
Ketika Si Manis sadar dari pingsannya, ia dikelilingi teman-teman yang dulu biasa bermain dengannya. Bulik Ningsih telah mengabarkan berita kematian ayah Si Manis lewat pemimpin kampung, yang serta merta membuat orang berbondong-bondong ke rumah Si Manis.
Ayah Si Manis meninggal sekitar pukul delapan pagi, menurut lazimnya orang yang meninggal di kampung, jenazah akan dimakamkan pada hari yang sama, jadi kemungkinan Si Manis tak punya waktu lama untuk melihat ayahnya.
“Parjiyem, yang sabar ya,” salah satu temannya menghibur.
Jika Parjiyem melihat teman-teman sepermainannya, ia merasa hidup begitu sederhana, hanya sebatas bermain-main sampai dipanggil orangtuanya untuk pulang. Namun ia sudah tak lagi berpikir tentang bermain. Rasanya, semakin beranjak dewasa, kehidupannya terasa semakin pelik.
Teman-temannya juga sebagian sudah menikah dan punya anak, padahal umur mereka tak terpaut jauh dari Si Manis, masih belasan tahun. Seringkali orangtualah yang merenggut masa remaja yang indah seorang anak perempuan, hanya untuk memenuhi ego sendiri.
Di kampung Si Manis, gadis yang cepat menikah dianggap berharga, sedangkan yang lambat menikah akan dicap perawan tua, seolah itu aib. Pernikahan anak seperti perlombaan, seperti balap karung. Siapa yang cepat menikah, dialah pemenangnya, tak peduli nasib si anak setelah pernikahan itu.
Tak heran banyak anak yang sudah menikah masih membebani orang tuanya, tak bisa hidup mandiri, sebab orang tua mereka tak mengajari tentang kemandirian. Tetapi pemikiran orang di kampung Si Manis rata-rata masih begitu sederhana, kebanyakan mereka juga tak pernah mengenyam bangku sekolah dan buta huruf. Pekerjaan yang dilakukan kebanyakan pekerjaan kasar dengan upah rendah yang hanya cukup untuk makan.
Itulah yang membuat Si Manis tak berani berharap lebih. Jika masih hidup dan cukup makan, maka dia merasa beruntung. Tak berpikir tentang cita-cita dan harapan yang tinggi. Justru semakin berharap, semakin menakutkan rasanya. Jika harapan itu tak menjadi nyata, maka hanya sakit yang diterima. Tak berharap sama dengan tidak menantikan rasa sakit itu datang.
Ketika bertemu teman-temannya lagi yang berusaha menghiburnya, hati Si Manis agak lega. Wan Siang dapat melihat Si Manis mampu bangkit lagi dan menyapa teman-temannya.
Tidak ada yang pernah menyangka bahwa kepulangan Si Manis dengan tujuan untuk menengok ayahnya, adalah hari kepulangan ayahnya dari dunia fana. Untunglah Wan Siang menemani Si Manis, sehingga gadis itu tak perlu mengalami semua peristiwa memilukan itu sendirian.
Sebelumnya Wan Siang terpuruk. Kali itu giliran Si Manis. Kini keduanya berada dalam titik terendah dalam hidup. Perasaan mereka satu dalam kesedihan.
Wan Siang membiayai dan mengurus pemakaman ayah Si Manis dengan baik. Ia meminta tolong kepada kepala kampung dan penduduk setempat dengan memberikan uang sebagai tanda terima kasih. Proses pemakaman berjalan dengan sangat lancar. Setelah semuanya selesai, Wan Siang mengajak Si Manis pulang kembali ke rumahnya.
Si Manis memutuskan membagi-bagikan uang miliknya yang dulu diberi oleh Wan Siang, padahal tadinya dia ingin berikan uang itu untuk ayahnya. Sebagian uang itu diberikan kepada bulik Ningsih yang telah merawat ayahnya, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup selama enam bulan. Sebagian lagi Si Manis bagikan kepada teman-temannya yang hidup kekurangan. Dia menyimpan beberapa gulden saja sebagai pegangan.
***
Si Manis seperti tidak punya daya hidup. Pandangan matanya kosong dan dia jadi sering melamun. Dia mengenang kebersamaan dengan orangtuanya dulu, sampai lupa mengurus diri sendiri.
“Kamu makan dulu, dari tadi kamu belum makan. Kalau tidak makan nanti sakit,” kata Wan Siang.
Si Manis tidak menjawab, dia hanya menggeleng seperti orang yang hilang kewarasan.
“Apa perlu aku suapi? Mau ya, kalau aku suapi,” bujuk Wan Siang.
Seumur hidupnya, Wan Siang tidak pernah melayani perempuan, tetapi saat itu ia dengan suka rela membawakan baki berisi makanan dan air putih, seperti yang pernah dilakukan Si Manis kepadanya.
Wan Siang menyendok makanan dan membujuk Si Manis untuk makan.
