
Wan Siang dan Si Manis memilih untuk menetap di Semarang ketika usia kandungan Si Manis menginjak 9 bulan. Selain karena beban mengandung memang lebih berat, juga agar sewaktu-waktu Si Manis melahirkan, bisa dekat dan diurus oleh keluarga Liem.
Menyadari bahwa ada keluarga yang memperhatikan, Si Manis tidak sedih lagi, tidak seperti awal mula ia mengandung. Ny. Liem dan Siaw Cing jadi bisa sering-sering mengunjungi Si Manis di rumahnya, sehingga rasa kekeluargaan mereka menjadi lebih erat.
Wan Siang jadi merasa agak takut menjelang hari kelahiran anaknya, ia berharap istrinya bisa kuat dan selamat dalam proses persalinan. Dan memang Wan Siang dibuat ketakutan saat Si Manis menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan.
Perutnya mulas-mulas dan bayinya sudah mulai mendesak ingin segera keluar.
Si Manis melahirkan dibantu oleh bidan setempat dan dilakukan di rumahnya, seperti umumnya kelahiran yang terjadi pada waktu itu. Wan Siang berada di luar kamar dengan wajah panik setiap kali istrinya mengerang dalam proses melahirkan, hingga akhirnya terdengar suara pecah tangis bayi yang selama ini sudah ia nanti-nantikan.
Suara tangis bayi itu membuat hati semua orang merasa lega, tandanya bayi telah lahir dengan selamat. Wan Siang masuk ke dalam kamar dan melihat Si Manis yang terlihat letih dan berkeringat terbaring lemah, tetapi seulas senyum menghiasi wajahnya.
“Koh, anak kita sudah lahir...”
“Manis, untunglah kau selamat, aku takut kalau kamu kenapa-kenapa,” ujar Wan Siang dengan wajah bahagia.
Tak lama kemudian, setelah si jabang bayi dibersihkan dan dibungkus dengan kain jarik, bidan menidurkan bayi mungil itu di sebelah Si Manis.
“Selamat Nyonya, Anda telah melahirkan bayi perempuan yang cantik dan sehat. Selamat Tuan,” ujar bidan, seorang wanita Tionghoa yang sudah berpengalaman membantu persalinan selama puluhan tahun.
“Benar kata orang, Anda adalah bidan terbaik di sini. Saya tidak akan melupakan jasa Nyonya,” kata Wan Siang.
“Lihat Koh... anak kita persis Engkoh, dia cantik, kulitnya putih...” Si Manis sangat gembira melihat paras putrinya yang memang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan Wan Siang.
Wan Siang adalah anak Ny. Liem yang cantik jelita, sehingga jika melihat wajahnya, orang tak hanya akan menganggap ia tampan, tetapi juga cantik, karena parasnya yang memiliki unsur-unsur kelembutan wanita, seperti hidungnya yang mancung, kulitnya halus, dengan bibir lembut berwarna kemerahan, dibingkai oleh wajah bentuk bulat telur sempurna.
Si Manis merasakan betapa sakitnya proses melahirkan itu, dan setelah melahirkan pun rasa sakit masih menyerang daerah kewanitaannya, darah masih mengalir sedikit demi sedikit dari dalamnya. Namun Si Manis sudah tidak lagi merasa cemas akan dirinya sendiri, rasa bahagia melihat putrinya mengalahkan semua kecemasan yang pernah terlintas di benaknya.
Tak lama kemudian, Tuan dan Nyonya Liem serta Siaw Cing datang. Betapa senangnya mereka semua saat mengetahui cucu pertama keluarga Liem telah dilahirkan dengan selamat tanpa hambatan yang berarti.
Ny. Liem memegang tangan Si Manis dengan tulus, seolah ia anak kandungnya sendiri.
“Terima kasih karena telah memberi kami cucu yang cantik,” ujar Ny. Liem.
Nyonya Liem adalah salah satu orang yang paling berbahagia saat mengetahui bahwa jenis kelamin anak Wan Siang adalah perempuan. Karena anak itu jadi mirip sekali dengan Ny. Liem. Wanita itu merasa begitu dekat dengan bayi Si Manis.
