Tuan Muda Liem

Tuan Muda Liem
Bab 40 Pengantin baru


__ADS_3

Perhatian: bab ini mengandung adegan dan narasi 21+ , jika masih di bawah umur atau tidak mau membacanya, boleh dilewatkan.


***


Walaupun pernikahan Wan Siang dan Si Manis tidak dilakukan dengan meriah, tapi mereka tetap sepasang pengantin baru yang sedang merasakan kebahagiaan layaknya pengantin yang pesta pernikahannya gegap gempita.


Setelah menjalankan ritual malam pertama, Wan Siang selalu ingin dekat dengan Si Manis, sebab istrinya itu adalah sumber kebahagiaannya lahir dan batin. Wan Siang tidak pernah menyesal melakukan kawin lari demi Si Manis, sebab kebahagiaan yang didapatkan sepadan dengan perjuangannya.


Si Manis adalah istri yang baik dan pengertian, ia juga seorang wanita yang patuh. Kapan pun Wan Siang menginginkan, Si Manis tidak pernah sekalipun menolak melayani suaminya, hingga perempuan itu akhirnya terbiasa dengan tubuh Wan Siang dan tak lagi merasa sakit ketika bercinta.


Sudah hampir seminggu sejak kejadian malam pertama itu, tapi Wan Siang sepertinya tidak ingin cepat-cepat kembali ke Kudus dan bergulat dengan pekerjaan lagi.


“Koh, kapan kita akan ke Kudus?” tanya Si Manis.


“Ini kan masa bulan madu kita, aku tidak mau cepat-cepat ke Kudus dan bekerja lagi,” ujar Wan Siang.


“Terserah Engkoh saja, tapi apa Engkoh tidak bosan setiap hari cuma melihat saya dan mengajak...”


Si Manis tersipu malu karena hendak mengatakan bahwa tiap hari Wan Siang mengajaknya untuk bercinta. Walaupun kalimat itu tidak diteruskan, tetapi Wan Siang sudah paham.


“Memangnya aku bisa bosan sama kamu? Jangan-jangan justru kamu yang bosan ya diajak terus sama aku?” Wan Siang menggoda istrinya, sampai Si Manis wajahnya merah dan menunduk malu.


“Tidak Koh, saya tidak bosan, kalau bosan pasti saya sudah menolak ajakan Engkoh.”


Wan Siang jadi tertawa geli melihat reaksi Si Manis. Tetapi jawaban istrinya itu membuatnya percaya diri, bahwa sebagai suami, dia bisa membuat Si Manis bahagia dan tidak merasa bosan kepadanya.


Tentu saja Si Manis tidak akan merasa bosan dengan Wan Siang, sebab lelaki itu sangat berpengalaman dalam bercinta dan melakukan hubungan suami istri dengan penuh cinta dan kelembutan, hingga Si Manis tidak lagi merasa tegang dan takut lagi. Malah sebaliknya, perempuan itu jadi menyukai apa yang dilakukan Wan Siang kepadanya. Sebab bercinta dengan Wan Siang sangat menyenangkan dan membahagiakannya. Pendek kata, keduanya selalu merasakan kepuasan.


Karena selalu merasa puas, Si Manis makin lama makin terlihat cantik dan sehat. Aura seorang perempuan yang berbahagia memancar dari dalam dirinya. Itu juga terjadi kepada Wan Siang, akhir-akhir ini ia semakin punya semangat hidup dan semakin tampan. Mungkin karena ia lebih sering tersenyum dan hatinya senang.


Cinta sejati memang layak diperjuangkan, sebab dampaknya akan selalu menempel kepada kehidupan seseorang. Apalagi jika itu sampai menyangkut urusan pernikahan. Pernikahan atas dasar cinta akan membuat orang menjadi bahagia dan segala hal dalam hidup menjadi menyenangkan. Sebaliknya, pernikahan yang tidak didasari cinta hanya menimbulkan rasa sakit yang akan menggerus jiwa dan raga.

__ADS_1


Keputusan Wan Siang memperjuangkan cintanya untuk Si Manis memang tepat. Walaupun tidak membahagiakan semua orang, tetapi keputusan itu membahagiakan dirinya. Dan memang sebelum seseorang berpikir untuk membahagiakan orang banyak, hendaknya ia memperhatikan kebahagiaan dirinya dulu.


Bukan karena egois, tetapi karena manusia yang hidup tanpa merasa bahagia hanya akan menjadi manusia yang tidak pernah puas dalam kehidupannya. Segala hal akan tampak salah di matanya. Lalu ia menjadi manusia yang buruk di mata manusia lainnya, sebab tingkahnya akan menjadi sangat menyebalkan.


Selain berada di hotel, Wan Siang dan Si Manis memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kota Semarang. Dengan memakai kereta kuda yang disediakan hotel, mereka pergi ke berbagai tempat, kadang untuk sekedar makan siang di restoran, atau keliling kota melihat jalan-jalan dan bangunan-bangunan megah yang dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda.


Kali itu mereka memutuskan untuk pergi ke Pecinan lagi. Sambil mengenang perjalanan cinta mereka, Wan Siang membawa Si Manis ke toko perhiasan lagi.


“Memang agak terlambat, tapi hari ini aku ingin membelikanmu cincin sebagai tanda pernikahan kita, tepatnya sepasang cincin untuk kita berdua,” ujar Wan Siang.


“Tidak apa-apa, tidak terlambat bagi saya.”


Mereka memilih sepasang cincin emas. Wan Siang memakaikan cincin itu di jari manis istrinya, begitu pula Si Manis memakaikan cincin itu di jari manis Wan Siang yang ukurannya lebih besar daripada jarinya sendiri. Cincin itu juga sebagai pengikat mereka sebagai suami istri.