“Kalau kamu tidak mau makan, nanti bapak dan ibumu sedih. Katanya orang yang sudah mati tetap bisa melihat keluarganya yang masih hidup. Kamu tidak ingin mereka sedih kan?”
“Tidak, Tuan.”
“Kalau begitu makanlah, biar aku yang suapi.”
Setelah dibujuk barulah Si Manis mau makan dan minum, tentu saja dengan disuapi oleh Wan Siang. Lelaki itu sangat senang Si Manis mau makan, walaupun cuma habis setengah piring.
“Maaf jadi merepotkan Tuan.”
__ADS_1
“Aku sudah janji sama bapakmu buat menjaga kamu, artinya kamu sudah jadi tanggung jawabku. Lelaki sejati tidak boleh melanggar janji.”
“Sekarang saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi,” ujar Si Manis dengan pandangan menerawang.
“Kamu tidak sendirian, ada aku.”
Si Manis menoleh ke arah Wan Siang. Setelah kehilangan kedua orangtuanya, memang tak ada lagi orang yang bisa ia jadikan pegangan kecuali lelaki itu. Dengan semua kejadian yang menimpa Si Manis, Wan Siang jadi ingin segera membuka usaha baru, untuk menguatkan dirinya dan juga demi wanita yang sekarang hidup bergantung kepada dirinya. Lelaki itu ingin mengentaskan dirinya dan Si Manis dari keterpurukan, berjuang dari titik hidup yang paling rendah.
Wan Siang tidak pernah diajarkan ibunya tentang apa itu kasih sayang, dan bagaimana cara mengungkapkan perasaan itu. Sebenarnya ia menyayangi Siaw Cing, tetapi ia selalu berbuat hal-hal yang mengganggu adiknya itu sebagai tanda kasih sayang. Itu malah membuat Siaw Cing kesal.
Kala Wan Siang terluka, rasa belas kasih pertama yang dia terima adalah dari Si Manis. Wan Siang mulai mempelajari bagaimana seharusnya memperlakukan orang yang sedang terluka dan sedih. Yaitu dengan memperhatikan kebutuhan dasar orang itu.
“Manis, apa kamu mau jadi anak yang berbakti?” Tanya Wan Siang.
“Tentu saja, Tuan.”
“Kalau begitu turutilah wasiat terakhir dari bapakmu, biarkan aku menjagamu. Mulai sekarang kamu jangan anggap dirimu sebagai perempuan pelunas utang. Anggaplah diriku sebagai pelindungmu. Jangan anggap dirimu lebih rendah dari aku. Walaupun sekarang kita dalam titik terendah hidup kita, sama-sama sedih dan terluka, tapi itulah yang membuat kita setara.”
Si Manis terkejut dengan pernyataan Wan Siang. Wasiat ayahnya telah mengubah jalan pikiran lelaki Tionghoa itu. Tiba-tiba gadis itu pun harus mengubah pola pikirnya tentang Wan Siang. Perubahan yang sangat luar biasa.
“Sekarang jangan panggil aku Tuan. Karena itu panggilan seorang bawahan kepada majikan. Panggil aku Koh Wan Siang. Mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan namaku, namaku Liem Wan Siang.”
Si Manis lebih terkejut lagi, dari dulu orang selalu berkata, apalah arti sebuah nama. Tetapi seseorang dengan derajat yang tinggi selalu pantas untuk disebut Tuan oleh semua bawahannya. Keharusan memanggil nama dengan panggilan yang dekat seperti itu serta merta membuat Si Manis terkesiap. Pandangannya tentang Liem Wan Siang sebagai seseorang yang membelinya dari sang ayah harus dihapuskan. Jadi lelaki itu bukan lagi majikan yang membelinya seperti budak, melainkan seorang pelindung, seperti panglima perang yang melindungi seorang putri kerajaan yang berharga.
“T... Tuan... “ Si Manis tergagap.
“Jangan panggil aku Tuan.”
“Nanti kamu akan terbiasa,” Wan Siang tersenyum.
***
Karena pernyataan Wan Siang tempo hari, perilaku Wan Siang kepada Si Manis juga berubah. Ia memberikan Si Manis kelonggaran dan hak sebagai seorang manusia merdeka. Sekarang Si Manis memiliki hak berpendapat, dan hak untuk menerima atau menolak keinginan Wan Siang. Tidak ada lagi paksaan dan kekangan. Dengan begitu, Si Manis dibebaskan untuk pergi ke mana saja yang ia mau, berbuat sesuatu yang ia inginkan, walaupun pada akhirnya ia harus pulang kembali ke rumah Wan Siang yang menjadi pelindungnya.
Karena memperlakukan Si Manis selayaknya manusia merdeka, Wan Siang menjadi jauh lebih baik dalam pandangan Si Manis sendiri. Gadis itu merasakan kebaikan yang ia terima dari Wan Siang adalah kebaikan yang tulus, sehingga membuat Si Manis juga terdorong untuk berbuat baik kepada Wan Siang dengan setulus hati.