Siaw Cing juga sangat antusias saat melihat keponakannya yang baru lahir itu, apalagi dia tidak pernah punya adik, jadi melihat anak Wan Siang seperti melihat sesuatu yang selama ini begitu didambakannya.
“Aih lucunya keponakanku ini, hei... ini Bibi Cing...”
Tuan Liem memperhatikan keluarga kecil putranya itu dan tak menyangka kalau ia sudah jadi seorang kakek sekarang.
“Selamat Wan Siang, kau kini jadi seorang ayah,” ucap Tuan Liem.
“Terima kasih Papa.”
Wan Siang menerima ucapan tulus itu dan tiba-tiba ia merasa dekat dengan ayahnya. Sebelumnya ia merasa agak jauh dengan ayahnya itu dan seringkali tak mematuhi keinginannya. Kini, karena sudah memiliki anak, membuat Wan Siang tahu rasanya menjadi seorang ayah yang menginginkan kebaikan untuk anaknya.
Dengan begitu, ia dapat memahami tindakan ayahnya selama ini. Salah satunya adalah penutupan rumah judi. Wan Siang sudah tidak lagi sakit hati karena ayahnya dulu memerintahkan rumah judinya ditutup, dengan bantuan Lie Kuan Tay, guru silatnya.
Penutupan rumah judi itu membuat Wan Siang jadi semakin dekat dengan Si Manis, dan ia jadi punya usaha baru yang lebih baik dan kini sudah menghasilkan pundi-pundi kekayaan yang nilainya makin lama makin besar. Kebahagiaan dalam hidup Wan Siang rasanya menjadi sangat lengkap.
“Apa Engkoh sudah mempersiapkan nama untuk anak perempuan kita ini?” tanya Si Manis.
“Beberapa hari belakangan, aku memikirkan nama dengan dua kemungkinan, karena anak kita perempuan, maka aku beri nama Giok Ling, dengan marga Liem di depan namanya.”
__ADS_1
“Giok Ling... nama yang sangat indah, seindah wajahnya Koh.”
Ai Lien dan Sun Kwan juga datang, mereka ikut berbahagia dengan lahirnya Giok Ling ke dunia. Sungguh seorang bayi yang membawa kebahagiaan.
“Selamat kakak ipar,” ujar Ai Lien dan Sun Kwan.
Ai Lien jadi ingat peristiwa saat dirinya memohon kepada Wan Siang untuk menikahinya saat mengunjungi rumah itu dulu. Kini ia sadar, mengapa keinginannya itu tidak bisa terwujud. Rupanya takdir telah menggariskan bahwa Wan Siang pada akhirnya menikah dengan Si Manis. Walaupun diusahakan seperti apa pun, kalau tidak jodoh, maka tidak akan berhasil. Sun Kwan juga menyadari hal yang sama.
***
Sebenarnya Wan Siang tidak memiliki banyak pengalaman dalam mengurus atau mengasuh anak. Dulu saat ia masih kecil dan bermain dengan Siaw Cing, ia seringkali membuat adiknya itu menangis akibat sifatnya yang jahil.
Kini Wan Siang memiliki keinginan untuk bermain dengan putrinya, karena tak biasa mengasuh anak, membuat tingkahnya jadi lucu di mata Si Manis.
“A Ling... lihat Papa, nanti kamu jangan jadi anak nakal seperti Papa ya, harus jadi anak baik seperti Mama, mengerti?” ujar Wan Siang dengan wajah yang serius.
Giok Ling memperhatikan wajah Wan Siang dengan tingkat keseriusan yang sama.
“Engkoh... Giok Ling kan masih kecil, mana ngerti kalau Engkoh kasih tahu begitu. Mendingan ajak main sama boneka yang diberikan Siaw Cing kemarin.” Boneka yang dimaksud adalah boneka dengan bentuk anak perempuan yang terbuat dari kain dan diisi dengan kapas.
