
Sun Kwan dan Siaw Cing akhirnya pulang setelah makan malam. Tinggallah Wan Siang dan Si Manis berdua. Perasaan bahagia di wajah Si Manis mendadak pudar. Ia senang mendapat kunjungan yang menyenangkan dari kedua adik Wan Siang, tetapi menjadi bersikap kaku seperti pelayan setelah mereka berdua pergi.
“Kenapa kau selalu senyum di depan Sun Kwan, sedang kalau bersamaku tidak?”
“Tuan Sun Kwan suka tersenyum, saya jadinya ikut tersenyum.”
“Apa dia lebih tampan dari aku?”
“Tidak Tuan.”
“Kalau itu memang benar, aku percaya kamu orang yang jujur.”
Dalam hati, Wan Siang sangat senang mendengar pengakuan itu dari mulut Si Manis. Di kolong langit ini, semua orang juga tahu kalau Wan Siang adalah anak paling tampan di keluarga Liem.
“Saya tidak suka bohong, saya tidak boleh bohong kata orangtua saya,” ujar Si Manis polos.
“Bagus, aku paling suka dengan orang-orang yang jujur dan bisa dipercaya. Lain kali kalau Sun Kwan datang, kau tidak boleh duduk dekat dia.”
“Tapi saya tidak ada niat duduk dekat dengan Tuan Sun Kwan, dia yang menghampiri dan duduk di dekat saya.”
“Kalau begitu, kau harus pindah. Pokoknya kau tidak boleh jauh-jauh dari aku.”
Si Manis heran, kenapa Tuannya berkata dan bersikap seperti anak kecil. Padahal Wan Siang tidak sedang mabuk. Mungkinkah itu sifat aslinya? Di balik sikapnya yang kadang dingin dan tidak suka berkata-kata manis itu ternyata ada sifat yang menggelikan, pikir Si Manis.
“Tuan, apa saya boleh pergi ke kamar saya? Saya mau siap-siap tidur.”
“Kenapa begitu Sun Kwan pergi, kamu langsung mau tidur?”
“Ini kan sudah malam Tuan, waktunya orang tidur.”
“Malam ini kamu tidur di kamarku, aku lagi tidak mau tidur sendirian.”
Perintah yang meluncur dari mulut Wan Siang itu membuat Si Manis heran, karena dikatakan saat Tuannya sedang dalam keadaan sadar penuh.
Mereka berdua lantas masuk ke dalam kamar Wan Siang dan tidur bersebelahan di ranjang. Wan Siang sudah lama tidak tidur dengan ditemani oleh seseorang. Terakhir kali adalah saat umurnya tujuh tahun, ditemani oleh pengasuhnya.
Pengasuh Wan Siang dulu perempuan Jawa berumur 30 tahun bernama Tini, wanita yang sabar dan telaten. Kesabaran Tini membuat Wan Siang merasa aman dan nyaman bersamanya. Jika pengasuhnya pulang kampung, Wan Siang akan menangis dan menyuruhnya cepat kembali. Itu membuat Nyonya Liem merasa iri. Sang nyonya besar iri kepada pengasuh anaknya, karena anaknya lebih menyayangi si pengasuh dibandingkan dirinya.
Rasa iri itu membuat Tini susah. Ketika umur Wan Siang menginjak tujuh tahun, Nyonya Liem menyuruh Tini berhenti bekerja, tetapi dengan cara yang tidak menyenangkan. Nyonya Liem menuduh Tini mencuri perhiasannya, padahal perhiasan itu tidak pernah ada yang mengambil.
“Wan Siang, mulai hari ini pengasuhmu dipecat, karena ia mencuri perhiasan Mama.”
“Nanti aku tidur sama siapa Ma?”
“Kamu sudah besar, jadi mulai sekarang harus berani tidur sendiri.”
“Tapi aku takut tidur sendirian,” ujar Wan Siang sambil menangis.
__ADS_1
“Kamu harus jadi anak yang pemberani, anak laki-laki tidak boleh cengeng!” bentak ibunya.
Anak yang seumur hidupnya tidak pernah tidur sendirian itu merasa pengalaman pertamanya tidur sendiri adalah hal yang paling menakutkan. Tidak ada orang yang mendongengkan cerita dan menyanyikan lagu pengantar tidur, seperti apa yang Tini lakukan sebelumnya. Kepergian Tini dari hidup Wan Siang membuat kasih sayang bagai seorang ibu serta merta hilang dari hidupnya.