Si Manis juga tak perlu tidur di kamar Wan Siang untuk menemaninya. Dia sudah boleh tidur di kamarnya sendiri.
“Sebenarnya Koh Wan Siang bisa berbuat apa saja, tak ada keharusan untuk memenuhi wasiat bapak, sebab bapak saya juga bukan orang penting dan terpandang,” kata Si Manis.
“Siapa bilang bapakmu bukan orang penting? Kalau tidak ada bapakmu, tidak ada kamu.”
“Iya, tapi apalah arti itu semua, apalah artinya saya di mata Koh Wan Siang?”
Wan Siang menatap Si Manis lekat-lekat, mencoba meyakinkan gadis itu bahwa kata-kata yang akan meluncur dari bibirnya itu benar adanya.
“Kamu adalah orang yang penting bagi hidupku, aku sayang kamu.”
Ucapan Wan Siang kali ini terdengar serius, justru karena itu Si Manis jadi salah tingkah, tidak tahu harus menjawab apa. Tetapi hatinya amat tersentuh dan jantungnya berebar-debar.
__ADS_1
“Apa kamu juga sayang aku?” Wan Siang bertanya dengan lembut.
Yang ditanya malah menundukkan wajah dan diam saja.
“Kalau kamu diam, berarti jawabannya iya,” Wan Siang memberikan pernyataan jebakan yang membuat Si Manis tak berkutik.
“Kenapa bisa iya, Koh?”
“Katanya kalau seorang gadis dilamar dan diam saja, itu pertanda jawabannya iya.”
“Kalau begitu apakah jawabanmu sebenarnya tidak?” Wan Siang semakin mendesak Si Manis.
“Tidak juga Koh,” Si Manis menjadi tersipu-sipu, pipinya merah seperti buah apel.
Liem Wan Siang tersenyum melihat raut wajah Si Manis yang tersenyum malu yang menambah kecantikannya.
“Aku seneng kalau kamu sering-sering senyum, tambah cantik,” Wan Siang mulai menggombal.
“Saya biasa saja Koh, tidak cantik.”
“Aku malah kepengen manggil kamu Si Cantik sekarang.”
“Jangan Koh, saya malu.” Si Manis merasa melayang ke angkasa, tetapi juga malu.
“Jangan malu, itu kan kenyataan.”
“Jangan panggil Si Cantik Koh, Si Manis saja seperti biasa, biar yang lain juga tidak bingung.”
Mereka melakukan tawar menawar seperti penjual dan pembeli di pasar.
Wan Siang seperti mendapatkan izin dari Si Manis untuk menjadi orang terdekatnya, gadis itu juga mulai membuka hatinya untuk pemuda Tionghoa yang tampan itu.
***
Si Manis tidak pernah merasakan kasih sayang yang biasa ditujukan seorang lelaki terhadap perempuan. Wan Siang memberinya pengalaman itu.
Untuk menghibur Si Manis dari rasa duka cita setelah kematian ayahnya, Wan Siang membawanya berjalan-jalan lagi. Mereka mengulang saat jalan-jalan berpayung berdua ke Pecinan, tetapi kali ini Wan Siang tak pernah melepaskan tangan Si Manis dari genggamannya.
“Kenapa tangan saya dipegangi terus Koh?”
“Biar tidak hilang, di sini kan rame,” Wan Siang membuat alasan.
“Kalau hilang saya bisa pulang sendiri Koh, kan saya sudah hapal jalan.”
“Ya kalau kamu sampai ke rumah, kalau diculik orang di jalan bagaimana? Nanti aku disalahkan bapakmu.”
Wan Siang memang pelindung yang baik, tetapi itu membuat Si Manis malu karena dilihat oleh semua orang yang berpapasan dengan mereka. Di antara yang kebetulan berpapasan itu adalah orang yang nantinya memberi informasi kepada Ny. Liem bahwa anak laki-lakinya telah menggandeng perempuan Jawa sambil berpayung di Pecinan. Suatu berita besar yang akan mengguncangkan hidup perempuan Tionghoa itu.
Di Pecinan terdapat tugu yang fungsinya juga sebagai tempat menempel berbagai macam iklan. Salah satu iklan menarik perhatian Wan Siang. Iklan rokok Bal Tiga, produksi NV Bal Tiga milik Nitisemito, salah satu orang terkaya zaman itu. Di situ juga tertulis, beli rokok Bal Tiga sebanyak-banyaknya, tukar dengan kupon undian dan dapatkan sepeda. Tiba-tiba Wan Siang mendapat ide untuk usaha barunya.
__ADS_1
Author menyapa:
Halo para readers yang budiman, semoga tidak bosan ya mengikuti kisah Si Manis dan Liem Wan Siang. Untuk memberikan dukungan kepada author, silahkan like dan komen sebanyak-banyaknya. Soalnya Bab-bab selanjutnya akan lebih menantang, biar author tambah semangat. Dukungan kalian sangatlah berharga :)