharian kami sebagai suami-istri.Kebahagian kami pun bertambah lengkap saat aku di nyatakan hamil oleh dokter.
Usia kehamilanku kini sudah memasuki bulan keempat.Tak seperti kehamilan pada umumnya,aku tak merasakan mual atau mengidam seperti orang kebanyakan.Kehamilan pertamaku berjalan cukup mudah dan sedikitpun aku tak merasa kesusahan sama sekali.Hanya saja semenjak aku hamil,Leonardo lah yang sering mengalami mual dan muntah setiap pagi harinya.
Tentu saja yang terjadi pada Leonardo membuatku merasa sangat lucu.Sepertinya anakku tidak ingin membuat ibunya kesusahan sehingga semua gelaja kehamilanku di serahkan kepada ayahnya.
Kabar kehamilanku tentu saja juga di dengar oleh kedua mertuaku.Mereka turut bahagia atas kehamilan pertamaku itu.Dan karena hal itu juga, hubungan antara aku dan ibu mertuaku yang sempat retak akhirnya kembali harmonis lagi.
Kehidupanku saat itu benar-benar kehidupan yang sangat membahagiakan.
Namun….
Hatiku begitu hancur seketika saat mengetahui sebuah fakta yang mengejutkan.
Di hadapanku kini berdiri sosok yang selama ini telah menghancurkan hidupku,sedang menatapku dengan raut wajah yang penuh rasa bersalah.Di kedua tangannya terlihat seorang bayi yang mungkin baru berusia beberapa hari sedang tertidur lelap di gendongannya.
Aku terdiam membisu di tempatku berdiri.Ternyata inilah alasan mengapa Leonardo selalu meminta maaf kepadaku setiap malam.
Perasaan marah,sedih,kecewa,benci semua tercampur aduk di dalam hatiku.Aku tak tahu harus menunjukan ekspresi apa untuk menunjukan apa yang hatiku rasakan sekarang.
Otakku tiba-tiba terasa kosong setelah mendengar kenyataan pahit yang terucap dari mulut Stella.Kenyataan itu sungguh membuatku seperti ruang kosong yang sebentar lagi akan runtuh.
Di sampingku saat ini terlihat Leonardo yang sedang berlutut memohon maaf kepadaku.Di sini lain terlihat adik ipar dan ibu mertuaku yang sedang berpelukan sambil terus menangis.Sedangkan Ayah mertuaku hanya bisa terduduk diam sambil menatap Leonardo dengan raut penuh kekecewaan setelah mengetahui perbuatan putranya.
Sedangkan diriku yang saat itu menjadi tokoh wanita malang hanya bisa menangis tanpa suara.
Steffy pov end…
Air mata mengalir deras di kedua belah pipinya.Pandangannya terlihat kosong menatap ke arah depannya.Di samping kanannya terlihat Leonardo yang masih berada di posisi berlutut.Sepertinya pria itu benar-benar sangat menyesali perbuatannya.
Sedangkan Stella yang menjadi biang kerusuhan itu hanya bisa tertunduk diam sambil terus menangis.Di dalam hatinya,ia benar-benar menyesali perbuatannya yang telah menyakiti sang Kakak.
Jujur…Stella sendiri tak habis pikir mengapa dirinya sampai begitu tega menghancurkan kehidupan kakak kandungnya hingga berkali-kali.
"Kapan?"
"Kapan kalian melakukannya?"tanya Steffy dengan nada lirih pada kedua orang yang menjadi biang keladi dari sakit hati yang tengah ia rasakan.
Namun keduanya tak berani menjawab pertanyaan dari Steffy dan hanya mengucapkan kata maaf terus-menerus.
__ADS_1
Steffy menoleh ke arah samping di mana suaminya masih setia berlutut di kakinya.Ia lalu sedikit membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan sang suami.Steffy mencengkeram kerah baju pria itu dengan tangan yang bergetar.
Dengan nada yang begitu lirih ia kembali menanyakan pertanyaan yang sama kepada Leonardo.
"Jawab aku Leo…"
"Kapan kalian melakukannya?"tanya Steffy lagi.Akan tetapi Leonardo tidak menjawab pertanyaanya sama sekali.
"Maaf…"hanya kata itu yang mampu di ucapkan oleh Leonardo.Ia terlihat tertunduk pasrah,tak berani menatap mata Steffy yang menyorotkan kekecewaan mendalam karena perbuataannya.
"Hiks…Hiks…Kenapa Leo…"
"Kenapa harus dirimu…"
"Kenapa Leo…KENAPA…"Steffy langsung berteriak kencang meluapkan semua kekecawaan yang ada di hatinya kepada sang suami.
