Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 1 Hari yang buruk


__ADS_3

1930


Liem Wan Siang, tuan muda dari keluarga Liem itu marah besar saat mendapat laporan dari A Seng, kaki tangan kepercayaannya, bahwa tunangannya, Sie Lan Yan, berselingkuh. Padahal mereka sudah melaksanakan acara lamaran, dan tiga minggu lagi rencananya akan digelar pesta pernikahan besar-besaran. Dia langsung pergi ke rumah Nona Sie untuk melabrak tunangannya itu.


“Ampuni aku ... aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Beri aku kesempatan, aku masih ingin jadi istrimu, Wan Siang...” Nona Sie memohon-mohon di kaki tunangannya sambil menangis tersedu-sedu.


“Nona Sie, ibarat makanan, kau sudah basi dan dihinggapi lalat, bagaimana aku bisa menyantap makanan seperti itu?” kata Wan Siang dengan ekspresi dingin tanpa memandang tunangannya.


“Kau bahkan jarang sekali memandangku, apakah kau sebenarnya tidak punya perasaan terhadapku?"


"Pertunangan kita ini ada karena perjodohan, sebagai anak aku hanya ingin berbakti kepada orang tuaku. Tetapi aku tidak bisa membiarkan penghianatan dan kebohongan. Pernikahan kita sudah resmi batal.”


Sie Lan Yan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis dan menyesali perbuatannya. Ia berselingkuh sebab merasa diabaikan oleh tunangannya yang selalu sibuk bekerja. Walaupun gadis itu sebenarnya mengagumi Liem Wan Siang. Tetapi cinta yang bagaikan bertepuk sebelah tangan karena pengabaian itu tetap membuat hati gadis itu sedih dan dia melampiaskannya dengan cara berselingkuh.


“Aku juga butuh kasih sayang, dan aku tidak mendapatkan itu darimu. Walaupun begitu, aku sungguh-sungguh mencintaimu.”


“Jangan katakan cinta di hadapanku, jika kelakuanmu membuktikan sebaliknya.”


Dalam keadaan seperti itu, Wan Siang bahkan tidak menunjukkan tanda-tanda emosi. Di dalam hatinya tidak ada cinta untuk Nona Sie. Kalau bukan karena keinginan ibunya, mungkin dia masih hidup bebas tanpa ada ikatan pertunangan.


Setelah kandasnya pertunangan itu, Liem Wan Siang memutuskan untuk hidup bebas tanpa ikatan apa pun dengan wanita. Orangtuanya juga tidak bisa berbuat apa-apa atas keputusan Liem Wan Siang.


Wan Siang menyibukkan diri dengan bisnis rumah judi yang dimilikinya. pada usianya yang ke-25, ia sudah menjadi raja rumah judi di Semarang. Kekayaannya sangat melimpah. Banyak wanita yang dengan suka rela menjadi kekasihnya, tetapi semua berakhir sama. Jika wanita itu sudah mempertanyakan tentang keseriusan hubungan, maka Liem Wan Siang akan segera menjauhi mereka dan memutuskan hubungan itu. Pernikahan menjadi suatu hal yang begitu dibenci Tuan muda Liem.


Orang terdekatnya adalah seorang lelaki yang ia panggil Paman A Seng. A Seng dulu bekerja dengan ayahnya saat masih berbisnis rumah judi. Sekarang ayah Tuan Muda Liem sudah berhenti menjadi bandar judi dan mendirikan perusahaan ekspor impor, dengan dagangan utama gula. Liem Wan Siang tidak rela jika bisnis rumah judi itu berakhir karena uang yang dihasilkan sebagai bandar judi amatlah besar dan mudah didapat.


Selain berjudi, kebiasaan Wan Siang yang sangat mengkhawatirkan adalah kesukaannya minum minuman keras. Tetapi Wan Siang sangat sulit dikalahkan di meja judi karena kecerdasannya yang luar biasa. Selain akalnya cerdas, ia juga memiliki keluwesan tubuh, sehingga sangat hebat dalam ilmu bela diri. Kalau sedang tidak mabuk, pasti ia akan berada di sebuah sasana tinju untuk berlatih atau berlatih ilmu bela diri Tiongkok dengan seorang guru silat.


Kecerdasan seringkali dekat dengan kegilaan, begitulah tepatnya jika menggambarkan tentang perangai Tuan muda Liem. Ia benar-benar cemerlang, tetapi juga berkelakuan aneh.

__ADS_1


Baru-baru ini Ia baru mengalahkan seseorang di meja judi secara telak, dalam keadaan setengah mabuk pula. Semua harta yang dimiliki lawan mainnya telah ludes, bahkan lawannya sampai berutang, dan jaminan utang itu adalah anak perempuan semata wayangnya.


Utang itu telah jatuh tempo dan orang itu tetap tak mampu membayar, sehingga mau tidak mau dia harus menyerahkan anaknya kepada Wan Siang. Wan Siang yang sudah kerap kali mempermainkan wanita tampak mudah menerima jaminan pembayaran utang itu.


Putri orang yang berutang itu sangat sedih dan gugup saat diantarkan ayahnya ke rumah judi milik Wan Siang. Si gadis masih berumur enam belas tahun, mengenakan kebaya sederhana yang tampak agak lusuh. Rambutnya disanggul asal-asalan, dengan wajah yang walaupun tampak muram tapi tidak bisa menyembunyikan kecantikan khas Jawa yang murni.


