
"Siapa kau?"
"Kenapa wajahmu sangat mirip dengan Jihan"bodoh jika dirinya terus menyangka bahwa sosok di depannya adalah Jihan,mengingat Jihan telah mati di tangannya dan ia sudah memastikan hal itu.Sedangkan orang yang ditanyai hanya diam saja hingga membuat Monica yang sedari tadi hanya memperhatikan menjadi geram.
"Hey…Apa kau tuli?"
"Suamiku sedang bertanya padamu"ucap Monica tak sabaran,ia sangat ingin mengetahui identitas asli dari pengasuh Revan itu.
Kyara terlihat menghela napasnya,matanya memandang ke arah suami istri tersebut dengan mata yang pasrah bak seorang gadis lemah.
"Aku adalah Kyara"
"Aku hanyalah seorang gadis yatim piatu"jawab Kyara jujur,ia sedang memperkenalkan dirinya sebagai Kyara dan bukan Jihan.Jawaban itu tentu saja tidak membuat keduanya puas,namun Kyara langsung menjelaskan sesuatu yang berhasil membuat keduanya percaya.
"Kalian pasti bingung mengapa aku menyamar bukan?"
"Alasannya,tentu saja karena wajah ini"perkataan Kyara membuat keduanya semakin bingung,Kyara kembali meneruskan ceritanya.
"Beberapa hari setelah aku sampai di kota ini untuk mencari pekerjaan,ada beberapa orang menghampiriku dan menyebutku dengan nama Jihan"
"Dan tentu saja aku mengelak hal itu,karena namaku adalah Kyara dan bukan Jihan"
"Bukan hanya itu,bahkan ada juga yang ingin membawa ku kekantor polisi"
"Untung saja saat itu aku membawa kartu identitasku,kalau tidak entah apa yang akan terjadi selanjutnya"Kyara terlihat menghela napas lalu kembali meneruskan ceritanya.
"Lalu saat aku mencari tahu tentang seseorang yang bernama Jihan itu"
"Aku terkejut saat melihat wajah kami yang sangat mirip"
"Yang membedakan hanyalah warna kedua mata kami"
"Tidak heran jika banyak yang salah mengira bahwa aku adalah Jihan"ucap Kyara panjang lebar,ia lalu menatap Deon dan Monica dengan tatapan yang sedih.
"Aku juga tidak berharap kalian akan percaya,tapi ini memang benar adanya"
"Aku Kyara bukan Jihan"ucapnya lagi sembari menunduk,ia terlihat menggigit bibirnya seperti sedang menahan tangis.Sungguh akting yang luar biasa.
Melihat Kyara yang seperti itu membuat Deon tidak enak hati,ia ingin mengelus bahu Kyara untuk menenangkan gadis tersebut,namun niat itu ia urungkan begitu Deon mengingat kejadian di kolam sebelumnya.
"Maaf…aku tak bermaksud membuatmu sedih"
__ADS_1
"Aku hanya kaget melihat kau memiliki wajah yang sangat mirip dengan istri pertamaku"ucap Deon tak enak hati.Kyara terlihat mengangguk.
"Tidak masalah,aku bisa mengerti hal itu"ucapnya sembari mengelus air matanya yang sempat menetes.
"Baiklah…Sebaiknya kau mengganti pakaianmu"
"Kau bisa sakit jika terus memakai pakaian basah seperti itu"
"Untuk masalah Revan,biar kami yang menjaganya"ujar Revan menjelaskan pada Kyara.Kyara terlihat berpikir sebentar lalu mengangguk.
"Terima kasih tuan"ucap Kyara sembari berlalu meninggalkan keduanya.
Setelah memastikan Kyara telah pergi,Monica langsung menarik tangan Deon.
"Apa kau percaya begitu saja dengan perkataannya Deon?"
"Perempuan itu memiliki wajah yang sangat mirip dengan Jihan"
"Bagaimana jika ternyata mereka berdua memiliki hubungan darah"
"Dan perempuan itu ingin melakukan balas dendam kepada kita"tidak heran mengapa Monica sangat khawatir ,tak mungkin di dunia ini ada orang yang memiliki wajah yang mirip namun tak memiliki hubungan darah.
