
Bruk….
Tubuh Deon di hempas begitu saja oleh seorang sipir yang di tugaskan untuk memasukkannya ke dalam sel tahanan.
"HEI!!"
"KELUARKAN AKU DARI SINI"
"DASAR SIAL*N!!"umpat Deon kepada sipir yang baru saja mendorongnya.
Deon langsung bangkit berdiri dan mencoba untuk keluar dari sel tersebut.Namun sayang kekuatan tubuhnya tidak bisa di bandingkan dengan sipir itu dan ia kembali terjatuh setelah di dorong oleh sipir itu untuk kedua kalinya.
"Si*l"lagi-lagi Deon kembali mengumpat.Ia mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan penuh amarah.
"Dasar wanita j*lang"
"Berani-beraninya dia melakukan ini kepadaku"
"Awas saja"
"Aku akan membalasmu,Monica"
Beberapa saat yang lalu….
"Yang mulia,aku ingin mengakui sesuatu"Monica yang sedari tadi hanya diam,tiba-tiba saja langsung berbicara dengan nada yang lantang di saat sidang hampir di tutup .Tentu saja hal itu langsung membuat perhatian orang-orang langsung tertuju kepadanya tanpa terkecuali.
Ketua hakim terlihat memandang sejenak ke arahnya lalu kembali duduk di kursi kebesaran miliknya.
"Apa yang ingin anda katakan?"tanya ketua hakim kepada Monica.
Monica terlihat terdiam sejenak sambil menutup kedua mata sebelum mengutarakan maksud hatinya.Ia menghela napas panjang untuk memantapkan hatinya yang di liputi oleh perasaan takut.
Sedangkan di sisi lain,terlihat Deon yang membeku di tempat ia berada.Ia menatap Monica dengan raut wajah yang khawatir.
'Apa yang ingin di lakukan wanita gila itu?'tanya Deon pada diri sendiri.Ia merasa bahwa apa yang akan di sampaikan Monica bukanlah hal yang baik untuknya.
'Apakah dia ingin membongkar rahasia itu'
'Tidak,ia tidak akan mungkin melakukan hal bodoh semacam itu'
__ADS_1
'Ini pasti hanya perasaanku saja'Deon mencoba untuk mengenyahkan semua pikiran buruk tentang apa yang akan di katakan Monica.Ia sangat yakin Monica tidak mungkin akan melakukan hal bodoh itu.Karena jika Monica membongkar rahasia itu,itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri.
"Yang mulia"
"Sebenarnya…"Monica menjeda ucapannya.Ia berusaha menelan salivanya yang terasa berat di tenggorokan seakan ia sedang menelan sebongkah batu.
"Nyonya Anderson"
"Sebaiknya anda cepat mengatakannya"
"Karena waktumu sudah hampir habis"ucap kepala hakim memberi peringatan.
"Astaga…Ini hanya membuang-buang waktuku"
"Ayo kita pergi"ajak salah satu seorang saksi kepada temannya.
"Tunggu dulu"
"Aku ingin mendengar apa yang akan wanita itu katakan"balas temannya itu.
"Ck…Paling dia hanya ingin membuat drama agar di kasihani"
"Tidak tahu malu"kasak-kusuk dari bisikan orang-orang di sekitar terdengar begitu jelas di telinga Monica.Dan hal itu membuat rasa takut yang di alami oleh Monica sedari tadi,seketika berubah menjadi amarah yang membara.
"JIHAN TIDAK MENGHILANG,YANG MULIA"
"TAPI DIA TELAH MATI"teriak Monica dengan penuh emosi,ia sudah tidak peduli lagi jika seandainya ia ikut terseret atas kejahatan yang di lakukan oleh Deon.
Perkataan Monica langsung membuat persidangan yang awalnya ramai oleh bisik-bisik dari orang-orang,kini seketika langsung berubah sunyi.Bahkan saking sunyinya ruangan itu,mereka mungkin dapat mendengar suara degup jantung Deon yang berdebar-debar setelah mendengar perkataaj Monica.
"Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak nyonya Anserson"
"Kau sendiri pasti tahu benar hukuman apa yang akan di berikan kepada orang yang sudah berani membuat pernyataan bohong seperti itu"ucapan ketua hakim langsung memotong kesunyian yang ada.Beberapa saksi juga ikut membenarkan perkataan ketua hakim dan mereka turut meragukan pernyataan dari Monica.