Wan Siang yang tadinya masih bisa tersenyum ceria, mendadak menjadi sering cemberut dan bersikap kaku. Satu-satunya orang yang mampu membuatnya tersenyum setelah kepergian Tini adalah Siaw Cing, adik perempuannya.
“Mulai sekarang, Tuan harus berani tidur sendiri ya, saya mohon pamit,” Tini menangis tersedu-sedu saat mengucapkan kata perpisahan dengan Wan Siang.
Waktu itu Wan Siang cuma bisa menangis sembari menatap kepergian Tini.
Ketika melihat Si Manis di sebelahnya, Wan Siang tiba-tiba teringat dengan Tini. Ia kembali merasakan perasaan itu, rasa nyaman dan tenang karena tidur ditemani oleh seseorang. Sepertinya ia tak akan merasa kesepian lagi.
Kala Wan Siang beranjak dewasa, ia mulai memikirkan kembali kejadian masa lalu, saat ibunya menuduh pengasuhnya mencuri perhiasan. Ia tidak percaya kalau pengasuhnya yang baik itu benar-benar telah mencuri. Karena ia bisa menilai kejujuran dan ketulusan seseorang.
“Manis, aku ingin kau tidur menemaniku setiap hari. Aku tidak mau tidur sendirian lagi.”
“Baik, kalau itu yang Tuan mau.”
Tak lama kemudian, karena memang mengantuk, Si Manis tertidur di sebelah Wan Siang. Walaupun Manis memiliki tubuh yang indah dan mengundang rasa tertarik seorang pria terhadap wanita, entah mengapa saat itu bukan birahi yang dirasakan Wan Siang. Melainkan suatu perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, yang Wan Siang sendiri belum bisa menerjemahkannya.
Wan Siang tidak juga bisa tidur, padahal dari tadi ia sudah coba memejamkan matanya. Ia menghadapkan tubuhnya pada Si Manis. Gadis itu tidur dengan damai, selayaknya orang yang tidak memiliki dosa dan masalah.
Selama ini wanita yang datang kepada Wan Siang selalu memandang dirinya beradasarkan kulit luar dan apa yang ia miliki. Ketampanan dan kekayaan. Semua orang akan mudah silau dengan kedua hal yang dimiliki lelaki itu. Tapi itu membuat Wan Siang jadi memasang semacam perisai untuk melapisi dirinya yang sebenarnya.
Jikalau Wan Siang bersikap manis kepada para wanita itu, itu hanya topeng yang tidak menggambarkan perasaan sebenarnya. Perisai itu juga dilapiskan kepada hati dan perasaannya. Belum ada satu pun wanita yang mampu menembus perisai hati itu.
“Apa aku menakutkan? Kenapa kau jarang tersenyum padaku?” Wan Siang bertanya lirih, ia tahu Si Manis tak akan mendengar bahkan menjawabnya karena sudah tertidur lelap.
***
Di rumah judinya, Wan Siang bertemu dengan Paman A Seng. Paman A Seng yang sudah lama mendampinginya merasa heran, sebab pemuda itu tampak menyepi di ruangannya.
“Kau lagi ada masalah apa?” Tanya paman A Seng.
“Aku punya masalah dengan adikku. Belakangan ini, dia suka dekat-dekat Si Manis. Padahal Paman tahu kan, Si Manis itu kepunyaanku. Aku tidak suka ada orang yang mau merebut kepunyaanku.”
“Hahaha.... Rupanya ini masalah perempuan. Kau bertanya ke orang yang tepat. Jadi kau mulai suka dengan Si Manis itu ya?”
“Ah, kalau Paman lihat Si Manis yang sekarang, pasti Paman bakal suka juga, seperti Sun Kwan.”
“Aku jadi penasaran, sudah berubah seperti apa dia?”
“Eh, sebaiknya jangan, nanti Paman malah mau jadikan dia selir yang keempat.”
“Kau ini seperti tidak kenal Paman A Seng, mana mungkin Paman ambil kepunyaanmu?”
Wan Siang kembali terdiam dan menyusun pertanyaan yang ingin dilontarkannya kepada Paman A Seng.