"Karena itulah aku akan menyelidiki latar belakangnya"
"Untuk sementara kita biarkan dia tetap bekerja di sini"
"Dan kau,sebaiknya tidak bertingkah ceroboh lagi Monica"ucap Deon kepada Monica.Monica hanya berdeham singkat.
Mereka tak menyadari bahwa yang mereka bicarakan telah di dengar oleh Kyara.Kyara terlihat tersenyum sinis.
"Dasar bodoh"ucapnya singkat lalu berjalan pergi menuju kamarnya.
Beberapa hari berjalan seperti biasa di kediaman Anderson.Kyara pun masih memakai samarannya karena tak ingin Revan salah paham dan ikut menganggapnya sebagai Jihan,meskipun hal itu benar adanya.
Dalam beberapa hari ini pun Monica selalu memperhatikan apa yang di lakukan oleh Kyara,dan sejauh ini Monica tak melihat hal yang mencurigakan.
Saat ini Kyara sedang membantu Revan bersiap untuk berangkat sekolah.
"Baiklah"
"Pakaian dan rambut sudah rapi"
__ADS_1
"Sekarang tinggal memakai tas dan semuanya sudah siap"
"Waah…Lihatlah"
"Anak siapa yang sangat tampan ini"pujian Kyara mampu membuat Revan tersipu malu.
"Bibi…Berhentilah menggodaku"ucap Revan sembari menggembungkan pipinya merasa malu dengan perkataan Kyara.Kyara hanya terkekeh melihat ekspresi Revan yang terlihat menggemaskan.
"Baiklah sudah waktunya berangkat"
"Bibi akan mengantarmu sampai mobil"Revan langsung mengangguk kemudian meraih tangan Kyara agar menggandengnya.
"Daahh Bibi…"Revan melambaikan tangannya dari dalam mobil ke arah Kyara.Kyara membalas lambaian tersebut sambil tersenyum.
"Anak yang sangat manis"ucap Kyara sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
"Sepertinya kau mudah akrab dengan anak kecil"
"Buktinya anak seperti Revan yang biasanya selalu menolak orang luar pun bisa sangat menyukaimu"
"Apa karena kau seorang yang sudah lama hidup di panti asuhan"
"Dan sering bertemu anak-anak,karena itulah kau sangat mudah membujuk Revan"ucap Monica dengan nada sinis dan terkesan merendahkan.
Kyara terlihat tersenyum.
"Perkataan nyonya ada benarnya,aku memang mudah akrab dengan anak-anak"
"Tapi hanya bermodalkan pengalaman menjaga anak-anak panti asuhan tidak bisa menjadikan seorang anak sepintar Revan bisa di taklukkan dengan mudah"
"Anak kecil itu masih memiliki hati yag sangat murni tidak seperti kita orang yang sudah dewasa"
"Percaya atau tidak mereka bisa membedakan orang yang benar-benar tulus dengan orang yang hanya berpura-pura"
"Anak-anak akan menempel pada orang yang tulus seperti permen karet"
"Sedangkan yang tidak tulus akan mereka jauhi,meskipun orang itu selalu bertingkah ramah kepada mereka"ucapan Kyara yang begitu menohok membuat Monica terdiam seketika.Awalnya ia hanya ingin memancing Kyara agar membuatnya melakukan kesalahan,namun siapa sangka Kyara bisa membalik kata-katanya dengan sangat mudah bahkan mampu membuat ia tak bisa berkata-kata lagi.
Monica sangat benci keadaan seperti ini,ia merasa menjadi sangat kecil.Namun ia tak bisa apa-apa selain mengepalkan tangannya mencoba menahan amarah yang membara di hatinya.
Kyara berjalan pergi meninggalkan Monica begitu saja.Sedangkan Monica ia menggertakkan giginya merasa geram dengan tingkah Kyara yang seperti tak menghormatinya sebagai nyonya rumah.Seandainya saja Deon tidak memperingatkannya,mungkin Kyara sudah ia beri pelajaran sekarang.
__ADS_1