Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 27 Usaha Nona Hu


__ADS_3

Nona Hu semakin lama semakin terpesona oleh Wan Siang, apalagi lelaki itu bersikap tenang di hadapannya. Nona Hu adalah anak tunggal, ia akan menjadi satu-satunya pewaris kekayaan orangtuanya. Itulah alasan banyak lelaki ingin mendekatinya, selain karena dia memang cantik.


Gadis itu selalu berpikir, banyak lelaki yang mendekat karena kekayaannya itu. Padahal Nona Hu ingin ada yang bisa mencintainya dengan tulus, tanpa memandang wajah dan kekayaan. Jika ia bertemu dengan lelaki yang langsung menunjukkan rasa terpikat kepadanya, alam bawah sadarnya selalu mengatakan kemungkinan itu palsu.


Banyak orang berpura-pura baik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Apa jadinya jika Nona Hu jatuh ke tangan orang-orang seperti itu? Ia sungguh merasa takut.


Namun Nona Hu merasa, jika seorang pemuda pada awalnya tidak tertarik kepadanya, lalu tertarik saat lebih mengenal dirinya, maka bisa dikatakan pemuda itu memang tulus kepadanya. Nona Hu memang orang yang mendambakan ketulusan hati.


Ia merasa Wan Siang memang tak menunjukkan ketertarikan, tetapi justru inilah yang membuat Nona Hu semakin ingin mengenal dan dekat dengannya. Benar-benar perempuan dengan sifat yang aneh, atau memang menyukai tantangan.


Setelah pesta usai, Nona Hu mencari cara agar dapat berhubungan dengan Wan Siang lebih lanjut. Maka suatu hari ia memutuskan pergi ke rumah keluarga Liem, dengan ditemani oleh seorang pelayan wanita yang ditugaskan untuk menemani Nona Hu bepergian. Gadis itu tak malu mengambil sikap yang diperlukan untuk mencapai tujuannya.


Saat mengunjungi rumah keluarga Liem, entah kenapa rumah itu terlihat sepi, tetapi ia akhirnya dapat bertemu seseorang yang kemungkinan bisa ia jadikan pijakan. Orang itu adalah Sun Kwan.


“Perkenalkan, namaku Hu Ai Lien. Aku datang ke pesta ulang tahun nyonya Liem kemarin.” Nona Hu memperkenalkan diri.


“Aku Sun Kwan, anak kedua keluarga Liem.”


“Apakah Wan Siang ada?”


Sun Kwan menjelaskan tentang keadaan Wan Siang, sehingga Nona Hu akhirnya paham bahwa lelaki incarannya itu tidak tinggal di situ.


“Aku mengerti sekarang, tetapi bolehkah aku bertanya-tanya tentang kakakmu?” Tanya Nona Hu.


“Boleh,” jawab Sun Kwan.


“Apa kesukaan Wan Siang, apakah ia suka membaca?”


“Tidak, rasanya dia tidak suka membaca.”


“Apakah dia orang yang suka melukis?”


“Nona, kakakku itu tidak suka hal-hal yang bersifat penuh perasaan seperti itu.”


“Aku mengerti,” kata Nona Hu.


“Tetapi aku suka membaca dan melukis.”


“Oh ya, dan apakah kau juga tahu tentang ajaran Tao?”

__ADS_1


“Aku memepelajarinya. Tao mengajarkan bahwa manusia itu harus hidup selaras dengan alam.”


“Benar sekali, aku setuju dengan hal itu.”


Sun Kwan merasa Nona Hu adalah wanita yang cerdas dan cantik, tetapi ia merasa gadis itu ingin mendekati Wan Siang pada saat yang tidak tepat.


“Sun Kwan, apakah kau mau menemaniku untuk mengunjungi tempat tinggal Wan Siang?”


Nona Hu meminta dengan nada suara memohon, membuat Sun Kwan tidak enak hati jika menolak.


“Aku bisa mengantarmu ke sana, tetapi jangan heran jika kau melihat sesuatu yang tak sesuai harapan.”


“Tidak harus dalam waktu dekat ini, karena kemarin kami baru saja bertemu. Jika aku terlalu cepat mencarinya, aku tidak ingin dia berpikir kalau aku sangat terburu-buru.”


“Tetapi Nona hanya bisa bertemu dengan kakakku di Semarang hari Sabtu dan Minggu.”


“Baik, aku akan ingat itu.”


Setelah mendapatkan informasi dari Sun Kwan, Nona Hu dan pelayannya pamit. Sebenarnya Sun Kwan menyanggupi keinginan Nona Hu karena ia kasihan dengan gadis itu. Cepat atau lambat Nona Hu harus mengerti keadaan Wan Siang, lalu menyerah. Seperti halnya Sun Kwan yang akhirnya menyerah pada nasib cintanya yang kandas.


***


Wan Siang hapal betul dengan kebiasaan mamanya. Jika sudah memperkenalkan seorang gadis, maka mamanya itu juga akan mendorong Wan Siang untuk menerima gadis itu sebagai istrinya. Sedangkan Wan Siang sudah bermaksud memperistri Si Manis.