“Aku tidak pernah main boneka,” ujar Wan Siang.
“Apa boleh buat, Engkoh harus belajar main boneka, kan anak kita perempuan,” kata Si Manis.
Wan Siang baru merasakan betapa peliknya jadi ayah saat ia harus belajar cara-cara bermain boneka, karena anaknya adalah perempuan. Tetapi Wan Siang yang sifatnya jantan itu sepertinya ragu-ragu untuk melakukannya.
“Eh..Giok Ling, ini boneka dari Bibi Cing, kamu suka tidak?”
Giok Ling melihat boneka itu dan tampak girang, lalu Wan Siang mulai mencoba memainkan boneka itu di hadapan bayinya.
Si Manis tak bisa menahan tawanya, suaminya itu memainkan boneka dengan wajah serius. Wajahnya memang tak biasa ramah, karena sudah begitu dari dulu. Kalau Siaw Cing melihatnya, pasti akan teringat masa kecilnya bersama Wan Siang dulu.
“Ya sudah kemarikan bonekanya Koh, biar saya yang mainkan,” ujar Si Manis.
Direbutnya boneka kain itu dari tangan Wan Siang, kemudian Si Manis memasang wajah yang manis dan ramah di hadapan bayinya, sambil memainkan boneka itu.
“Giok Ling, anakku yang paling cantik, jangan kaget ya, Papamu memang begitu. Sini sayang main sama Mama.”
Si Manis kemudian menyanyikan lagu anak-anak, seperti yang pernah ia dengar dulu waktu kecil.
“Gundhul-gundhul pacul..cul...gembelengan
Nyunggi-nyunggi, pacul..cul..gembelengan
Wakul ngglempang , segane dadi sak ratan
Wakul nggelempang, segane dadi sak ratan.”
(Gundul-gundul cangkul sembarangan
Membawa bakul nasi sembarangan
Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman
Bakul terguling, nasinya tumpah sehalaman).
__ADS_1
“Eh...aku juga ingat lagu Kuo Yi untuk anak-anak, coba aku nyanyikan untuk Giok Ling.”
Wan Siang kembali mengingat lagu Tiongkok klasik yang dulu pernah dipelajarinya waktu kecil.
“She sang ce you mama hao
You ma ti hai ce siang ke pao
Dou cin mama ti huai pao
Sing fu siang pu liau
Mei you mama cue gu nao
Mei ma ti hai ce siang ken jao
Li gai mama ti huai pao
Sing fu na li cao
She sang ce you mama hao
You ma ti hai ce pu ce tao
Yao she da ce
Meng li ye hue siao.”
(Di dunia ini hanyalah ibu yang terbaik
Anak yang mempunyai ibu seperti mustika
Berada dalam pelukan ibu
Menikmati kebahagiaan tiada akhir
Tak memiliki ibu paling merisaukan
Anak tanpa ibu seakan rumput belaka
Berpisah dari pelukan ibu
Ke manakah mencari kebahagiaan
Di dunia ini hanyalah ibu yang terbaik
Anak yang memiliki ibu tak menyadarinya
Apabila dia mengetahuinya
Dalam mimpipun dia akan tersenyum).
Si Manis yang selama ini tidak pernah mendengar Wan Siang menyanyi menjadi terkagum-kagum saat mendengar suaminya itu menyanyikan lagu untuk putrinya. Suara Wan Siang ternyata enak didengar, hingga Si Manis pun bisa menikmati lagu yang dibawakannya itu.
Memang benar apa kata orang, jika seseorang memiliki anak, ia harus bisa kembali seperti anak-anak. Menjadi kawan bermain yang menyenangkan untuk anak-anak mereka, sehingga hati orangtua dan anak bisa terpaut dan dekat satu sama lain.
__ADS_1
Wan Siang dan Si Manis sangat menikmati hari-hari mereka sebagai orangtua, kebahagiaan mereka menjadi semakin bertambah, sehingga masalah dan kesedihan masa lalu dapat terlupakan.