
Wan Siang sangat senang bisa berjumpa lagi dengan Tini, orang yang mengasuhnya dulu. Jauh dari keluarga sendiri tentu membuatnya sedih, tetapi Tini adalah orang yang sejak dulu sangat berarti baginya, seperti ibu sendiri.
“Tadinya aku kesal kenapa aku bisa ditipu dan uangku hilang, tapi... sekarang aku merasa beruntung,” kata Wan Siang ke Si Manis.
“Memangnya kenapa Koh, kok bisa berpikir begitu?” Istrinya bertanya.
“Aku sudah tidak kerja sama lagi dengan pemilik perkebunan yang lama, tapi aku ketemu perkebunan baru yang jauh lebih baik. Baik pemiliknya maupun barangnya. Dan ternyata pemilik perkebunan itu dulu adalah pengasuhku, namanya Tini.”
“Tini yang dulu diusir mamanya Engkoh?”
“Iya, sekarang dia sudah kaya, tapi tetap baik orangnya.”
“Orang baik ketemunya orang baik Koh, tidak usah heran.”
“Lho tapi kamu dari dulu baik, kok ketemunya malah sama aku. Yang hidupnya kacau?” Wan Siang ingat masa lalunya yang tak lepas dari perkelahian, mabuk, dan judi.
“Kadang orang baik dipertemukan dengan orang yang kacau, agar bisa membuat orang yang kacau itu kembali baik. Karena semua orang itu pada dasarnya baik, mana ada bayi yang lahir langsung jahat Koh?”
“Coba kita ketemu sejak bayi ya, aku pasti tidak akan sempat jadi orang yang kacau,” ujar Wan Siang.
“Begitulah kehidupan Koh. Semua punya jalannya masing-masing. Tidak mungkin kita ketemu sejak bayi, sebab pemerintah memisahkan pemukiman kita.”
“Tidak apa-apa, yang penting pada akhirnya kita ketemu. Asam di gunung, garam di laut, akhirnya ketemu di mangkuk sebagai sayur asam, hahaha....”
“Hahaha...Engkoh bisa saja.”
“Oh iya, nanti kamu masak sayur asam buat aku ya. Sejak punya istri kamu, aku sekarang jadi suka masakan Jawa, jangan lupa ikan asin dan tempe gorengnya.”
“Masakan China juga enak Koh, saya jadi suka makan bebek Peking yang sering Engkoh belikan.”
Sejak hamil, Si Manis memang tidak suka makan daging, tetapi entah kenapa itu tidak berlaku jika Si Manis makan hidangan bebek Peking yang dibeli Wan Siang dari salah satu rumah makan langganannya di Kudus.
“Anak di dalam perut saya ini pasti wajahnya mirip Engkoh, karena dia suka sekali makan bebek Peking. Itu kan makanan kesukaannya Engkoh.”
“Kalau begitu, bagus. Sesuai dengan keinginanmu.”
Si Manis dan Wan Siang telah terbiasa hidup sendiri, jauh dari keluarga. Walaupun awalnya mereka sedih, tetapi karena sabar dan tenang dalam menjalani perubahan, akhirnya mereka bisa hidup bahagia dengan mencoba menerima apa pun yang terjadi.
Saat mereka berdua bersenda gurau, mereka dikejutkan oleh kehadiran Tuan Liem, Sun Kwan, dan Siaw Cing. Si Manis tadinya merasa mungkin itu cuma mimpi, beberapa kali dia mengusap-usap matanya untuk memastikan penglihatannya.
“Papa? Sun Kwan? Siaw Cing? Kenapa ada di sini? Dari mana kalian tahu tempat tinggalku?” tanya Wan Siang, kaget.
__ADS_1
“Dari siapa lagi, kalau bukan dari A Seng,” kata Tuan Liem.
Siaw Cing lalu menghambur ke arah Si Manis, dan tampak takjub dengan keadaan Si Manis yang tengah berbadan dua.
“Kakak ipar....”
“Siaw Cing...”
Siaw Cing ingin sekali memeluk Si Manis, tetapi karena perempuan itu tengah hamil, maka Siaw Cing akhirnya hanya bisa memegangi tangannya saja, kemudian menyentuh perutnya.
“Ini keponakanku ya? Aku tidak sabar mau lihat dia lahir,” kata Siaw Cing.
“Pasti dia nanti senang kalau lihat bibinya yang cantik,” ujar Si Manis.
Sun Kwan sudah sepenuhnya sehat sehingga bisa ikut pergi ke Kudus. Ia bahagia melihat Wan Siang dan Si Manis yang sudah hidup bahagia dan akan memiliki anak.
“Sun Kwan, Siaw Cing, Papa... senang bisa ketemu lagi,” kata Wan Siang.
Wan Siang sangat terharu dengan pertemuan keluarga itu, sebab sudah lama sekali, berbulan-bulan, ia dan Si Manis hidup bagaikan anak-anak yang terbuang.
Tetapi rasa haru itu tak sebanding saat Wan Siang melihat Ny. Liem tiba-tiba masuk melewati pintu rumahnya.
“Mama....”
Si Manis masih saja merasa takut dengan Ny. Liem, sehingga ia langsung menunduk. Saat perempuan Jawa itu menunduk, Ny. Liem menghampirinya dan mengelus perutnya yang membesar.