Si Manis tidak tahu beban pikiran Wan Siang saat itu. Tetapi gadis itu tahu bahwa Wan Siang tidak tampak bahagia setelah pulang dari pesta ulang tahun mamanya.


“Engkoh kenapa, pulang dari pesta mamanya kok jadi sedih begitu?”


“Aku sedih karena tidak bisa bawa kamu ke sana, maafkan aku Manis.”


“Saya paham, sebab memang belum waktunya. Saya juga takut nanti banyak orang yang kaget kalau saya dibawa ke sana.”


“Tapi bukan maksudku ingin menyembunyikanmu dari semua orang,” kata Wan Siang.


“Oh jadi karena itu Engkoh sedih? Jangan khawatir, saya bisa mengerti keadaan Engkoh.”


Seandainya Si Manis dapat mengerti isi hati Wan Siang, ada hal lain yang membuat lelaki itu merasa sedih. Bagaimana kalau Si Manis tahu bahwa mamanya telah memperkenalkan Wan Siang dengan seorang gadis bernama Hu Ai Lien di pesta itu?


Wan Siang tidak ingin memberitahu Si Manis sekarang, sebab tak ingin hal itu membebani pikiran Si Manis. Lelaki itu ingin selalu membuat Si Manis bahagia, tak ingin memberikan perasaan sedih.

__ADS_1


Pikiran Wan Siang sedang kacau, ditambah sedikit dorongan dari tubuhnya, membuat lelaki itu merengkuh tubuh Si Manis, sementara tangannya hendak melucuti kebaya gadis itu. Ia ingin segera memiliki Si Manis.


Si Manis yang biasanya melihat Wan Siang sebagai sosok yang tenang, menjadi sangat terkejut dengan perilaku Wan Siang malam itu.


“A ... apa yang mau Engkoh lakukan?”


“Aku ingin memilikimu seutuhnya.”


“Ta..tapi Engkoh tidak biasanya berbuat begini, ada apa dengan Engkoh?”


Si Manis memang mencintai Wan Siang, tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah, Wan Siang malam itu sungguh berbeda dari biasanya. Gadis itu merasa heran.


Si Manis tentu tak akan bisa melawan jika Wan Siang benar-benar menginginkan tubuhnya, sebab gadis itu tak berdaya dan tubuhnya juga kecil dibandingkan dengan Wan Siang. Seluruh kancing kebaya Si Manis telah terbuka, sehingga Wan Siang dapat melihat pakaian dalam gadis itu.


Tinggal selangkah lagi, maka lelaki itu harusnya dapat menguasai tubuh Si Manis. Tetapi melihat Si Manis yang mempertanyakan kelakuannya dengan wajah ketakutan, membuat Wan Siang tidak tega dan menghentikan usahanya.


“Maafkan aku ... aku seharusnya tidak begini, aku benar-benar sampah!” Wan Siang merutuki diri sendiri.


“Engkoh kenapa?” Si Manis bertanya dengan mata berkaca-kaca.


Wan Siang akhirnya dapat berpikir dengan akal sehatnya. Ia mengerti bahwa hukum di Hindia Belanda tak akan memberi hak kepada seorang perempuan yang tidak dinikahi secara hukum.


Seorang wanita tidak dapat menuntut hak waris dari suaminya jika pernikahan mereka tidak tercatat secara sah di mata hukum Hindia Belanda. Kemungkinan terburuknya adalah tidak mendapat hak asuh atas anak-anak mereka sendiri.


Jika mengingat kelakuan mamanya, Wan Siang takut bahwa kalau terjadi apa-apa dengan dirinya, maka nasib Si Manis akan menjadi buruk. Jika ia menghamili Si Manis dan memiliki anak darinya sebelum sah secara hukum, maka jika Wan Siang meninggal, Si Manis akan segera diusir tanpa uang sepeser pun dan tak bisa mendapat hak asuh atas anaknya.


Pemikiran itulah yang membuat Wan Siang selama ini tidak berniat berhubungan badan dengan Si Manis. Ia tak ingin hawa nafsunya itu malah menjadi sumber malapetaka bagi wanita yang dicintainya. Karena cinta yang sejati itu bersifat baik dan melindungi.


Wan Siang juga sudah berjanji kepada ayah Si Manis, untuk melindungi gadis itu dari hal-hal buruk. Jika ia dapat menikahi gadis itu secara sah di mata hukum, tentu nasib Si Manis akan lebih terjamin.


“Aku tidak akan mengulanginya lagi sebelum kita menikah secara sah di mata hukum,” ujar Wan Siang.


“Saya tadi kaget, Engkoh biasanya bersikap lembut kepada saya.”


Wan Siang sedih karena telah membuat Si Manis ketakutan. Mulai saat itu ia tak ingin pikiran buruk menguasai dirinya dan menjadikannya manusia yang buruk pula.


Perbuatan buruk selalu dimulai dari pikiran yang buruk. Wan Siang hanya ingin berpikir hal-hal baik dan bagaimana ia bisa segera menikahi Si Manis, dan menanggung segala akibat keputusannya. Agaknya niat menikahi Si Manis itu harus berhadapan dulu dengan kepentingan mamanya dan juga Nona Hu.


__ADS_1


Hu Ai Lien


__ADS_2