"I-tu benar"
"Benar sekali"
"Mengapa kau ingin membuat dirimu semakin terjerumus ke dalam penjara Monica"
__ADS_1
"Ji-jika kau merasa bahwa hukuman yang di berikan oleh hakim kepadamu masih terlalu berat"
"A-aku akan membantumu untuk meringankannya"ujar Deon mencoba untuk menyadarkan Monica untuk tidak bertindak gegabah.Ia memiringkan kepalanya memberi isyarat kepada Monica agar tidak mengatakannya.
Akan tetapi,sepertinya Monica tidak menyetujui hal itu.Ia balik menatap Deon yang terlihat gugup di tempat ia berada.Sebuah seringai terukir di bibir Monica saat melihat Deon yang begitu ketakutan.
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu,suamiku"
"Aku tidak masalah jika harus berada di dalam penjara untuk waktu yang lama"
"Karena aku…Tidak akan ke penjara sendirian"ujar Monica sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum penuh arti.
Deon menelan salivanya susah payah.
'Sepertinya wanita itu benar-benar sudah kehilangan kewarasannya'batin Deon setelah melihat pancaran kebencian dan juga kegilaan di mata Monica.
"Maaf yang mulia"
"Sepertinya aku tidak akan sanggup mengatakannya"perkataan Monica membuat Deon merasa sedikit lega.Ternyata Monica hanya mencoba menggertaknya saja,pikirnya.
"Jadi…Akan jauh lebih baik jika aku langsung memberikan semua bukti"
"Tentang kejadian yang sebenarnya menimpa Jihan"sambung Monica masih dengan seringai licik di wajahnya.Mendengar hal itu Deon kembali di buat khawatir.Entah sudah berapa banyak keringat yang mengalir di tubuhnya.Deon tidak tahu harus berbuat apa lagi,karena otaknya sudah benar-benar buntu untuk memikirkan cara menghentikan tindakan Monica.Hatinya menyuruhnya untuk menghentikan Monica,namun otak dan tubuhnya menghianatinya.
Monica lalu mengambil sebuah flashdisk yang sengaja ia sembunyikan di balik gelungam rambutnya dan menyerahkannya kepada ketua hakim.
Setelah menerima flashdisk tersebut,ketua hakim lalu menyuruh seseorang untuk membuka file data yang tersimpan di dalamnya.
Dan ternyata file data yang tersimpan di dalam flashdisk itu adalah sebuah rekaman cctv yang berasal dari halaman depan kediaman Anderson dan juga cctv yang berasal dari dalam mobil.
Dan betapa terkejutnya orang-orang saat melihat isi dari rekaman cctv tersebut.
Rekaman cctv yang pertama terlihat kejadian di mana Deon menembak Jihan saat sedang bertengkar dengan Monica.Meski rekaman itu terjadi pada malam hari,namun mereka dapat melihat dengan jelas isi dari cctv tersebut.
Mereka yang melihat video tersebut benar-benar sangat syok,mereka tidak menyangka bahwa seorang Deon Anderson berani melakukan pembunuhan kepada isterinya sendiri.
Namun rasa keterkejutan mereka tidak berhenti hanya sampai di sana.Mereka kembali di buat syok saat melihat rekaman yang kedua.Yaitu rekaman yang berisi, detik-detik jasad Jihan di buang ke dalam sungai yang sedang mengalir deras.
Hampir dari orang-orang berada di sana terlihat jatuh lemas melihat rekaman tersebut.Bahkan Monica yang notabene sebagai orang yang menyerahkan bukti itu juga ikut syok.Ia terduduk tak berdaya saat melihat rekaman yang kedua.
__ADS_1
Ia memang tahu bahwa Jihan memang benar-benar meninggal saat itu dan ia juga tahu tentang pembuangan jasad Jihan.Namun ketika ia melihat sendiri kejadian itu,benar-benar membuatnya merasa sangat syok sekaligus ngeri.
Selama ini ia berpikir bahwa maksud dari perkataan Deon dengan membuang jasad Jihan adalah menguburkannya di tempat yang jauh ternyata salah.Tak pernah terpikir di dalam benaknya bahwa Deon akan benar-benar membuang jasad Jihan begitu saja.Dan bahkan kematian Jihan saat itu benar-benar di luar rencananya.Karena meskipun ia selalu ingin menyingkirkan Jihan,tetapi Monica tak pernah sedikit pun terpikir di dalam otaknya untuk menghabisi nyawa Jihan.