__ADS_1
“Paman, aku ingin Si Manis, bukan lagi sebagai jimat. Bagaimana caranya supaya aku mendapatkannya?”
“Kau ingin tubuhnya atau hatinya?”
“Kedua-duanya, karena aku tidak rela ia punya perasaan dan tersenyum ke laki-laki lain.”
“Sebenarnya, kalau kau ingin tubuhnya saja, itu lebih gampang, kau tinggal suruh saja dia berhubungan denganmu. Tetapi urusannya panjang kalau soal perasaan, karena perasaan wanita bisa lebih dalam dari lautan, tidak ada yang tahu isinya seperti apa.”
“Adikku sebegitu gampang membuat Si Manis tersenyum kepadanya, tapi Si Manis jarang sekali senyum padaku.”
“Jelas beda. Adikmu Sun Kwan itu orang yang ramah dan berbudi, semua orang akan gampang suka padanya. Kamu bukan orang seperti itu, tapi percayalah, menurut Paman kamu lebih unggul daripada Sun Kwan.”
“Jadi menurut Paman, aku bukan orang yang ramah dan berbudi?” Wan Siang cemberut.
“Memang tidak, tapi itulah sifatmu. Mungkin kamu harus lebih ramah dan menunjukkan banyak kebaikan kepada Si Manis, agar ia mulai memandangmu sebagai orang yang ramah dan berbudi.”
Wan Siang tersenyum sinis dan hampir saja menertawakan ide Paman A Seng. Seumur hidup dia tidak dikenal sebagai orang yang ramah, dan tak gampang menunjukkan kebaikan hatinya. Tepatnya ia tak suka berkoar-koar mengenai kebaikan hatinya.
Jika Wan Siang menyumbang atau berbuat kebaikan, ia lebih suka melakukannya tanpa berkata-kata. Ia tipe orang yang lebih banyak bertindak daripada berbicara. Dan sekarang Paman A Seng menghimbaunya agar menjadi orang yang ramah, tentunya itu terasa amat menggelikan bagi Wan Siang sendiri.
“Bukannya kalau sama adik perempuanmu, kau gampang ramah dan tersenyum?”
“Itu berbeda, Siaw Cing adalah adikku, dia memang lucu sejak bayi, jadi aku suka bermain dengannya.”
“Kalau begitu, kau bisa memperlakukan Si Manis seperti kau memperlakukan Siaw Cing.”
“Si Manis bukan adikku, mana bisa aku perlakukan sama dengan Siaw Cing?”
Wan Siang dan Paman A Seng jadi sama-sama bingung. Tetapi pada akhirnya Paman A Seng tetap menyuruh Wan Siang untuk berusaha bersikap lebih ramah dan banyak tersenyum kepada Manis, seperti apa yang dilakukan Sun Kwan.
***
Saat bertemu lagi dengan Si Manis, Wan Siang berusaha melakukan saran dari Paman A Seng. Ia tersenyum kepada Manis begitu melihat gadis itu.
“Tuan sedang mabuk ya, kenapa tersenyum tanpa sebab?”
Serta merta Wan Siang mengubah ekspresinya, yang tadinya mencoba tersenyum semanis mungkin, menjadi datar seperti semula. Dari awal ia sadar kalau saran itu tidak berhasil, karena ramah bukan sifat aslinya. Bukannya merasa senang, Si Manis menganggapnya aneh dan penuh kepalsuan.
“Kenapa kalau Sun Kwan tersenyum, kau juga ikut tersenyum. Tapi kalau aku yang tersenyum, kau malah ketakutan seperti itu?”
“Karena Tuan biasanya tidak begini, jadi saya heran.”
“Lalu bagaimana caranya biar kamu bisa tersenyum padaku?”
“Apakah itu penting? Kenapa Tuan jadi ingin saya tersenyum kepada Tuan?”
“Karena...karena... kau cantik kalau tersenyum, aku ingin melihatmu yang cantik seperti itu, di hadapanku.”
__ADS_1
Kata-kata itu muncul begitu saja dari mulut Wan Siang tanpa kendali. Si Manis jadi geli, sehingga ia tersenyum di hadapan lelaki itu. Pada akhirnya Wan Siang berhasil membuat gadis itu tersenyum, hanya dengan menjadi diri sendiri.