Saat sang ayah hendak pergi meninggalkan gadis itu sendirian, si gadis menangis tersedu-sedu.


“Bapak, jangan pergi ... jangan serahkan aku pada pemilik rumah judi.”


“Tidak, kau harus ikut tuan barumu. Biar kau dipelihara olehnya dan tidak hidup susah dengan Bapak.”


“Tidak apa-apa kita hidup susah, aku akan bekerja keras biar kita bisa hidup, Pak.”


“Tapi bapak punya utang yang tidak bisa dibayar kecuali kau ikut dengannya. Sekarang kau harus turuti keinginan bapakmu ini.”


“Jangan khawatir, aku pasti akan memeliharanya dengan baik,” kata Wan Siang.


Gadis itu menangis lagi karena merasa dibuang oleh bapaknya. Dan kini ia merasa tak lebih dari seorang peliharaan bandar judi akibat kelakuan bapaknya sendiri. Ia merasa menjadi korban tetapi sebagai wanita ia tidak memiliki daya apa pun.


Wan Siang sendiri bukan tanpa alasan menerima gadis itu. Selain karena soal utang piutang, dia pernah mendapat nasihat dari Paman A Seng. A Seng berkata, konon jika seorang lelaki Tionghoa memiliki simpanan seorang wanita Jawa, maka ia akan menjadi semakin kaya raya. Kepercayaan ini meluas tidak hanya di kalangan orang Tionghoa, tetapi juga di kalangan tuan Belanda. Maka itu banyak tuan Belanda yang memiliki perempuan Jawa sebagai simpanan.


“Siapa namamu?” Wan Siang bertanya.


“Nama saya Parjiyem, Tuan.”


“Berapa umurmu?”


“Kalau tidak salah enam belas tahun, Tuan.”

__ADS_1


“Mulai hari ini kau ikut aku. Jangan nangis lagi ya.”


Gadis itu memanglah masih sangat lugu, sehingga tak berani memandang langsung ke arah Wan Siang. Ia menjawab pertanyaan Wan Siang dengan muka menghadap ke lantai. Lelaki Tionghoa itu melihat Parjiyem seperti kucing kecil yang kurus kering tanda kekurangan makan dengan bulu-bulu yang tidak terurus dengan baik.


Akhirnya gadis itu dibawa ke rumah Wan Siang. Rumah itu terlalu luas untuk ditinggali seorang diri. Ketika masuk ke dalam rumah itu, Parjiyem terpesona dengan bagian dalamnya yang ditata mirip dengan sebuah paviliun kerajaan di negeri Tiongkok. Terdapat beberapa hiasan kaligrafi huruf-huruf Tiongkok di dindingnya, juga meja kursi gaya peranakan yang terbuat dari kayu jati.


Rumah itu diurus oleh lima orang pembantu. Kala Parjiyem datang, mereka mengira gadis itu adalah pembantu baru.


“Mulai sekarang dia akan tinggal di sini, antarkan dia ke kamarnya,” ujar Wan Siang kepada salah satu pembantu.


“Kamar yang mana Tuan? Kamar pembantu sudah penuh.”


“Dia di sini bukan sebagai pembantu, tempatkan dia di kamar yang ada di sebelah kamarku,” perintah lelaki itu lagi.


Sekarang pembantu itu paham maksud Tuannya, gadis itu bukan pembantu, bukan pula istri majikannya, tetapi ditempatkan di kamar yang amat bagus di sebelah kamar majikannya. Sudah jelas bahwa lelaki itu bermaksud menjadikan gadis Jawa itu peliharaannya, dan itu sangat wajar terjadi di kalangan orang Tionghoa yang kaya raya.


Kamar Parjiyem memiliki kamar mandi di dalamnya, sehingga ia bisa langsung membersihkan diri begitu sampai di kamar itu. Setelah itu ia berganti pakaian. Gadis itu terkejut saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka oleh Wan Siang yang berlaku sebagai pemilik baru atas dirinya.


“Apa kau tidak punya baju yang bagus?” Tanya Wan Siang.


“Saya hanya punya beberapa baju, menurut saya baju ini sudah bagus, Tuan,” jawab Parjiyem dengan muka menunduk.


“Kenapa menunduk terus, memangnya ada apa di lantai? Coba, mulai sekarang, kalau bicara dengan aku, lihat aku, jangan lihat lantai.”


Demi mematuhi perintah itu, barulah Parjiyem melihat seperti apa wajah Wan Siang. Lelaki Tionghoa itu sangat tampan, kulitnya putih dengan bibir kemerahan. Rambutnya tertata dengan baik dan tampak lembut. Penampilannya begitu menyilaukan di mata Parjiyem yang merasa dirinya orang rendahan.


Di mata Wan Siang, gadis itu tetaplah tampak seperti kucing kecil yang baru saja ditemukannya dari dalam kardus di pinggir jalan. Tetapi kucing itu juga membuat hati nuraninya terusik dan menarik simpatinya sebagai sesama makhluk hidup. Mulai hari itu, ia memutuskan untuk memelihara temuannya itu dengan baik.


__ADS_1


__ADS_2