Wan Siang melihat Si Manis masih memakai gelang giok yang pertama kali ia belikan untuk Si Manis.


“Ini gelang pertama yang kubelikan untukmu, waktu itu kamu memang membuatku senang karena pijatanmu,” kata Wan Siang sambil melirik istrinya.


“Iya, waktu itu saya gugup. Soalnya saya belum pernah menyentuh tubuh lelaki selain bapak saya yang suka dipijat kakinya sehabis kerja.”


Wan Siang tersenyum kepada istrinya, senyuman itu mengandung arti yang sepertinya bisa diterjemahkan oleh Si Manis.


“Jangan-jangan Engkoh lagi kepengen dipijat ya?”


“Ah, aku senang karena kamu sudah cepat tanggap dan semakin pengertian.”


“Saya sudah lama hidup bersama Engkoh, tentunya saya bisa lebih cepat paham maksudnya Engkoh.”


Wan Siang rasanya tidak ingin berlama-lama berada di luar, ia menggandeng tangan Si Manis dan mengajaknya masuk ke dalam kereta kuda, kemudian kembali ke hotel.


Jika ditanya bagaimana awal mula Wan Siang bisa tertarik dengan Si Manis, tentu semua berawal dari mata. Wan Siang melihat tubuh Si Manis yang sedang berubah dari seorang gadis remaja tanggung yang menuju dewasa. Kedua, karena secara tak sengaja, Wan Siang menemukan kenyataan bahwa tubuhnya bereaksi ketika mendapat sentuhan dari Si Manis.

__ADS_1


Semakin lama ia mendambakan sentuhan itu hanya ditujukan untuk dirinya saja. Ia tidak rela jika Si Manis menyentuh lelaki lain. Singkatnya, tubuh Wan Siang memang tertarik dan mendambakan Si Manis.


Sekembalinya ke kamar hotel, Wan Siang membuka setelan jasnya dan berganti pakaian dengan kaos putih. Kemudian dia tidur telungkup seraya bersiap-siap untuk dipijat.


Karena Si Manis adalah istri yang baik, ia mengabulkan keinginan Wan Siang. Si Manis memijat suaminya, tetapi kali ini ia hanya mengenakan kain jarik yang ia lilitkan di tubuhnya seperti kemben, layaknya wanita Jawa zaman dahulu. Sekarang ia tak malu berpakaian seperti itu di hadapan Wan Siang.


Tentunya Wan Siang sangat bahagia memiliki istri cantik, bertubuh indah, dan pandai memijat seperti Si Manis. Bersama Si Manis, Wan Siang tidak akan pernah merasa lelah.


Dahulu di rumah Wan Siang, saat Si Manis diperintahkan memijat tubuh Wan Siang untuk pertama kali, perempuan itu merasa takut dan was-was. Kini ia melakukannya dengan penuh kerelaan. Wan Siang merasakan sensasi yang sama seperti dahulu, tubuhnya merasa nyaman dan menginginkan Si Manis. Tetapi kini ia bisa mendapatkan apa yang dulu ia dambakan.


Si Manis juga lebih berani memijat Wan Siang. Dia meminta Wan Siang membuka pakaian dengan alasan agar bisa memijat dengan lebih baik. Memang lebih enak bagi keduanya seperti itu, tangan menyentuh badan, kulit bertemu kulit, sentuhan dan pijatan Si Manis makin terasa oleh Wan Siang.


Belum terlalu lama Si Manis memijat Wan Siang, lelaki itu memerintahkannya untuk berhenti, kemudian mengajak istrinya untuk membuka kain penutup tubuh dan bercinta dengannya untuk kesekian kali. Setelah selesai, mereka terkulai lemas tidur bersisian.


“Aku menginginkanmu sejak hari itu, saat tanganmu mulai menyentuhku,” kata Wan Siang.


“Maksud Engkoh waktu Engkoh minta dipijit kepalanya setelah mabuk?” Tanya Si Manis.


“Tidak, mana bisa aku mikir waktu mabuk? Aku juga tidak tahu, kenapa aku cari kamu waktu lagi mabuk.” Wan Siang tertawa waktu mengingat masa-masa dirinya yang masih suka mabuk-mabukan.


“Waktu itu saya benar-benar takut, saya tidak biasa menghadapi orang mabuk.”


“Aku jadi kepengen tahu, sejak kapan kamu tertarik sama aku?” Tanya Wan Siang.


Ditanya seperti itu, Si Manis tersenyum malu hingga mengalihkan pandangannya agar wajahnya itu tak terlihat oleh Wan Siang.


“Eh... waktu... waktu Engkoh suruh saya lihat wajah Engkoh.” Akhirnya Si Manis menjawab.


“Aku pikir waktu itu kamu takut sama aku.”


“Saya memang takut, karena saya tidak kenal Engkoh, dan karena kedudukan Engkoh. Tapi saya tertarik melihat wajah Engkoh, karena Engkoh waktu itu walaupun galak, wajahnya Engkoh ganteng sekali.”

__ADS_1


“Memang benar ya, cinta itu awalnya memang dari mata, lalu turun ke hati.”


Tetapi cinta itu memang suatu hal yang misterius. Dua insan bisa tertarik satu sama lain hanya melalui pandangan mata. Tetapi juga tak sembarangan pandangan mata. Buktinya Wan Siang tak tertarik dengan banyak wanita cantik. Cinta datang seperti angin, tak pernah diundang, kadang pergi juga bagaikan angin setelah badai besar. Selalu ada hal yang membuat cinta itu terasa sangat misterius.


__ADS_2