“Tak perlu menundukkan kepala kepada Mama mertua,” ujar Ny. Liem.
Si Manis perlahan-lahan menegakkan kepalanya hingga matanya langsung menghadap wajah Ny. Liem yang cantik.
“Mama mertua...”
Ny. Liem tersenyum kepadanya, seolah ia wanita yang berbeda dari ketika Si Manis terakhir kali melihatnya. Si Manis yang sudah lama kehilangan ibu kandung jadi tidak bisa membendung air matanya, akhirnya ia kembali memiliki seorang ibu, juga seorang ayah, saudara laki-laki dan perempuan.
Wan Siang hampir tidak percaya kenyataan bahwa seluruh keluarganya hadir di rumahnya. Dan Ny. Liem sepertinya sudah menerima Si Manis. Ia jadi tak bisa membendung perasaan, matanya berkaca-kaca.
“Benarkah ini Ma? Mama sudah menerima kami?”
“Wan Siang, Mama tahu kau pasti sangat kecewa kepada Mama selama ini. Maafkanlah Mama, kalian berdua pasti sudah sangat sedih karena harus hidup seperti ini.”
“Ya, aku sudah hampir putus asa. Kami kira, selamanya kami akan hidup sebagai anak-anak yang terbuang.”
__ADS_1
“Kini, janganlah berpikir seperti itu lagi. Keluarga telah berkumpul, tidak ada lagi istilah anak yang terbuang. Dan juga Si Manis, dia sekarang adalah anak perempuan Mama juga.”
“Nama saya Parjiyem, Mama...”
“Parjiyem, sekarang kau adalah anakku.”
“Tetapi Mama boleh memanggil saya Si Manis. Karena Engkoh dan semua orang sudah terbiasa dengan nama itu.”
Si Manis merasa dia belum memperkenalkan dirinya sebagai Parjiyem kepada Ny. Liem, sehingga ia perlu menyebutkan nama aslinya.
“Sekali-kali pulanglah ke Semarang,” kata Ny. Liem.
“Kami akan merasa senang, jika bisa sering ke Semarang dan bertemu dengan keluarga,” ujar Wan Siang.
“Jika kalian ke Semarang, tinggallah di rumahmu yang lama, Wan Siang. Setelah kau pergi, rumah itu tetap diurus dengan baik. Mama memutuskan untuk memberikan rumah itu kepada kalian sebagai hadiah pernikahan yang tak sempat kami hadiri dulu.”
Wan Siang dan Si Manis saling berpandang-pandangan. Betapa bahagia hati mereka mendengar rumah yang menyimpan sejuta kenangan cinta mereka itu akhirnya dikembalikan kepada mereka dengan hak milik penuh.
“Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sangat berterima kasih atas pemberian Mama. Kami akan sering-sering pulang ke Semarang dan berkumpul dengan keluarga.”
“Maksud kedatangan kami ke sini, selain menjenguk kalian, juga ingin mengundang kalian ke pesta pernikahan Sun Kwan dan Nona Hu.”
“Nona Hu?!” Wan Siang dan Si Manis nyaris mengucapkannya secara bersamaan.
“Ya, Nona Hu. Setelah kalian menikah, kami berteman baik dan pada akhirnya kami memutuskan untuk menikah,” kata Sun Kwan.
“Selamat, Sun Kwan. Aku senang akhirnya kau bisa menemukan wanita yang cocok denganmu,” ujar Wan Siang. Si Manis juga setuju dengan perkataan Wan Siang.
“Aku juga mengucapkan selamat atas pernikahanmu, Sun Kwan. Nona Hu adalah gadis yang cantik dan cerdas, kalian berdua sangat serasi,” kata Si Manis.
Ny. Liem tak menyangka ia bisa bertemu dan berkumpul dengan keluarganya lagi, ditambah dengan cucu yang sedang dikandung oleh menantu perempuannya. Setelah memaafkan kesalahan suaminya di masa lampau dan melepaskan dendam, hatinya menjadi jauh lebih tenang dan bahagia.
“Oh ya Mama... sebenarnya aku telah bertemu lagi dengan pengasuhku yang dulu, Tini.”
Ny. Liem sangat terkejut mendengar nama Tini disebut lagi oleh Wan siang. Ia kembali mengingat kesalahannya yang telah lalu kepada Tini yang telah difitnah dan diusirnya secara kejam.
“Tini... bagaimana kabarnya sekarang?”
“Mama pasti akan terkejut melihat dia sekarang. Sebab dia kini lebih sering disapa dengan panggilan Ny. Willem. Dia pemilik perkebunan tembakau di Temanggung yang kini bekerja sama dengan perusahaanku.”
Ny. Liem seolah diingatkan kembali oleh masa lalunya yang buruk. Seperti suaminya, ia juga telah berbuat kesalahan besar kepada seseorang. Dan ternyata orang yang dulu dia hina, sekarang malah menjadi orang yang tinggi derajatnya.
__ADS_1
Bunyi kereta kuda kembali terdengar dan akhirnya berhenti di halaman depan rumah Wan Siang. Dari dalamnya keluar sosok dua orang perempuan yang mengagetkan semua orang. Seorang wanita Jawa berkebaya dan satunya lagi seorang nona Belanda dengan gaun putih nan menawan. Ny. Liem hampir saja kehilangan kata-kata saat melihat kehadiran mereka berdua.