"Maafkan aku Steffy…Aku benar-benar menyesal"
"Aku…Aku tidak pernah berniat menghianatimu"
"Itu semua kecelakaan"ucap Leonardo sembari memeluk Steffy.Leonardo mencoba menjelaskan kebenaran yang sebenarnya terjadi diantara ia dan Stella kepada Steffy.
Namun rasa marah dan kecewa yang Steffy rasakan sudah menutup akal sehatnya.
"KAU TIDAK MEMILIKI HAK UNTUK MENYENTUHKU LAGI…"
"KAU MENJIJIKAN LEO…"
KAU SANGAT MENJIJIKAN…"ucap Steffy dengan penuh amarah.Ia sudah tidak peduli lagi tentang apapun yang akan di ucapkan oleh Leonardo.
"Kakak…"Stella yang sedari tadi hanya bisa diam mencoba untuk membujuk sang kakak agar mau mendengar penjelasannya.Namun belum sempat ia mengutarakan maksudnya Steffy lebih dulu memotong perkataannya.
"DIAM"
"Tutup mulut busukmu itu"ucap Steffy dengan tatapan yang begitu tajam sembari menunjukkan jari telujuknya ke arah Stella.
"Semua ini terjadi karena dirimu"
"Apa kesalahanku?"
__ADS_1
"Mengapa kau melakukan ini kepadaku,Stella…"
"Selama ini aku sudah mengorbankan banyak hal kepadamu"
"Kasih sayang ayah dan ibu"
"Perhatian…"
"Teman-teman"
"Barang-barang kesayanganku"
"Semuanya…"
"Aku bahkan sampai kehilangan cintaku karena keegoisanmu"
"Dan sekarang…Kau juga ingin merebut kebahagiaanku"
"Kenapa Stella…Kenapa?"ucap Steffy sambil menangis.Lagi-lagi Stella hanya bisa terdiam tanpa bisa menjawab pertanyaan dari sang Kakak.
"AAARRGGHHH…"
Raungan memilukan Steffy terdengar menggema di seluruh ruangan.Ibu mertua dan juga adik iparnya yang sedari tadi hanya bisa diam memperhatikan mencoba untuk menenangkan Steffy yang masih menangis.
Suasana di ruangan itu semakin ricuh saat Steffy kehilangan kesadarannya akibat syok yang ia terima.Di kedua betisnya terlihat darah segar mengalir deras hingga membuat kepanikan mereka semakin menjadi.
Steffy pun akhirnya di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan intensif.Syok yang di terima oleh Steffy membuatnya mengalami pendarahan hebat dan naasnya,akibat dari pendarahan itu Steffy mengalami keguguran.
Steffy yang tahu bahwa ia mengalami keguguran menjadi semakin marah.Ia menyalahkan Stella dan Leonardo atas kejadian yang menimpanya.Steffy juga mengutuk kehadiran bayi yang di duga adalah anak dari hasil hubungan terlarang antara Stella dan juga Leonardo.
Dengan kemurkaan dan sakit hati yang ia rasakan Steffy menyumpahi bayi yang tak bersalah itu agar memiliki nasib yang sama dengannya.
Kemurkaanya tidak berakhir sampai di situ saja,Steffy juga melakukan penuntutan kepada Leonardo dan juga Stella atas perbuatan mereka yang telah menyakitinya hingga membuat ia harus kehilangan calon bayinya.
Keduanya hanya bisa pasrah menerima tuntutan dari Steffy kepada mereka.Merekapun akhirnya menjalani hukuman penjara selama satu tahun mengikuti hukum yang berlaku.
Akan tetapi hukuman yang di jalani Stella di tambah oleh pihak pengadilan atas pengakuannya sendiri yang mengaku bahwa ia adalah dalang dari kasus kecelakaan yang menimpa kedua orangtuanya.Tentu saja hal itu membuat orang-orang yang berada di dalam pengadilan itu menjadi sangat heboh termasuk Steffy.Ia bahkan sampai menutup mulutnya tak percaya atas pengakuan dari adiknya itu.Para polisi pun melakukan penyelidikan untuk mendalami kasus tersebut.Dan merekapun menemukan bukti yang menyatakan bahwa Stella memang terbukti bersalah.
Akhirnya Stella pun di jatuhi hukuman penjara seumur hidup atas dugaan pembunuhan berencana kepada kedua orangtuanya oleh pihak pengadilan.
__ADS_1
Namun baru tiga tahun Stella menjalani hukuman di penjara.Stella di nyatakan meninggal akibat bunuh diri di dalam sel tahanan.Ia membunuh dirinya sendiri dengan cara menyayat pergelangan tangannya menggunakan pisau cutter yang berhasil ia selundupkan.
Sedangkan nasib bayi yang ia telah lahirkan,bayi itu pun akhirnya di rawat di kediaman Louis atas ijin dari Steffy.Namun dengan syarat bahwa bayi itu tidak memiliki hak apapun atas harta warisan keluarga dan juga marga Louis.